Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
13. Qilla Dan Azriel Menyelidiki


__ADS_3

Bug!


Qilla menabrak tubuh seorang laki-laki, dia membalikkan tubuhnya. Tepat di depannya Azriel berdiri yang tadi dia tabrak.


"Ish, kamu bikin kaget aja sih." ucap Qilla mengelus pundaknya yang tertabrak Azriel.


"Lo dari mana? Gue takut lo pergi dan nyasar entah kemana." ucap Azriel menatap Qilla.


"Aku tadi ngikutin teman kamu yang kucurigai." jawab Qilla.


"Siapa? Jody?" tanya Azriel.


Qilla menoleh ke arah tempat yang tadi dia bersembunyi, suara langkah kaki membuat dia menarik cepat tangan Azriel untuk segera bersembunyi. Azriel menurut, dia mengikuti kemana Qilla membawanya.


Bersembunyi di belakang lemari rusak dan tumpukan kursi rusak jadi satu. Mereka bersembunyi di belakangnya agar tak terlihat oleh dua orang yang tadi di intai oleh Qilla.


"Tuh dia orangnya lewat, mereka tadi transaksi di belakang gedung ini. Aku lihat tadi." bisik Qilla.


"Lo pengen jadi detektif ya? Heh, lucu banget. Udah jangan urusin urusan mereka." kata Azriel.


"Ngga bisa, aku harus mendapatkan banyak bukti kalau mereka memang bertransaksi barang terlarang." kata Qilla masih memperhatikan kedua orang tadi dari tempat persembunyiannya.


Setelah jauh, Qilla dan Azriel keluar. Mereka saling menatap lalu berjalan menuju tempat para anggota geng motor sedang berjoget dan berpesta.


"Kita harus selidiki mereka, Ziel." ucap Qilla.


"Buat apaan?" tanya Azriel.


"Ayolah Ziel, jangan tutup mata dengan masalah begini. Tahu-tahu, kamu sendiri yang akan jadi tersangkanya kalau ngga mau juga melaporkan mereka pada pihak berwajib." kata Qilla.


"Ck, terus kita mau menyelidiki siapa? Jody? Susah kalau dia, dia kadang ngga pernah pulang ke rumahnya. Dan gue ngga tahu dia di mana tempat tinggalnya." kata Azriel.


"Ya, kita ikuti saja dia dari jauh." kata Qilla.


Azriel diam saja, dia menggandeng lagi tangan Qilla. Karena tatapan mata teman-temannya membuat dia jadi harus berbuat lebih drama seakan Qilla memang adalah pacarnya.


Qilla sendiri heran, tapi kemudian dia mengerti kenapa Azriel menggandeng tangannya. Membiarkan laki-laki itu menggandeng terus tangannya sampai di depan teman-temannya. Mereka mengobrol dan di meja itu ada banyak minuman keras juga air soda.


Azriel mengambil soft drink, satu untuk Qilla dan satu untuknya. Mereka mengobrol dan bercanda, Qilla masih mengamati dua laki-laki yang tadi bertransaksi. Kini mereka sedang berjoget dengan teman waniyanya, sangat tidak pantas mereka seperti itu. Saling memeluk dan berciuman panas di depan teman-teman lainnya.


Qilla mengalihkan pandangannya, dia sendiri merasa malu dan gugup melihat pemandangan itu. Azriel tahu kalau Qilla tidak nyaman dengan suasana seperti itu.


"Lo mau pulang?" tanya Azriel.

__ADS_1


"Ngga, nanti aja." jawab Qilla.


"Lo lihatin tuh cowok-cowok dan cewek-cewek berjoget bebas, adegan ciuman panas gitu. Bikin pengen tahu." kata Azriel.


"Ish, aku malah jijik dan malu."


"Ya makanya, kita pulang aja." kata Azriel.


"Tapi dua orang itu gimana? Kita harus selidiki mereka." kata Qilla.


"Ya udah, kita tunggu sebentar lagi. Menjelang malam mereka pasti keluar, ini baru jam tiga sore."


"Iya."


"Tapi lo jangan lihatin mereka terus, nanti tambah curiga sama lo." kata Azriel lagi.


"Iya, aku tahu." kata Qilla.


Dia menenggak minuman bersoda itu lagi, melihat sekeliling semuanya memang tampak sedang bersenang-senang. Seperti itulah kehidupan gelap para geng motor, hidup bebas dan ada juga yang berhubungan mencari kepuasan dengan gadis-gadis yang mereka bawa ke tempat itu.


