Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
44. Melamar


__ADS_3

Hari terakhir Azriel di kotanya, sebelum dia berangkat lagi keluar pulau dia ingin bertemu dengan kekasihnya Qilla. Ingin menyampaikan kalau malam ini dia akan membawa Qilla ke rumahnya, karena kedua orang tuanya ingjn bertemu dengan pacarnya itu.


Azriel senang akhirnya mama dan papanya merestui hubungannya dengan Qilla. Meski dia harus rela menunggu dua tahun lagi menikahi gadis penjual cilok itu.


Kini, dia sudah berada di rumah Qilla. Menunggu dengan sabar gadisnya itu pulang dari jualan cilok keliling. Ibu Nima, calon mertuanya menemaninya di teras rumah. Karena memang dia juga ingin bicara dengan ibunya Qilla tersebut.


"Nak Azriel mau bicara sama ibu?" tanya ibu Nima.


"Iya bu, hal yang penting." jawab Azriel.


"Penting? Hal penting apa?" tanya ibu Nima heran.


Azriel tersenyum, dia sendiri jantungnya sudah dag dig dug karena ingin melamar Qilla pada ibunya langsung. Di tariknya napas dalam untuk mengatur frekuensi detak jantungnya, meski Qilla sendiri belum datang. Tapi dia ingin meminta lebih dulu pada ibunya.


"Emm, rencananya saya mau melamar Qilla bu." kata Azriel langsung saja.


"Apa?! Melamar?" tanya ibu Nima kaget.


"Iya, saya mau melamar anak ibu." jawab Azriel tegas.


Ibu Nima bingung, kenapa Azriel langsung melamar anaknya. Bukankah kedua orang tuanya belum tahu siapa Qilla?


"Na Azriel, ibu bukannya menolak. Tapi, apa kedua orang tua nak Azriel mau menerima Qilla? Soalnya Qilla itu kan gadis biasa, bukan anak orang berada dan juga dia penjual cilok. Apa semua itu orang tua nak Azriel tahu?" tanya ibu Nima lagi.


"Tahu bu, makanya nanti malam saya akan bawa Qilla ke rumah. Biar kenalan sama mama dan papa, meraka juga ingin tahu Qilla." kata Azriel.


Ibu Nima diam lagi, masih bingung dengan maksud ucapan Azriel itu. Azriel tahu kekhawatiran ibunya Qilla tersebut, karena takut anaknya kurang di terima oleh kedua orang tuanya.


"Saya serius bu melamar Qilla. Tapi nikahnya sih dua tahun lagi, terima ya bu lamaran saya?" tanya Azriel tidak sabar dengan jawaban di terima oleh ibu Nima.


"Kalau ibu sih terserah Qilla, hanya saja ibu cuma khawatir orang tua nak Azriel ngga terima Qilla dalam keluarga nak Azriel. Kasihan kalau Qilla ngga di terima oleh mertuanya nanti, ibu yang sedih nak Azriel." kata ibu Nima lagi.


"Ibu jangan khawatir, mama dan papaku itu ngga memandang siapa dia, berasal dari mana. Yang penting gadis yang saya cintai itu benar-benar baik. Maka dari itu, aku yakin Qilla adalah yang terbaik buat saya bu. Dan tentu saja akan aku jaga dan lindungi Qilla nanti." kata Azriel.


Ibu Nima tersenyum, dia melihat dari sorot mata Azriel sangat serius dan meyakinkan kalau laki-laki di depannya itu adalah baik dan melindungi anaknya.


"Kita tunggu Qilla aja ya nak Azriel, sebentar lagi dia pulang kok." kata ibu Nima membuat Azriel gugup takut ibu Nima tidak mau menerima lamarannya.


"Tapi bu, kan ada di ibu. Saya maunya ibu juga menerima lamaran saya lebih dulu, baru Qilla." kata Azriel lagi.


"Ibu terserah Qilla." jawab ibu Nima lagi.

__ADS_1


"Yaah ibu." ucap Azriel lesu.


Dia tidak tahu kalau Qilla sudah berdiri di depan teras rumah. Wajah gadis itu terlihat kusam karena berpanas-panasan menjajakan ciloknya secara keliling kampung. Alisnya mengerut, heran dengan Azriel yang merajuk pada ibunya.


