
Setelah Endfield sepi, hanya satu pemuda yang tetap tinggal bersama Jihan dan Nina. Pakaian pria ini belum ada yang bahas, jadi sebut saja bajunya seragam A. Dia salah satu dari kelompok yang sudah pergi dan tidak ikut nimbrung di belakang Nina maupun Jihan, yang paling tenang saat semua sibuk.
"Baiklah. Udahlah, kita sabar aja ya. Saya Lintang, dan masih baru di LibCom."
"Hhh, gak keliatan baru."
"Permisi, Wasit. Dan lo, bangkitlah segera dari kuburmu Judes. Hmp!"
Nina jalan menabrakkan diri ke Lintang seperti tuna netra, si pemuda segera minggir. Nina tak menoleh saat dikomentari. Dia kuak lapisan ghaib dan langsung masuk meninggalkan arena.
Lintang memandangi layar-sobek yang baru dimasuki Nina, lalu kembali menyilang tangan. "Ouh ya.. Kamu nanya apa tadi?"
"Masih baru di LibCom atau abang Dewan ini, baru turun tahta?" tanya Jihan ikut bersilang tangan.
"Waw..! Saya bukan dewan. Hmm. Bagaimana kamu sampe bilang gitu ke saya?"
"Mereka semua nurut saat Anda suruh-suruh."
"Hmm... Mustahil dewan diganti. Mereka nurut, soalnya saya terlibat dengan kamu."
"Gue Jihan. Napa pura-pura gak tau nama orang yang seurusan?"
"Baik itu valid."
Lintang melepas silang tangan, menghela nafas seriusnya lalu memasukkan dua tangan ke saku celana. "Kalo udah valid, sub-dewan bakal menyimpan kejadian ini di pusat. Apa benar kamu mau tau soal dewan?"
"Boleh, Lin. Tapi nanti.. Otak ini baru aja beres. Takutnya kusut lagi. Ntar aja. Nah, elo nih terlibat apa dengan gue sih?"
"Nomer tiket saya tepat di depan Kamu. Jadi basetime-mu nanti akan ditali connect ke timeline saya. Kurang lebih gitu yang Medium katakan, Han."
"Medium?" pikir Jihan, mencerna-cerna. "Maksud lo me-dan..? Apa orang?"
"Dia lagi ke mari. Katanya sedikit lagi spiner-nya berhenti. Mbak Kisye yang akan bawain dia ke sini. Iya. Kita akan ngobrol sambil nunggu mereka."
"Ouh. Emang si Medi lagi di mana, dan lagi ngapain?"
"Di Snail. Masih ngeretas atmosfer. Ada spinner yang bisa ngembalikan ozon Bumi, tapi organisme yang ada, nanti tidak akan bertahan."
"Ngehack? Emang udara bisa diretas ya?"
"Di Fanam ini, hampir semuanya mungkin, Han. Saya juga masih belum paham, mengapa besok, atau tahun depan, atau munkin hari ini akan ada asteroid menimpa."
"Ouh.. Coba terusin."
"Timeline atau kehidupan berikutnya, niscaya, tidak akan bertahan lama setelah ultimate-mu. Para jins berhenti berekplorasi, parasas bejibun di Bumi, kiamat tadi berdampak ke sistem yang berjalan sekarang ini. Karenanya, basetimemu itu butuh sentuhan Pencipta-nya lagi. Medium kewalahan, walau banyak clone ngebantu."
"Kalo seandainya nih, Medium ternyata gagal gimana? Bahkan katakanlah dia stress dan frustasi, telat kayak gue. Gimana tuh?"
"Pelantikanmu batal hari ini, Han. Kamu tidak bakal dibangkitkan dari kubur. Kamu tuhan di Bumi tadi. Cuma kamu saja, manusia yang tersisa. Dan kamu disebut soloter."
"Apa hari ini gue jadi, dan resmi, emang dilantik?"
"Hei. Kamu udah resmi jadi anak SosCamp. Kamu udah lihat qorinmu apa belum? Itu saja tandanya. Besok aku pun boleh pindah ke Snail, berkutat dengan alat, kalo emang udah gak betah di LibCom.. yang notabene pesuruh."
