Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
39. Berondong Sintya


__ADS_3

Sintya bertemu dengan temannya yang ingin menjodohkan Azriel dan anaknya itu. Mereka bertemu di kafe sekalian makan siang. Sintya datang lebih dulu, karena pekerjaannha tidak terlalu banyak di butik. Hanya mengecek pakaian yang dia desain sedikit dan juga beberapa barang di kirim ke pelanggannya.


Sintya menyesap kopinya, berulang kali dia melihat ke arah pintu masuk kafe tapi orang yang dia tunggu belum datang juga. Hatinya sedikit gelisah karena orang yang dia tunggu belum datang.


Tak lama, dari pintu masuk datang seorang ibu-ibu betbaju pink dengan aksen kantong di kedua sisi bajunya yang hanya sepinggang, roknya selutut. Rambutnya di sedikit sanggul modern, matanya beradu pandang dengan Sintya. Senyumnya mengembang lalu melangkah mendekat pada Sintya.


"Duh, jeng maaf ya telat. Aduuh, itu anakku ngga mau aku bawa kemari. Aku ke kontrakannya dulu mau jemput dia, eh dia ngga mau. Malah mengancam mau kabur lagi." kata perempuan itu sedikit terengah.


Dia duduk di depan Sintya, meletakkan tasnya di atas meja. Sedangkan Sintya sendiri hanya tersenyum saja.


"Lalu, bagaimana dengan anakmu jeng? Apa dia mau di jodohkan dengan anakku?" tanya perempuan itu lagi.


"Belum tahu, hanya saja ya kita bicarakan saja dulu. Anakku sudah bekerja di luar pulau, belum aku sampaikan sama dia juga sih." jawab Sintya.


"Lho, lalu gimana dong. Anakku sudah aku kasih tahu, makanya dia ngga mau datang denganku." katanya lagi.


"Emm, kalau tidak mau datang. Itu artinya dia tidak mau di jodohkan dong sama anakku." kata Sintya.


"Aah, itu gampang biar nanti saya bujuk lagi dia. Oh ya, anakmu sudah kerja di luar pulau? Kerja apa?" tanya perempuan itu.


"Dia kerja di kilang perusahaan milik BUMN, awalnya dia tidak mau lanjut kuliah. Tapi salah satu profesornya menawarkan pekerjaan, ya meski masih magang. Tapi tak apa, dia bertanggung jawab kok dengan hidupnya." kata Sinta lagi.


"Waah, itu sih nantinya jauh ya. Tapi ngga apa-apa sih, nanti juga anakku ikut kemana suaminya pergi ya. Heheh."


"Heheh. Iya jeng Lina, anakku sebenarnya baik. Tapi ya, namanya juga anak laki-laki. Memang kadang ada melawannya sama orang tuan." kata Sintya lagi.


"Hahah, benar juga. Anakku yang perempuan ini yang agak susah, dia maunya mandiri. Tidak mau tinggal di rumah."


"Tapi sudah kerja belum?" tanya Sintya.


"Belum sih, tapi dia baik kok." ucap Lina.


Sintya hanya tersenyum, dia melambaikan tangan ke arah pelayan untuk memesan makanan. Satu pelayan pun datang menghampiri Sintya dan Lina, memberikan katalog menu. Keduanya memilih makanan yang tidak mengandung terlalu banyak minyak.


"Kapan kita temukan mereka jeng?" tanya Lina.


"Anakku baru satu bulan kerja, ngga mungkin dia langsung minta libur. Nanti kita atur lagi pertemuannya jeng Lina." kata Sintya.


"Baiklah, tapi ini benarkan semacam perjodohan?" tanya Lina.

__ADS_1


"Ya, kita pertemukan dulu. Atau kita ketemu lagi tapi anakmu di bawa dong, aku ingin kenal juga." kata Sintya.


"Tentu saja, nanti kapan-kapan aku bawa dia ketemu sama kamu." ucap Lina.


Mereka senang, makanan pun datang. Makan siang berdua sambil mengobrol tentang anaknya masing-masing, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul hampir jam dua siang.


"Waah, ini sudah siang sekali ternyata. Aku harus ke butik lagi." kata Sintya.


"Oh ya, saya juga mau ketemu papanya anak-anak nih jeng Sintya." kata Lina.


"Ya ya, ayo kita pergi." ucap Sintya.


Mereka pergi setelah membayar makanan, Lina memasuki mobilnya sendiri. Begitu juga dengan Sintya, dia ingin melajukan mobilnya tetapi pintu mobil di ketuk dari luar. Sintya kaget, dia melihat dari kaca spion siapa yang mengetuk pintu mobilnya.


