Kembaran

Kembaran
Sengketa 2


__ADS_3

Jam sembilan, Jihan sudah berpakaian rapi. Kemeja putih dan rok hitam selutut. Rambut dikuncir. Dia putar dirinya di depan lemari, mematut diri atas penampilan yang ada. "Beres kayaknya."


Pakaian itu pernah dikenakan. Kini Jihan memakainya lagi untuk wawancara juga, saat belum jadi mahasiswi. Sekarang baju tersebut masih pas dan muat ditubuhnya.


Set! Grrth..!


Black Ring meloncat ke tangan Jihan dari tempatnya, tak lagi gantung diri di dekat handle lemari, menjelma jadi ponsel.


"Kamu sedang apa ya?" tanya Jihan, sudah duduk di ranjang. "Walau ini di kamar, aku biasakan pake ini aja, Rin."


Masih di ruanganku. Bapak menyebutnya tahi lalat


"Iya di kepala. Sama aja khan? Tapi lagi ngapain?"


Memantau banyak berita dan laporan


"Ada perkembangan apa aja?"


Sepertinya Tuan Muda Medium turut serta dalam urusan. Dia memvalidasi bahwa paradok-mu mengabaikan protokol


"Nyuekin protokol? Jadi sebelumnya udah ada peringatan soal keselamatan korban?"


Demikian


"Ya udah. Berarti valid kematiannya ulah pihak luar, bukan aksi orang-orang kita."


Sampai kau memindai paradok di halaman Citymall, Tuan Medium akan mengantarkanmu ke tempat itu untuk validasi perkara


"Jadi layar kecil yang kulihat dulu itu.. alat pindai?"


Demikian


Di ruang tengah Jihan salami tangan Bapak di mana masih duduk mengemil alias ngopi. Dia berangkat dan ditanya Bapak soal jam kuliahnya. Jihan memberitahu bahwa kuliah pukul sorean.


Bapak minta anaknya berhati-hati. Jihan mengiyakan.


Matahari sudah memancarkan teriknya begitu Jihan di luar rumah. Tapi Jihan abai sebab silau jika dia ulang tengadah paginya, tetap menapaki jalanan gang rumah.


Saat sudah menyeberang jalan, Jihan biarkan seunit Vitara membunyikan klakson. Dipikirnya ada cowok iseng dan menggoda. Setelah bunyi beberapa kali, sopirnya turun menutup pintu.


"Budek."


"Ehh.."


Jihan mendapati Diandra sudah di sebelahnya. Si teman pergi lagi meninggalkannya. Jihan langsung mengikuti. "Gue kira idung silang. Nilep mobil sapa lo, Yan?"


"Bukan mobil."


"Apa emang?"


"Udah, ntar telat interview lo.."


Saat sampai di mobil, Jihan melihat Nina di dalam sedang sibuk ngobrol lewat hape. Duduknya di belakang kursi sopir, yaitu Diandra yang sudah masuk dan menutup pintu lagi. Jligh!


Jihan segera naik. Ini jemputan atau angkutan gratis, Diandra hanya menatap Jihan mendengar kalimat tersebut. Jihan dipinta konsentrasi pada acaranya dengan personalia.


"Oke makasih. Rejeki gak boleh ditolak."


"Jadi lo ngelamar job apa?"


"Se..les."


"Es pe ge. Jual apaan emang? Info lokernya kayak bukan dari gue deh."


"Tau. Kayaknya jins."


"Jeans. Lafalan lo butuh revisi mulu."


Mobil sudah bergerak. Jihan bingung, mereka berdua cuek, bahkan Nina malah rebahan, kendaraan tidak Dian setir.

__ADS_1


"Lho dia yang remote?"


"Gak. Nih mobil emang jalan sendiri."


"Nilep di mana sih?"


"Punya si Medi. Dia khan anak Snail."


"Apa benaran tau alamat yang gue.."


"Grand office itu khan jauhan. Untungnya lo udah naek. Tau dari mana. Itu yang lo heran khan?"


"Iya. Dari manager gue."


"Biar cepat aja. Toh qorin lo bukan mau makar."


"Bagus nih mobil. Otomatis.."


"Cantik lo lebih greget kalo gini ngampung."


"Daripada gue yang dulu, gregetnya cantik."


"Tetep aja buat gue, Han. Ember."


"Gak kali. Turun ke Si Bonin. Nih anak jadi kasar."


"Psikopat, Kakak Judes. Gue ampelas sekalian muka lo, Kak."


"Khan.."


Vitara hitam melaju di antara kendaraan lainnya. Penumpang tidak terlihat dari luar sebab hitam kacanya. Mobil pun berhenti di lampu merah selayak disetir orang. Setelah menunggu sekitar lima menit, Vitara belok melanjutkan perjalanan.


Salah satu pintu bangunan di Grand Office, Jihan hampir. Dia telah sampai di alamat janjian. Dan mudah menemukannya, dikarenakan ada nama kantor yang terbaca dari jalan raya.


Tiga puluh menit berlalu.


Jihan kembali dengan satu setel baju kerja, warnanya merah. "Nih se-geram dodol."


"Hah? Kapan mulai kerja? Sekarang?"


"Ntar Senen. Lo ralat dong."


"Oh iya, Han. Sera-gam maksud lo?"


"Iya. Yuk cabut."


"Selamat deh."


Mereka masuk kembali, naik mobil.


Vitara pun lalu bergerak, dipandu juru parkir yang baru datang.