"Dan anak SosCamp para perusuh? Si Nina gak cocok kalo gabung di LibCom."
"Emang belum.. Han. Pokonya.. Belum diketahui siapa yang bawa protokol itu. Harusnya si pelaksana ini udah nemui Medium sekarang. Tapi kami masih bingung. Siapa.."
"Protokol itu apa emang? Gue jadi gak sabar ketemu si Medi nih. Bisa jadi.. Guelah yang ntar ngilhami dia secara tiba-tiba."
"Makanya sabar. Saya buka-buka Whois? kamu, di mana Nik Nik pernah beritahu sesuatu. Protokol itu mirip ramalan, atau dalam arena ini disebut tutorial mode. Kamu dipinta ini-itu buat keselamatan dan tujuan yang diinginkan. Seperti itu kurang lebih arti protokol. Jins atau qorinmu, masing-masing berprotokol."
"Ouhh.. begitu. Apa bedanya sama ide, ilham, gagasan, tema, bisikan, dan sejenisnya?"
Nguu.. uung!!
Bunyi tersebut membatalkan Lintang bicara. Jihan turut menoleh ke sumber suara.
"Nah, nih orangnya," Lintang mendapati Kisye jalan menghampiri.
"Halo, Jihan. Gue bawain Citruz dari Pramugari," Kisye menyodorkan kaleng pada Jihan. "Gue Paskibra. Lo boleh manggil gue Kisye."
"Eh, iya makasih. Umm.. Kalo itu siapa?"
Set! Cheeus...!! Jihan buka kaleng yang diterimanya, dia teguk, dan.. "Euu!!"
"Medium. Orang yang nentang kiamat lo. Dia gagal lagi."
Pemuda yang dibicarakan datang dengan jas lab putihnya seperti pakaian Clone. "Ah iya, maaf aku tadi emang sangat sibuk dengan miniset-mu.. Jihan? Yaah, Pusing juga mendalaminya. Tapi protokol sudah ada, walau masih desas-desus. Ya khan, Lin?"
"Hmm, mungkin emang hari ini pelantikannya. Mulai saja sekarang."
"Jins yang bilang?" tanya Medium.
"Berita baik sepertinya. Saya balik dulu. Dan struktur Endfield ini kacau Mbak Kis. Dikebut oleh lubang."
"Eh, elo asal. Spear gue udah diupgrade-lah. Dah, sana!"
Lintang acungkan jempolnya dan segumpal kabut hadir saat dia berlari, loncat dan... bluph! Hilang.
"Hayu, kalo mau gabung. Ini pelantikan lo Jihan."
"Hah? Beneran?"
"Yaelah, Jihan. Elo tuhan, tapi malah bingung. Lihat lantai, ikuti tapak yang ada."
"Ouh. Oke.. siap. Aduh. Deg degan. Ada lima kaki nih. Gimana?" beritahu Jihan dengan mata menatap lantai Endfield.
Tapak kaki yang dilihat ternyata berwarna biru, jejak langkah kaki. Entah sejak kapan ada. Mungkin memang muncul setelah sang kondektur memintanya pada Jihan.
"Lo injak satu-satu. Anggap latian nari."
"Tapi.. Aduh.. Gue gak bisa nari, Kak."
__ADS_1
"Oke. Gak apa-apa. Haha! Bisanya gelut."
NGUUOOONG!!
Jihan tengadah, ada gerbong-gerbong memusati dirinya di ketinggian gedung, sangat blur alias buram oleh laju yang ada. Rel yang tergesek roda merah-baja bagai lingkaran garis, warna lava gunung. Kereta ini seperti gerbong tak terbatas, sebab di kecepatan tinggi ini belum juga menampakkan lokomotifnya. Semua gerbong seperti masuk, dan keluar lagi dari pintu circle hitam tertengger.
Usai dikelilingi, tiga detik kemudian pemandangan berganti jadi serpihan arena karena diradiusi lingkaran luas tersebut. Tempat yang dipijak sudah pecah, dan kini jadi pusaran gelembung seukuran kamar.
