Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
37. Azriel Demam


__ADS_3

Azriel turun dari motornya, dia melangkah menuju pintu rumah Qilla. Sangat gelap di dalam, karena memang sudah tengah malam dan biasanya tengah malam lampu depan di matikan. Tangannya gemeteran mengetuk pintu rumah Qilla.


Tok tok tok.


Azriel mengetuk pintu beberapa kali. Bibirnya juga menggeretuk karena dingin sekali, dia kembali mengetuk pintu rumah sederhana itu.


Tok tok tok.


Suara langkah kaki mendekat di dalam rumah, tampak ada suara gerutuan seseorang karena ada ketukan pintu tengah malam.


"Siapa sih malam-malam mengetuk pintu." ucap seorang perempuan di dalam rumah.


"Qilla, tolong buka pintunya." ucap Azriel yang menyadari suara rutukan itu adalah kekasihnya.


Pintu terbuka, tampak Qilla memicingkan matanya dan terkejut kenapa Azriel ada di depan rumahnya dalam keadaan menggigil kedinginan.


"Kenapa ada di sini?" tanya Qilla heran, mengajak Azriel masuk ke dalam.


Membawanya ke ruang tamu, dia melihat celana Azriel basah dengan tetesan air di lantai. Azriel masih dia menggigil, bibirnya masih bergetar.


"Kenapa basah? Kamu kecebur di kali?" tanya Qilla.


"Ceritanya panjang, bisa pinjamkan baju dan handuk? Aku mau mandi, kotor nih badanku. Tadi habis berendam di kali." kata Azriel.


"Ya ampun, emangnya cari apa sih sampai berendam di kali? Motornya jatuh?" tanya Qilla masih penasaran dengan Azriel yang basah dan kedinginan.


"Nanti aku ceritakan, cepat ambilin handuknya dong sayang. Aku kedinginan, mau mandi juga." kata Azriel tidak sabar.


"Ngga boleh mandi air dingin, nanti sekalian aku masakin air dulu. Biar mandinya pakai air dingin, tunggu aja di sini." kata Qilla.


Dia melangkah meninggalkan Azriel, tapi laki-laki itu mengikuti gadisnya menuju dapur. Dia ingin memeluk Qilla, tapi sadar tubuhnya basah. Justru Qilla akan menolaknya, bayangan tubuh Chika telanjang membuatnya mual seketika.


Hwuek!


Qilla menoleh ke arah Azriel, menggeleng kepala. Mungkin Azriel juga masuk angin karena bajunya basah.


"Tadi aku telepon kenapa ngga di jawab? Masih di jalan?" tanya Qilla menunggu air matang.


"Ponselku di buang sama teman. Dia ..." ucap Azriel terputus.


Air pun mendidih, Qilla menuangkannya ke dalam ember lalu di bawa ke dalam kamar mandi. Mencampurnya dengan air dingin agar tidak terlalu panas.


"Nah, masuklah, di dalam ada handuk masih baru. Selesai mandi nanti ke kamar aja buat ganti bajunya, aku siapkan di kamar." kata Qilla.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, muuah!" ucap Azriel.


Qilla hanya mengerutkan dahinya, bibirnya terangkat merasa geli dengan sikap Azriel itu. Rasa kantuknya semakin hilang dengan kehadiran laki-laki itu, sekaligus rasa penasaran kenapa bisa Azriel basah kuyup padahal tidak hujan.


"Dia itu aneh, kenapa bisa basah. Apa benar dia berendam di kali? Mau apa?"


_


Pagi harinya, Azriel baru bangun ketika matahari. Tubuh laki-laki itu menggigil karena demam, meski tadi malam mandi air hangat. Tapi dia merasa tubuhnya menggigil kedinginan di pagi hari itu, sehingga dia enggan bangun lebih awal.


Qilla menghampiri Azriel yang masih berbaring di balai bambu yang biasa di tempati tidurnya ketika menginap di rumah Qilla. Gadis itu menyentuh lengan tangan Azriel, tapi dia kaget karena tubuhnya panas.


"Ziel, kamu demam?" tanya Qilla.


"Ngga tahu, aku kok jadi menggigil begini. Hiiiih." jawab Azriel.


"Ya udah, aku belikan obat warung ya. Biar kamu cepat sembuh, aku biasanya kalau demam minum obat warung." kata Qilla.


"Ngga usah, aku tidur sebentar aja juga sembuh kok." jawab Azriel.


Matanya sayu karena rasa panas melanda juga pada kelopak matanya. Dia menatap wajah Qilla, pagi begini sudah segar. Azriel pun tersenyum, tangannya menyentuh pipi gadis itu.


"Makasih ya, mau tolong aku. Bajunya jadi sering pinjam punya almarhum bapak kamu." kata Azriel.


"Ngga apa-apa, kata ibu juga tidak masalah." jawab Qilla.


