Kembaran

Kembaran
Jejak


__ADS_3

"Kalo banyak jins kayak Mbak ini, Library bakal lebih kinclong. Ngng.. maksudnya, saya bakal giat kerja."


"Apa yang engkau bicarakan Tuan Muda? Dokter ingin aku mengenakannya. Engkau keberatan dengan pakaianku ini?"


"Cardingan bikin Mbak terlihat muda. Voin sering pake pas SMA karna ikutan trend Kuch Kuch Hota Hai. Pas saya lagi buaya-buayanya, Mbak. Naksir dia gitu."


"Dokter menyukai suity (baju tarung Zihan). Kusampaikan padanya bahwa yang kukenakan bukan perangkat sholat, melainkan jirah."


"Ah, ya. Clone emang kesebar di banyak jaman, Mbak. Jadi banyak yang kelihat unik buat mereka. Trus dia bilang apa?"


"Dia ingin membersihkan bisa yang masih tersangkut. Pake ini aja dulu, Mbak. Dia memberikan baju ini selagi mengenakan jas putih."


"Dia belum tau kain remulti. Apa Mbak ngajarin dia?"


"Aku mencemaskan Tuanku dan bersegera ke sini. Pamit. Kurasa Dokter akan tahu dengan sendirinya."


"Ya.Tapi.. Apa boleh buat.. Guenya belum bisa bangunin Luna Mbak. Sayangnya lagi, ibu angkatku si Bradmin. Aduh, pokonya si Barbar hoki bingit dapet ibu anyar."


"Sudah adzan. Aku titipkan Luna padamu. Tolong tetaplah di sini hingga aku selesai."


Zihan turunkan pundak Al Hood perlahan. Gadis belia di depannya itu hanya mayat terbalut kain ketat, hastanya ditutup tabung elastis, wajah natural.. selegend namanya.


"Ouh. Oke.. Silahkan Mbak," timpal Giga sambil pegang gelas kosong yang baru diterima dari Zihan.


Setelah berdiri menatap Luna, tubuh Zihan susut terhisap pusar. Zwiiitt!


Claph!!


Taman mesjid, berkolam panjang dan banyak ikan dengan warna sisik aneka citra. Kerjapan sinar memotret dekat air mancur. Muncul dan perginya para jins ternyata lewat sini.


Zihan mendarat dan berjalan meninggalkan kolam hingga tampak di depan sana sebangun kubah besar bertengger mirip Taj Mahal.


Puluhan menit kemudian.. Taman mesjid ramai kembali. Ibadah petang bubaran. Suasananya tak jauh dengan Istiqlal di hari raya, hanya saja tiada kelebat bayangan dan cahaya blizt seperti di sini.


Zihan layangkan tubuh sesampainya di kolam, cukup dengan mendiamkan dua tangan saat jalan kaki.


Tapi kepalanya pun sedang diam, tidak lirik kiri-kanan dulu?


Hhm.. Bebas gravitasi begitu mungkin memang bawaan lahir dan sifat halusnya Zihan, dia khan jins.


Claph!


"Ah kau kembali. Aku sudah tahu kabar apa yang akan kudengar. Sungguh aku akan berbuat sesuatu padanya.."


"Bersabarlah. Kami tengah upayakan kesembuhanmu," ucap Qorin setibanya di sel penjara. "Ini salah satunya."


Zihan pasangkan gelang yang dia ambil di meja ruangan, menggantikan yang lama, yang sudah transparan.


Riko berterima kasih. "Trims, Rin. Kaki ini belum mampu kugerakkan. Lebih parah dari coldy dan maagku. Sungguh aku akan berbuat sesuatu padanya.."


Zihan masih sibuk. Selesai mengganti "infus" (gelang), dia gelar selimut.


Riko terus bicara meratapi nasib, Zihan tetap diam, betulkan bantal demi selingkar benang laser di kening Riko.


