Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
40. Cincin


__ADS_3

Sintya diam saja ketika suaminya bolak balik mengitari kamarnya. Mondar mandir dengan hati gelisah dan geram dengan Sintya yang masih saja meladeni para berondong itu.


"Apa mama ngga berpikir tentang papa? Kenapa mama masih saja meladeni mereka yang pemalas dan penjual omongan manis sama mama?!" ucap Ryuzi kesal pada Sintya.


"Mama udah menolak pa, tapi dia memaksa. Untung saja papa datang. Kalau ngga, mereka pasti akan meminta mama terus temani dia dan mau membayar apa saja yang mereka mau." kata Sintya.


"Itulah, ngga semua orang itu baik. Mereka sama aja dengan laki-laki penghibur, bukannya mencari pekerjaan yang layak tapi malah menggoda tante-tante berumur. Suruh saja mereka menggoda ibu-ibu di pasar, apa bisa dapat apa yang mereka inginkan. Yang ada mungkin di gebukin dan di suruh kerja, laki-laki pemalas." ucap Ryuzi kesal juga.


Dia benar-benar tidak habis pikir dengan para pemuda yang hanya memikirkan keinginannya yang hedonis, tapi tidak berpikir bekerja lebih baik. Padahal orang-orang seperti itu, penyakit berbahaya banyak yang mrnghampiri. Apa lagi perkumpulan manusia sesama jenis.


Empat jam lalu, ketika Sintya akan pergi dari reastoran dengan berondong yang memaksanya pergi keluar untuk bersenang-senang. Ketika mau pergi, pintu mobilnya di ketuk dari luar. Tentu saja Sintya kaget, ternyata suaminya dengan tatapan tajam.


Beruntung Ryuzi datang, Sintya tersenyum dan membuka pintu mobilnya dan berhambur memeluknya.


"Kamu ada di sini?" tanya Sintya.


"Suruh keluar dia!" ucap Ryuzi pada Sintya.


"Siapa? Dia?" tanya Sintya menunjuk laki-laki muda di dalam mobilnya.


"Ya, laki-laki pemalas!" ucap Ryuzi.


Sintya diam, lega dan sekaligus malu juga karena suara Ryuzi keras sehingga membuat beberapa orang di parkiran itu ada yang menatapnya aneh. Sintya menyuruh Gani keluar dari mobilnya, laki-laki muda itu terlihat percaya diri dan ingin menantang Ryuzi.


"Hei om, kalau mau senang-senang dengan tanteku. Nanti dulu, harus antri. Jangan main serobot aja." kata Gani mendekat pada Ryuzi.


"Apa?!" ucap Ryuzi berteriak.


"Gani! Jangan sembarangan kamu sama suamiku!" ucap Sintya geram dengan laki-laki itu.


Tentu saja Gani terkejut, wajahnya pucat pasi. Dia takut dengan tatapan tajam Ryuzi padanya, nyalinya ciut seketika mendengar kalau laki-laki di depannya adalah suami dari Sintya.


"Emm, maaf om. Saya tidak tahu kalau om suami tante Sintya." kata Gani mundur perlahan.


"Laki-laki pemalas! Harusnya kamu kerja yang benar, jangan hanya menjadi penggoda istri orang!" ucap Ryuzi.

__ADS_1


Kontan saja orang yang lewat itu menatap ke arah ketiganya. Sintya merasa malu sekali dengan ucapan suaminya yang keras itu, Sintya memberi kode pada Gani agar cepat pergi dari tempat itu. Dia menarik tangan suaminya untuk masuk ke dalam mobilnya, bicara pelan-pelan padanya.


Ryuzi awalnya menolak, tapi di paksa oleh Sintya dan akhirnya dia pun masuk ke dalam mobilnya.


"Pa, jangan teriak begitu. Malu di lihat orang." kata Sintya.


"Huh, mama kenapa masih saja meladeni mereka? Apa papa perlu selingkuh lagi dan pergi dari rumah, agar mama juga sadar hah?!" kata Ryuzi.


"Ya ngga gitu pa. Tadi mama mau pulang, tapi tiba-tiba dia datang dan minta masuk ke mobil. Memang dia suka bikin kesal pa, mama udah tobat juga. Tapi dia maksa masuk dan mau ajak mama pergi, untung papa datang." kata Sintya.


