Kembaran

Kembaran
Sengketa


__ADS_3

Jumat pagi ini teduh, tapi bukan mendung. Jihan tengadah, dia mendapati banyak awan di atas sana. Dia berada di depan rumah, menunggu dibuatkan ketoprak oleh abang yang biasa mangkal dekat mesjid, dicegat sebelum sampai ke pertengahan jalur Lam Alif. Dia biasa beli hari minggu pas pulang jogging. Tapi dia pernah kesiangan, jadi beli di jalan sepulang jiarah.


Piyama yang dipakai tak ada kusut. Kulit wajah Jihan pun tidak ada kerut. Biasanya orang yang baru bangun tidur bawa-bawa mutiara mata gitu, ketoprak-holic ini sudah jadi objek termanis di sebelah gerobak.


"Gizi.. Kau nutrisi hatiku," goda bocah laki-laki yang terus menatap sambil jalan.


"Hii lebay."


Beberapa detik kemudian..


"Teteh galak!! Wkakak!" teriak si Putih Biru di jarak yang sudah aman.


"Hai, pesan juga ya?"


"Ehh.."


"Nama yang bagus," komen pemuda, yang menyaksikan ulah si bocah. "Bang bungkus satu ya."


Jihan tak menimpali. Untunglah abang Ketoprak sudah selesai mengemas. Jihan segera beranjak dari tempat membawa sarapannya. Si pemuda terus memandangi, hingga Jihan masuk rumah.


Di kamar, ketupat tadi, Jihan buka ke alas piring. Duduklah si manis di kursi meja belajar.


Jihan biarkan Black Ring meloncat ke dinding kamar, agak kaget tapi dia lanjut menyobek plastik krupuk. Jihan pun segera menyuapkan diri, makan.


Zwiiitt!


"Heh.."


"Ummh.." sahut Jihan, tenang dikacak pinggangi bayang tranparan Nina. "Iya, apaan..?"


Jihan menyeka bibirnya yang sudah basah, karena dijilati.


"Gelud!"


"Sibuk.."


"Udah lo minggir dulu sana. Biar gue yang nge-live."


Diandra tampak memposisikan badan dalam berdirinya dekat Jihan, tubuh Nina jadi separuh, terpotong vertikal.


"Ya?"


"Ntar.. Buka Nin."


"Kalian pada ngapain sih? Ultah gue dah lewat juga. Nunggu disawer?" tanya Jihan yang kemudian menyuapkan sendok lagi, dua kali. Pipinya jadi tampak kembung. Dia tak peduli tubuh Diandra sedang patah-patah dan berwarna.


"Si Bihun semalem ke kapal."


Jihan mengunyah muatan mulut sambil menyimak. Sementara yang ditonton malah sibuk membantu Nina. Hingga Jihan menelan habis, Diandra masih jongkok, seperti sedang mengorek-ngorek kardus, dijahili dan berebut live.


"Kapal Han."


"Ampun.. dibahas lagi," Jihan potong-potong ketupatnya dengan sendok. "Gak pada sarapan? Apa udah migrasi, cacing perut kalian?"


"Sori ganggu. Sengketa gak cuma kejadian di kita aja, Han. Lahan nganggur ini.. diklaim! Ya diambil alih parasas, saudara-saudara. Space-time terlantar, jadi tempat buat ternak satwa asing, alien."


"Trus.. Si Bihun ngapain di sana? Gagal closing apa?"


"Dihabisi.."


"Hah?"

__ADS_1


"Voin yang lapor, maka berita si Vita itu valid. Soalnya nih gak cuma, babak belur itu.. Romi juga diculik."


"Haduuh.. Ck! Ulah dia lagi?" tanya Jihan atas yang pernah menimpa Romi tempo hari sewaktu menyisir paradok.


"Oke. Oke. Lanjut maem.. Slow. Ada satu lagi yang masih invalid, masih dicariin."


"Kita tuh tamu di Fanam Yan. Jangan mentang-mentang bebas, save our soul seenaknya. Bagusan si Bonin tuh, diem. Pencat-pencet stik."


"Gak juga, Judes. Gue psikopat, Kak."


"Ngomong.."


"Kayaknya ada acara lo ya?"


"Ya. Tapi.. males pake stuntmen. Gue ada interview ntar siangan. Umm.. Gue masih nungguin telpon."


"Sama penting nih juga Han."


"Sengketa.. Itu emang nyangkut gue. Kalo yang masih invalid itu, gue belum tau."


"Gue rasa paradok. Tapi bukan bahas niatnya. Dia dimatikan. Wafat.."


"Hhh. Soal piring lo jago. Tapi dia niat kudeta gak sih, sampe wafat sebelum gue hadir?"


"Feeling. Oke..?" pelan Diandra. "Fii.. ling.."


Jihan menyuap makanannya. Diandra diam menatap tanpa kedip, menunggu tanggapan.


Yang diseriusi sedang mengunyah sambil membelah-belah ketupat.


"Hhh.. ya udah. Mungkin dunia lo emang di atas-sadar ini."


"Sotoy.."


"Iya. Ntar kena sidik dewan gimana? Dia bocah tapi nguras kas. Gue nyari kerja, itu alesan biar kas negara awet."


"Kas negara, kas negara.. By one!"


"Sibuk. Gue kemas juga lo Nin."


"Ngomong.."


"Ya udah. Oke. Abis interview, gue ke BU (bumi ultimate)."