"Dah ya, ntar pening, trus kelempar. Sentuh ini, pegangan ke besi gerbong. Jangan di.. lepas. Ntar gerbongnya gelap."
Digh! Tancap Kisye ke lantai invisible. Gelembung langsung pecah memancar ke segala arah ditancapi Spear.
"Para puzzle pulang, pada parkir lagi di sana. Dulu dilarang turun ke Hexium, soalnya bakal ngaco-in rumus struktur bangunan."
Jihan diam mendengarkan sambil megang stenlis. Sementara Medium pegangan sambil bersiul.
Ninja Girl lalu bingung saat ada tiga lempengan persegi panjang nan besar menghampiri, jadi kurungan, kira-kanan-atas.
Dagh-digh-dugh!
Claph..!!
Atap yang Jihan amati langsung membuat mata pengamatnya mengerjap perih. Jihan pun mengaduh.
"Ahahaa! Gue banget. Nih sinar bahan dasar lantai. Bahan dinding namanya Riaq. Nah, nih atap ditempeli Lightnov. Lupain. Buat parasas ato qarrat, kok."
"Silau banget. Qarrat apaan Kak?"
"Clone yang.. ah dahlah. Whois? aja. Ntar kesorean. Pernah ada yang kemalaman dengerin gue. Cari keset mending."
"Han!" panggil Medi yang sudah berdiri depan pintu. "Ayo!"
"Ouh. Iya..! Thanks, Kak."
"Iya."
Jins yang Jihan tinggalkan menguap nutup ngangganya.
"Kita harus cari keset, Med."
"Sudah dapat," tunjuk Medi ke bawah. "WrapBox."
"Ouh.. ini toh," kata Jihan mengangkat satu kaki. "Trus gue ngapain?"
"Ucapin FosKel."
"Fos.. Kel!"
Zhang!
Tiba di peron Jihan mengindik bahu sambil pejam mata.
"Artinya fokus, optimis, dan semangat. Kel berarti bengkel."
Medium berhenti, sadar lagi ngomong sendiri. Lalu dia dapati Jihan masih di peron. Segera dihampirinya. "Hei!"
"Ayo.. Udah di peron. Ini depannya bengkel."
"Ouh, i.. iya. Stasiun apa nih?"
"FosKel."
Jihan ikuti Medium sambil melihat-melihat para clone. Dia pun tanyakan hal tersebut. "Trus orang-orang ini jins? Kok wajah pada samaan."
"Iya. Sama. Qorin juga sama fisiknya dengan kita."
"Banyak banget kak Kisye. Mereka ini jins-nya siapa?"
"Jins lokal. Sama seperti jins yang bekerja di ladang. Hanya saja di Snail ini gak ada ratu. Mereka keluar dari peti salin ketika portal membuka kotak fotocopy tersebut. Portal misterius."
"Ouh. Ada gak di chanel Whois??"
"Ada. Buka aja nama Reinit."
Taph!
Slpph!! Daun pintu melesat ke pinggir masuk dindingnya begitu disentuh, Medi dan Jihan lanjut berjalan menapaki lorong yang tampak panjang dan lebar, banyak pintu serupa di dinding kira-kanan.
"Jihan ya?"
"I..iya."
"Selamat datang ya. Dag!"
"Apa gue emang terkenal?"
"Kontak lensa mereka memindai tamu baru."
"Ouh kirain fans. Hai.." lambai Jihan, tanggung katro. "Hai, Kak."
"Hai juga, Giz."
"Waduh. Med, kok dia manggil gitu? Apa artinya?"
"Nama default kalian. Ini dia bengkel miniset-mu. Kita sampai."
Taph!
Slpph!!
"Wah gede amat?" pana Jihan di lawang. "Lo bilang nih bengkel gue?"
"Pintu seberang ini punya Lintang, sama saja ruang dan isinya brain-globe gini."
__ADS_1
"Kayak kolam renang. Tapi napa harus lingkaran?"
"Poligon alam. Masuk aja. Ruang pregister ini milikmu."
