Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
09. Memberitahu Azriel


__ADS_3

Qilla melihat ke arah lintasan, dia melihat beberapa orang mengerumuni pembalap yang menang pertandingan balap tersebut. Mencari-cari soso Azriel tapi tidak di temukannya.


Turun dari tribun, melihat kanan kiri tetap saja dia tidak menemukan sosok yang dia cari.


"Kemana dia? Atau yang menang itu ya?" gumam Qilla berdiri memandangi kerumunan gadis-gadis dan juga pembalap lainnya.


Qilla melihat motor Azriel memang berada di sekitar gadis-gadis yang mengerumuninya. Dia diam, lalu berbalik menuju tribun lagi, duduk di tempatnya semula. Melihat ke samping kanan di mana tadi dia mendengar dan melihat dua orang yang sedang mengobrol mencurigakan.


"Hemm, jadi dua orang tadi itu sudah pergi. Aku yakin mereka berdua melakukan sesuatu, apa memang benar mereka itu sedang transaksi gelap? Apa yang aku lihat tadi bawa barang berbungkus plastik." ucap Qilla lagi.


Pandangannya mengedar ke seluruh tribun, dia mencari dua orang tadi. Tapi tak di temukan dua laki-laki geng motor, matanya beralih pada sosok yang tadi dia curigai. Qilla berdiri, laki-laki tadi ternyata memang kelompok geng motor.


Dia beranjak pergi menuju kerumunan, ingin memberitahu Azriel tentang laki-laki yang menurutnya mencurigakan. Melangkah mendekat pada laki-laki yang sedang dikerumuni itu.


"Azriel!" teriak Qilla semakin mendekat padanya.


Semua gadis menoleh ke arah Qilla yang memanggil Azriel. Azriel juga menoleh ke arah Qilla yang mendekat padanya, ada tatapan-tatapan sinis melihat penampilan Qilla yang biasa saja tapi kenal sang juara baru balap motor.


"Ziel, aku ingin bicara sama kamu." kata Qilla.


"Eh lo siapa gadis kampung?!" teriak seorang gadis tinggi berpakaian mini.


"Iya nih, gadis kampung kok ada di sini sih? Panggil-panggil Azriel lagi." ucap yang lainnya.


Tatapan-tatapan sinis pada Qilla tak membuat gadis itu berhenti menghampiri Azriel. Azriel sendiri diam saja. Dia ingin tahu seberapa berani Qilla membalas ucapan pedas dan hinaan padanya. Meski dia juga tidak suka dengan ucapan para gadis itu.


"Ziel, aku ingin bicara." kata Qilla lagi tak mengindahkan ucapan gadis-gadis itu.


"Sebentar, gue mau bicara sama Dodit dulu." ucap Azriel.


"Iyuuh, lo kampung. Sok kenal sama Azriel, dia juara baru di sini. Ngga level ya main sama lo, udah lo sana pergi." kata gadis berperawakan tinggi tadi.


"Ck, gue emang gadis kampung ya. Tapi bukan gadis yang sombong kayak kalian!" ucap Qilla mengikuti gaya bicara mereka.


Dia kesal sekali, beberapa gadis itu mendekat padanya dan mendorongnya agar jangan mendekati Azriel. Azriel melihat itu, dia pun akhirnya mendekati Qilla dan menariknya untuk ikut dengannya bertemu Dodit sang ketua geng motornya.


"Jangan dengarkan mereka, emang gitu mereka kalau dekat sama juara balap motor aja. Cepat naik." kata Azriel.


"Mereka bar-bar banget sih? Emang begitu ya sikapnya?" tanya Qilla.


"Iya, makanya gue ngga suka menang balap motor. Mereka dekati gue kalau menang aja, tapi ya udahlah. Gue ngga nyangka akan menang, lucu juga. Tadi si Doni sang juara bertahan kebelet pipis, hahah!" ucap Azriel.


"Doni siapa?" tanya Qilla.


"Yang juara bertahan kalau balap motor, lo ngga bakalan tahu dia. Dan jangan cari tahu deh." ucap Azriel.

__ADS_1


Dia melajukan motornya ke tempat markas, memang sang juara dalam balap liar itu akan dapat beberapa keistimewaan. Termasuk yang tadi, di kerubuti banyak gadis dan entah apa lagi.


Tak jauh Dodit berada, Azriel mendekati kerumunan para pembalap dan geng motor kelompoknya. Dia melihat Dodit melambaikan tangannya ke arahnya, lalu Azriel menghentikan motornya di depan teman-teman satu geng motor.


"Woi bro, selamat lo menang lomba kali ini." ucap Tomi teman Azriel.


"Terima kasih." ucap Azriel melepas helmnya.


Qilla turun dari motor Azriel, dia menatap laki-laki yang tidak asing baginya. Mendengus pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena laki-laki itu juga menatap padanya.


"Oh ya, karena lo juara. Nanti malam kita pesta yuk, Ziel? Kita nanti undang cewek-cewek dan mabuk bersama." kata Dodit pada Azriel.


"Ngga deh, kalian aja. Gue ngga suka minum-minum." kata Azriel menolak ajakan Dodit.


