Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
38. Membicarakan Perjodohan


__ADS_3

Malam itu, ketika Tomi memaksa Chika untuk melayaninya. Laki-laki itu awalnya memang menginginkan gadis yang sudah lama dia sukai, hanya saja Chika terlalu obral dalam menjajakan tubuhnya pada setiap laki-laki anak geng motor.


Tomi memaksa Chika melayaninya ketika Azriel kabur dari rumah kost gadis itu. Awalnya Chika kesal sekali karena bukan Azriel yang tidur dengannya, tapi Tomi. Mereka selesai dalam persetubuhan itu, hingga keduanya tidur hingga pagi hari.


Tomi bangun lebih dulu, dia berniat langsung pergi dari rumah kontrakan Chika. Tapi di dia melihat wajah Chika yang sangat kelelahan karena dia terlalu bersemangat dan memaksa gadis itu terus melayaninya.


"Hemm, lo itu cantik Chika. Jika seandainya gue jadi cowok baik kayak Azriel, gue akan jaga lo Chika. Sayangnya lo itu terlalu gampangan sama cowok lain." kata Tomi menatap wajah manis Chika.


Dia memakai baju dan celananya, tubuh Chika menggeliat membuka matanya dan menatap Tomi yang sudah memakai baju dan celananya. Dia mendengus kasar, mengingat semalam Tomi terlalu memaksanya dalam permainan percintaannya.


"Lo mau kabur setelah main dengan gue?" tanya Chika.


"Terus, gue tetep di sini temani lo dan main lagi sampai malam tiba? Oke kalau gue sih." kata Tomi.


"Cih, lo ngga tahu diri ya. Lo gagal buat gue tidur sama Azriel, tapi lo maksa gue layani lo sampai pagi." kata Chika.


"Gue udah memenuhi tugas lo, kalau Azriel ngga bisa lo ajak tidur. Bukan salah guelah, jadi gue minta jatah sesuai tugas gue yang lo suruh. Bawa dia ke kontrakan ini, udah. Dan gue minta imbalan dari lo. Ngga ada yang salah kan?" kata Tomi dengan senyum kemenangannya.


Chika terdiam, dia mendengus kesal dengan ucapan Tomi itu. Dia hanya kesal gagal memperdaya Azriel dengan obat yang dia masukkan ke dalam minumannya. Ingin sekali dia tidur dengan Azriel, tapi gagal karena laki-laki itu kabur.


"Lo kalau mau di temani tidur, gue siap. Gantian gue yang akan puasin lo." kata Tomi masih dengan senyum mengembang.


"Cih, gue ngga akan lagi tidur sama lo." kata Chika kesal.


Tomi sudah bersiap untuk pergi, dia mengambil jaketnya di atas ranjang Chika. Wajahnya pun berbisik pada gadis itu.


"Lo akan selalu butuh gue, Chika. Cowok-cowok yang pernah lo ajak tidur itu mereka bilang bosan sama lo, termasuk Dodit juga. Makanya lo jarang tidur sama cowok itu kan." ucap Tomi.


Plak!


Tamparan keras pada pipi Tomi dari tangan Chika membuat laki-laki itu kaget. Tapi kemudian dia tersenyum miring lalu menyambar bibir Chika dan menciumnya cepat.


"Gue tunggu telepon dari lo jika butuh gue. Gue siap kapan aja cantik." ucap Tomi.


Chika menatap tajam pada laki-laki yang kini semakin dia benci.


"Jangan harap lo bisa tidur lagi sama gue!" ucap Chika.

__ADS_1


"Terserah. Gue pulang, dan makasih ya atas layanannya. Hahah!" ucap Tomi sambil berlalu dari kamar Chika.


"Tomi brengseek!"


_


Satu minggu berlalu setelah kejadian malam itu, Azriel sudah berangkat ke luar pulau untuk bekerja di kilang minyak di perusahaan BUMN. Meski hanya magang lebih dulu, dia senang bisa bekerja sesuai dengan apa yang dia ketahui.


Sintya dan Ryuzi kaget dengan keberangkatan Azriel keluar pulau bekerja di kilang minyak itu. Meski pun Sintya tahu anaknya itu keluar pulau, tapi tetap saja kaget dengan keberangkatan anaknya ke sana.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau Azriel kerja di kilang minyak?" tanya Ryuzi suatu pagi sebelum berangkat ke rumah sakit.