Beberapa Librarian lewat di depan sel, tidak ada sirine danger karena tampaknya Zihan sering datang ke sini mengurus Riko yang tengah lumpuh.


"Hhh.. Engkau masih ingat sahabatmu? Siapa gerangan Sayang?"


"Tukang bersih-bersih kantin.. Office boy. Sungguh aku akan berbuat sesuatu padanya.."


"Hhh. Siapakah orang sepadanmu itu?" tanya Zihan lagi, dalam wajah putus asa.


"Ti..tidak tahu, Rin. Sungguh aku akan berbuat sesuatu padanya.."

__ADS_1


"Hei. Tak apa. Untunglah kerabatmu ingatkan aku mengenai kondisimu ini. Kalian satu sekolah sejak masa kecil. Alhamdulillah, tak sekedar ucapan belaka, Tuan Muda menangisimu. Kami semua kehilanganmu."


"Sungguh aku akan berbuat sesuatu padanya.. Sungguh aku akan berbuat sesuatu padanya.." racau Riko. "Sungguh aku akan berbuat sesuatu padanya.."


Zihan menghembuskan nafas, meniru gaya orang pas kelelahan. "Hhh.. Inalillahi."


"Sungguh aku akan berbuat sesuatu padanya.."


Zihan beranjak dari duduk, namun masih di pinggir ranjang, berdiri memandangi Riko.


"Hhh. Hai Anak Langit.. Terima kasih atas kesediaanmu membantu kami," ucap Zihan, seperti sedang dialog antar jins, mata memejam berterima kasih pada pemilik kalimat. "Bangunlah Al Hood. We are need you. Wake up, Luna.."


Zihan dalam tunduk meminta, tapi seperti sedang mengheningkan cipta.


"Sungguh aku.. Hhh, hhh.. Sungguh.." engah Riko, berhenti menggeleng-gelengkan kepala.


"Hhh. Alhamdulillah hirobil alamin. Syukurlah. Terima kasih telah mendengar rasa cemasku ini, Luna."


Zwiiitt..!!


Zihan tinggalkan Riko selesai mengistirahat si pemuda dari igauan. Riko memang sudah tertidur dengan tenangnya.


Di hutan, Giga bingung dengan tubuh transparan yang dijaganya. Dipegang masih ada, tapi dilihat mata, nyaris tak ada, tembus pandang.


Claph!


Si Rambut Bihun menoleh ke samping, seberkas cahaya memotretnya dan dihampiri.


"Hei, dia napa Mbak? Gue cuma siulan. Mondar-mandir doang, gak ngulik Epsi (FinalCutter)nya. Dia ngedadak bening begitu.."


"Reminant body. Serupa astral projection. Engkau benar. Demikian ini adanya, Tuan Muda. Hhh.. Syukurlah. Luna sudah di gurun, menunggui sesuatu di sana. Engkau tenanglah."


"Ouh.. reminant. Bradmin juga bilang gitu, tapi bikin bingung Mbak. Lo bilang apa Min?"


"Al Hood baik-baik saja. Terima kasih kalian telah berjaga. Aku akan menemuinya," beritahu Zihan sesampainya di tempat yang Giga takutkan.


"O.. oke."


Claph! Zihan pancarkan cahaya perut di balik lapis suity, tidak ber-cardigan lagi. Sementara Giga kembali arahkan mata ke bayangan Luna, objek-terbaring masih transparan.


"Berarti tas yang lo simpen dah keendus dia, Min. Efek neywatnya khan? Tapi nih, waktunya sholat. Di Itiqlal aja Min, deket.."


Oke, Brad


Claph! Badan Giga langsung lenyap ditutup sinar milik pusarnya.


Whhuss.. angin padang pasir berhembus.


Zihan melirik bocah tudung yang berdiri di sebelahnya. Mereka persis adik-kakak. Qorin kembali menatap ujung gurun di mana sedang terbentang fatamorgana.


"Ini benar-benar brankas, Anak Langit," komen Zihan dengan pupil mata masih violet.


