Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
27. Memberitahu Qilla Dan Rania


__ADS_3

Hari wawancara telah di lakukan Azriel di kantor BUMN. Di mana prof. Rudi ada di sana merekomendasikan Azriel masuk ke perusahaan kilang minyak milik pemerintah. Meski dia belum ada pengalaman bekerja di bagian teknik mesin, tapi prof. Rudi mempercayakan Azriel bisa bekerja dengan baik.


Karena Azriel bisa menguasai teknik mesin dan dulu pernah praktek dia bisa di andalkan, bahkan bisa jadi asisten dosen. Hanya karena saat itu dia masih ego remajanya membuat dia enggan untuk membantu dosen mengajar di kelas semester pertama.


Sekarang tunggu hasil dari wawancara itu, apakah dia bisa bekerja di kilang minyak itu. Atau harus mengubur cita-citanya membahagiakan adik dan kekasihnya Qilla.


"Saya yakin kamu akan di terima, Ziel. Jangan khawatir, karena di sana membutuhkan tenaga teknik." kata prof. Rudi memberi harapan pada Azriel.


"Iya prof. Semoga saja saya di terima, agar cita-citaku tercapai." kata Azriel.


"Cita-cita?"


"Saya ingin adikku bahagia meski kedua orang tua kami bermasalah, dan juga segera menikahi pacarku." jawab Azriel.


"Waah, kamu sepertinya pingin menikah muda ya." kata prof. Rudi.


"Iya prof. Heheh, akibat pergaulan yang salah. Jadinya saya sering melihat mereka seperti itu, untung saya bukan cowok gampangan. Heheh." kata Azriel.


"Ya ampun, kalau tujuan menikah hanya karena keinginan seperti itu. Nanti kalau tidak sesuai realita, apa kamu akan terus bertahan? Jangan berpikiran kesana tentang menikah, berpikir memcari kebahagiaan sendiri dan membahagiakan pasangan. Mencintainya dan juga menyayanginya, itu yang harus kamu utamakan. Dan tanggung jawab tentunya dalam poin penting pada pernikahan." kata prof. Rudi.


"Iya prof, saya tahu. Saya ingin jadi orang yang berguna dan bisa melindungi orang aku sayangi." kata Azriel.


"Bagus itu."


Keduanya terdiam, Azriel dan prof. Rudi masih berada di kantor BUMN. Menunggu hasil wawancara Azriel, karena katanya akan langsung di umumkan sore harinya.


"Kalau begitu, saya pamit dulu Ziel. Bapak ada mata kuliah siang ini, semoga kamu berhasil ya. Bapak hanya membantu menyampaikan kamu adalah mahasiswa bapak yang bagus nilai dan prakteknya. Selebihnya jika di terima itu karena kamu memang pantas bisa dapatkan pekerjaan itu." kata prof. Rudi.


"Iya Prof. Saya berterima kasih banyak sama anda. Maaf kalau saya belum memberikan yang apa pun untuk anda." kata Azriel.


"Jangan di pikirkan, bapak hanya ingin melihat kamu sukses meski tidak dalam kondisi keluarga yang baik. Kamu harus sukses dengan impian dan cita-citamu." kata prof. Rudi.


"Oya prof, sekali lagi terima kasih." kata Azriel menyalami prof. Rudi.


Laki-laki itu pun pergi meninggalkan Azriel dan kantor BUMN. Memasuki mobilnya kemudian menjalankan mesinnya lalu melaju pelan, Azriel melambaikan tangannya sampai mobil berplat merah itu keluar dari halaman kantor BUMN.


_


Azriel dan Qilla sedang berada di atas motor mengendarai menuju yayasan asrama di mana Rania tinggal. Qilla sendiri bingung dengan Azriel yang tiba-tiba mengajaknya pergi, dia belum bertanya lagi kenapa Azriel mengajaknya pergi. Laki-laki itu hanya tersenyum saja menjawab pertanyaan Qilla.


Jalanan ibu kota masih saja sama. Padat, meski di jam-jam siang hari. Tapi tidak sepadat di jam masuk dan pulang kantor atau sekolah. Motor Azriel melaju santai dan kadang meliuk kencang, membuat Qilla harus tiba-tiba mengencangkan pegangan tangannya di pinggang Azriel.


"Kita mau kemana sih sebenarnya?" tanya Qilla masih penasaran tujuan Azriel membawanya pergi.


"Ada deh, nanti aku jelaskan semuanya kalau kita sampai di tempat itu." kata Azriel.


Tangan kirinya memegang tangan Qilla agar tenang dan tidak penasaran terus. Karena sejak dari rumahnya, Qilla selalu bertanya. Mau tidak mau Qilla akhirnya mengalah karena sampai pertanyaan terakhir pun Azriel tidak mau jawab.


Akhirnya, motor Azriel di sebuah gedung besar dan banyak bangunan sekolah serta di belakangnya ada sebuah gedung asrama. Qilla memicingkan matanya, tempat sekolah? Asrama?

__ADS_1


"Kamu mau menjenguk adikmu?" tanya Qilla.


"Tepat sayang, yuk turun. Aku ingin kenalkan kamu sama adikku, dia juga pengen kenal kamu." kata Azriel.


Qilla tersenyum, dia pun mengangguk cepat. Mereka melangkah masuk ke dalam gerbang terbuka lebar, karena waktu bubar sekolah sebentar lagi. Dia senang akhirnya akan bertemu dengan adik Azriel itu.