_


Menunggu di luar dan bersembunyi di balik pohon perdu, Qilla dan Azriel duduk mengawasi gedung yang di jadikan markas para geng motor Dodit. Sudah dua jam mereka menunggu, hingga menjelang petang masih di bawah pohon perdu tersebut. Membuat Azriel jadi kesal sendiri, dia hendak menaiki motornya dan segera pulang karena lapar perutnya.


"Tunggu, Ziel. Pasti malam mereka keluar, sabar kenapa sih." ucap Qilla masih mengawasi gedung tua itu.


"Ish, makin malam mereka pasti semakin tambah meriah dan lama pestanya. Terkadang mereka juga pesta mabuk sampai pesta itu juga di dalam sana, makanya aku malas lama-lama dengan mereka." kata Azriel.


"Itu apa?" tanya Qilla bingung.


"Ya itu, cewek sama cowok hubungan bebas di dalam sana. Jijik gue lihatnya." kata Azriel.


"Ck, aku jgga ngerti." kata Qilla.


"Udah, jangan banyak ngerti. Makanya kita pulang aja, jangan ikut-ikutan mereka di dalam." kata Azriel lagi.


Mata Qilla masih mengawasi gedung itu, tak lama empat orang keluar dari gedung tersebut. Qilla menarik Azriel untuk melihat dua orang yang sejak tadi dia tunggu.


"Tuh, tuh. Mereka keluar, ayo kita ikuti kemana mereka pergi." kata Qilla.


"Huh, baiklah. Tapi kali ini aja ya, jangan jauh-jauh." kata Azriel.


"Iya."

__ADS_1


Azriel bersiap menaiki motor, Qilla memakai helmnya dan langsung menaiki motor Azriel. Setelah lima menit motor yang menumpang dua orang di curigai Qilla itu pergi, Azriel mengikuti mereka dari jauh.


Matanya terus mengawasi kemana arah motor itu pergi. Dia seperti seorang pemburu mencari mangsa, sangat menarik pikir Azriel. Dia jadi bersemangat mengikuti temannya Jody pergi.


"Motornya kemana Ziel?" tanya Qilla di belakang Azriel.


"Gue udah mengawasi mereka, sepertinya mereka pergi ke gang komplek deh." jawab Azriel.


"Terus ikuti mereka Ziel, aku pengen tahu pasti mereka menemui targetnya." kata Qilla.


"Iya, gue tahu." jawab Azriel.


Motor terus melaju, melewati jalanan kompleks perumahan sepi di waktu petang ini. Menyusuri jalan hingga melewati jembatan sepi, seinggat Qilla kedua orang itu bicara pertemuan dengan target di jembatan. Tapi di jembatan mana, bukankah tadi mereka melewati jembatan.


"Tadi sudah melewati jembatan, kenapa mereka tidak berhenti?" tanya Qilla.


"Memangnya mereka mau bertemu di mana? Lo ingat ngga percakapan Jody dan Iwan?" tanya Azriel.


"Katanya sih di jembatan, entah jembatan mana. Tadi sih udah kelewat deh jalan jembatan itu." jawab Qilla.


"Ehmm, mungkin jembatan perbatasan kompleks. Kita ikut aja terus, pasti mereka berhenti kok." ucap Azriel.


Mereka terus mengikuti kedua teman geng motor Azriel tersebut. Dan benar saja, motor itu berhenti di sebuah jempatan gelap dan sepi. Di saja ada tiga motor, pengemudinya juga berdiri tak jauh dari jembatan.


Motor Jody berhenti di pinggir jembatan, mereka turun dan bersalaman beradu siku. Berbincang sebentar, di kerumuni oleh lima orang yang tadi menunggu di jembatan itu.


"Waah, itu mereka. Lagi transaksi kayaknya, Ziel. Apa kita bisa lihat lebih dekat lagi?" tanya Qilla.


"Ngga bisa, harus parkir agak jauh biar ngga di curigai sama Jody. Gue takut dia tahu gue ikuti dia, dan nantinya pasti dia bawa teman-temannya buat ngeroyok gue dan lo." kata Azriel.


"Terus gimana dong?" tanya Qilla bingung.


"Turun aja dari moto, gue sembunyikan motornya. Dan kita lihat dari dekat aja, itu di bawah jembatan kita di saja intai mereka. Pasti aman sama orang-orang di sana." kata Azriel.


"Ya udah kita kesana aja." ucap Qilla.


Mereka mengendap berjalan menuju jembatan. Tepatnya di bawah jembatan mereka ingin mengintai dan menyelidiki apa yang di lakukan Jody. Azriel menggandeng tangan Qilla, dia tidak mau Qilla akan jadi nekad melihat lebih dekat di jembatan itu.


"Mau kemana lo, tunggu dulu!"


_


_

__ADS_1


*********


__ADS_2