
"Operator, driver memanggil."
Ya masuk. Snail mendengar
"Kisye. Teruskan kamus-ku ini ke pusat."
Iya. Tunggu. Ope masih di toilet Mbak
"Tak masalah. Engkau sentuhlah icon ratuku."
Oh iya. Ada. Lupa sama ori sendiri
"Terima kasih Sri Ratu."
Wuit.. Bunyi padam lempeng monitor.
"Kembalilah Jihan. Aku merindukan ruangku ini."
Wuutts! Zihan melesat mundur dikerubungi enam layar, terlihat kemudian kepala yang amat besar di mana sehelai rambut yang dilewati ukurannya mirip gerbong kereta.
Claph! Bunyi pusar ketika Zihan sentuh. Tubuhnya langsung tinggi mengembang, enam layar tadi pun jadi debu kubus di tengah perutnya.
Sekeluar dari mode bintik, Zihan dapati trisula di genggamannya bergerakan ala jarum kompas.
"Kekasih-mu?" Zihan memandangi arah kanan. "Baiklah kita tutup agar Tuanku tak ke mana."
Wuutts! Hantu Mukena melesat lagi.
Jiant (nama raksasa) segera bergerak, mengangkat badannya ditumpu dua siku tangan.
Usai bediri, Jiant lengkungkan punggungnya. Grekh!
Plukh! Plukh! Plukh! Duri-duri yang menancap berjatuhan.
"Huh..! F*ck it."
Wuugh!! Kuping Lancip langsung terbang.
Di bawah pohon besar, Zihan mengamati benda tertancap yang tak lain trisula di mana masih terselip batu redstone. Ada gelang Bratle menggantung.
Zihan mendekat dan mencabut. Set! Mengambil Bratle.
Bluph!! Bola kabut muncul di sebelah pohon, lalu melebar diameternya menampakkan se-lahan gua berdinding obor.
Jlebh! Zihan tancapkan lagi ujung trisula ke titik bekas, menusuk si pohon.
Bliph!! Portal menutup kembali, mengerut jadi kecil kemudian lenyap.
"Mari kita retas.." Zihan masukkan gelang ke saku mukena. ".. pintunya."
Zwiiitt! Tubuh Zihan menyusut jadi butiran sinar.
"Serahkan pusakamu. Atau kubunuh manusia ini," kata Jiant disaat berhasil mencekik lawan, sekali loncatan.
__ADS_1
Set! Tangan diayunkan.
Gluduh..!!
Di antara gelimpangan mayat Guarien, Giga tonton sumber bunyi barusan. "Wah.. pukulan dewa."
Clear, Brad. Udah bebas tanda-tanda kehidupan di sini
"Waktunya popcorn."
Siap. Lapan enam
Bugh!
Bugh!
Bugh! Jiant terus hantam wajah Luna, namun makin kuat apa yang dipukulnya.
Bugh!
Bugh!!
Bugh..! Kepala musuh tak bergeming sesenti pun, persis patung.
Set! Luna pegang tangan yang mencengkram lehernya. Krakh!!
"WOOAARGGH!!" raung Jiant. "Arrgh!!"
DEGH!! Jiant injak dada Al Hood.
Sat! Sit! Set!
Wuuich! Wuich!
Sepotong kubah muncul di kiri-kanan Al Hood. BLANG!! Segera mengurung targetnya dan Luna berubah bingung.
Jiant ambil kesempatan dengan bertelekinetis dilanjut menarik sikunya, kemudian..
Set! Meninju angin.
"Buang jauh! Arrgh!!"
Wuughh!! Bayang tangan melesat ke arah bola.
THAAANG!! Blupph..! Bunyi hantam dan pintu kabut muncul di jarak agak jauh.
Whuussh!! Bola melayang menuju portal yang besar.
Blepph!! Bunyi kabut, hilang setelah targetnya masuk.
"Fuih!! Apa yang membuatnya tak tertandingi selain benang itu.. Hhh, aku butuh waktu."
Syuuu...utt! Jiant mengecil. Lalu saat hendak pergi, dia mendapati Giga.
__ADS_1
"Itu curang, Han."
"Hahah! Siapa kau, Nak? Heuu.. Pakaianmu aneh sekali. Hahaa! Fuuh!"
"Terserah Kalong Wae. Ini dengan siapa ya?"
"Ouh. Kau teman dia bukan? Hahah! Belajarlah Nak. Kau pikir jirahmu sudah kebal? Hahahaa.."
"Gue pengen ngomong ma dia, Long."
"Hahah!!"
"Heh!"
Set! Wajah Kuping Lancip berubah serius mendengar sapaan tersebut.
"Gue siap. Jalang.."
Dwiishh!! Giga mengaurakan energi.
"Arrgh!!"
Set.. setibanya Jihan ayunkan tangan di depan lawan.
Debh.. Giga tangkis.
Set.. Jihan layangkan kaki.
Syuuutt... Giga mundur.
Krrtth!!
"Ya. Itu tangan lo."
Swiii..ing!! Sebilah pedang tergengam dalam kepal Giga.
"Hahahh! Itu samurai palsu."
"Gue tau. Yang asli milik queen Reynita. Jadi gak perlu takut.."
SWUUT!!
Craaattt...
Kening dan mata Jihan terpisah.
Ubun korban melayang di udara meninggalkan tempatnya.
Cairan hitam tersapu bilah logam yang terayun.
Rambut pun turut terpangkas..
Hyuu..uung...
__ADS_1
Tubuh Jihan turun melayang. Tak lama kemudian mencium bumi. Gebrugh!!
"Sorry very much."