"Ck, lo gabung sama kita itu kan tujuannya buat senang-senang. Lo menang bro, ayolah kita pesta nanti malam. Ada hadiah menarik buat lo, Ziel." kata Dodit lagi.


"Gue ngga bisa, ada urusan penting." ucap Azriel kembali menolak.


"Payah lo, ngga memafaatkan lo juara. Padahal ada gadis yang mau lo ajak tidur, dia udah janji sama gue. Kalau lo menang, dia mau sama lo." kata Dodit lagi.


Azriel diam, dia tetap tidak menolak ajakan Dodit itu. Bayangan jadi anak nakal dan berandal akan terus menghantui pikirannya, sebenarnya dia sedikit menyesal kenapa ikut-ikutan mereka. Tapi karena terlanjur dan rasa kecewa pada kedua orang tuanya membuat dia terus bertahan mengikuti apa yang di lakukan geng motor Dodit.


"Ziel, aku mai bicara serius sama kamu." bisik Qilla.


"Ngga bisa bicara di sini." kata Qilla lagi.


"Ya udah, kita pergi aja." ucap Azriel.


"Gimana, Ziel? Lo jadi ikut kan?" tanya Dodit.


"Ikut aja Ziel, sayang kan cewek itu. Kalau lo ngga mau, buat gue aja. Hahah!" ucap Tomi.


"Hei! Gue juga mau, dia maunya sama juara balap kali ini. Bukan lo!" ucap Dodit marah sama Tomi.


"Maaf bos, lagian Azriel ngga mau. Maunya sama cewek kampung di sebelahnya itu." ucap Tomi melirik pada Qilla.


Dodit menatap Qilla lama, ada senyum miring di bibirnya. Dia pun mendekat pada Azriel dan berbisik padanya.


"Gue ngerti Ziel, lo maunya sama cewek kampung yang ngga bisa melawan ya? Heheh." ucap Dodit.


Azriel diam saja, dia pun tersenyum dengan ucapan Dodit itu.


"Tapi cewek itu emang cantik Ziel kalau di perhatikan, gue juga mau kalau lo selesai sama dia." ucap Dodit.


"Ish, ngga bisa gitu bos. Udah gue cabut dulu."

__ADS_1


"Lo ngga mau ikut party nanti malam?"


"Ngga, silakan aja bos ikutan mereka. Gue ada urusan penting." kata Azriel.


Dia menaiki lagi motornya, di susul Qilla. Tatapan beberapa teman Dodit pada Qilla membuat gadis itu merasa takut. Apa lagi tatapan laki-laki yang tadi dia tahu sedang membicarakan sesuatu dengan temannya.


Qila meminta Azriel jauh dari tempat lintasan itu, dia ingin bicara pada Azriel tentang teman satu geng motornya yang mencurigakan.


"Lo mau bicara apa sebenarnya?" tanya Azriel menghentikan motornya di pinggir jalan.


Qilla turun dari motor Azriel, dia melepas helmnya dan duduk di teras pinggir jalan.


"Aku tadi lihat hal yang mencurigakan saat di tribun." kata Qilla.


"Mengurigakan apa?"


"Tadi aku sempat lihat dua orang, kelihatannya dia anak geng motor juga. Dan dua orang itu seperti sedang transaksi sesuatu deh." ucap Qilla.


"Transaksi? Transaksi apa? Gue ngga ngerti." ucap Azriel lagi.


"Ck, ya transaksi. Transaksi semacam narkoba, kayak di film-film itu, dua orang itu mencurigakan Ziel." kata Qilla.


"Apa? Narkoba? Hahah! Lucu lo, lo kebanyakan lihat film kayak gitu. Udah cepat naik lagi, gue pengen ajak lo jalan-jalan keliling kota kayak dulu. Berhubung gue menang balap motor, gue mau traktir lo makan." kata Azriel.


Dia mengenakan helmnya lagi, menaiki motor dan menjalankan mesinnya. Qilla mendengus kesal karena Azriel tidak percaya dengan ucapannya itu. Dia menatap tajam pada laki-laki di depannya, belum mau bangun dari duduknya.


"Ayo cepat naik." kata Azriel.


"Kamu ngga percaya ucapanku?" tanya Qilla.


"Cepat naik, udah sore ini." kata Azriel.


Qilla masih bertahan, akhirnya Azriel turun dari motornya dan menarik tangan Qilla untuk segera bangun dan membonceng di belakang. Gadis itu menurut, dia akan bicara lagi nanti di jalan, rasanya penasaran sekali jika tidak menjelaskan secara keseluruhan apa yang dia lihat dan di dengarnya.


"Salah satu teman kamu itu yang bertransaksi tadi di tempat penonton, aku ngga bohong Ziel. Serius." kata Qilla.


"Iya." jawab Azriel malas dengan ucapan Qilla yang menuduh temannya melakukan transaksi narkoba.


Tapi memang benar sih, kebanyakan geng motor selalu di libatkan dengan hal-hal negatif. Seperti tuduhan Qilla tersebut, tidak menutup kemungkinan ada beberapa temannya yang terlibat. Hanya saja, Azriel tidak mau berurusan dengan mereka dan tidak mau juga ikut-ikutan. Entahlah, apa motivasi dia mengikuti geng motor kelompok Dodit.


_


_


**********

__ADS_1


__ADS_2