Azriel meminta izin pada satpan agar bisa masuk ke dalam asrama dan menemui adiknya Rania. Setelah bicara pada satpam dan dia menelepon petugas bagian penerimaan tamu bagi anak asrama. Azriel pun menunggu di ruang tunggu bersama Qilla.


Pemandangan gedung sekolah dan lapangan tampak lengang, Azriel melirik jam di tangannya. Masih sepuluh menit lagi adiknya keluar dari dalam kelas.


"Jam berapa sekolah bubar?" tanya Qilla.


"Biasanya sih jam tiga sore, ini sebentar lagi dia keluar." jawab Azriel.


"Kok lama ya pulangnya, waktu aku di SMA dulu cuma jam setengah dua baru bubar sekolahnya." kata Qilla.


"Setiap sekolah peraturannya beda-beda, apa lagi ini di asrama. Jadi jam pulang sekolahnya lama." kata Azriel.


"Kenapa adikmu di sekolahkan di asrama?" tanya Qilla.


"Dia yang minta, dan kebetulan mama sama papa setuju." jawab Azriel.


Keduanya diam, masih menatap ke arah gedung sekolah. Dan akhirnya bel bubar sekolah pun berbunyi, setiap kelas satu persatu bubar anak-anak sekolah. Ada yang bergurau dan juga beberapa berlari langsung menuju asrama.


Tampak seorang gadis di hampiri oleh seorang petugas asrama. Gadis itu tersenyum lebar ketika di bertahu sesuatu, dia berlari ke gedung di mana kakaknya menunggu untuk menjenguknya.


"Abang!" teriak seorang gadis berpakaian seragam dengan tawa lebarnya.


"Abang kesini lagi?" tanya Rania masih memeluk abangnya.


"Iya, mau kenalkan kamu sama pacar kakak nih." kata Azriel.


Rania melepas pelukannya, beralih menatap Qilla dengan senyum manisnya. Tangannya menyalami Qilla untuk berjabat tangan.


"Aku Rania."


"Qilla. Aqilla Kanaya Tsabita."


"Waah, namanya keren. Kakak cantik juga, heheh." ucap Rania.


"Makasih, kamu juga cantik." ucap Qilla.


Ketiganya pun duduk, Qilla diam saja. Dia melihat adik Azriel itu tidak terlalu manja, mungkin karena didikan di asrama.


"Aku pikir mama yang datang, bang." kata Rania.


"Mungkin nanti mama sama papa jenguk kamu. Lagi sibuk kerjaan kayaknya." jawab Azriel.


"Ooh, tapi kok ngga pernah telepon aku sih?" tanya Rania.

__ADS_1


"Kan udah abang bilang, mereka sibuk. Udahlah, nanti abang kasih tahu mama sama papa suruh jenguk kamu kesini." kata Azriel menenangkan adiknya.


"Oh ya, abang kesini mau kenalin kak Qilla. Kak Qilla, kok mau sih sama abangiu?" tanya Rania.


"Hahah, dia kecantol abang di lintasan balap." kata Azriel tertawa lebar.


"Dih, siapa duluan yang suka sama aku?" tanya Qilla tak mau kalah dengan ucapan Azriel.


"Udah, aku yakin nih abang duluan yang suka sama kak Qilla." kata Rania.


"Tepat sekali, karena Qilla baik banget orangnya. Ibunya juga." kata Azriel.


"Iya kan?"


"Iya. Oh ya, abang mau kasih tahu sesuatu sama kalian." kata Azriel.


"Kasih tahu apa?" tanya Qilla dan Rania bersamaan. Keduanya saling tatap, lalu tertawa lebar.


"Abang di terima kerja di luar pulau, dan minggu depan sudah harus berangkat kesana. Abang minta sama kalian jaga diri baik-baik." kata Azriel memegangi kedua tangan dua gadis yang sangat dia sayangi.


Qilla diam, dia tidak tahu harus berkata apa. Tapi Rania sepertinya kaget dan syok.


"Lho, kok abang kerja? Bukannya kuliah?"


"Abang kuliah udah berhenti, dan ada tawaran pekerjaan. Jadi abang lebih milih kerja, abang harus jadi orang sukses Rania. Biar kamu bisa abang jaga, meski mama dan papa masih menjamin kamu. Tapi abang mau bahagiakan kamu dan juga Qilla." kata Azriel.


"Bang, kenapa harus kerja di luar pulau?" tanya Rania.


"Ya, karena abang dapatnya di sana." jawab Azriel lagi.


"Jadi, nanti abang ngga jenguk lagi aku dong?"


"Nanti kalau ada libur abang pulang jenguk kamu. Satu tahun lagi kan kamu lulus, harus kuliah yang benar. Jangan kayak abang." kata Azriel.


Rania diam, dia menunduk sedih. Begitu juga Qilla. Dia tidak tahu kalau akan secepat itu di tinggalkan Azriel. Azriel menatap Qilla, memegang erat tangannya.


"Kalian tahu, kalian adalah kekuatan abang." kata Azriel.


"Iya bang. Aku juga punya mama dan papa."


"Iya."


Ketiganya saling diam, obrolan mereka pun beralih seputar sekolah Rania. Tapi Qilla hanya diam saja, dia masih bingung dengan perasaannya yang akan berpisah dengan Azriel.


Qilla benar-benar mencintai Azriel, laki-laki yang dulu pernah dia tolong dan menginap di rumahnya.


_


_

__ADS_1


********


__ADS_2