Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
12. Mengikuti


__ADS_3

Qilla menunggu kabar dari Azriel tentang tongkrongan geng motornya itu. Dia benar-benar antusias ingin ikut dengan Azriel berkumpul dengan teman-teman geng motor laki-laki muda itu.


"Dia kapan sih dapat kabar mau kumpul-kumpul lagi dengan geng motornya? Kok lama banget sih?" ucap Qilla yang sedang menguleni adonan cilok dini hari ini.


Matanya menuju balai bambu, di mana Azriel masih tidur di saja. Ibu Nima juga sibuk menyiapkan bumbu cilok untuk jualan Qilla pagi ini di kantor kepala kampung, karena akan ada lomba antar RT di balai kampung untuk menyambut tujuh belas agustusan.


Ibu Nina juga ikut mengais rejeki di saja, perempuan itu berjualan nasi uduk bungkus yanh sudah matang pagi ini. Tinggal membuat sambal dan juga telor dadar teman nasi uduk buatannya.


"Qilla, kamu ambil wajan. Ibu mau memasak sambal ciloknya." kata ibu Nima menyuruh anaknya itu.


"Iya bu."


Qilla mengibas tangannya yang berlumuran tepung terigu sesudah menguleni adonan cilok, lalu menuju tempat wajan itu dan mengambilnya. Di serahkan pada ibunya kemudian dia pergi mendekati balai bambu, hendak membangunkan Azriel yang masih terlelap nyenyak di sana.


"Ziel, bangun!" ucap Qilla menggoyangkan tubuh Azriel.


"Apa sih, gue ngantuk!" ucap Azriel membalikkan tubuhnya menghindar Qilla.


"Ish! Ayo bangun, aku siram air nih kalau ngga bangun juga!" ucap Qilla mengancam Azriel.


Laki-laki itu tidak bergeming, dia meneruskan tidurnya dan malah menarik sarungnya sebagai selimut. Qilla justru menarik sarung Azriel dengan kuat, membuat laki-laki itu terbawa dan berbalik ke arah Qilla.


"Apa sih? Ganggu aja deh, mending gue pulang aka ke rumah ngga ada yang gangguin gue tidur." kata Azriel duduk menggaruk kepalanya lalu menguap.


"Ooh, kamu mau pulang? Sana pulang, ngapain juga kamu tinggal di rumahku lama-lama?!" ucap Qilla menatap kesal pada Azriel.


Azriel membuka matanya, dia menatap Qilla bersedekap menatapnya tajam padanya. Azriel hanya nyengir kuda, lalu menguap lebar. Membuat Qilla menjauhkan tubuhnya dan menutupi hidungnya karena bau napas Azriel menyengat keluar.


"Aish, kamu bau banget sih mulutnya. Sana mandi dan gosok gigi, cepaat!" teriak Qilla.


Azriel kaget, dia lalu meniup telapak tangannya dan menciumnya. Dia meringis lalu tersenyum lebar kemudian beranjak dari duduknya berlari menuju kamar mandi di luar.


_


Qilla memakai kaos, dengan celana jeans biru yang lama tidak dia pakai. Dia mematut di depan cemin, memastikan penampilannya sudah rapi dan pantas untuk pergi ke geng motor.


Rambutnya di kuncir kuda, serta wajahnya sedikit di beri make up tipis. Dia tersenyum penampilannya berbeda dari biasanya, di ambilnya jaket warna cokelat lalu di sampirkan di pundak. Tak lupa juga mengambil tas cangklong kecilnya, hanya berjaga-jaga saja membawa uang puluhan ribu.


Dia keluar dari kamarnya menghampiri ibunya untuk pamit pergi dengan Azriel.


"Bu, aku berangkat dulu ya." kata Qilla.


"Eh, mau kemana? Kok dandannya beda sih dari biasanya?" tanya ibu Nima memperhatikan Qilla dari atas sampai bawah.


"Ada misi yang harus aku jalankan bu." kata Qilla mengambil tangan ibunya dan menciumnya.


Dia pergi setelah mencium tangan ibu Nima, dan perempuan paruh baya itu hanya melongo melihat penampilan anaknya yang berbeda.


"Kok dia bisa dandan cantik sih?"


Qilla menghampiri Azriel yang sudah siap di atas motornya. Dia melihat penampilan Qilla berbeda, di tatapnya lama gadis itu lalu menelan ludahnya karena takjub dengan penampilan Qilla yang cantik.

__ADS_1


"Yuk jalan." kata Qilla memakai helm.


Azriel menoleh ke depan, hatinya tiba-tiba berdetak halus. Lalu dia tersenyum sendiri dengan tingkahnya itu. Di jalankannya mesin motor dan menderunya keras.


"Kita ke markas aja, di sana lagi pada ngumpul teman-teman geng motor gue." kata Azriel.


"Oke."


"Tapi ingat ya, jangan terpancing dengan ledekan mereka." kata Azriel.


"Iya, aku fokus sama misiku." jawab Qilla.


"Pegangan."


"Eh, pegangan?"


"Iya, gue mau cepat jalannya."


Qilla pun memegangi pinggang Azriel. Agak ragu sebenarnya, tapi Azriel menarik tangan Qilla agar cepat memegangi pinggangnya.


Motor melaju pelan meninggalkan rumah ibu Nima. Azriel lalu menambah kecepatan di jalanan kampung, hingga membuat beberapa orang mengumpat dirinya yang melajukan motor kencang sekali dan menimbulkan suara bising.


