Kembaran

Kembaran
Mamah


__ADS_3

Dekat gapura Lam Alif, pukul satu siang.


"Maaf ya Dok, saya merepotkan. Mari lewat sini," ajak Mamah kemudian. Dua tamunya segera jalan meninggalkan Avanbil. Mamah mendapati mereka baru saja turun setelah kendaraan berhenti terparkir. "Hani masih di sekolahnya Dok. Sudah baikan, mau minum air putih lagi. Tapi anak saya pernah bilang begitu. Dia diam-diam pergi lagi. Barangkali emang ke rumah Dian, saya tidak begitu was-was Dok. Saya tidak tahu kalo nantinya kambuh, dia pergi ke mana. Saya masih memarahinya sewaktu dia kembali, sudah ke rumah, hari Sabtu. Dia tiga hari di rumah temannya."


Bapak sedang mengobrol dengan seorang tetangga lelaki di depan pagar rumah. Ketika tamu sudah sampai, Bapak mempersilahkan mereka.


"Isteri saya yang telpon mereka, kemarin," lanjut Bapak setelah tamu sudah di dalam rumah. "Dari luar kota. Tempat praktiknya, kalo gak salah sih sebelah yayasan rehabilitas. Psikiaternya di sana mungkin."


"Ouh jadi Gizi di bawa ke sana dulu itu?"


"Iya, sepulang kuliah. Anak perempuan tapi tenaganya.. Ck! Gizi hampir lari ke jalan kalo saya tidak cegat. Hsssh..!" Bapak hisap lagi rokonya. "Kata isteri saya sih, pas Gizi lihat ada orang yang dikenalnya di ruang tunggu, dia akhirnya mau diperiksa."


"Di yayasan itu?"


"Gak tau orangnya kayak gimana. Bukan.. Di ruang praktik si Dokter."


Di gerbang kampus, jam bubaran. Pagi banyak pedagang, dekat jam Ashar ini, banyak angkot. Mereka yang tinggal di asrama bergerombol hiking ke kanan gapura.


"Hoaamm..mm, dadah.."


"Iya. Jangan tidur lo, rumah kelewat ntar."


"Siap! Siap.. Oke Han," jawab Diandra di jendela.


Jihan segera memisah dari mereka yang berebut naik angkutan. Di tempat agak renggang, tangannya dimasukan ke dalam tas.


Grrrth! Zwiiitt! Bunyi tersebut agak keras, tapi keburu di susul bunyi ponsel yang asli.


Kring! Kring! Bunyi sedan di atas genting! Mobilnya turun tidak tersangga. Cobalah tengok..


Klik!


"Iya Mah?"


Nada keburu disumpal. Huh Jihan, ada yang nyanyi, malah distop.


"Kamu di mana?" Mamah bertanya.


"Di kampus Mah. Lagi nunggu angkot nih."


"Mau dijemput sama Bapak gak? Mumpung kami libur."


"Umm.. boleh Mah."


Mendadak telepon diputus. Tuut.. tuuut.. tuut!


"Hah..? Libur tapi.. Ngeprank?"


Jihan lihat layar hapenya agak lama. Tiga detik kemudian icon horn di photo Mamah, Jihan sentuh. Taph! Tepat di hidung si wanita.


Ditunggu-tunggu, Mamah tidak juga menjawab. Akhirnya Jihan cancel. Taph! Ponsel langsung dia simpan ke dalam tas.


Kring! Kring! Bunyi sedan di atas genting! Mobilnya turun tidak tersangga. Cobalah tengok..


Klik!


"Halo Pak?"


Tuu.. ut..


Tuut.. tuuut.. tuut!


"Ya Allah. Ckk..! Anak sembuh, orangtuanya kambuh. Haduh.. Lagi pada ngapain sih di rumah, ngebingungin gini."


Akhirnya si benda dimasukan ke saku jas, Jihan hampiri kendaraan terdekat yang masih ngetem.