Ternyata keduanya tidak sedang menunggu senja. Lewat pandangan kornea Zihan tersebut, bola mata ini menampakkan kubus besar setinggi piramida. Kembali ke kamera, tidak ada apapun di hadapan mereka.


Whhss.. Hanya angin lewat.


Luna memperhatikan telapaknya, Epsi sang pusaka merayap keluar, meliuk-liuk. Lalu benang redglow ini diam mirip Cobra siap matuk, mirip huruf Z.


Kwwtth!! Epsi malah sembunyi, balik ke sarang, pilih jadi urat biasa.


Luna luruskan tangannya ke depan, dia gantungkan begitu saja.


Syutt! Jarum melesat lurus dan merah dari tangan empunya.

__ADS_1


Slapp!! Suara benda menancap. Lalu..


Wuu.. iichh!! Brugh!


JRENG..!! Kubus hitam menampakan diri usai lapis ghoibnya robek, menjalari ke semua permukaan yang ditutupinya, akibat tembakan Luna tadi yang niru Spiderman, bedanya Al Hood diam sehabis nembak.


Saking tingginya brankas tersebut, mereka seperti berada di bawah suatu tebing.


Set! Tangan putih Luna menyentuh Zihan.


"Anak Langit, biar kuambilkan untukmu."


Luna menggeleng pelan di balik tudung kaku. Jadi hampir tak terlihat gerakan tersebut, saking pelan.


"Baiklah. Kita tunggu Epsi selesaikan pekerjaannya. Ah.. Nama yang menarik. FinalCutter."


Benda yang disebutkan tengah melingkari brankas. Namun, masih tahap demi tahap.


Kuwetth..


Kuwetth..!


Kuwetth!!


Wet-wet-wet.. !!


Wet-wet-wet!! Wrrg!!!


Syuuutt!!


Whuss!!


Seketika kotak besi terlingkar mengecil menjejakkan kabut pasir saking cepatnya si benda menyusut.


Zihan dan Luna melayang bareng ke depan mereka tanpa menghiraukan keruh angin yang ada.


Setelah beberapa menit melayang, samar-samar mereka dapati brankas dalam ukuran aslinya, 75x75x75 cm, bertengger di tengah-tengah selapang dataran.


'Create by Bradmin, tapi bersambung..' pesan terbaca di pintu kas.


Set! Zihan mencabut kertas pesan dan dia baca kelanjutan kalimat di balik lembaran; tidak dikunci


Bluph! Kertas jadi asap, alir udara pun langsung menghapus kepulnya. Whhs..


Usai dibuka, mereka biarkan pintu brankas tergangga.


Wets! Tas hitam dibuka. Zihan mangambil isinya. Zihan ambil, dia buka kotak di tangannya. Kotak ditaruh, Zihan buka bungkusan kain yang menutupi.


Tling! Suara bunyi besi beradu. Sebening batu muncul di pertengahan batang.


"Masih murni."


Zihan berikan trisula pendek tersebut pada Luna. Satunya lagi dia bungkus kembali. Dia juga membiarkan Luna mencium batu merah tersate, bekuan suami sang Induk.


Al Hood termenung sejenak, berdiri pegang trisula. Mungkin sedang memproses hasil penciumannya.


Zihan sibuk mengemas, lalu selesai tarik penutup tas, Zihan pasangkan pada ketiak sambil berdiri.


Bluph! Kabut abu hadir tak jauh dari mereka, serupa dengan warna asap yang pernah dimasuki Jihan di hutan. Mungkin namanya portal Kabur.


Zihan lihat dengan violet mata, portal langsung dikenalinya.


"Luas sekali Pnilyen. Apa sebaiknya kita datang bertiga? Mereka tengah menunggu penyusup, Luna. Alangkah.."

__ADS_1


Al Hood sudah transparan, sudah pergi duluan. Zihan lihat portal ke Pnilyen masih eksis.


__ADS_2