Kenapa Harus Ada Cinta

Kenapa Harus Ada Cinta
Apakah Benar ini Cinta 2


__ADS_3

mendung masih menyelimuti kota ini, dengan pelan gua melajukan motor sambil memandangi orang-orang yang lalu lalang di trotoar dan juga jalan raya.


-apa mereka semua pernah merasakan cinta?-


-apa yang membuat mereka senang karenanya?-


tanya gua kepada diri sendiri, yang tak mungkin mendapatkan jawaban karna hal itu.


pikiran gua tetap bingung karna memikirkan apa itu perasaan cinta, sampai-sampai gua gak sadar kalau sudah sampai di rumah.


jam 3 sore lebih gua bergegas untuk berangkat ke tempat kerja. inginnya sih gua mau tetap dirumah tapi memikirkan gua yang udah 2 hari gak masuk kerja membuat gua menyampingkan ke inginan gua tersebut.


pipppp.....pipppp.... getar hp dari saku celana.


gua menghentikan motor di samping jalan dan mengambil hp yang bergetar itu.


"ya halo?"


"mas faiz udah sembuh sekarang?" tanya stevani dari telfon.


"iya van udah sembuh kok.... ini lagi di jalan mau ke restoran!" balas gua.


"oh yaudah vani tunggu disini kalau gitu...."


"iya sudah..." balas gua sembari mematikan hp dan memasukkannya kembali ke kantung celana.


stevani mungkin khawatir sama gua karna dia tau kalau kemaren gua lagi demam jadinya dia memastikan kalau hari ini gua sudah sembuh apa belum.


tak lama kemudian gua sampai di restoran dan memarkirkan motor di tempat biasa. di luar restoran ada roni yang sedang menyapu halaman dengan di temani april disana.


melihat itu gua langsung bergegas masuk tanpa terlebih dahulu menyapa roni disana.


di dalam restoran gua di sambut oleh stevani yang sudah menunggu gua dari tadi.


stevani menghampiri gua dan langsung mengecek kondisi gua dengan cara menempelkan tangannya di dahi gua.


"hemmmmzz iya udah gak panas lagi...." ucap stevani dengan senyumannya.


"kan gua udah bilang kalau udah sembuh van...." jelas gua ke stevani.


"hehehe takut aja mas boong!" balas stevani .


"yaudah gua mau ganti baju dulu van..." pamit gua ke stevani.


stevani mengiyakannya dan gua pun langsung menuju ruangan staff untuk mengganti pakaian dengan seragam kerja.


teman-teman kerja satu persatu menanyakan kondisi gua karna 2 hari tidak masuk bekerja tak lupa juga buk nia sebagai manejer disini ikut menanyakan kondisi gua juga. terkecuali april yang sudah tau kondisi gua seperti apa.

__ADS_1


gua membalas pertanyaan mereka dengan jawaban yang sama yaitu "kondisi gua sudah sembuh total"


mereka memang baik semua orangnya karna hal itu juga yang membuat gua betah bekerja disini.


hari ini suasana restoran sangat ramai sampai-sampai gua gak ada waktu untuk bertemu atau pun tegur sapa dengan april.


hal itu membuat gua lebih tenang dari pada harus di abaikan olehnya.


namun itu tak bisa terus berlanjut karna jam istirahat kami yang bersamaan.


di dalam ruangan istirahat staff gua masuk lima menit sesudah april masuk.


april yang melihat gua masuk langsung berdiri mencoba untuk keluar kembali.


gua menghentikan tindakan april itu dengan cara tetap berdiri di depan pintu.


"mau kemana pril?" tegur gua.


april tak menjawab .


"pril loe boleh menjauhi gua tapi gak harus gini juga...." ucap gua sambil melihat ke arah april.


"udah iz aku mau keluar sana kamu pergi" balas april agak emosi.


"baik pril ....gua aja yang pergi loe tetap istirahat disini !" ucap gua yang langsung bergegas ke luar dari ruangan istirahat staf.


tanpa tau harus mau apa lagi gua berjalan ke ruangan utama.


stevani yang melihat gua ke ruangan utama spontan datang menghampiri.


"mas udah istirahatnya?" tanya stevani


"ya udah kok van....meski masih ada waktu 10 menitan sampek jam istirahatnya abis!" balas gua.


"ehhh kok gitu mas?"


"ya gak apa-apa cuma pengen ketemu vani aja!" balas gua seadanya.


"hemmmzz tumben masnya ngegombal?" tany vani lagi dengan senyuman yang terpangpang dari wajahnya.


"eh iya tah?" tanya gua bingung..


"iya mas sering-seringlah gombal gini biar vani seneng!" balas stevani berharap.


dengan senyuman gua membalas pertanyaannya itu.


gua pandangi wajah stevani yang berdiri di hadapan gua dengan senyuman yang tak tau kenapa gua berikan.

__ADS_1


dalam pikiran gua bertanya.....


-apa gua benar-benar suka ke stevani?


apa semua yang gua lakukan ini adalah jujur dari perasaan gua sendiri?


kalau memang gua suka ke stevani kenapa sekarang gua lebih memikirkan april?


keraguan perlahan memakan semua pertanyaan yang ada dalam pikiran gua itu ,dan memberikan sesuatu yang membuat hati gua bergejolak.


kemudian gua bertanya ke stevani.


"van menurut loe mencinta itu seperti apa?"


dengan wajah kaget vani balik bertanya .


"loh kok nanyak gitu mas?"


"ya gua cuma mau tau aja tentang pandangan vani tentang itu.... gak ada maksud lain kok....! tegas gua.


"oh.....kalau menurut aku sih..... mencintai ialah sesuatu perasaan yang hanya ingin satu orang saja yang memahami kita. ingin selalu bersama, menghabiskan waktu bersama, dan mengerti satu sama lain" jelas stevani.


"kalau gitu sama aja egois donk!" ucap gua.


"emang gitu cinta mas ....menurut aku sih.... gak tau menurut orang lain gimana" jelas stevani lagi.


gua menyimpan perkataan stevani tersebut dalam pikiran gua karna tak cukup waktu untuk memikirkannya sekarang lebih baik gua memikirkannya nanti saat gua ada di rumah.


"makasih ya van udah jawab" gua mengelus kepala stevani dengan lembut seraya memberikan senyuman kepadanya. stevani pun membalasnya dengan senyuman juga.


setelah itu gua kembali bekerja karna mungkin sudah saatnya jam istirahat selesai.


waktu menunjukkan pukul 8 malam suasana restoran yang ramai sudah mulai berkurang.


gua berkeliling mengambil piring dan gelas yang sudah di tinggalkan pelanggan bersama dengan roni dan juga april.


gua memandang april dari ke jauhan yang saat itu ia sedang mengelap meja.


hati gua bergejolak ingin sekali rasanya menghampirinya namun april mungkin tak ingin bersama dengan gua karna sekarang dia sudah benci ke gua.


dalam diam gua hanya bisa melihat semua kegiatannya dari jauh tanpa bisa seperti dulu lagi.


biasanya saat-saat seperti ini april pasti selalu mengajak gua ngobrol dan sesekali mengajak tanding siapa yang paling cepat membersihkan meja namun sekarang itu hanya tinggal kenangan dalam ingatan.


waktu terus berputar dan tiba saatnya untuk pulang.


seperti biasa kalau stevani ke sini tiap malam pasti gua mengantarkannya pulang. meski gua sudah bilang agar tidak kesini terlebih dahulu karna dia sedang ada try out di sekolahnya namun stevani tetep tak menghiraukannya dan datang ke restoran.

__ADS_1


__ADS_2