
Jalanan kota semakin ramai seiring para pengendara keluar dari tempat aktivitasnya masing-masing. Kendaraan mulai memadati di berbagai ruas jalan protokol sampai di lampu merah macet, sehingga banyak yang mencari jalan tikus untuk mencari jalan tercepat agar cepat sampai di rumah masing-masing.
Tapi tidak bagi Azriel, dia menikmati jalanan yang padat. Karena Qilla juga tidak meminta buru-buru pulang ke rumahnya, motornya melaju pelan bergantian dengan pengendara lain di setiap ruas jalan.
"Lo suka makan apa?" tanya Azriel ketika jalanan mulai terurai setelah melewati lampu merah.
"Apa aja, aku pemakan segala." jawab Qilla.
"Omnivora dong lo ya." ucap Azriel sambil nyengir.
"Begitulah, semuanya aku suka." ucap Qilla.
Azriel melajukan motornya menuju rumah makan sederhana langganannya ketika malas makan di rumah. Dia memarkirkan motornya di depan rumah makan, melepas helmnya dan melangkah menuju rumah makan. Qilla mengikuti Azriel dari belakang, dia sebenarnya tidak sabar ingin meyakinkan Azriel tentang teman geng motornya yang mencurigakan.
"Pesan aja yang lo suka." kata Azriel.
"Terserah kamu aja, aku ikut. Kan aku suka makan apa aja, jadi apapun yang kamu pesan pasti aku makan." jawab Qilla.
"Ck, cewek emang gitu. Andalan banget bilang terserah." ucap Azriel.
Dia kesal jika ada seorang gadis di ajak makan bilangnya terserah. Tapi pada akhirnya dia memesan makanan apa yang dia suka dengan dua porsi. Setelah selesai, keduanya pun diam. Qilla melirik pada Azriel, lalu menatap ke depan lagi.
"Lo mau bicara apa? Ngomong aja." kata Azriel.
"Aku udah bilang, aku curiga sama teman kamu itu. Dia sepertinya melakukan transaksi yang mencurigakan." kata Qilla.
"Gue sebenarnya ragu sama ucapan lo itu, tapi kalau teman gue ada yang terlibat masalah narkoba ya ngga memungkiri emang mereka itu kehidupannya bebas. Mau apa aja suka-suka mereka, bahkan geng motor kelompok Dodit justru masih mending di banding kelompok geng motor lainnya. Banyak yang lebih brutal dari kelompok Dodit, kalau kelompok dia sih sekedar balapan liar. Pesta-pesta dan mabuk-mabukan aja, untungnya gue ngga pernah mau ikutab mereka kayak gitu. Gue ngga peduli mereka bilang gue ini banci karena ngga suka pesta ala mereka." kata Azriel
Qilla mendengarkan penuturan Azriel masalah geng motornya. Dia penasaran kenapa Azriel bisa masuk dan mengikuti kelompok geng motor tersebut.
"Terus, kalau kamu ngga suka apa yang mereka lakukan. Kenapa kamu mau gabung sama mereka?" tanya Qilla.
"Entah, gue cuma iseng aja." jawab Azriel santai, dia malas menjelaskan kenapa dirinya ikut masuk kelompok geng motor.
Suasana rumah makan sangat ramai, karena waktu makan malam sudah tiba. Meski masih pukul lima sore, tapi rumah makan semakin ramai.
Pelayan datang membawa pesanan Azriel dan Qilla. Dia menyusun satu persatu menu makanan dan minuman yang di pesan, setelah tertata rapi pelayan itupun pergi. Qilla lamgsung makan, begitu juga dengan Azriel. Keduanya makan dalam diam, menikmati hidangan yang tersaji di meja.
_
"Gue pulang ke rumah lo lagi." kata Azriel.
__ADS_1
Mereka melewati jalanan lintasan kereta api. Saat berhenti ketika kereta api akan melintas, Azriel bicara seperti itu.
"Apa kamu bilang?" tanya Qilla.
"Gue bilang pulang ke rumah lo lagi." jawab Azriel.
"Ngga bisa! Kenapa kamu betah banget di rumahku?" tanya Qilla heran.
"Ngga tahu, gue suka aja dan tenang rasanya tinggal di rumah lo." jawab Azriel.
"Ck, aku yang ngga tenang. Tetangga pada gosip tentang kamu dan aku, nggaklah. Kamu harus pulang ke rumahmu sendiri." kata Qilla menolak keinginan Azriel pulang ke rumahnya.
"Ish, tapi ibu lo ngga keberatan gue tinggal di rumah lo kok." kata Azriel.
"Ngga bisa!"
"Hanya seminggu lagi, gue ngga betah tinggal di rumah. Lo ngerti gue dong, gue lagi marah sama nyokap dan bokap gue." kata Azriel.
"Ish, kamu itu. Ngga boleh marah-marah sama orang tua. Kuwalat nantinya, harus di sayang kedua orang tua itu. Mereka yang melahirkan kita, jangan sakiti orang tua Azriel." kata Qilla menasehati laki-laki itu.