"Jadi mau ikut? Lo gak pergi sendiri Han. Kita berangkat barengan," kata Diandra.


"Iya."


"Fokus ya, wawancaranya Kakak Judes."


"Iya, Bonin! Gue kesedak, ntar!"


Zwiiitt..!


Black Ring yang memang terhubung intern dengan kepala Jihan, segera merayapi dinding. Setelah dekat, 'karet hidup' ini melesat ke lemari. Dia merembes ke dalam permukaan cermin.


Jihan sedikit mengarahkan duduknya ke lemari setelah kaca panjang itu menyala. Dia lihat Paltina sudah dikerubungi Kaki Empat, Bukan Quda, Roket Bertangan, Helm Cumi, Gajah Non Kaki, seperti sedang demo.


Masih ada monster asli di barisan belakang. Tapi ada yang pegang papan ronde dengan pesan pakai bahasa mereka. Mungkin memang tengah demo.


Kapal Karantina tidak berhiaskan bintang-bintangnya lagi. Pemandangan sudah terhalang oleh mereka. Perangkat pertahanan tampak aktif indikatornya, di mode siap menembak. Beberapa robot-senjata ada yang mirip kipas dan tetap tengok kiri-kanan.

__ADS_1


Video slide ke samping, berganti jadi laporan kedua, channel berjudul report soalnya. Data menayangkan daratan Bulan yang sudah berkota. Sementara Bumi masih bulat dan diselimuti kabut seluruh atmosfernya.


Bentuk bangunan di Bulan masih asing, bukan kota karya manusia. Di situ rumah-rumah para pendemo karena video disertai teks alias informasi. Ada yang mirip kulit Durian tapi mengambang. Di sebelahnya, rumah tersebut lapisan tebal, tapi persis rangka tengkorak sehingga tak bisa dibedakan dengan topeng. Bahkan ada yang mirip rel Roal Coaster (ruangannya di mana gitu). Sampai ada yang mirip Bonsai.


Hampir semua permukaan Bulan sudah ditempati. Maka begitu kamera mendapati selapang tanah yang agak luas, tayangan langsung di zoom in.


Syuuutt..


Tepat di tengah, tiga tiang besar terpancang. Walau penyangga, anehnya bagian utama justru di bangun pada tengahnya, dan itu kerangkeng besar.


Tiang satu dihuni Romi. Badan melayang-layang di tengah sel. Entah tubuh SMP-nya di mana, pemuda ini sang inang atau drivernya Romi.


Di tiang kedua, penghuni sel tengah telungkup agak berasap dan Jihan kenal pemuda berjirah saint tersebut. Itu memang Giga alias si Bihun. Tapi Giga tidak bergerak. Atau mungkin sedang pingsan seperti yang dilaporkan Diandra.


Di tiang ketiga, pemandangannya lain lagi. Penghuni sel adalah Mamah, tak lain Paradok Jihan. Dia seperti sengaja dipajang di dinding penjara. Kepala, badan, tangan dan kakinya sudah dibelit gelang kawat. Dadanya bahkan masih terselap gantar besi.


Lapisan pengunci di kerangkeng tiga memercik rusak, berkilauan tapi labil malah kosleting. Getikh..! Kriikh!!


Crikkh..!! Getrikh..!!


Cwiing... Jetrikh!!


"Sapa yang masung gue pake sadis gini..?" gumam Jihan dalam duduknya. "Parasas model apa lagi.."


Seperti yang sudah Diandra katakan. Bulan dan Bumi tersebut sudah diambil parasas jadi ladang peternakan.


Ruang dan waktu yang sudah tidak bertuan, bebas tak ada aturan. Bukan bagian yang penting lagi, sebab saat diberi peradaban, Bumi-nya sudah tak layak huni.


Ponsel Jihan berdering-dering di saku jas.


Kring! Kring! Bunyi sedan di atas genting. Mobilnya turun tidak tersangga. Cobalah tengok kawan yang genting. Galon dan timun patah semua..


Kring! Kring! Bunyi sedan di atas genting. Mobilnya turun tidak tersangga. Cobalah tengok kawan yang genting. Galon dan timun patah semua..


Kring! Kring! Bunyi sedan..


Klik!


"Selamat pagi, dengan saudari Giziania?"


"I-iya.. saya sendiri, Mbak."


"Kami dari perusahaan Hamam Jeans mengundang Saudari untuk interview hari ini.. pukul sepuluh."


"Oh. Baik Mbak. Di mana alamat kantornya, Mbak?"


"Komplek Grand Office.."


Ikon rekam Jihan sentuh. Klik!


".. Merdeka B1. Saudari temui ibu Nelsa atau bagian personalia. Ada yang ditanyakan?"


"Jam sepuluh ya Mbak?"


"Jam sepuluh.."


"Baik. Terimakasih Mbak."


"Sama-sama."


Jihan kembali duduk dengan ponsel masih dipegangan. Wajah dalam video membuatnya tertegun. Jam di kamarnya menunjukkan setengah delapan, detik ke detik hanya tatapan itu yang Jihan lakukan.

__ADS_1


Apa mungkin senjata yang sama akan menimpa dia kelak saat telah sebaya dengan umur ibunya? Benda tersebut bisa jadi milik paradok dari masa sebelumnya. Jihan tetap khawatir dengan drivernya karena sudah mulai rawan kembali.


__ADS_2