"Heh, kalau papa ngga datang mama mau meneruskan kencan kalian ya? Udah tua juga masih saja suka sama laki-laki pemalas. Papa akan bicarakan nanti sama Azriel, biar mama di benci sama anak sendiri." kata Ryuzi mengancam istrinya.


"Ya ampun pa, kok gitu sih ngancam sama anak." kata Sintya.


"Sebaiknya mama pulang, hapus semua kontak mereka. Dan jangan lagi bertemu dengan teman-teman mama yang sosialita itu." kata Ryuzi lagi.


Sinta mengangguk saja, dia pun akan segera pulang. Suaminya keluar dari mobilnya dan Sintya segera melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.


_


"Jadi libur ini kamu pulang?" tanya teman satu kerja dengan Azriel.


"Iya, mamaku menyuruhku pulang. Dan aku juga kangen dengan pacarku." kata Azriel merapikan tas ranselnya.


"Hem, baru tiga bulan kita bekerja di sini. Sepertinya minggu depan harus kerja lebih lama ya agar mereka yang di sini bisa pulang juga ketemu keluarganya." katanya.


"Ya, aku sebenarnya ngga enak sama ketua. Tapi mamaku meminta cepat pulang saja, entah mau apa. Aneh banget menyuruhku pulang." kata Azriel.


"Kamu anak mama, kenapa kerja di tambang?" tanya Reki teman satu kerja dengan Azriel.


"Aku bukan anak mama, lagi pula ya wajar aja kangen sama keluarga." ucap Azriel.


"Iya sih, ya udah. Minggu depan gantian aku yang ambil liburan, yang lain kayaknya sama aja." ucap Reki lagi.


"Ya."

__ADS_1


Azriel sudah merapikan ranselnya, sore ini dia akan pulang dengan kendaraan yang di sediakan oleh perusahaan. Setelah sampai di terminal, nanti menaiki mobil menuju bandara. Dia sudah memesan tiket sebelumnya melalui layanan online.


Di ambilnya ponselnya, menatap walpaper di ponselnya. Gadis manis dengan senyumannya membuat Azriel merasa lebih merindukannya. Di ciumnya layar ponsel itu, lalu tersenyum sendiri.


"Aku kangen sama kamu, Qilla." ucap Azriel.


Dia letakkan ponselnya di meja, berjalan menuju lemari kecilnya. Di mes itu memang hanya ada ranjang kecil satu meja dan lemari yang ukurannya satu meter saja. Dia membuka lemari itu, di ambilnya sesuatu yang sejak dulu dia simpan di sana. Di lihat dan di timangnya kotak kecil, dia berniat akan memberikannya pada Qilla.


"Aku akan melamarmu, Qilla. Pulang ini aku akan langsung melamarmu." ucap Azriel membuka kotak kecil berisi cincin.


Cincin yang dia beli dari gaji pertamanya bekerja di kilang itu. Meski tidak besar ukuran permatanya, tapi dia sangat suka dengan cincin itu. Meski di usianya yang masih muda, tapi Azriel ingin menikah muda dan berkeluarga. Hidup dengan bahagia dengan kekasihnya Qilla.


"Tapi seharusnya aku bawa Qilla ke rumah aja ya, di kenalkan sama mama dan papa. Siapa tahu mereka mau terima dia, meski pun aku ragu sih." ucap Azriel.


Masih di pandangi cincin itu, dia duduk di tepi ranjangnya. Lalu menatap ke arah jendela, suara dentuman mesin pengebor dari seberang laut itu memang membuat orang kaget bagi yang baru merasakannya. Dan Azriel sudah biasa mendengarnya.


Tiba-tiba suara dering ponselnya nyaring. Membuat Azriel terkejut dan mengambil posnelnya.


Mama.


"Halo, ma? Kenapa lagi?" tanya Azriel.


"Kamu benarkan besok pulang?"


"Iya. Kenapa memangnya ma?"


"Mama mau mengenalkan kamu sama anaknya teman mama."


"Apa?!"


_


_


********

__ADS_1


__ADS_2