
Azriel kaget, begitu juga dengan gadis yang duduk dengan Lina. Dia menunduk malu, sedangkan Sintya dan Lina senang karena Azriel mengenal gadis yang akan di jodohkan dengannya.
"Nah, Ziel. Ini gadis yang akan mama jodohkan dengan kamu." kata Sintya dengan senyum penuh kemenangan.
"Dia ma?" tanya Azriel mencibir sambil menunjuk ke arah Chika.
"Iya. Dia cantik kan? Namanya Chika lho." jawab Sintya masih tersenyum senang.
Azriel duduk di dekat mamanya, sambil tersenyum sinis menatap Chika yang sejak tadi sudah tidak enak dengan tatapan Azriel. Dia tahu Azriel tidak akan mau di jodohkan dengannya, apa lagi siasatnya untuk menjebaknya mau tidur dengannya di kontrakan.
"Mama tahu dia baik?" tanya Azriel membuat Chika semakin kesal dan malu.
"Ya, kan mamanya juga baik lho Ziel. Jadi sudah pasti kan anaknya baik, kamu bisa dekat sama dia kok. Kenalan dan pendekatan aja dulu." kata Sintya.
"Iya nak Azriel. Kalian bisa saling mengenal dan pendekatan juga, Chika walau pun dia tinggal di kontrakan. Tapi mandiri lho nak Azriel." kata Lina tersenyum senang.
"Oh ya? Tante ngga tahu kebiasaan anaknya ya?" tanya Azriel.
"Lho? Ya tante tahulah kebiasaan anak tante, meski dia sedikit bandel tapi ya dia juga punya kebaikan." kata Lina melirik Chika yang sejak tadi hanya diam saja sambil menunduk.
"Ya, baiklah. Tapi, apa tante tahu teman-teman anak tante itu? Maksudnya dia berteman dengan siapa aja, apa tante tahu?" tanya Azriel lagi.
"Azriel, yang sopan dong. Kenapa tanya-tanya begitu sih, yang penting kan Chika baik dan cantik lagi." kata Sintya.
"Mama yakin dia baik? Apa mama mau anaknya di jodohkan sama cewek yang gamp ...."
"Cukup Ziel, gue menolak di jodohkan sama kamu!" ucap Chika tiba-tiba saja.
Dia tidak mau Azriel menceritakan siapa sebenarnya dia di depan mamanya dan juga mama Azriel. Azriel diam, dia tersenyum lalu bersedekap.
"Bagus kalau gitu, gue juga ngga mau di jodohkan sama lo. Gue udah punya pacar yang jauh lebih baik dan cantik." kata Azriel.
"Jadi, menurut Azriel anak tante ngga baik gitu?" tanya Lina tersinggung dengan ucapan Azriel.
__ADS_1
"Ya tanya aja sama anak tante, kenapa dia bisa kabur-kaburan dan tinggal di kontrakan aja." kata Azriel melirik pada Chika.
Lina kesal, dia menatap anaknya yang sepertinya kesal juga sama Azriel. Sedangkan laki-laki itu diam saja dengan tenang, Sintya sendiri bingung dengan sikap anaknya.
"Ayo Chika, kita pulang. Untuk apa bertemu dengan mereka, terlalu menghina kita. Makanya kalau jadi anak gadis harus tinggal sama mamanya, jangan tinggal di kontrakan sendiri. Di kira kamu itu perempuan gampangan." ucap Lina.
Dia menarik tangan anaknya Chika, sedangkan gadis itu mendengus kasar menatap tajam pada Azriel. Ingin dia mengumpat pada laki-laki itu, tapi dia tidak punya kekuatan untuk melawan. Karena keburukannya Azriel tahu semua.
"Lho jeng Lina, tunggu dulu. Kita belum selesai bicara, kenapa pergi?" tanya Sintya heran.
"Aku kecewa sama anakmu jeng, dia meremehkan dan menghina anakku. Kalau ngga mau, jangan menghina anakku." kata Lina menatap dingin pada Sintya.
Chika di tarik oleh ibunya dengan paksa, gadis itu pun memandang kesal juga pada Azriel. Tapi kemudian dia pergi meninggalkan Azriel dan Sintya. Keduanya diam, Sintya heran dan bingung dengan sikap Lina dan anaknya.