Priiit!


"Iya. Terus..! Teruus!"


Prii..iit! Priit! Kendaraan searus distop.


Kaca jendela terbuka, Diandra menyodor imbalan pada abang parkir.


"Makasih, Mbak. Ati-ati."


Sesuai janjinya, Jihan tidak langsung pulang. Dia biarkan Vitara membawanya ke Citymall.


Jalan raya cukup padat, sudah berada di zona tersibuk. Sehingga memakan waktu. Harusnya dua puluh menit mereka sampai. Karena ramai di jalan utama, mereka baru sampai satu jam kemudian.


Diandra dan Nina masih tidur. Mobil sudah terparkir di basement gedung. Medium yang sudah menunggu mereka di depan gate parkir, mengantar Jihan ke halaman depan Citymall.


Jihan dan Medium menapaki trotoar sambil membahas urusan sengketa. Beberapa menit jalan, mereka pun sampai.

__ADS_1


"Oke. Rekam di sini. Nanti kita lihat hasil pindainya, mudah-mudahan akur."


Jihan mengiyakan. Dia gunakan Sosflat-nya sesuai petunjuk Medium, diposisikan landscape.


Benda tersebut seperti power bank, tidak ada layarnya. Jihan jauhkan sedikit, barulah ada tahi lalat putih di pertengahan Sosflat. Wuit!


Kemudian.. muncul titik kedua, warnanya merah, dan bergerak. Wiuut..!


Target harus Jihan sorot, ditempatkan dengan tepat ke titik putih.


Jihan posisikan bidikannya, akhirnya target tertangkap dengan mudah. Layar menyala, menampilkan rekaman alias objeknya.


Dalam tayangan tersebut ada Kisye di sebelah seorang gadis berpakaian ninja, tak lain Jihan sendiri, yang kebetulan menengok saat disorot.


Juga ada Mamah yang sedang menaruh peti kecil di halaman Citymall. Tapi tayangan malah berhenti. Kepala Mamah beriak garis-garis, dan itu gelombang pancar milik gelang laser yang dipakai.


Ada kata; MENERJEMAHKAN sedang berkedip-kedip di layar.


Medium mendekatkan benda yang sama, tapi gambarnya Mamah yang sedang di ruang Pregister. Sementara teks yang ada, serupa pesannya, sedang kedap-kedip; MENERJEMAHKAN.


Didit! Batalkan, pilihan ini tak baik bagi dirimu kelak. Pesan di layar Medium.


Didit! Batalkan, pilihan ini tak baik bagi dirimu kelak. Pesan di layar Jihan.


"Apa maksudnya ya, Med? Jadi ini tuh peringatan ato isi pikirannya?"


"Valid. Ini protokol yang diabaikan paradokmu. Riko membunuhnya."


"Hah? Jadi.. jadi bukan parasas atau paradok lainnya? Napa nyiksa orang?"


"Itu syarat agar dapat fusion dengan parasas. Tak hanya paradok, dia juga tutup buku dengan drivernya sendiri."


"Kurang ajar.. Apa gue inceran berikutnya? Soalnya hari ini gue yang ditungguin."


"Prediksiku, sengketanya itu punya tujuan agar bisa masuk ke timeline kapal. Maka mereka tak menghancurkannya. Minta kamu menyerahkannya, kemudian dia fusion dengan darah muda-nya."


"Jadi target utama Riko sendiri? Dia khan sedang.. Terakhir gue lihat sakit meriang. Apa fusionnya berhasil ntar?"


"Bertambah kuat. Giga saja dengan Riko Future ini kalah. Ini kerjaan SosCamp, bukan LibCom yang harus tangani."


"Riko sendiri di mana sekarang?"


"Dia belum lama kabur, menyerang astraler saat diantarkan ke Panti Perawatan."


Medium menunjukkan video pengendara motor yang jatuh dan diinjak-injak orang yang diboncengnya. Pelaku kemudian kabur setelah korban minta ampun. Tempat kejadian tidak Jihan kenal dan jalan tersebut seperti di tengah kebun karet.


"Trus juga nahan Romi dan Giga buat pertukaran?"


"Ya seperti gitu kira-kira. Bisa jadi. Giga turun karena dia yang merekrut Riko masuk komunitas, maksakan diri."


"Hhh. Gue nge-mind dulu kalo gitu."


"Oh. Sebaiknya cepat. Aku belakangan. Mau jumatan. Masuk via mobil saja. Vitara akan bawa badan kalian jalan-jalan. Nomer karcisnya sudah aku bayar sebelum kalian datang. Tinggal ambil kembalian saja."


"Ya udah. Gue login dulu. Thanks."


Jihan pamit meninggalkan Medium. Langkahnya cepat, seperti menuju toilet, melewati beberapa pengunjung mall lainnya. Maka tak lama, setelah pos parkir dilewati, menapaki basement, Jihan masuk Vitara.


Jligh! Pintu mobil Jihan tutup.


Brrmm!!


Brugh!! Tubuh Jihan mendarat di kamar Paltina, di kasur apungnya.


"Jok ajaib. Haduh kaget njir.. kiraen nyeplos ke kolam."


Jihan turun dari ranjang. Dia berjalan keluar ruangan. Di luar atau ruang kosong, dia mendapati Vita sedang memberi pengarahan pada empat anak SosCamp bersenjata.


"Gue ikut, kalo mau perang bintang.."

__ADS_1


__ADS_2