
"Maaf ya, sekali lagi, Vit. Harusnya saya tonton dulu debut kalian sampai skor masing-masing kecapai. Tapi.. Paradok yang kalian lihat bareng ini, ada di sini. Beda dengan bekas sebelumnya. Saya kena hit kalian ntar kalo terus ngelamun."
"Gue juga heran, ini tuh apaan. Nina malah manfaatin siskon. Ya udah kuhajar balik," kisah Vita.
"Ehya. Tadi khan lo minta bantu. Dia bantu kalian nih, jelasin paradok."
"Bukan itu. Romi ilang, Han.. Gue gak bisa masuk. Romi gak jawab panggilan. Kami lagi bikin Whois? bareng."
"Pantesan setelan lo gini. Panggung ikut ilang?"
"Gak di panggung, kami introduction di lapangan deket rumah Romi. Protokol, nyuruh gue datengin tetangga."
"Udah. Berarti emang Lintang ini arahnya. Iya khan Lin?" tanya Jihan, langsung paham.
"Valid. Begitu pun larangannya."
"Larangan siapa?"
"Jins.. Jins saya. Tapi.. Saya tetap baca riwayat kamu di Whois?." beritahu Lintang pada Jihan.
"Ntar gue minta diprivate deh. Sementara ini.. insyallah gue insyaf. Sok aja kalo mau stalking. Lo analis, banyak nimbang. Mungkin emang perlu ini dan itu."
"Romi gimana dong? Ya Allah.. Ck!"
"Anterin Jihan ke timelinemu, Vit. Saya di sini aja. Uggh.. Distance apa.. nih.."
"Napa gak ikut Lin? Belum ada protokol?"
"Vacumnya udah.. udah.. Akh!" Lintang pijat-pijat kening. "Jins udah tau vacumnya.. bukan dibuat.. dibuat.. oleh qa.. qarrat.."
Set..! Brugh!!
"Lin!"
"Kak Lintang..!"
Jihan dan Vita segera membalikkan tubuh Lintang yang jatuh menekuk lutut usai menahan nyeri. Mungkin sudah benar-benar berat. Sejak di timeline Jihan, fokusnya tak berhenti.
"Ya udah iya."
Jihan pandangi Vita. Cinderella seperti sedang menjawab sang pembicara, dan cepat nurut pada pesuruh ghoibnya itu.
__ADS_1
Set! Gwuiip! Suara gumpalan yang meliuk-liuk gaya ular, berhenti melaju sekeluar dari kamar Nina. Entah disetir siapa geraknya demikian rupa.
Vita ajak Jihan masuk portal. "Ayo Kak, biar Nina yang urusin."
"Ouh," buyar Jihan. "Ya udah.. Ayo!"
Wikh! Tubuh Vita berubah transparan. Jihan menoleh ke pintu yang dimasuki Cinderella, sebab si aktor ngebut.
Jihan lihat tangan, dirinya masih di citra asli.
Tak apa. Sama saja, tegas Qorin seperti paham yang diragui majikannya.
"I..iya."
Wuutts!
Saat Jihan masuk portal, gumpalan spontan 'meledak' sesuai kelebat orang yang memasukinya.
"Tamu pada nyusahin.." Nina baru sampai, kaki Lintang sedang ditariknya. Dia seret masuk lewat 'gorden", dibawa ke tempat awal datang.
Di kamar..
Nina duduk megang gelas. Dia miringkan benda ini di udara.. Crrr!!
"Ke mana dia, Rin?" tanya Jihan, mengambang di sebuah lapang. "Ngebut banget."
Jihan hanya mendapati beberapa warga lokal kampung Romi sedang beraktivitas sore.
Masuklah kembali. Vita telah mengatur ke pintu berikutnya
"Copy."
Set!
Awan yang mengeluarkan Jihan, meledak lagi begitu di masuki objek alias penumpang.
Wuutts!! Pintu yang dikebut tampak bening dalam zoom out-nya. Tapi setelah hilang, Jihan abaikan kabut ini eksis lagi di dekatnya.
JREENG!! Lagi..
Drtth..! Drrtt..tth.. Bumi seperti bergetaran, untungnya bukan tanah.
__ADS_1
Pemandangan yang Jihan lihat adalah tembok. Tadinya objek dibangun oleh tukang dengan bata-bata merah, hancur begitu terwarna cat, lantai pun rata dan dicor usai dibersihkan dari runtuhan yang menimbunnya. Bekas rumah ini berubah jadi jalan dan dikebut banyak arus, ribuan kendaraan, jalan ini sepi, berubah jadi jalur-jalur rel kereta. Tapi kendaraan yang sedang ngebut bukan lagi kendaraan darat, mesin-mesin pembawa gerbong tersebut sudah berupa robot-ulat-udara.
Jihan pun banyak ditembus capung-capung berkaki dua alias lalu lalang manusia.
Bangunan-bangunan mengambang, gedung-gedung mengantung di asteroid lewat 'kawat'. Pemandangan tetap tergantikan dengan yang baru-baru.
Jihan melihat pemandangan tersebut dua detik yang lalu. Maka detik berikutnya sudah bisa disimpulkan, dirinya sedang menonton suatu peradaban maju dan bangunan infrastruktur termodern di muka Bumi.
Zwiiitt! Bola persis planet muncul di depan Jihan, miniatur Bumi yang sedang mengasing.
Jihan dihampiri Vita. Sang mahasiswi menoleh tapi abai kemudian demi bola di depannya. Dia tahu, Vita yang menunjukkannya, tapi ikut diam, bingung.
"Ini.. timeline-nya Romi khan?"
Vita yang masih cemas, memberitahu kecepatan rotasi bola mini yang ada. Jihan memandangnya, makin takjub pada apa yang barusan didengar.
"Infinite time..? Gak berhenti, maksud lo? Inalillahi.."
"Iya Kak.. Duh. Ya Allah.. Udah se-jaman, kayak gini."
"Lihat deh di sana.." dongak Jihan. "Cincin?"
Ada lengkungan besar di atas bumi. Wahana antariksa tersebut membuat Vita makin cemas saat dia dapatinya.
"Gimana nyetopnya ya..?"
"Satelit kayaknya ya?" tanya Jihan, tetap tengadah, tak mempedulikan benda-benda besar lewat di depan mereka.
"Gak tahu Kak.. Ini timeline bungsu di Fanam katanya. Apa iya gak bakal berhenti sampe ada anak baru?"
"Sabar aja. Kita udah masuk. Artinya.. Udah ada yang bukain pintu. Pasti ada protokol buat ekor-waktu ini."
"Romi bilang mau nyeting.. Nyeting apa ya.. Vita lupa, Kak."
Distance
"Setel distance?"
"Hu-um! Iya, iya. Distance. Tau-tau Romi keisep seperti.. ditarik pintu ini. Ck! Vita kira mau ada alat baru, mau ngeprank. Tapi Bumi malah jadi gini.."
---bersambung
__ADS_1
XD parah..