Kembaran

Kembaran
Quantum Entanglement


__ADS_3

Kelas hanya diisi belasan orang yang semuanya karyawan. Jihan satu-satunya perempuan di antara mereka. Dia sudah pernah ikut jam khusus ini. Ketika ashar tiba, kelas diistirahatkan, Jihan masih duduk mencatat.


Dua orang lainnya sedang membuka bekal makanan. Salah satunya menepuk kepala karena lupa kopi. Si teman kecewa dan minta dia cepat ke kantin mumpung masih buka.


"Giz mau nitip gak?"


"Ehh.."


"Apa lagi puasa?"


"Gak kok, Wan. Ya udah. Nitip dong." Jihan membuka tasnya. "Daun Gunung."


Kelas dilanjutkan pukul empat sore. Dosennya masih yang berkacama. Mereka yang masih menyalin tulisan, diminta berhenti. Untunglah Jihan telah selesai copas sebelum jam masuk. Dosen pun mulai merinci satu per satu istilah yang dia cetak di papan.


"Quantum entanglement. Ada yang sudah tahu?" tanya pak Dosen.


Seorang yang duduk paling depan angkat tangan.


"Fajar Fauzi Hakim. Silahkan.."


"Hal yang perlu diketahui sebelum membahas soal quantum entanglement adalah, pada fisika kuantum kita tidak bisa tahu karakteristik suatu partikel sebelum kita mengukurnya. Jadi sebelum kita melihatnya, suatu partikel, katakanlah, memiliki sekian persen kemungkinan berwarna merah atau dan sekian persen kemungkinan berwarna biru. Tapi saat kita mengeceknya, maka akan diketahui apa warna partikel tersebut. Seperti pada analogi kucing Schroedinger.


Tapi pada quantum entanglement, jika ada dua partikel yang saling terkait (entangled), lalu kita mengecek satu partikel berwarna merah, maka yang lain pasti berwarna biru. Jika yang kita cek berwarna biru, yang lain pasti merah. Jika hasil pengecekan kita berubah-ubah, maka partikel lain pun akan berubah-ubah warnanya, sesuai partikel pasangannya. Seolah-olah kedua partikel sudah janjian atau ada komunikasi untuk menampilkan hasil pengecekan sesuai hasil pengecekan yang lainnya.


Yang menakjubkan adalah hal ini secara teori tetap bisa terjadi meskipun jarak kedua partikel sejauh ujung alam semesta ke ujung lainnya. Padahal kalau memang ada komunikasi antara kedua partikel, hal itu mustahil terjadi karena berarti kecepatan komunikasinya melebihi kecepatan cahaya. Sedangkan tidak mungkin ada yang lebih cepat dari cahaya - link artikel ada di bawah"


Pak Dosen segera melengkapi penyampaian sang murid.


Jihan dan yang lainnya masih tetap bisa santai mendengarkan. Penuturan yang berlangsung begitu berapi-api. Semua menyimak tanpa terlihat bosan.


Masuk jam maghrib, pelajaran ditunda sampai isya.


Dari masjid, Jihan pergi cari makanan ke luar kampus. Walau bisa lewat olfood, dia pilih baso urat langganan. Mirip quantum entanglement, sudah ada keterkaitan antara lambung-nya dengan jajanan berkuah itu.


Cukup lama menunggu jam kuliah datang, akhirnya orang-orang berkumpul lagi di ruangan. Beberapa mahasiswa tidak hadir dan Jihan tahu ke mana perginya jika bukan ke pabrik. Begitulah adanya kelas karyawan yang dia ikuti. Pak Dosen yang lebih dulu hadir segera melanjutkan mata kuliah pegangannya.

__ADS_1


Entah mata kuliah apa, yang pasti masih berhubungan dengan astronomi.


Bukankah istilah quantum entanglement itu dari bidang fisika? Memang bukan nama bintang atau galaksi. Hubungannya dengan ruang angkasa adalah jarak.


