
Azriel pergi begitu saja setelah berkata pada mamanya, Sintya langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia menutup pintu dengan kasar, isak tangisnya menggema dalam kamarnya.
Sedangkan di luar, deru motor Azriel kembali melaju kencang keluar pagar rumahnya. Begitu motor Azriel keluar, masuk mobil sedan hitam. Satpam membukakan pintu gerbang dengan lebar.
Mobil berhenti di depan, pengemudinya turun. Dia melihat mobil merah sudah terparkir di depan, laki-laki itu pun menoleh pada satpam dan melambaikan tangannya agar satpam mendekat padanya.
"Ya tuan Ryuzi." kata satpam setelah mendekat.
"Itu Azriel keluar malam-malam. Kenapa lagi dia?" tanya Ryuzi.
"Maaf tuan, tadi ada ribut sama nyonya di dalam." jawab satpam.
Ryuzi diam, dia menghela napas panjang.
"Ya sudah, kerja lagi kamu." kata Ryuzi.
"Ya tuan." jawab satpam mengangguk.
Ryuzi melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat kamar Azriel gelap, dan kamarnya juga gelap. Alisnya mengerut, kenapa lampu kamarnya mati?
"Apa dia sudah tidur? Atau sedang menangis karena ribut lagi dengan anaknya? Heh, perempuan naif." ucap Ryuzi.
Dia melangkah menuju kamarnya, menarik handle dan mendorong daun pintunya. Tampak gelap di dalam kamarnya, dia meraba stop kontak lampu dan menyalakan lampu. Matanya mengarah ranjangnya, dia melihat Sintya terisak keras. Ryuzi pun mendekat, menatap sinis pasa istrinya yang sedang menangis itu.
"Kamu bertengkar lagi dengan anak berandalan itu?" tanya Ryuzi.
"Dia seperti itu karenamu!" ucap Sintya.
"Sudahlah, jangan hanya menyalahkan aku saja. Apa kamu juga tidak salah?" tanya Ryuzi sinis.
"Aku seperti itu karena kecewa sama kamu, Ryuzi! Setelah kamu naik jabatan jadi direktur rumah sakit, kamu semakin menjadi kelakuanmu. Berselingkuh dengan asistenmu, bahkan tidur dengannya! Hah, kamu pikir aku tidak tahu semuanya?" kata Sintya sinis.
"Tutup mulutmu! Dia lebih baik darimu!" ucap Ryuzi.
"Lebih baik? Kalau dia lebih baik, tidak seharusnya merayu dan merebut suami orang! Apa namanya kalau bukan pelakor?!"
Plak!
Tangan melayang di pipi Sintya hingga kepala perempuan itu menoleh. Cap tangan Ryuzi tampak jelas di pipi Sintya, dan Sintya pun menatap tajam pada suaminya. Dia memegangi pipinya yang terasa perih, matanya melebar. Lalu dia pun beranjak pergi meninggalkan Ryuzi, tapi kemudian dia berhenti tanpa berbalik.
"Ingat Ryuzi, keluargamu akan berantakan semuanya. Segala apa yang kamu lakukan akan kamu dapatkan kemalangannya, aku akan membuat semuanya hancur. Anak-anakmu akan membencimu selamanya!" ucap Sintya.
Setelah berkata seperti itu, Sintya melanjutkan langkahnya keluar dari kamarnya. Dia akan tidur kamar tamu, hatinya bukan hanya kecewa. Tapi juga benar-benar sakit dengan perlakuan suaminya.
__ADS_1
Sementara itu, Azriel berkeliling-keliling jalanan dengan keadaan hati yang kacau. Setelah pertengkarannya dengan mamanya, dia benar-benar kecewa sekali.
Ingin dia pergi ke rumah Aqilla, tapi sudah terlalu malam. Jadi, dia hanya mengelilingi motornya beberapa kali di jalanan yang mulai sepi. Hanya beberapa kendaraam saja, dan itu pun mobil bis antar provinsi melewati jalanan kota menuju terminal tujuan.
Ingatannya pada Rania, adik satu-satunya itu masih belum mengetahui keadaan rumahnya. Keadaan kedua orang tuanya, dan Azriel berpikir kenapa Rania di bawa ke sekolah asrama oleh papanya?
Dia kini mengerti, agar semua prilaku dan kebusukannya dalam berselingkuh dengan asistennya itu tidak di ketahui oleh anak perempuan satu-satunya.
"Aku akan ke asrama Rania." ucap Azriel.
Dia melajukan motornya cepat menuju asrama putri di pinggir kota. Di sana memang sangat ketat sekali, jadi Rania tidak bisa pulang sebelum libur datang. Apa pun alasannya, kecuali ada kabar kematian dari keluarganya atau terkena penyakit berat yang memang harus di obati dokter khusus.