"Ada apa sih?" tanya Qilla heran.


Azriel menoleh ke arah Qilla, ibu Nima masuk ke dalam rumah dengan menggelengkan kepalanya. Merasa lucu dengan Azriel itu.


Sedangkan Azriel dan Qilla duduk bersebelahan. Laki-laki itu tersenyum, menarik tangan Qilla dan memeganginya erat. Qilla heran dengan sikap Azriel itu.


"Ada apa sih tadi sama ibu?" tanya Qilla mengulang pertanyaannya tadi.


"Emm, ada deh. Waah, kok wajahmu semakin kusam sih?" tanya Azriel merapikan poni gadis itu.


"Tadi di jalan ada motor ngegas kencang banget, aku lagi layani pembeli malah kena semprotan asap hitamnya. Kesal banget, mana yang beli pada ketawa lagi." kata Qilla bercerita.


Azriel tersenyum, dia mengusap pipi Qilla dan benar saja debu menempel di tangannya.


"Ya udah sana mandi. Dandan yang cantik dan wangi." kata Azriel.


"Mau apa?" tanya Qilla mengerutkan dahinya.


Qilla diam, dia kaget dengan jawaban Azriel itu. Menarik napas panjang, meletakkan tasnya di meja dan menatap ke depan. Tidak langsung pergi masuk ke dalam rumah untuk mandi. Azriel mengerutkan dahinya.


"Hei, kenapa jadi diam? Lebih baik mandi dulu, aku juga pengen jalan sama kamu, besok aku harus kembali ke pulau." kata Azriel.


Qilla menoleh pada laki-laki yang sedang memandanginya dengan senyuman di bibirnya.


"Mau ketemu sama mama dan papamu, emangnya mau apa?" tanya Qilla lagi.


"Ya kenalin kamu sama mereka, kalau kamu itu calon istriku." jawab Azriel.


Qilla mendelikkan matanya, menatap tanpa kedip pada Azriel karena tidak percaya dengan ucapan laki-laki di depannya.


"Jangan bercanda! Mana mau mama sama papamu sama aku yang kotor nih, kucel, anak orang miskin lagi." kata Qilla.


"Ngga percaya, aku aja tadi melamar kamu sama ibu. Kok kamu ngga mau." kata Azriel.


"Melamar? Kamu?"


"Iya. Aku melamar kamu sama ibu, dan ibu bilang terserah kamu." jawab Azriel lagi.

__ADS_1


"Kok melamarnya mendadak? Ngga pake acara resmi-resmian lagi?" tanya Qilla jadi salah tingkah.


"Ya nanti resminya kalau mau dekat waktunya. Karena melamar sekarang tapi nikahnya dua tahun lagi." ucap Azriel.


"Hah? Lama banget."


"Lama?!"


"Eh, maksudnya kamu kecepetan melamarnya. Kan bisa dua tahun lagi." kata Qilla lagi jadi salah tingkah.


"Iya biarin aja. Biar kamu terikat sama aku, dan ngga di lirik sama cowok lain." kata Azriel lagi.


"Hemm, kamu ngga percaya? Semua di sini tahu kok aku ini pacar kamu." kata Qilla.


"Ya makanya, takut ada yang memaksa dan nikung dari belakang."


Qilla hanya tersenyum saja, masih tidak percaya dengan ucapan Azriel melamar dirinya.


"Emm, tapi bener ya?" tanya Qilla ragu.


"Apanya?"


"Lamarannya."


"Iya sayang, tanya sama ibu. Udah cepat sana mandi, aku mau ajak kamu jalan setelah itu ketemu sama papa dan mama di rumah." kata Azriel lagi.


Qilla tersenyum lagi, dia pun beranjak dari duduknya segera melangkah masuk ke dalam rumah. Tapi kemudian dia berhenti, melongok menyembulkan wajahnya sebagian dan kemudian dia berbalik dan berjalan cepat ke arah Azriel.


Cup.


"Kamu ganteng!"


Secepat kilat Qilla lari masuk ke dalam rumah setelah mencium Azriel dan mengatakan itu. Membuat laki-laki hanya melongo saja dan berteriak kencang.


"Qillaaa!!"


_


_


***********

__ADS_1


__ADS_2