"Ayo Neng, satu lagi jalan," kata bang sopir saat Jihan datang dan langsung masuk, duduk memadati tumpangan.


"Gang Lam Alif ya Bang."


Brrm!! Brmmm... mm! Angkot belok bergerak ke samping mendahului yang masih ngetem di depannya.


Jihan sudah duduk sendirian di perjalanan pulangnya ini. Dia sibuk mengetik pesan WA ke nomer Mamah. Panjang-panjang isinya seperti lagi bikin novel.


Pesan aslinya ini; Mah, Pak.. Jihan ngambek.

__ADS_1


Tin! Tin..!


"Iya, bentar-bentar, Bang."


Lima belas menit kemudian..


"Neng, gang Lam Alif..?"


"Iya, ih! Satu menit lagi. Bentar.."


"Hadeeh.."


Dengan panjang-lebar Mamah masih menceritakan kondisi Jihan bulan-bulan ke belakang.


Di meja tergeletak dua smartphone, tapi Mamah duduk tak peduli lampu indikator yang ada, bunyi notice sedang disilent.


"Pengasuh yang saya sewa undur diri. Bulan berikutnya saya lebih banyak kasih arahan ke pengasuh baru kalo anak saya sedang depresi. Saya bilang ke dia, frustasi yang Hani alami ganjil. Hani selalu minta digambar dandanan rambutnya, tidak bisa lihat diri di cermin. Beberapa minggu jalan, pengasuh lalu cerita ke saya. Hani di tempat-tempat tertentu sering menutup telinga, hidung.. Katanya di sini, di situ sumber bau itu masih kecium. Ya sudah karena waktu itu masih pandemi, saya larang Hani keluar rumah Dok."


"Jadi hanya parasetamol ini yang dia minum?"


Kotak obat di meja sedang dicatat isinya, dan ada dua bungkus yang sudah kosong, pil dan tablet lainnya utuh belum dibuka.


"Ya Dok. Saya yang sediakan dari apotek rujukan Anda. Sedikitnya saya pun ikuti terapi yang Anda sarankan. Maaf jika terlalu sering nelpon. Jadi kami tak lagi cari pengasuh setelah yang terakhir itu."


"Ouh. Semua sarannya dari rekan magang saya ini Bu Lingling. Mahasiswa magang," kata Psikiater.


"Oh saya kira ini anak ibu. Samaan dengan anak saya. Nama kamu siapa Dek?"


"Ririn Tante."


"Eh.. Oh. Iya. Ya. Silahkan diminum dulu."


Setelah sirup diminum tamunya, Mamah tak jemu menatap Ririn.


"Terus belakangan ini keluhan yang dulu bagaimana Bu Lingling?"


"Ouh.. Eh, iya Dokter?"


"Nyeri di kepala Hani sudah berkurang..?"


"Ya. Yaa. Sejak kembali ke rumah ini, dia tidak minum obat apapun saya tanya. Selama di sana, di rumah temannya itu, Hani suka kabari saya tiap pulang dan pergi sekolah."


Srekh..! Suara kertas di buka. Setelah membaca, wanita ini menulis lagi.


Srrt! Srrt..!


Name-tag di jas sang dokter tercetak nama Fatimah dan gelarnya, sibuk baca dan mencatat isian di paper board. Sementara Mamah menoleh pada Ririn yang dikiranya puteri sang psikiater.


"Tahun depan magang Ririn selesai," ucap gadis ini, balas tersenyum pada Mamah, dan mengangguk demi berita tersebut. "Hu um. Masih lama, Tante."


"Siapa tadi, nama kamu?"


"Riii.. rin." alun si Gadis, menjawab suka cita.


"Kamu jangan seperti Hani, Yaa. Di.. dia itu bucin lho."


Ririn menggangguk.


"Iya. Pasien kamu ini pacarnya meninggal. Mamah.. eh, Tante bingung sama Om, Rin."


