
"Karena kamu sudah di sini, doktermu juga sudah menyatakan sembuh soal mentalmu.. Ya sudah. Mamah puas. Kamu takkan ke mana selain menjadikan dirimu sendiri."
"Pasti nih omongannya Ririn."
"Tapi Mamah setuju kok. Kamu jika dipaksa-paksa.."
"Wuwu.. wuu!"
".. malah durhaka. Ambil yang bagus-bagusnya dari Mamah."
Jihan hanya mencium tangan Mamah, tidak meladeni lagi. "Hani mau ashar dulu Mah."
"Oh iya Solehah. Mamah ke depan dulu beli bekalan buat kakakmu," dan Mamah meninggalkan Jihan.
"Iya."
Mamah kembali menanyakan Fanam pada Ririn. Tak sengaja Jihan mendengar cara bicara Mamah, sapaan itu persis ke orang dewasa, ada kata 'Jeng'.
"Assalamualaikum!"
"Eh, walaikumsalam Hani. Sudah pulang ya..?"
Jihan datang dan mencium punggung tangan dokternya. "Iya Bu."
Bapak pun Jihan salami serta langsung duduk di sebelah lelaki ini.
"Jadi ibu sudah cerita ke Bapak soal dunia kamu itu. Orangtua dalam pengecualian privasi.. Hani."
"Apa Bapak mau terima, Bu?"
"Ibu masih bingung menjelaskannya."
"Iya Hani. Di mana tempat kamu mendaftar ya?"
"Daftar apaan?" tanya Hani pada Bapak.
__ADS_1
"Gak jadi deh. Yang lagi Bapak bingungkan ini orang-orang di penampungan, di yasasan itu. Mereka sudah sembuh, tapi keluarganya gak mau ada jin qorin dalam diri pasien. Pasien lalu kambuh, dan dikembalikan ke bu Fatimah ini. Apa kamu bingung?"
"Ouh. Hani emang gak mau di sana kok, Pak. Udah gede gini apanya yang musti direhab coba?"
"Bukan. Bapak prihatin. Kok tega gitu, membuang anggota keluarga sendiri ke sana. Bayar gak ke yayasan. Lebih prihatin lagi, mereka melaporkan komunitasmu itu ke polisi. Dilaporkan sebagai peternak tuyul, oknum konspirasi, Illuminati.. Gitu kejadiannya."
"Tapi.. Pak.." manyun Jihan.
"Yayasan malah dikenal. Kamu tidak kerehab jadi alien, berbeda dengan laporan-laporan.. isu-isu itu."
"Sumpah Hani gak pake daftar-daftaran. Khan tau Bapak sendiri, Hani depresi kehilangan Riko. Insomnia. Psikosis. Terus ngedadak denger dan ngendus ini-itu, yang gak ada sumbernya."
"Ya sudah. Syukur kamu sudah sembuh. Bapak mungkin lagi kesel sama orangtua seperti.. Kurang mendalam pemahamannya pada anggota keluarga sendiri. Jadi mereka pikir, Han.. gangguan psikis kamu itu berasal dari yayasan doktermu ini."
"Waduh.. Pesaing pada jatuh harga kayaknya nih. Pengobatan-pengobatan sepi pengunjung mungkin, Pak."
"Sengaja Bapak simpan dulu berita miring itu. Mengusahakan kesembuhan kamu dengan cara yang Mamah mau. Tapi pengasuhmu malah takut-takut."
"Iya. Hani inget kok. Mbak Yanti. Mbak Hanifah. Sama Mbak Tiara, komikus itu."
"Kami tetap buka praktik, Pak.. mengikuti point-point standar operasional medis," sela bu Fatimah, menjelaskan lagi soal tempat kerjanya.
"Kiraen Bapak bahas apa-apa. Ya sudah. Hani mau ashar dulu, Pak.. Bu.."
"Silahkan. Saya juga mau pamit, lagi menunggu Ririn kembali, Hani."
"Ouh iya. Makasih banyak ya bu Dokter."
Usai menyalami, Jihan pergi ke kamarnya.
Bapak lanjut protes dan komentari kelakuan para 'penitip' yang gak bayar.
Di meja ada sampul tebal berlogo Cloud Ring dan teks SosCamp, persis rapot yang sudah ditandatangani. Entah isinya apa, Bapak tidak membahasnya.
Di pinggir jalan, dekat gapura gang, Mamah foto-foto bareng Ririn dan Dokter. Setelah selesai
__ADS_1
"Mah, ini Ririn lho yang ngomong. So happy ih si Mamah."
"Kalo begitu sampaikan juga salam saya pada pengasuh Ririn ya Jeng. Awas kalo ke bapaknya," kata Mamah.
"Udah kok Mah. Rini sedang dengar kita."
"Mamah suka sumringah kamu Jeng.. suka sama kalian berdua, walau satunya dari alam halus."
"Eh iya. Kami berdua udah lama menantikan ini Mah. Kalo Mamah mau, Ririn bakal datang lagi kok. Soalnya seneng, ketemu Mamah."
Mamah memeluk Ririn. "Iya Sayang. Aduh kamu pinter bikin Mamah baper."
Ririn gerakkan kepalanya ke tubuh Mamah sambil pejam mata. Senyum Jihan pun tersalin di wajah saudari tiri, beda bibit ini. Sementara senyum Mamah masih tetap senyum bahagianya untuk bayi 24 tahun sang ibu.
Cup! Kecup Mamah di kening Ririn. Yang dikecup, segera membuka pintu sopir masuk Avanbil.
Ge..jligh!
"Ati-ati ya Sayang."
"Iya Mah. Sehat selalu."
"Amin Sayang.."
Mamah berjalan memutar ke depan mobil, lalu berdiri menunggu di trotoar. Tak lama ada suara starter.
Bremm mm..!!
Tin!
"Iya.."
Avanbil bergerak pelan di sebelah Mamah. Bu Dokter melambai lewat jendela, begitu juga Mamah, balas menggoyangkan telapak.
Mamah diami tempat sambil bersilang tangan, begitu objeknya hilang, kakinya segera menapak ke aspal gang Lam Alif.
__ADS_1
Bapak yang menunggu di bawah gapura, membiarkan Mamah bergelayut. Mereka pun jalan menuju rumah. Di tengah obrolan Bapak mengacak-acak poni Mamah, sang isteri malah bersandar ke bahu Bapak.