
Azriel kesal sekali mamanya tidak mau mengabulkan permintaannya untuk segera menikah dalam satu tahun ini. Dia terus memaksa mamanya, hingga malam hari di meja makan. Azriel terus memaksa Sintya.
"Ayolah ma, kenapa jadi lima tahun lagi sih nikahnya. Kelamaan, nanti mama punya cucu jadi lama lagi." kata Azriel merayu mamanya.
Sejak pulang dari kafe itu, Azriel terus merajuk pada mamanya agar di berikan waktu lebih pendek dari apa yang di katakannya di kafe untuk menikah. Hingga di rumah pun dia masih merayu Sintya, sampai Ryuzi merasa aneh dengan sikap anak lelakinya itu.
"Kamu kenapa merajuk begitu, Azriel? Kayak anak kecil aja." kata Ryuzi ketika mereka makan malam di rumah.
"Tahu tuh, udah besar juga masih merajuk sama mama. Lucu kamu, begitu dia mau nikah pa." kata Sintya.
"Nikah?"
"Iya. Dia minta nikah sama pacarnya." kata Sintya.
"Ya ampun, emangnya pacar kamu baik? Dia siapa? Anaknya siapa? Kuliah di mana?" tanya Ryuzi memborbadir pertanyaan pada anak lelakinya.
"Ish, papa. Yang jelas, aku cinta sama dia. Ngga penting dia kuliah atau ngga, anaknya siapa. Dan yang jelas dia baik banget sama aku, ibunya juga baik kok." kata Azriel.
"Kalau dia baik, kenapa di bolehin kamu pacarin anaknya." kata Ryuzi lagi.
"Ya kan aku suka pa, aku cinta sama anak gadisnya. Dia yang selalu menolong aku, waktu jatuh, waktu demam dan banyak lagi deh." kata Azriel lagi.
Ryuzi diam, dia menoleh pada istrinya yang menahan senyum dengan sikap anaknya itu. Ryuzi menggeleng kepala, dan ikut tersenyum dengan sikap anaknya itu..
"Oke, papa mau tahu pacarmu itu. Bawa dia ke rumah." kata Ryuzi.
"Beneran pa?!" tanya Azriel tidak percaya.
__ADS_1
"Iya. Lagi pula, papa juga pengen punya cucu." kata Ryuzi lagi.
"Ih, papa! Mama ngga mau ya, masih muda kok mau punya cucu sih!" ucap Sintya.
"Ya ngga apa-apa ma, anak-anak udah besar. Rania aja ngga mau di ajak pulang, tunggu satu tahun lagi selesai katanya. Ya udah, ngga apa-apa Azriel menikah cepat. Lagi pula usianya cukup kok, dan udah punya pekerjaan juga." kata Ryuzi lagi.
"Ngga mau! Mama maunya lima tahun lagi." ucap Sintya kekeh.
"Ma! Lama banget sih, pokoknya Azriel mau satu tahun lagi menikah. Titik!" ucap Azriel mendengus kesal.
Sintya diam, Ryuzi juga diam. Keduanya saling pandang, lalu Ryuzi menggeleng kepala saja. Acara makan malam jadi ribut masalah pernikahan yang tidak jelas kapan di lakukan.
"Papa aja menikah di usia hampir tiga puluh tahun, Ziel." kata Ryuzi.
"Itu papa, kan beda sama Azriel." kata Azriel.
Menikah bukan karena cinta saja Ziel, tapi kan harus siap mental dan juga tanggung jawabnya. Banyak lho yang menikah muda, tapi beberapa tahun kemudian mereka akhirnya pisah lagi. Itu karena mereka belum siap secara mental, menghadapi kehidupan baru dengan orang lain dengan karakter berbeda dan punya ego masing-masing. Di sini tuh yang harus di siapkan, harus bisa mengendalikan. Agar janga terjadi pertengkaran terus dan akhirnya cerai." kata Ryuzi.
Sintya dan Azriel diam, mereka merasa mendapat siraman kalbu dari seorang ustad. Tapi kemudian keduanya tersenyum miring, mengingat beberapa tahun kejadian menimpa keluarga mereka karena ulah suami istri itu.
Ryuzi tahu ucapannya itu akan jadi bumerang untuk anaknya mengolok-oloknya.
"Tapi papa juga udah tua, masih aja kepinicut sama perempuan lain. Kalau emang ngga siap secara mental, tapi masih punya ego. Papa dan mama masih punya ego dulu, sering bertengkar dan mengabaikan anaknya ini. Aku ngga mau kayak gitu." kata Azriel.
"Ya, papa tahu papa itu salah. Makanya nanti kamu jangan kayak gitu, itu tidak baik." kata Ryuzi.
"Tahu ngga baik, kenapa di lakukan?" tanya Sintya.
__ADS_1
"Khilaf ma."
"Khilaf, tapi pernah nampar mama waktu mama ngomong." ucap Sintya.
"Iya, papa minta maaf. Lha, mama sendiri, kemarin masih jalan sama berondong mama." kata Ryuzi, membuat Azriel mendelik.
"Apa? Mama jalan lagi sama berondong?!" tanya Azriel kaget dan marah.
"Ngga Ziel, ih papa. Kan mama udah bilang, dia yang maksa mama." ucap Sintya sedikit takut dengan anaknya yang marah itu.
Sedangkan Ryuzi tersenyum saja, dan menggeleng dengan sikap Azriel yang posesif sekali pada mamanya.
"Mama jangan main lagi ya sama berondong! Aku ngga suka ma, awas aja!" ucap Azriel.
"Ngga Ziel, kemarin itu mama ketemu sama jeng Lina. Dan pulangnya tiba-tiba dia masuk ke mobil mama, untung papa datang, dia langsung pergi." kata Sintya lagi.
"Itu juga di kira papa langganan mama." ucap Ryuzi.
"Ya ampun, mama lebih parah ya. Sering pesan berondong-berondong pemalas itu, mau uang tapi memeras tante-tante genit. Aku jijik membayangkan mama genit sama laki-laki berondong begitu." ucap Azriel.
"Udah, jangan bicarakan itu lagi. Sekarang kapan makannya? Mama lapar." kata Sintya.
Dia menyendokkan nasi ke dalam piring suaminya, lalu Azriel kemudian dirinya. Makan malam ini terasa menyenangkan bagi ketiganya, karena mereka mengobrol sangat menyenangkan. Apa lagai mengenai pernikahan Azriel yang memaksa ingin menikah satu tahun lagi.
_
_
__ADS_1
***********