Ririn hanya tersenyum-senyum. Setelah lama tertunduk, matanya kembali ke arah mata yang sama. Mamah pun demikian, batal baca hape.


Maka keduanya.. menatap satu sama lain. Tiga detik, lima detik, tujuh detik, sembilan detik..


Senyum Ririn dan Mamah jelas makin terlukis di wajah mereka.


Mamah menengok jam dinding, padahal sedang pake jam tangan. Lalu Mamah menghela nafas, senyumnya melebar.


Ckit.. Di tengah gang, saat jalan kaki, Jihan berhenti. Bola matanya mengekor-ekor. Badan yang tadinya kaku, Jihan lemaskan. "Hhh.. Durhaka, ahh."


Usai berubah pikiran, Jihan tetap diam di tempat, kacak pinggang, kening berkerut, bibir agak maju ke depan. "Umm.. Buku perpus udah, punya si Yuyun utuh, buku sakti pak Wawan tamat.."


"Hmm.." Saat mengusap-usap dagu, jari manis Jihan berkilau. Empunya masih bingung, malah garuk-garuk. "Aduh, iya.. "


Ngueeng!!

__ADS_1


Set!


"Kurang tengah! Modar!" ucap pengendara motor.


"Ugh. Ckk! Haduuh.. itu.."


Gang emang sepi pejalan kaki. Jihan baru sadar, lenggangnya jalan membuat dia tenang, tapi nyaris ditabrak berandalan lokal.


"Apa jangan-jangan.. tenang gini.."


Jihan melangkah, tasnya dipegang, kaki langsung dipercepat.


Jihan putuskan lari. Satu rumah, dua rumah, tiga rumah, sampai pada akhirnya..


Ckit.. berhenti lagi.


Mata Jihan yang agak sipit, dipicingkan.


Syuut! Zoom out.


Jihan mendapati Mamah berjalan meninggalkan pagar rumah bersama perempuan berjas kampus kuning, celana jeans hitam.


Jihan lanjut berlari. "Mamaaah!"


Deph!


"Hani!" balas Mamah, memeluk anak gadisnya.


"Mamah baca WA Gizi gak sih?"


"Mamah sibuk sama psikiater kamu. Mamah bisukan."


"Aduh syukurlah, Mah. Kalo belum dibaca. Trus maafin kalo Mamah udah baca."


"Kamu nih ngirim apa ke Mamah Hani?"


"Sembilan puluh enam bintang paling terang berserta uraiannya Mah. Fix, Hani sembuh."


"Tapi Mamah lebih percaya bu Fatimah."


"Ya udah Hani kambuh."


"Kapan pun yang kamu mau, Sayang.."


Jihan melepas pelukan. Begitu pun dengan Mamah yang lanjut menyeka pipi. Jihan pandangi wajah Mamah tanpa kata.


"Wuwu.. wu."


"Ya Allah. Jangan tiru dosa Mamah Hani."


"Eh, lo siapa ya? Ipit lentik gini matanya, Mah."


"Mamah udah tau sekarang, siapa kalian ini. Hikk!"


"Ouh aduh. Gini Mah. Kalo Hani minta ijin langsung, pasti Mamah.."


Deph!


Mamah seperti tak kuasa lagi mendengar kata-kata anaknya. Jihan pun segera diam dan melingkarkan tangannya ke punggung Mamah.


"Kamu cantik sekali Rin. Jasadnya siapa ini?" tanya Jihan mengusap-usap pundak Mamah.


"Saudarimu."


"Kakak..?"


"Demikian.."


"Libur barengnya sering lho."


"Ijin orangtua lebih penting. Ya Mah?"


"Hikk! Kalian berantem?"


"Iya. Tapi.. Gizi udah minta maaf."

__ADS_1


"Uhuh.. Hikk!"


Mamah melepas pelukan, membersihkan kedua pipinya. Bapak masih mendengarkan hasil diagnosis, Mamah juga memberitahu Jihan bahwa mereka hendak menyusulnya ke kampus.


__ADS_2