
Setelah bertemu dengan prof. Rudi, Azriel pulang ke rumah mengambil semua berkas yang di perlukan serta beberapa baju untuk ganti sehari-hari.
Meski Ryuzi tidak peduli dengan anak dan istrinya, tapi dia tidak pernah melupakan mengirimi uang di ATM Azriel dan Rania sebagai uang jajan dan kebutuhannya. Jadi, Azriel merasa beruntung juga tidak kekurangan uang meski dia marah pada kedua orang tuanya itu.
Azriel juga tidak tahu kalau sejak dia kabur dari rumah setelah bertengkar dengan mamanya. Sintya juga bertengkar dengan suaminya Ryuzi, dan perempuan itu semakin tidak peduli dengan kedua anaknya. Azriel sendiri juga mencoba membiarkan kedua orang tuanya seperti itu.
Kelak, suatu saat pasti akan sadar. Dia hanya perlu melindungi dan menjag adiknya Rania. Setelah dia bekerja nanti, akan dia bawa adiknya tinggal bersamanya. Itulah keinginannya saat ini, mengingatkan papa dan mamanya yang sedang di mabuk cinta oleh orang ketiga, sangat susah di hentikan.
Cara Azriel satu-satunya membiarkan keduanya sambil mendoakan yang terbaik bagi keduanya.
"Den, mau pergi lagi?" tanya pembantu Azriel mengetahui Azriel merapikan baju-bajunya.
"Iya Bi, jaga mama ya. Kalau bisa ingatkan mama jangan sering pulang malam." kata Azriel.
"Tapi, kenapa ngga Aden aja yang bilang? Bibi cuma pembantu di sini." kata pembantu Azriel bernama Murni.
"Aku sudah berkali-kali minta dan mengingatkan mama. Tapi mama ngga peduli, mungkin nanti aku akan bilang sama papa." kata Azriel.
Dia sudah mengepak bajunya dalam tas ranselnya. Kemarin, prof. Rudi memberitahu kalau saat ini dia bisa masuk lamaran ke perusahaan kilang di luar pulau. Besok harus wawancara kerja lebih dulu ke kantornya.
"Terus, Aden mau kemana sekarang?" tanya Bi Murni.
"Ini nanti di ambilnya, aku mau kerja Bi. Semoga saja di terima." jawab Azriel.
"Aden mau kerja? Kenapa ngga di terusin aja kuliahnya?" tanya Bi Murni lagi.
"Udah males, udah Bibi harus jaga mama ya. Ingatkan mama terus, kalau sama aku pasti ribut lagi ribut lagi." kata Azriel.
"Iya Den, bibi usahakan. Semoga nyonya mau dengar." kata bi Murni.
"Ya udah, aku pergi dulu bi. Nanti malam aku pulang lagi." kata Azriel mengambil tas ranselnya yang kecil.
_
Azriel berada di rumah Qilla, lima hari dia tidak datang ke rumah pacarnya itu. Hanya melalui telepon saja, dan kini dia datang untuk bertemu dengan gadis pujaannya. Memberitahu kalau dia akan bekerja.
Qilla sudah selesai merapikan semua peralatan jualan ciloknya. Memang sengaja Azriel datang ke rumah Qilla setelah gadis itu berjualan cilok selesai, baru dia datang.
"Udah beres?" tanya Azriel.
"Udah, kok baru datang lagi? Kemana aja?" tanya Qilla duduk di samping Azriel.
"Iya, ada urusan akhir-akhir ini." jawab Azriel.
__ADS_1
"Apa urusan sama mamamu telah selesai?" tanya Qilla.
"Udah." jawab Azriel singkat.
Qilla tahu Azriel masih belum menyelesaikan masalahnya dengan mamanya. Dia tidak mau terlalu memaksa Azriel menceritakan lagi masalahnya dengan kedua orang tuanya. Melihat tas ransel di motor Azriel membuat kerutan dahi Qilla muncul. Dia menatap laki-laki itu, tidak biasanya dia membawa ransel.
"Kamu mau kemana? Itu bawa ransel." tanya Qilla.
"Emm, mau nginap lagi di sini. Boleh?" tanya Azriel tersenyum.
Qilla diam, pikirannya sudah pasti menduga Azriel masih bertengkar dengan mamanya.
"Masih belum selesai dengan mamamu? Kok kabur-kaburan terus sih?" tanya Qilla.