Pukul dua belas malam lewat, Azriel melajukan motornya menuju asrama Rania. Dia akan menginap di sana di bagian pos satpam atau tempat ibadah hanya malam ini, dan besoknya dia akan menemui adiknya itu.
Pikiran Azriel masih berkelana, setelah menemui Rania dia bingung mau pergi kemana. Jika pergi dan menginap di rumah Qilla lagi, rasanya tidak etis. Tapi kemudian dia ingat pada seorang dosen yang memberinya sebuah tawaran.
Ya, Azriel akan datang ke rumah dosen yang dulu memberinya tawaran menarik. Tapi saat itu dia menolaknya karena masih belum ada masalah pada keluarganya, tetapi dia akan menerima tawaran itu jika masih ada untuknya.
"Setelah menemui Rania, aku akan pergi ke rumah prof. Rudi." gumam Azriel.
Tak terasa motor Azriel sampai di sebuah pintu gerbang besar. Dia menghentikan motornya, menatap sekeliling ternyata memang sepi. Jika dia menemui satpam, nanti di kira mau apa. Jadi, akhirnya Azriel mencari tempat yang enak untuk tidurnya malam ini di sekitar asrama itu.
_
Tak berapa lama, seorang gadis berjalan mendekati Azriel. Senyumnya mengembang dan berjalan cepat pada laki-laki itu.
"Bang Azriel." teriak gadis itu langsung memeluk abangnya.
Azriel membalas pelukan adiknya itu, mengelus kepalanya beberapa kali. Senyumnya mengembang, kemudian Rania melepas pelukannya dan menutup hidungnya.
"Abang bau ih, belum mandi ya?" tanya Rania.
"Heheh, abang kesini buru-buru. Pengen ketemu kamu." kata Azriel tertawa kecil.
"Kok sendirian kesini? Papa sama mama ngga ikut?" tanya Rania.
"Nanti juga papa sama mama kesini. Kenapa kamu tanya mama sama papa aja? Abang ngga di tanyain." kata Azriel.
"Papa sama mama ngga pernah datang kesini bang. Rania ngga bisa hubungi mama, ponselnya kan di simpan sama petugas asrama." kata Rania.
Azriel menarik napas panjang, dia tahu mamanya tidak datang lagi ke asrama Rania sejak hidupnya untuk berondong malas hasil arisan itu. Apa lagi papanya, hanya dirinya yang sering datang ke asrama Rania.
"Bang, papa sama mama baik-baik aja kan?" tanya Rania.
__ADS_1
"Kenapa kamu tanyakan itu?" tanya Azriel heran.
"Ya ngga, kan udah lama juga papa sama mama ngga datang kesini jenguk aku. Lagian aku sering mimpi mama dan papa itu jalan masing-masing dan aku panggil selalu saja melengos. Aku sedih bang kalau ingat mimpi itu." ucap Rania murung wajahnya.
Azriel menarik tubuh adiknya itu, dia mendekap erat sekali. Ada isak tangis terdengar dari mulut Rania, Azriel pun ikut sedih.
"Udah, jangan menangis. Nanti abang kasih tahu sama mama suruh jenguk kamu." kata Azriel menghibur adiknya.
"Bener ya bang, jangan cuma uang aja yang mama sama papa kirim. Kenapa mereka ngga mau jenguk aku kesini." kata Rania.
"Iya, nanti abang bilang sama mama. Oh ya, abang sekarang udah punya pacar." kata Azriel memberitahu adiknya.
"Bener bang? Cantik ngga?" tanya Rania antusias.
"Cantik dan baik." jawab Azriel.
"Bawa dong kesini, atau nanti liburan deh temui aku sama pacar abang itu." kata Rania semangat.
"Nanti abang bawa kesini, dia juga katanya pengen ketemu kamu." kata Azriel lagi.
"Dia seusia abang ngga?"
"Emm, beda tiga tahun sih. Dia ngga kuliah, jangan tanya itu." kata Azriel.
"Kenapa? Pacar abang ketemu di mana?"
"Udah jangan tanya-tanya lagi. Sekarang belajarmy gimana?"
"Baik dong bang. Aku bahkan ikut kompetisi nanti di kota mewakili sekolah." kata Rania.
"Kompetisi apa?" tanya Azriel.
"Fisikia."
"Belajar yang rajin."
"Iya."
Percakapan mereka beralih kembali masalah pacar Azriel. Rania mendesak menceritakan pertemuannya dengan Qilla dan bagaimana bisa mereka jadi pasangan kekasih. Obrolan santai itu membuat keduanya lupa akan kesedihan masing-masing masalah kedua orang tuanya.
_
_
__ADS_1
********