
Aura yang masih menguap di tubuh Giga perlahan terserap, merasuk ke badan Zihan. Mungkin pengaruh dari mantra atau mukena yang Zihan gunakan. Entahlah, ternyata tenaga jins pun ada batasnya.
Tujuh puluh dua jam kemudian..
"Ugh.. berat banget padahal mahluk halus. Egh!"
Ghosmoxe kita ada pada dia, diransit abis, Bos
"Kontek Snail.."
Mereka lagi on the way, katanya baru denger, apa itu ghosmoxe
"Dia clone baru kayaknya."
Nguu..ung! Gadis berbaju paskibra datang menjejakkan badan yang menggasing tiga detik.
"Wah Al Hood. Kenapa si Legend nih? Kena racun juga?" tanya si pemegang tongkat.
"Mana gue tau," jawab Giga yang akhirnya diam membiarkan diri tergencet patung Qorin. "Sadar-sadar udah gini. Biar aja. Al Hood biasanya tidur kalo udah gak ada anak buah."
"Sabar ya. Dokter kita masih nyariin plug-in. Nih tugas pertama kalinya."
"Bener khan gue bilang. Baru tapi wajah kalian sama aja."
"Eh, nih bisa.. level menengah kayaknya. Yang kelas atas hanya dapat dilakuin manusia tanpa perlu nyentuh."
"Dah lah, Kis. Gue malah pernah meledak sehabis di-magic otak inangnya. Kibasin Spear elo, please.."
"Lapan enam, Orang Tua!"
Paskibra berdiri. Seketika patung langsung mengecil jatuh. Syuuutt.. Plugh!
"Sudah."
"Gue masih muda, Kis. Kalo bininya sepuluh, elo boleh ngomong gitu."
Nguu.. uung!
Baru berdiri, Giga menoleh ke samping.
"Duh, maaf.. kelamaan. Mana pasiennya?"
"Di sini," tunjuk Giga ke tanah. "Kamu bawa apa?"
"I.. ini, peti. Ukurannya emang segini aku dapat," ucap gadis baju cardigan, benda yang dibahas ada di antara dua jari, persis korek zippo.
"Ya sudah. Itu blangkar."
"I.. iya. Anda benar. Ini blangkar. Maaf.."
__ADS_1
"Hhh."
Giga menghela nafas. Si Dokter menghampiri dan dibiarkannya menggali dekat Al Hood. "Jangan pake tangan, Neng. Aduh.."
"Oh, iya.. Maaf. Aku balik dulu kalo gitu. Harap tunggu ya."
"Ouh silahkan, silahkan.."
Si Penggali berdiri, dia pun berbalik pergi, tapi Paskibra tiba-tiba mencegat.
"Tunggu. Lo napa sungkan? Gak usah balik. Minta tolong kek.. ke dia."
"Aduh.. ihh.. Malu, Kak."
"Jah.. Malu. Ya udah. Lo gak perlu gali deh, udah gue bantuin kok. Pasien udah kamu bawa."
"Hah beneran?"
"Yupp. Langsung ke part dua aja. Perendaman. Pasien ghosmoxe harus dinetralisis di kolam bengkel."
"Iya, Kak.. Makasih."
"Sekarang pijak tapak yang kamu lihat di tanah."
Terlihat tapak kaki seperti yang dikatakan kondektur.
Sang Dokter segera mengikuti arahan Paskibra. Selangkah ke depan, dua langkah ke kiri.
Nguuooong!! Jika di luar terdengar bunyi nguu..ung!
Di atas, setinggi gedung, terlihat rangkai gerbong amat panjang masuk ke lubang waktu dalam kebutnya, kereta ini pun melingkar jalur relnya, dan anehnya tak terguling.
"Sstt! Pegangan.."
Dokter muda menggangguk. Saat tangannya menyentuh Spear yang sudah nancap, pemandangan tadi berganti jadi ruangan gerbong, perlahan.
Stenlis yang dipegang menghilang saat tangan Dokter melepaskannya.
"Ruangan gelap tadi tuh apa ya Kak?"
"Terowongan. Kalo di darat namanya kawah."
"Terowongan juga khan di darat."
"Iya lubang cacing."
"Ouh."
Di luar jendela kereta tampak bintang dan galaksi. "Umm, yang itu boleh Kak?"
__ADS_1
"Bebas, jendela yang mana aja."
Taph! Bunyi sentuh.
Kaca tiba-tiba menayangkan bayangan wajah Dokter. Saat disentuh lagi, lapisan berganti menayangkan halaman Youtube.
"Eh, iya. Masih jam tugas," sadar Dokter. Dia dapati Paskibra sudah duduk manteng handphone. "Aku ke lab dulu ya, Kak. Makasih."
"Ouh, oke. Iya. Sama-sama," jawab Kis, tangan satunya pegang kaleng, anteng baca-baca sambil nyedot minuman.
Sesampainya di depan pintu kereta, Cardigan berdiri pada keset circle, menyentuh-nyentuh ujung jari dengan jempol.
Zhang! Cahaya melesat ke atas dari keset yang dipijak.
Dokter melangkah keluar peron seperti orang keluar lift, dinding belakang menampakkan kereta yang melaju dua kali kecepatan peluru, dinding kaca.
Welcome to FosMED.
Hall utama rumah sakit banyak jins berlalu lalang. Ada kelebatan, ada juga yang jalan kaki.
Pyuur..!!
Patung mini tenggelam usai Dokter masukkan ke tabung kaca, atau kolam bengkel. Benda tersebut mirip tablet suplemen, persis batu karbit, menggelegak lepaskan muatannya, udara ghosmoxe hingga air gelas jadi hitam.
Satu jam kemudian, Zihan keluar menembus pintu yang dimasuki Dokter. Sesampainya di peron tiga dinding, dia ketik sesuatu di layar kaca.
Bip! Mohon menunggu
Jins berwajah persis sang Dokter datang dan mengenali Zihan.
"Eh Mbak. Ke mana?"
"Hai, Canteen. Aku hendak kembali menemui Luna."
"Lapak empat belas ya? Parasas lagi? Mampir atuh ke kafe Mbak."
Canteen sibuk menyentuh jemari.
"Insyaallah Sayang."
"Ajak Jihan ya Mbak. Yuk mari. Assalamualaikum."
Canteen membening hilang di peron enter ini.
"Walaikumsalam."
Bip! Tujuan dikunci, harap menunggu di dalam gerbong sampai petugas datang
Zihan biarkan dinding peron menjauh. Wssh.. Lalu, seketika atap, lantai dan dinding gerbong datang mengurungnya. Dagh-digh-dugh!
__ADS_1
Claph..
Gerbong diterangi lampu selesai bawa masuk penumpang.