Di dalam Pregister ada empat clone yang tetap sibuk pada tugasnya masing-masing. Dua duduk memonitori data kolam, satu sedang mengambang menyentuh-nyentuh jari di tengah-tengah layar-cincin di atas kolam, satu lagi setia menunggu di sebelah Jihan.
"Hhh.. Wangi apa nih? Kayak melati."
"Seseorang meninggalkan pesan waktu kami pergi ke kafetaria. Tolong show-up, From."
"Baik."
Zwiiitt!
Muncul grafik orang di pinggir kolam. Bayangan tersebut berjas dan pakai kacamata, kepalanya digelangi benang laser, berdiri dengan tangan di bawah punggung. Jihan keheranan mendapatinya karena hanya mondar-mandir.
"Nina?"
"Kurasa bukan. Kami lihat frekuensi suaranya milik kamu dan body-mask tidak dapat meniru pita suara. Antarkan aku pada Al Hood. Kuajukan ini ke pusat, jawaban yang kami dapat sesuai dugaan. Jadi kami teruskan fokus ke miniset."
"Apa jawaban pusat?"
"Jihan Future. Kami belum tahu ada keperluan apa menemui Luna. Kurasa berkaitan dengan pelantikanmu ini. Tapi di mana dirimu ini sekarang."
"Rin kamu tahu? Aku bingung sekali."
Aku merasakannya. Ini memang dirimu dari masa lain
"Di mana dia sekarang?"
Engkau keluarlah
Jihan segera berbalik jalan dan sentuh pintu. Set!
Slpph!
Hendak keluar, langkah Jihan berhenti, begitu juga orang yang dia dapati, keduanya hampir bertabrakan jika terus jalan menunduk.
"Ehh.."
"Ohh.. Ka.. kamu?"
"Hah?" heran Jihan, wanita tersebut disipiti, dia akurkan dengan hologram yang di pinggir kolam. "Kok..?"
"Antarkan aku pada Luna. Aku butuh redstone Jihan."
"Umm.. Kenapa baru datang?"
Deph!
Si wanita ini langsung masuk memeluk Jihan. "Ouh, syukurlah.. Kamu tidak bunuh aku di sini."
"Waduh. Bunuh Anda? A.. aku, udah in.. insaf."
Hai Jihan. Mari ikut kami ke kediaman Luna
"Ouh. Aduhai.. Gizi-ku."
Ya aku tahu. Engkau dapat mendengarku lagi
"Apakah pendosa ini telah kalian maafkan?"
"Hei tunggu nih bahas apa?"
"Jihan.. Oh, dulu aku membunuh qorin. Tepat di sini saat kita bertemu. Tapi.. kali ini.. kalian memaafkanku."
"Tentu aja. Apa kamu sisi yang memilih Riko?"
"Oh.. Di mana dia sekarang? Ya Tuhan, aku butuh dia.."
"Aduh bucin.. sekali gue. Ini bahaya."
Hai Jihan. Engkau terus seperti ini niscaya engkau semakin jauh. Berikan peredam itu padanya
"Hhh.. baiklah. Aku harus akhiri kesedihanku ini."
Jihan Future merogoh saku lalu memberikan isinya pada Jihan. Setelah diterima, benda mirip bolpen tersebut diamati.
"Apaan nih? Minta tanda tangan?"
"Ini penghisap will. Setelah diredam, bekuan will dapat dipecah, mengakhiri isinya. Qorin."
"Apa namanya?"
"Nisan. Jihan."
"Kamu kejam sekali."
Set!
Klakh! Bunyi patah di genggaman Jihan.
"Antarkan aku pada Al Hood. Aku harus bawa redstone Pnin."
"Hah..? Buat apa?"
"Minisetku ini."
"Apa nih protokol atau dari hantu?"
"Ya. Yang menyuruhku.. Bunda Utari. Melalui Gizi."
"Apa ini benar, Rin?"
__ADS_1
Katakanlah mari ikut kami ke kediaman Luna
"Oh ya udah. Mari ikut kami ke kediaman Luna."