"Ibu pergi ke pasar, sekalian mau beli bahan cilok yang udah pada habis. Kamu minum obat ya? Atau mau periksa aja ke dokter mantri, di kampung ini adanya mantri." kata Qilla membujuk Azriel minum obat.


"Ya udah, obat warung aja." jawab Azriel akhirnya dia menurut mau minum obat.


"Ya udah, aku ke warung dulu ya beli obat. Kamu makan aja dulu nih, di isi perutnya. Setelah itu minum obat." kata Qilla.


"Iya."


Azriel bangkit perlahan dari tidurannya, duduk di samping Qilla yang belum pergi dari hadapannya. Azriel menatap gadis itu, tapi tiba-tiba wajahnya mendekat pada Qilla dan mencium pipi gadis itu.


Cup.


"Ish, kesempatan banget sih." ucap Qilla memerah pipinya.


"Salah siapa ngga juga pergi, katanya mau beli obat buat aku." kata Azriel kembali mencium pipi Qilla.


Membuat gadis itu kembali memerah lalu beranjak dari duduknya. Meninggalkan kekasihnya yang sedang sarapan bubur buatannya. Azriel tersenyum, dia beruntung sekali semalam bisa selamat gairahnya dengan berendam di kali. Meski sekarang dia jadi demam, tapi dia lega bisa mengontrol gairahnya.

__ADS_1


"Aah, apa sebaiknya aku cepat nikah aja ya." ucap Azriel mengunyah buburnya.


Bayangannya tentang gairah ingin mrnyentuh seorang perempuan membuatnya benar-benar tersiksa. Meski itu karena obat perrangsang yang di minum pada minumannya di rumah kost Chika, tapi dia benar-benar tersiksa dan gelisah serta ingin menuntaskan semuanya.


Buburnya habis hingga tak tersisa, Qilla datang dengan membawa obat yang dia beli di warung dekat rumahnya.


"Nih obatnya, di minum." kata Qilla memberikan obat pada Azriel.


"Bukain dong sayang." kata Azriel dengan manjanya.


"Ih, geli aku. Kenapa jadi manja sih?" tanya Qilla tersenyum geli dengan sikap Azriel.


"Ya ngga apa-apa, kan sama calon istri sendiri." kata Azriel.


"Baru calon, belum sah." kata Qilla memberikan obatnya pada Azriel.


"Kalau gitu. Kita sahkan secepatnya, gimana?" tanya Azriel.


"Emangnya mamamu dan papamu mau terima aku sebagai menantunya?" tanya Qilla.


"Pasti mau, demi kebahagiaan anaknya ini." jawab Azriel lagi.


"Aku rasa ngga segampang ucapanmu, Ziel. Mereka ngga tahu siapa aku sebenarnya, gadis miskin penjual cilok. Pasti mereka malu kan punya menantu seorang gadis penjual cilok dan miskin." kata Qilla merendah diri.


"Hei, aku akan berjuang untuk kehidupan kita selanjutnya. Aku serius, Qilla. Aku ingin menikahi kamu setelah aku bekerja dengan baik dan rajin. Kamu jangan ragukan perjuanganku, aku akan berusaha agar mama dan papa menerimamu." kata Azriel lagi.


Qilla diam, dia menunduk lalu menarik napas panjang. Sesungguhnya, dia senang dengan Azriel yang mencintainya tanpa memandang status sosial. Tapi orang tua itu tidak bisa di anggap sepele, mereka berhak menilai dari kalangan mana nanti menantunya itu. Apakah kedua orang tua Azriel menerimanya dengan lapang dada?


"Qilla?"


Azriel menatap lembut gadisnya itu yang sedang melamun. Dia tahu Qilla ragu dengan penerimaan mama dan papanya, apa lagi belum pernah di kenalkan. Hanya mamanya saja yang tahu gadis itu.


"Apa kamu khawatir mama dan papaku ngga setuju dengan hubungan kita?" tanya Azriel.


"Ya, sejujurnya aku ragu akan bisa lanjut hubungan ini sampai ke pernikahan Ziel." kata Qilla.


"Jangan ragu, aku akan berjuang agar mama dan papa mau menerimamu. Aku ini laki-laki, tanggung jawab istriku nanti ada padaku. Bukan pada kedua orang tuaku, kamu adalah kebahagiaanku. Kamu ingat ya sayang, aku mencintaimu sepenuh hatiku." kata Azriel lagi meyakinkan Qilla.


Gadis itu menatap mata Azriel yang tampak ada kesungguhan di sana. Lama dia menatap mata Azriel, hingga laki-laki itu mendekat sampai di bibir gadis itu ingin menciumnya. Tapi tiba-tiba Qilla mendorongnya cepat.


"Mulutmu bau, Azriel!"


_

__ADS_1


_


**********


__ADS_2