Dia menoleh ke arah Azriel yang tersenyum penuh kemenangan. Perempuan itu berdecak kesal, akhirnya dia harus menerima Qilla sebagai calon menantunya. Tapi dia penasaran, kenapa Azriel bisa tahu anaknya Lina.
"Kamu menang ya sekarang?" kata Sintya.
"Ya emangnya kenapa? Chika cantik kok, dan kalian belum saling kenal. Kenapa dia jadi ngga mau di jodohkan, apa kamu kenal dan mengancam dia tadi?" tanya Sintya menuduh anaknya.
"Dih, mama jangan asal tuduh ya. Jelas-jelas dia sendiri yang ngga mau sama aku, lagian beneran mama ngga tahu anaknya teman mama itu?" tanya Azriel.
"Ya kan baru kali ini mama tahu anaknya jeng Lina, dia emang cantik dan katanya dia ngontrak ngga tinggal sama mamanya lagi." kata Sintya.
"Nah itu dia ma, dia mau tinggal ngontrak sendirian itu bukannya mau mandiri. Tapi mau bebas bergaul, bebas main sama siapa aja, bebas mau berhubungan sama lelaki mana pun. Aku aja hampir di jebak dan demam gara-gara dia." kata Azriel.
"Di jebak? Di jebak apa?" tanya Sintya penasaran.
Azriel diam, dia ragu menceritakan kelakuan Chika di luar rumah. Kasihan juga jika harus di ceritakan tentang kelakuan buruknya, tapi memang seharusnya mamanya tahu kalau anak temannya itu tidak sebaik apa yang di lihat.
"Azriel? Kenapa diam? Kamu di jebak gimana sama dia? Kamu kenal dia kan?" tanya Sintya.
"Ya kenal ma, waktu aku ikut-ikutan geng motor itu kenal sama Chika. Dia itu cewek yang selalu jadi perhatian anak geng motor, siapa aja yang menang balapan liar dia yang jadi juaranya juga. Ya mama tahulah gimana jadi juara di geng motor itu." kata Azriel.
__ADS_1
"Apa?! Maksudnya, dia piala bergilir?" tanya Sintya tidak percaya dan semakin penasaran.
"Iya. Beruntung banget aku ngga terlalu jauh dengan geng motor itu, kecewa sama mama dan papa tapi aku masih punya otak yang waras ma." kata Azriel lagi.
Sintya diam, dia membayangkan anak Lina itu sebagai piala bergilir banyak yang menyentuhnya. Tubuh Sintya bergidik, dia beberapa kali mengucapkan kata amit amit jabang bayi. Membuat Azriel tertawa lucu melihat mamanya itu.
"Makanya, mama jangan melihat cewek itu cantik dari luar. Dalamnya dia udah bobol, bahkan teman aku berkali-kali main sama dia." kata Azriel lagi.
"Udah Ziel, jangan cerita lagi. Mama kok jadi ngeri sendiri jadinya." kata Sintya.
"Makanya, mending sama Qilla pacar aku. Dia gadis kampung tapi tetap terjaga, cantik pula. Aku cinta sama dia ma, mama harus restuin aku sama Qilla ya." kata Azriel.
Sintya menghela napas panjang, dia belum rela sebenarnya kalau anaknya sudah memikirkan menikah.
"Kamu yakin mau nikah?" tanya Sintya.
"Yakinlah ma, ngapain bohong." jawab Azriel pasti.
"Ya, kan kamu masih muda Ziel. Belum genap dua puluh lima tahun udah mikirin nikah, kerja aja dulu yang bener." kata Sintya.
"Ck, mama ini. Aku udah kerja, aku juga ngga langsung nikah kok sama Qilla. Aku butuh modal buat nikah dan nafkahin dia, aku ngga mau bergantung sama mama dan papa. Meski mama dan papa pasti bantu, tapi aku ngga mau semuanya bergantung sama mama dan papa. Karena aku punya penghasilan sendiri." kata Azriel dengan tegas.
Sintya terdiam, dia terharu dengan pemikiran Azriel. Tidak di sangka anaknya itu berpikir dewasa mengenai pernikahan dan tanggung jawab.
"Oke, mama setuju kamu nikah sama pacarmu. Asal kamu tunda nikahnya sampai lima tahun lagi." kata Sintya.
"Apa?!"
_
_
*******
__ADS_1