
Songong si Azriel, dia langsung matiin ponsel. Tapi yang penting dia mau datang menemui gue dan langsung gue ajak ketemu Chika." ucap Tomi.
Dia pun bergegas menaiki motornya, mengambil helmnya dan segera meluncur menemui Azriel di jalan mawar tiga. Tak jauh dari kostannya, dan Azriel juga memang sudah sampai di jalan mawar tiga. Karena laki-laki itu menghubungi Tomi sedang di jalan.
Keduanya bertemu di persimpangan, Azriel berhenti. Dia melihat motor Tomi melaju mendekatinya, dia kaget Azriel sudah sampai lebih dulu. Menghentikan motornya dan melepas helmnya.
"Mau apa sih lo?" tanya Azriel.
"Tolongij gue dong." jawab Azriel.
"Tolongin apa?" tanya Azriel.
"Ketemu sama Chika." jawab Tomi.
"Ck, mau apa lagi? Kan lo bisa kesana sendiri." kata Azriel.
"Gue mau ketemunya sama lo, Ziel." jawab Tomi lagi.
"Gue ngga tahu ya, apa maksud lo itu. Yang jelas, jika lo jebak gue. Gue bakalan putus hubungan sama lo. Gue bikin lo babak belur!" kata Azriel mengancam Tomi.
Tomi kesal menatap tajam pada Azriel, dia mendengus kasar. Dia baru tahu Azriel mengancamnya seperti itu, tapi kemudian dia mengenakan helmnya lagi, dan segera mengajak Azriel mengikutinya. Sebelumnya dia juga sudah memberitahu Chika akan kedatangan Azriel dengannya.
Azriel segera mengikuti motor Tomi, melaju pelan di belakangnya. Entah apa yang akan di lakukan Tomi pada Chika, dia berencana hanya sebentar saja bertemu Chika. Gadis yang selalu ingin dia hindari, karena jika sampai bertemu dengannya. Berbagai rayuaj maut akan datang dari mulut dan godaannya.
Bukan apa-apa Azriel, muak dengan Chika yang terlalu gampangan pada semua laki-laki. Bahkan dia tidak suka gadis itu karena terlalu sombong dengan kemolekan tubuhnya bisa memikat para lelaki terutama geng motor yang menang dalam balam liar.
Motor melaju beriringan menuju kostan Chika. Gadis itu sudah menyiapkan sesuatu untuk menjebak Azriel, laki-laki yang belum pernah dia taklukkan dan belum pernah dia ajak tidur.
Kini kostan dia buat seromantis mungkin, memakai baju seksi dan tak lupa minuman yang sudah dia beri obat perrangsang untuk di minumkan pada Azriel tentunya.
"Hemm, gue harus buat rekaman video nih. Buat bukti dan bisa mengancam Azriel, cowok itu benar-benar jual mahal banget sama gue. Apa sih yang ngga menarik dari diri gue di matanya?" ucap Chika.
Di liriknya jam di tangannya yang putih mulus, dia sedikit gelisah. Meski tadi Tomi memberitahu melalui pesan singkat kalau Azriel mau di ajak ketemu dengannya.
Tak berapa lama, suara motor menderu di depan rumah kost Chika. Gadis itu bersiap, merapikan baju seksinya yang kelihatan belahan dadanya. Menggeraikan rambutnya lalu berjalan menuju pintu, berdiri di samping jendela dan mengintip keluar.
Tampak Azriel dan Tomi kembali berdebat di luar. Chika mengerutkan dahinya, ingin menghampiri keduanya tapi di tahannya sampai akhirnya dia melihat Azriel pun ikut dengan Tomi.
Tok tok tok.
Pintu di ketuk Tomi dari luar, Chika langsung membukanya. Dia melebarkan pintu dan berdiri sambil mengulas senyum manisnya, dan yang terpana adalah Tomi. Laki-laki yang sejak dulu memang terobsesi dengan kemolekan Chika.
__ADS_1
"Hai, Azriel." sapa Chika.
"Ya, hai juga Chika." Azriel menjawab sapaan gadis itu.
"Masuk yuk." kata Chika menghampiri Azriel dan menggandeng tangan laki-laki itu.
Azriel ingin melepasnya, tapi tangannya di tahan kencang oleh gadis itu. Keduanya masuk, di susul oleh Tomi di belakang. Mereka duduk di ruang tamu, Chika duduk di samping Azriel.
"Lo mau apa sih, Chik panggil gue? Sampai si Tomi rela bawa gue kesini." kata Azriel.
"Mau ngobrol aja sama lo, Ziel. Jarang-jarang lho gue ngobrol sama lo, lo sombong banget deh sama gue." kata Chika.