"Dia memang ingin bekerja, lalu apa aku harus melarangnya?" tanya Sintya membantu suaminya memakai dasi.


Hubungan mereka sudah membaik dan kembali hangat sejak Azriel memarahi mamanya di depan tempat hiburan itu. Ryuzi juga sudah tidak lagi berhubungan dengan asistennya, entah karena dia sudah di bohongi atau karena menyadari semuanya itu salah.


"Kuliahnya kan belum selesai. Kenapa harus bekerja lebih awal? Apa dia kekuarangan makan sehingga harus bekerja sebelum menyelesaikan kuliahnya?" tanya Ryuzi.


"Dia sudah punya pacar." jawab Sintya.


"Untungnya bukan, entah siapa dia. Tapi mama pernah ketemu dia itu anak kampung deh, entah ketemu di mana dia sama gadis itu." kata Sintya.


"Yang malam itu dia bawa bukan?" tanya Ryuzi.


"Nah, iya. Waktu kita berdebat itu, apa dia pernah kemari? Mama lupa." kata Sintya.


"Gadis itu memang sederhana, tapi ngga jelek juga sih." kata Ryuzi.


"Lalu? Menurut papa?" tanya Sintya.


"Ya cari tahu saja dia siapa? Kenapa harus repot juga memikirkan gadis itu." kata Ryuzi lagi.


"Mama pikir lebih baik Azriel kita jodohkan saja. Dia sudah bekerja, ada anaknya teman mama itu. Dia kabur-kaburan terus dan jarang di rumah, bahkan dia ngontrak sendiri hidupnya. Mama memang belum pernah lihat gadis itu, tapi kelihatannya dia cantik sih." kata Sintya lagi.


"Terserah mama saja, lagi pula Azriel sudah kerja. Jadi, mungkin di bicarakan setelah dia libur kerja dan pulang ke rumah." kata Ryuzi.


"Oke, mama akan pikirkan ini dan membicarakan dengan teman mama itu." kata Sintya lagi.

__ADS_1


"Jangan bilang nanti mama ikut arisan berondong lagi. Mama duah tobat kan?" tanya Ryuzi.


"Tentu saja, kamu tobat aku juga tobat. Ini juga demi anak-anak dan juga ...." ucapan Sintya menggantung.


Ryuzi mengangkat kedua alisnya, menunggu ucapan lanjutan istrinya. Tapi Sintya hanya tersenyum miring, dia tahu suaminya menunggu lanjutan kalimatnya.


"Apa ma?" tanya Ryuzi.


"Ck, pikir saja sendiri. Kenapa mama mau berubah dan tobat." ucap Sintya.


Dia melangkah keluar dari kamarnya, meninggalkan suaminya yang masih penasaran dengan ucapannya tadi. Ryuzi kesal, dia lalu mengambil tas kerjanya kemudian keluar menyusul istrinya menuju meja makan.


Di sana tampak Sintya sudah menyiapkan sarapan untuknya. Sesuatu yang menyenangkan sebenarnya istrinya menyiapkan sarapan untuknya, dia merasa bersalah karena setiap pagi selalu terburu-buru berangkat ke rumah sakit, hanya demi makan sarapan dengan sang asistennya dulu.


Kini, dia sudah memutuskan semuanya. Kembali merajut hubungan dengan istrinya dan juga keluarganya. Dua tahun dalam kebahagiaan semu, ternyata memang semuanya harus di akhiri. Jika tidak, maka istrinya itu juga sama akan selalu bermain-main dengan berondong hasil arisan geng sosialitanya.


"Pagi yang menyenangkan bagi papa." kata Ryuzi duduk di kursinya.


"Kenapa? Apa selama ini mama ngga pernah melayani papa di meja makan?" tanya Sintya menyiapkan nasi goreng di piring suaminya.


"Ya, karena mama sibuk dan papa juga." jawab Ryuzi.


"Papa sibuk dengan asistennya, sibuk memakan sarapaj yang dia bawa di kantor." kata Sintya.


"Sudahlah, itu sudah berlalu. Ngga ada Azriel sepi ya, apa Rania kita suruh pulang aja?"


"Bisa juga, nanti mama mau jenguk dia. Dia mau ngga pulang aja jangan tinggal di asrama." ucap Sintya.


Keduanya makan sarapan dengan tenang, banyak sekali obrolan mengenai pekerjaan masing-masing. Hingga suara ponsel Sintya berdering nyaring.


"Halo?"


_


_


**********

__ADS_1


__ADS_2