Quantum objeknya dalam skala renik alias dunia atom. Sedangkan astronomi objeknya berskala besar. Kedua bidang pastinya takkan mengabaikan ukuran maupun jarak.


Jadi mungkin saja akan muncul gagasan baru dari para calon astronom setelah para fisikawan.


Jihan menghela nafas begitu sampai di kamarnya. Hari yang melelahkan memang. Jam sembilan lewat semua aktivitas selesai. Jihan yang sedang rebahan menatap langit-langit kamar.


"Apa gue sama paradok masuk bahasan tum entang ya?"


Tum entang yang Jihan maksud adalah quan-tum entang-lement.


"UFO udah kebongkar. Itu barangnya Snail. Produk jadi-jadian yang gak boleh dipamer-pamer."


Pintu kamar diketuk. Suara Mamah terdengar minta penghuni kamar segera makan.


"Nih paradok kalo ntar muncul musti gue apain. Dia produk waktu, pikiran gue sendiri.." gumam Jihan.


"Ehh.."


"Ayo makan dulu," pinta Mamah di depan Jihan.


"Mamah Cantik bikin kaget. Biasanya Mamah dobrak pintu."


"Mamah minta satu, surat lamarannya, Hani. Bukan mau praktek kolusi. Jangan overthinking."


Jihan beranjak bangkit, menyusul Mamah, takut terlewat topik. "Iya. Trus? Orang mana dia? Mahar-nya apa Mah?"


"Tidak pakai duit, duitan. Langsung wawancara."


"Hadeeh. Kiraen acara tunangan. Kapan tanggalnya main Mah?"


"Tunggu ibu Nelsa nelpon kamu. Mungkin rada siangan."

__ADS_1


"Hore ditelpon camer. Dapet pasangan."


Mamah duduk tanpa peduli candaan anaknya. Lanjut menyeruput kopi dan menonton tivi di ruang tengah ini. Sementara Jihan dibiarkan sibuk di dapur.


"Ilmuwan aja percaya, segala sesuatu berpasangan. Benda-benda juga ada jodohnya Mah."


Jihan simpan piring nasgor di meja setibanya di samping Mamah. Dia duduk menyuapkan isi sendok.


"Kalo kamu sudah bekerja jangan lagi seperti yang sudah-sudah Hani. Selagi lajang banyak menabung."


"Ummh.." Jihan menelan makanan. "Tum entang Mah."


"Dan jaga kepercayaan orang."


"Biar dua benda nih kepisah jauh, salah satunya ikut kedampak saat terjadi sesuatu. Pasangannya kena efek juga gitu loh Mah."


"Tempat kerja bukan seperti di rumah, yang seenak dan semaunya kita."


"Siapa gak seneng dijodohin pilihan Mamah coba? Hani udah lama pengen banget perhatian yang kayak gini."


"Patuhi aturan kerja yang ada. Ngaret, bolos, menunda-nunda, sebaiknya segera kamu rubah. Segera perbaiki. Tenaga-pikiran kita sedang dibayar oleh perusahaan."


"Jodoh emang di tangan Tuhan. Restu orangtua ridho ilahi juga. Hani ulangi, siapa gak seneng kalo besok Hani tunangan."


Mamah bercerita soal bawahannya yang rajin dan loyal, minta Jihan mencontoh semangat mereka. Jihan menggangguk dan janji akan patuh pada suami.


Jika diteruskan obrolan mereka tetap tulilat. Kesudahannya masih lama. Dan kejadian tersebut tampaknya disengaja. Tdak ada interpretasi alias memotong omongan lawan bicara.


Ibu dan anak quantum entanglement juga. Satu topiknya A, satunya lagi tentang Z.


Lalu bagaimana dengan lamunan Jihan atas paradok-nya? Masa depan atau hari esok tidak ada yang tahu. Bisa jadi datang lagi dengan urusan yang berbeda. Jihan khan orangnya sibuk.


......................


https://id.quora.com/Bagaimana-menjelaskan-kuantum-keterkaitan-quantum-entanglement-dengan-sederhana?top\_ans\=167360126"

__ADS_1


__ADS_2