"Woi! Jalan jangan seenaknya, berisik tahu!"


"Emangnya jalanan milik nenek moyang lo!"


Begitulah umpatan yang Azriel dapatkan di jalanan kampung itu. Dia tersenyum miring, merasa lucu dan bersalah karena mengganggu orang-orang pengguna jalan itu.


Kurang lebih satu jam perjalanan, motor Azriel memasuki kawasan gedung kosong. Motor melaju pelan, tampak dari jauh beberapa gadis berpakaian mini dan berdandan ala gothik dan juga teman-teman geng motor Azriel.


Azriel memarkirkan motornya di tempat biasanya, dia melepas helmnya. Juga Qilla, gadis itu kesusahan tapi kemudian di bantu Azriel melepas helmnya.


Mereka pun menuju markas, ada beberapa yang berjoget menikmati lagu metal sambil minum-minuman. Azriel menggandeng tangan Qilla, membuat gadis itu kaget dan menatapnya dari samping.


"Biar mereka ngga ganggu lo, dan ledekin lo juga." kata Azriel yang tahu akan keheranan Qilla menggandeng tangannya.


Mereka mendekat, beberapa anak geng motor mengetahui Azriel dan tersenyum padanya.


"Waah, gue kira lo ngga mau datang ngumpul-ngumpul bareng kita, Ziel." kata Yogi.


Tomi, yang sedang berjoget mesra dengan gadis lain menoleh ke arah Azriel. Lalu beralih pada Qilla, dia tersenyum sinis dan mendekat pada mereka.


"Lo datang juga bro, sama cewek? Cantik juga gandengan lo." kata Tomi memperhatikan Qilla.


"Iya, cuma kali ini aja kok. Gue lagi santai." kata Azriel.


"Diakan cewek kampung itu ya? Manis juga." kata Tomi masih menatap Qilla.


"Dia pacar gue!" ucap Azriel membuat Qilla kaget dan mengerutkan dahinya.


"Oh ya? Hahaha! Lo suka cewek kampung juga ternyata ya. Hahah!"

__ADS_1


Azriel diam, dia tidak menggubris ucapan Tomi yang selalu meledeknya, dia menarik tangan Qilla untuk pergi dari tempat itu. Menemui Dodit sang ketua geng, tampak Dodit sedang minum-minum dengan dua gadis di sampingnya.


Tak lupa, mata Qilla mencari seseorang yang dia curigai. Matanya terus mengedar ke semua anak geng motor yang sedang asyik berjoget sambil mabuk-mabukan. Wajahnya meringis melihat pemandangan itu, tapi kembali matanya melihat ke semua arah. Dan bertumpu pada dua orang yang sejak tadi dia cari.


"Waah, itu dia. Dia duduk-duduk aja sambil bawa minuman." ucap Qilla masih menatap dua laki-laki yang dia cari.


Azriel mengobrol dengan Dodit, Qilla masih menatap dua laki-laki yang kemudian dia pergi menuju tempat lain. Qilla melepas pegangan tangan Azriel dan berbisik.


"Aku mau ke sana dulu ya." kata Qilla menunjuk arah di mana tadi dua orang laki-laki pergi.


"Mau kemana?" tanya Azriel heran.


"Udah, kamu ngobrol aja sama tuh ketua geng. Aku mau mengikuti seseorang." kata Qilla.


Dia langsung cabut dari tempat itu, membuat Azriel heran. Dia ingin ikut, tapi Dodit mengajaknya mengobrol dan menawarkan minuman.


"Lo minum tuh, Ziel. Gue dapat gratisan dari toko, hahah!" kata Dodit menunjuk minuman beralkohol pada Azriel.


"Ngga deh, makasih." jawab Azriel.


Matanya menuju arah kemana Qilla pergi, dia takut gadis itu salah tempat dan salah jalan.


Sedangkan Qilla mencari dan mengikuti dua orang tadi, dia berjalan perlahan agar tidak di ketahui oleh dua orang tadi. Tampak kedua laki-laki itu keluar dari markas melalui jalan belakang.


Qilla mengendap, dia bersembunyi di balik tembok yang separuh runtuh kemudian berjongkok.


"Mana nih barangnya?" tanya satu laki-laki.


"Ada, gue bawa. Lo mau di sebarin kemana? Teman gue udah dapat mangsa." kata satu temannya itu.


"Ada yang minta, dia udah ketagihan sama barang itu." katanya lagi.


"Waah, kalau yang ketagihan sih gede bayarnya. Lo harus bayar lebih gede sama gue."


"Iyalah, nanti gue bayar sesuai perjanjian, dia nungguin gue nih sore ini di jembatan."


"Oke, berapa bungkus dia minta?"


"Tiga katanya, dia udah siap uangnya."


Satu laki-laki itu mengeluarkan bungkusan kecil, beberapa bungkusan memang sudah dalam plastik sesuai takaran. Kemudian dia memberikan tiga plastik kecil pada temannya itu.


Tanpa mereka tahu, Qilla mendengarkan dan sesekali memotret dengan ponsel jadulnya. Dia lalu bergegas pergi meninggalkan tempatnya agar tidak ketahuan, dia berjalan cepat dan selalu menoleh ke belakang.


Bug!


_


_


**********

__ADS_1


__ADS_2