
Setelah sampak di ruang rawat inap. Johan tak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Nadia. Berkali kali ponselnya bergetar tanda ada pesan dan panggilan masuk pun tak di hiraukannya. Fokusnya hanya tertuju pada Nadia.
Johan pun terlelap sambil menggenggam tangan Nadia. Ketika Nadia sadar dia langsung mengedarkan matanya memindai di manakah dia sekarang. Dia melihat tangannya yang terpasang selang infus. Dia juga melihat Johan tertidur dengan menggenggam tangannya. Nadia reflek lalu melepaskan kasar tangannya dari genggaman Johan. Johan yang kaget lalu terbangun
" Sayang kau sudah sadar. Sebentar akan ku panggilkan dokter.." Johan bergegas menekak tombol di samping nakas. Sedangkan Nadia sama sekali tidak merespon apapun yang di ucapkan Johan. Tak lama kemudian Dokter datang di ikuti dengan suster di belakangnya
" Nyonya bagaimana keadaannya? " ucap dokter sambil memeriksa Nadia
" Dokter bagaimana dengan putra saya...apa dia baik baik saja? " ucap Nadia yang tak menjawab pertanyaan dokter. Dokter seketika menoleh ke arah Johan. Mereka saling berpandangan.
" katakan dokter..bagaimana putra saya..apalah dia baik baik saja ?" tanya Nadia lagi
" Maafkan kami nyonya..kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Bayi nyonya lahir secara prematur di usia kehamilan 6 bulan, jadi bayi nyonya tidak dapat bertahan dan..." dokter menggantung ucapannya
__ADS_1
Nadia yang mendengarkannya sama sekali tak merespon. Pamdangannya tampak kosong dan bulir bening mengalir begitu saja di kedua pipinya. Dokter meninggalkan Johan dan Nadia.
" Sayang..sudah tak apa apa..yang terpenting sekarang memulihkan kesehatanmu " ucap Johan menenangkan Nadia
" Putraku meninggal! Satu satunya sumber kekuatanku sudah meninggalkan aku...untuk apa lagi aku hidup.." ucap Nadia lirih tapi begitu memilukan
" Jangan bicara seperti itu...masih ada aku sayang.." ucal Johan lagi yang di sambut tatapan sinis Nadia
" Siapa kau...bukankah kau suami Nyonya Sandra ? Maaf aku tak mengenalmu. Jadi aku mohon tinggalkan aku sendiri. Kumohon.....KELUAR..TINGGALKAN AKU SENDIRI..KELUAR...!!!" Nadia tiba tiba histeris
Dokter datang dengan suster kemudian menyuntikkan obat penenang agar Nadia bisa istirahat untuk memulihkan kondisinya. Johan pun pasrah..Jika kehadirannya membuat Nadia semakin terpuruk maka dia harus pergi.
Johan meninggalkan rumah sakit dan segera pulang ke kediamannya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, sandra yang kaget melihat baju suaminya ada darah segera menghampiri dan bertanya
" Sayang apa yang terjadi...mengapa bajumu ada noda darah banyak sekali...apa yang terjadi sayang?" tanya Sandra
" Aku..aku..telah menyebabkan seorang ibu kehilangan putranya " ucap Johan berusaha memikirkan alasan yang tepat pada Sandra
" Apa maksutmu sayang..bicaralah yang jelas.." tanya sandra sedikit marah karena pe jelasan suaminya itu
" Aku menabrak seorang ibu hamil..yang menyebabkan dia keguguran dan kehilangan bayinya " ucap Johan
" Astaga sayang bagaimana itu bisa terjadi...ok ok..sekarang bersihkan dirimu dulu..aku akan menyiapkan pakian untukmu...ayo mandilah dulu.." ucap Sandra
Sesampainya di kamar mandi Johan tak kuasa menahan kesedihannya. Dia menangis di bawah guyuran shower agar Sandra tak mendengarnya. Setelah 30 menit di kamar mandi Johan menuju ranjang dimana pakaiannya sudah di siapkan oleh Sandra. Langkahnya gontai lalu duduk dj tepi ranjang.
__ADS_1
" Sudahlah sayang...jangan terlalu di pikirkan...musibah tidak ada yang mau menerimanya..dan kaupun aku yakin tak sengaja menabrak perempuan itu kan...sudah sudah...istirahatlah..aku akan menemanimu...." ucap sandra berusaha menenangkan suaminya.
Sementara di rumah sakit. Nadia yang sudah sadar berkeinginan kabur meninggalkan rumah sakit. Dia tak ingin Johan menemuinya lagi. Dia mengendap endap keluar dari rumah sakit. Karena tengah malam jadi banyak petugas yang lengah karena mengantuk. Dan akhirnya Nadia bisa keluar rumah sakit.