"Sebenarnya aku mau melamar kerja, dulu dosenku menawarkan pekerjaan. Tapi waktu itu aku menolaknya, sekarang setelah di pikir-pikir aku akan menerimanya. Besok wawancara kerja, semoga di terima." kata Azriel.
"Kerja? Kerja di mana?" tanya Qilla.
"Di luar pulau, di pertambangan minyak." jawab Azriel.
Mata laki-laki itu menatap dalam pada Qilla, keduanya saling menatap. lama mereka saling menatap, dan Qilla menunduk menarik napas panjang.
"Apa kamu keberatan aku kerja jauh?" tanya Azriel.
Azriel tersenyum, dia menarik tangan Qilla. Memenganginya erat.
"Ya, itu yang aku pikirkan. Setelah aku lepas dari kelompok geng motor itu, aku pikir lebih baik menjadi laki-laki yang memiliki masa depan dan ingin membahagiakan orang yang aku cintai. Rania dan kamu." kata Azriel.
Qilla menoleh menatap kembali pada laki-laki di sampingnya dan tersenyum manis.
"Rania, adikmu?" tanya Qilla.
"Ya, itu nama adikku. Aku juga udah cerita sama dia kalau aku punya kamu."
"Terus, kapan aku bisa ketemu dia?" tanya Qilla.
"Emm, nanti setelah aku selesai mengurus lamaran kerja. Aku akan temukan kamu sama adikku itu." kata Azriel.
"Oke, aku tunggu."
Keduanya tersenyum, mereka asyik mengobrol santai hingga siang hari. Azriel di ajak makan oleh ibu Nima, dia juga kangen dengan masakan ibunya Qilla tersebut.
Rasanya memiliki keluarga yang hangat ketika berkumpul di rumah Qilla. Meski hanya ada ibu Nima dan Qilla saja, tapi rasanya dia di sayang oleh perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
"Terima kasih ya, kamu mau sama aku." kata Azriel.
"Kok ngomong gitu? Aku yang justru bingung, kenapa kamu suka sama aku. Dan lagi, keluargamu belum tahu aku. Pasti mamamu ngga suka sama aku kalau tahu siapa aku." kata Qilla.
"Aku ngga peduli jika mama ngga suka sama kamu, yang penting anaknya suka dan akan membahagiakan kamu nantinya sampai menikah dan tua bersama." kata Azriel.
"Hahah, kamu pikirannya udah jauh banget sih." kata Qilla tertawa kecil.
"Ya, karena aku sekarang mau memikirkan masa depan. Ngga mau lagi hidup tanpa tujuan." ucap Azriel.
"Itu bagus, orang harus punya masa depan dan merencanakan masa depan seperti apa nantinya. Jangan kayak dulu ikut-ikutan geng motor, ngga ada manfaatnya. Malah jadi incaran polisi lagi, kan ngga enak harus mendekam di penjara." kata Qilla.
"Iya sayangku. Aku maunya nikahin kamu secepatnya, makanya aku mau kerja." kata Azriel.
"Ya ampun, kok pengen ngebet nikah sih." ucap Qilla merasa malu sendiri.
"Ya, biar kamu ngga ada yang gosipin lagi belum nikah."
"Yee, aku sih santai aja belum nikah juga. Masih banyak kok gadis-gadis seusiaku belum nikah." kata Qilla lagi.
"Tapi aku pengennya cepat nikahin kamu."
Qilla diam, dia menatap pacarnya itu lalu tersenyum. Keduanya pun tertawa lepas, Azriel senang karena Qilla gadis yang mandiri. Dia juga harus mandiri, tidak mengharapkan pemberian orang tuanya lagi.
"Tiga tahun lagi aku akan nikahin kamu, Qilla." ucap Azriel.
"Kerja aja yang benar, dan bereskan semua urusanmu dengan kedua orang tuamu. Masalah menikah bisa di bicarakan nanti setelah semua urusanmu dengan kedua orang tuamu." kata Qilla mengingatkan Azriel.
"Iya, aku akan bereskan semuanya. Aku janji semuanya akan beres sebelum menikahi kamu."
"Bagus, aku ngga mau ya nanti di bilang sama mamamu mempengaruhi anaknya untuk membangkang."
"Ngga, meski mama dan papaku melarangku menikahi kamu. Aku akan memaksanya, ini hidupku. Makanya aku ngga akan bergantung sama mereka. Sudahlah, jangan bahas kedua orang tuaku. Aku kesini cuma mau kangen-kangenan sama kamu." kata Azriel mencium pipi Qilla dengan cepat.
"Ish!"
"Heheh."
_
_
*********
__ADS_1