Matanya melebar ketika melihat seorang laki-laku muda seusia Azrirl anaknya berdiri di depan pintu mobilnya. Laki-laki seusia Azriel itu kembali mengetuk pintu mobil Sintya, perempuan itu mendengus kesal. Dia membuka kaca jendela, tidak berniat membuka pintu mobilnya.


"Kenapa kamu mengetuk pintu mobilku?" tanya Sintya menatap laki-laki muda itu.


"Tante sayang, kenapa bicaranya kasar sih? Ayo dong buka pintu mobilnya. Aku mau masuk, nanti bicara di dalam mobil saja." kata laki-laki itu.


"Maaf, aku tidak berminat bicara sama siapa pun." kata Sintya kasih kesal.


"Jangan mengancamku! Pergilah."


Sintya bersiap menutuo kaca jendela mobil, tapi tangannya di cegah dengan cepat dan di genggam kuat. Membuat Sintya kaget dan melotot pada laki-laki muda itu.


"Lepas tangannya, Gani!" ucap Sintya.


"Ayolah tante sayang, aku ingin bicara sama tante. Buka ya." kata laki-laki bernama Gani.


Mau tidak mau Sintya membuka pintu mobilnya. Dia kesal sekali dengan Gani yang memaksanya ikut masuk. Gani tersenyum senang, dia berputar cepat dan masuk ke dalam mobil Sintya. Menutupnya cepat lalu menyuruh perempuan itu jalan.


"Jalan dong tante, kita pergi berdua yuk ke hotel." kata Gani dengan tidak tahu dirinya.


"Hei, jangan sembarangan bicara kamu. Aku sudah tidak ikut arisan berondong lagi, sebaiknya kamu dekati tante-tante yang lain sana." kata Sintya kesal menatap tajam pada Gani.


"Tapi ini giliran tante lho, tante Maya bilang seharusnya aku dapat tante sayang." kata Gani lagi merayu Sintya.


"Gani, aku sudah tobat. Aku tidak mau ikut arisan lagi, bukankah masih banyak yang ikut? Kenapa kamu masih memaksaku?" tanya Sintya.

__ADS_1


"Emm, kenapa ya? Aku suka aja sama tante sayang, orangnya royal." jawab Gani melirik Sintya dengan senyuman menggodanya.


"Aah, semua juga royal. Bukan aku saja, Fina juga royal, dia mau kasih apa saja sama kamu kalau kamu puasin dia. Cepat sana pergi!" ucao Sintya.


"Tante Fina memang royal, tapi aku suka tante Sintya karena cantik dan perhatian." kata Gani lagi.


Tangannya memegang tanga Sintya, tapi lirikan mata Sintya membuat Gani mengurungkan memegang tangan perempuan berusia empat puluh tujuh itu.


"Gani, jangan berani-berani kamu ya. Cepat lepas tanganku!" ucap Sintya yang kini tangannya kembali di pegang Gani.


Gani bukannya takut tapi justru kini dia memegang pundak Sintya. Mengibaskan rambut sepundak Sintya dan membelainya, senyum menggodanya masih mengembang.


"Tante cantik deh, kita senang-senang dong tante." kata Gani.


Sintya memejamkan matanya, bayangan Azriel yang menyeretnya keluar dari tempat hiburan dan memukul laki-laki berondong bersamanya itu membuat Sintya takut. Dia membuka matanya dan menatap tajam pada Gani, melepas paksa tangan Gani di pundaknya.


"Gani, aku punya anak seusiamu. Dia sangat galak jika mamanya ada yang mengganggunya, apa perlu aku panggil anakku itu?" tanya Sintya menggertak Gani.


"Hemm, aku tahu. Temanku Tito cerita, dia di pukul sama laki-laki yang katanya anak tante di tempat hiburan." kata Gani.


"Lalu, kenapa kamu masih berani dekati tante?" tanya Sintya.


"Aku suka tantangan tante, sangat menyenangkan rasanya. Hahah!" ucap Gani tertawa puas.


Sintya bergidik ngeri, dia menilai Gani tidak bisa di ajak bercanda. Dia harus tegas pada laki-laki sedikit kemayu dan memang tubuhnya seksi.


"Keluarlah, aku banyak urusan di butik." kata Sintya.


"Jangan galak dong tante, aku nanti tambah suka lho sama tante." kata Gani lagi.


Kuping Sintya sangat panas sekali, dia ingin sekali mengusir laki-laki tidak tahu diri itu. Berpikir bagaimana mengusirnya dari mobilnya.


"Sekarang apa yang kamu inginkan, Gani?!"


_


_


************

__ADS_1


__ADS_2