"Gue ngga ada perlu sama lo, ngapain gue ngobrol sama lo juga?" katq Azriel malas menanggapi basa basi dengan Chika.
"Ya ampun, Ziel. Gue pengen deket sama lo, yang lain dekat sama gue. Cuma lo aja yang ngga mau dekat sama gue." kata Chika lagi.
"Ya lo kan bisa dekat dan ngobrol sama yang lain. Kenapa juga harus repot deketin gue sih, yang jelas gue ngga jago balapan." katq Azriel.
"Ya ngga apa-apa, yang penting kan gue dekat sama anak-anak geng motor." kata Chika lagi.
Azriel diam, dia mendengus kesal. Di liriknya Tomi yang sejak tadi diam saja dan hanya memperhatikan Chika dan dirinya mengobrol. inginnya dia segera pulang dan tidur.
"Oh ya, gue ambilin minum buat lo ya." kata Chika.
"Tunggu dong, Ziel. Cuma minum doang buat lo, setelah minum boleh lo pulang kok." kata Chika lagi.
Dia langsung masuk ke dapur mengambil minuman yang sudah dia siapkan sebelumnya. Mengaduk minuman dalam gelas yang sudah di beri campuran obat perrangsang untuk Azriel. Senyum Chika mengembang, hayalannya mengiang tentang Azriel yang bergairah setelah minum minuman yang dia sediakan.
Chika keluar dari dapur menuju ruang tamu membawa nampan berisi tiga minuman untuk dirinya, Tomi dan juga Azriel. Dia meletakkan gelas di meja, duduk kembali di samping Azriel dengan tumpang kaki memperlihatkan kulit mulusnya.
Azriel risih dengan sikap Chika yang menggoda dirinya dengan posisi duduknya.
"Di minum Ziel, kamu pasti haus." kata Chika.
Azriel diam, Tomi memperhatikan minuman Azriel lalu menatap laki-laki itu. Dia pun ikut mendesak Azriel agar di meminum minuman di depannya.
"Minum Ziel, lo pasti haus." kata Tomi membantu membujuk Azriel.
"Gue ngga haus, gue pulang aja." katq Azriel berusaha bangkit dari duduknya.
"Lo ngga menghargai gue, Ziel. Gue udah siapin minum buat lo, kok ngga mau sih? Apa segitu bencinya lo sama gue?"
__ADS_1
Kali ini Chika menggunakan jurus simpati dari Azriel. Azriel diam, dia bukannya benci. Tapi malas saja dengan gadis itu.
"Minum aja Ziel, apa susahnya sih menghargai tuan rumah dengan minum yang di sediakan?" tanya Tomi.
Dia mengambil minumannya sendiri dan menenggaknya cepat hingga tandas airnya, menatap Azriel agar laki-laki itu ikut minum juga. Dan Azriel pun mengambil gelas minumannya, senyuman tipis Chika mengembang. Dia menunggu reaksi dari obat yang dia masukkan ke dalam minuman Azriel.
Azriel menenggak sedikit air itu, tapi tiba-tiba Tomi mendorong gelas hingga Azriel tersedak dan kaget.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"Lo apa-apaan sih?!"
"Biar dia minum semuanya." kata Tomi.
Azriel masih batuk, dia meminum sisa airnya agar tidak batuk lagi. Meletakkan gelas di meja, Chika dan Tomi memperhatikan wajah Azriel itu. Semuanya diam, menunggu reaksi Azriel setelah minum air yang telah di beri obat.
Tiba-tiba, wajah Azriel redup. Matanya menatap Tomi dan Chika secara bergantian, dia mengerutkan dahinya. Ada yang aneh dalam tubuhnya, tiba-tiba tubuhnya panas. Di kebasnya jaketnya, lalu di buka.
"Kok panas sih?" ucap Azriel.
Chika tersenyum senang, dia mendekati Azriel dan menggelayut di pundak laki-laki itu.
"Kamu kepanasan ya, Ziel?" tanya Chika dengan suara di buat merdu dan mendayu menggoda Azriel.
"Iya nih, lo jangan dekat gue dong. Panas nih." kata Azriel mengibas jaketnya lagi.
"Lepas aja jaketnya Ziel, ngga apa-apa." katq Chika merubah posisinya jadi melebarkan kakinya.
Tomi yang justru menelan ludah dengan posisi Chika yang menggoda.
"Buka pintunya dong, panas nih." kata Azriel lagi.
"Kok di buka pintunya, ke kamar aja yuk Ziel." kata Chika lagi.
Azriel diam, tatapannya berubah sayu menatap Chika. Tubuhnya menengang, di palingkannya wajahnya memejamkan matanya. Dia heran kenapa dirinya menginginkan sesuatu.
"Aah, sial!"
_
_
__ADS_1
********