Motor Azriel melipir di pinggir jalan. Dia kesal kenapa Qilla justru memberinya ceramah masalah orang tua, berbakti padanya. Padahal dia sedang kesal dengan kedua orang tuanya itu.
Dia turun dari motornya, dan menyuruh Qilla juga turun. Gadis itu heran kenapa Azriel terlihat kesal padanya.
"Eh, kenapa?" tanya Qilla heran, tapi dia turun juga dari motor Azriel.
"Gue lagi kesal sama nyokap sama bokap gue, bukan gue jadi anak durhaka ya. Mereka yang bikin gue kecewa, jadi lo ngga usah sok-sokan nasehatin gue masalah nyokap bokap gue!" ucap Azriel marah pada Qilla.
"Eh, kenapa kamu? Aku hanya kasih tahu, ngga baik marah-marah sama orang tua. Kalau kamu ngga mau di nasehatin ya udah, ngga usah marah-marah." ucap Qilla ketus.
Kesal juga dia di marahi sama laki-laki itu, dia ingin pergi melangkah meninggalkan Azriel. Tidak peduli laki-laki itu menatapnya kesal. Azriel mendengus kasar, dia menyesal marah sama Qilla. Yang sejak insiden menabrak gerobak ciloknya justru dia yang selalu membantunya.
Bahkan memberinya tumpangan untuk menginap, meski harus dapat omelan dan juga selalu di suruh-suruh membantunya mengerjakan pekerjaan rumah atau membantunya jualan cilok.
"Qilla! Mau kemana lo?!" teriak Azriel mengejar gadis itu.
"Bodoh, aku mau pulang sendiri!" jawab Qilla.
Dia terus melangkah pergi meninggalkab Azriel yang terus mengejarnya. Azriel berbalik, dia menaiki motornya dan mengejar Qilla dengan motor. Sekalian mengajaknya pulang juga, menjalankan mesin motor pelan menghampiri Qilla yang kesal padanya.
"Sorry, Qilla. Gue salah, gue minta maaf." kata Azriel akhirnya mengakui kesalahannya.
__ADS_1
"Udah sana pulang, aku bisa pulang sendiri kok." kata Qilla masih terus berjalan.
Pandangannya ke depan, menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sisi jalanan dan jalan yang banyak di lalui kendaraan roda dua atau roda empat. Mata gadis itu tertuju pada seorang laki-laki yang tadi siang dia lihat di tribun.
Qilla berbalik menatap Azriel, dia mendekat dan bicara padanya.
"Ziel, itu laki-laki yang aku lihat dan dengar dia transaksi sesuatu." kata Qilla pada Azriel.
Pandangan Azriel mengedar, dia melihat kemana arah mata Qilla menghadap.
"Mana?" tanya Azriel.
"Itu, yang sama cewek dan dua cowok itu. Gue yakin dia lagi nawarin sesuatu deh." kata Qilla menunjuk ke empat orang yang berada tak jauh dari tempat Azriel dan Qilla.
"Itukan Jody, teman geng motor gue. Tapi dia jarang ngumpul juga sama geng motor gue." kata Azriel masih menatap teman satu gengnya itu.
"Nah, satunya itu yang waktu kamu ketemu sama ketua geng motor itu. Tapi dia ngga curiga sama aku, cuma aneh lihat aku sama kamu waktu itu." kata Qilla.
"Teman gue yang mana lagi?" tanya Azriel.
"Aah, susah karena kamu ngga fokus waktu itu. Aku juga mau ngomong sama kamu, tapi kamu ngga percaya sama aku. Dan lihat deh, dia mengeluarkan apa dari kantong celananya?" tanya Qilla masih memperhatikan Jody teman geng Azriel.
Azriel pun ikut memperhatikan apa yang di ambil Jody dalam kantong celananya itu. Dan memang sangat mencurigakan sekali, saat Jody mengeluarkan barang itu justru dia mengawasi tempat sekitar.
"Waah, benar. Dia bikin curiga aja." ucap Azriel.
"Nah, orangnya itu Ziel. Kamu harus selidiki dia dan satu teman kamu lagi." kata Qilla.
"Males banget, biarij aja dia lakuin apa yang dia lakuin. Gue ngga sekepo cewek-cewek yang periksa ponsel pacarnya ya." kata Azriel.
"Ish, aku cuma penasaran aja. Kalau dia memang mengedarkan barang terlarang, ya harus di cegah Ziel. Itu akan merusak otak anak-anak bangsa." kata Qilla lagi.
"Ya ampun, lo kayak motivator aja sih. Udah yuk pulang, udah malam. Gue ngga mau ibu lo jadi khawatir sama lo." kata Azriel menarik tangan Qilla untuk segera naik motornya dan segera pulang.
Mau tidak mau Qilla pun menurut, dia naik motor Azriel dan memakai helmnya. Azriel menyalakan mesinnya, tapi suara seseorang memanggilnya dari belakang.
"Azriel."
_
_
__ADS_1
***********