Kembaran

Kembaran
SMP


__ADS_3

SLTP Negeri 2 Ciseureuh.


Jihan menurunkan standar motor. Clekh! Dia baru datang siang ini. Mungkin paginya jalan-jalan dulu.


Jihan tinggalkan matic-nya di muka gerbang sambil menenteng dua kantong makanan, entah habis belanja di mana. Dia juga menggendong tas yang cukup kembung berisi.


Sekolah sangat sepi melompong. Lampu-lampu penerang sepanjang koridor masih menyala. Jihan masih kenal tempat belajarnya ini, jadi dia lewati enam kelas yang ada, lalu berhenti jalan menaruh belanjaan, melihat lantai gosong seperti terbekas oleh sesuatu.


"Woy!" teriak Jihan. "Di mana lo?!"


Jihan masuk kelas melihat-lihat kolong meja. "Lagi, gelud..?"


Tlekh! Cheeus.. Bunyi kaleng dibuka. Tangan putih mulus bertato angka ini lalu menuangkan isi kaleng ke mulut pemiliknya.


Jihan sendawa sambil memandang meja-kursi terjemur, duduk menunggu di tepi lapangan karena orang yang dipanggilnya belum hadir. "Euu!"


Di gerbang sekolah, Jihan kembali gantungkan satu kantong snack ke kail di bawah stang motor. Jam magrib ini dia seperti dibuat bingung oleh lokasi, menatap agak lama satu bangunan dekat ruang guru.


Jihan segera duduk di jok dan menekan starter. "Kampret. Jahil mulu anj*ng.. Bikin merinding."


Tlikh! Brrrmm! Brrm..!


Claph! Kerjap cahaya di sebelah Jihan. Sumbernya langsung kaget mendapati si pengendara. "Astaghfirullah.."


Baru jalan semeter, Jihan mencengkram rem. Ckiit! Dia dipanggil dan baru menoleh.


Giga datang agak terengah. "Hhh. Lo kayak traveler. Tadi masih di sono."

__ADS_1


"Maksud lo?"


"Aduh! Iya. Lupa reset," Giga pegang kepala dengan dua tangan.


"Heh! Maksud lo apa?"


"Oke. Oke. Slow.. Tenang, Barbar. Slow. Gue jelasin."


Jihan turun menginjak besi standar. "Dah lah. Batal! Lo milih setengah tiang."


"Ngng.. Jadi gini, Han. Sori bingungin. Lo masih di Golden Star sono, toko emas itu. Ujug-ujug di sini. Salahnya, gue diem-diem pasang Bratle. Ngng..."


Clekh! Tarik Jihan saat menodongkan Handgun yang telah dia ambil dari balik punggung.


"Waa! Ampuun.."


Tiga timah, tiga target; pagar gerbang, tiang listrik, dan pohon pinggir jalan karena Giga pindah-pindah tempat, detik itu juga mata Jihan cepat melihat dan langsung tembak.


Thung! Ting! Crraakh!! Bunyi mental dan nancap butir yang meleset terledak.


Dua detik diam, Jihan lanjut menembaki tembok tiang gerbang sebab Giga lari dan sembunyi di situ sehabis muncul gaya sinar potret.


Jedor!!


Dzing! Dziing! Dzaang!!


Dor! Dor!! Dziing!!

__ADS_1


Jihan membidik sambil mendekat dan sesampainya di pos jaga, tidak ada darah tercecer. Dia jongkok memungut sebuah buku yang ditemukan.


Manual Operation Bratelite V1b


"???"


Jihan menyapu pandang ke sekitar, lalu kembali fokus membaca sampul buku yang dipegang. Ada gambar gelang berputar pelan mirip putaran mobil di showroom, memperlihatkan sisi lainnya. Benda ini persis sama dengan gelang yang Giga lempar.


Arrhh..!!


Set!


Ada suara dekat Jihan, tapi membuat pendengarnya ini bingung langsung mencari-cari, lihat jalan, lihat parkiran sekolah, lihat pagar, sampai harus lihat ke atas segala.


Langit sudah gelap, gerbang hanya dicahayai lampu pos.


Jihan buru-buru melepas tas, narik resleting. Wetts! Memasukkan buku yang dipungut, mengambil batre, dan menutup tasnya lagi. Wets!


Beres memasangkan tas pada dua ketiak, Jihan pasangkan benda yang diambil ke punggung Handgun.


Klekh! Tlikh!


Di pinggir jalan, agak jauh, Jihan menengok gerbang sekolah, pilih jalan kaki meninggalkan belanjaan yang masih tergantung di motor. Mungkin memang untuk Giga.


Saat berjalan mundur mengawas, Jihan berbalik dan langsung mempercepat langkahnya, berlari menembus ujung jalan nan gelap.


Dhuaargh!!

__ADS_1


Entah suara apa, Jihan sudah tak peduli ledakan di SMP-nya menerangi tempat sekitar dalam pekat gelap kotanya.


__ADS_2