Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
11. Ikut Gabung Geng Motor


__ADS_3

"Azriel!"


Azriel menoleh ke arah sumber suara, dia melihat mobil berhenti. Dia kenal mobil itu, tanpa menunggu pemilik mobil itu keluar. Azriel menarik tangan Qilla dan segera menaiki motornya, gadis itu bingung. Tapi kemudian mengikuti Azriel naik motor, teriakan seseorang dalam mobil itu tak di gubris Azriel.


"Azriel! Tunggu, jangan pergi! Mau kemana kamu?!" teriak perempuan yang keluar juga dari dalam mobil.


Qilla menoleh ke arah mobil itu, tapi Azriel sudah melajukan motornya kencang meninggalkan perempuan yang tadi memanggilnya di mobil.


"Itukan mama kamu?" tanya Qilla memastikan pada Azriel.


"Ya, udah biarin aja. Gue ngga mau ketemu sama mama gue." ucap Azriel.


Motor Azriel melaju kencang membelah jalanan yang sudah terurai karena waktu ikut melaju sesuai situasi malam ini. Qilla diam saja di belakang punggung Azriel, entah apa yang di pikirkan gadis itu.


Motor di belokkan ke jalan kampung, suasana begitu sepi. Hanya beberapa pengendara motor atau sepeda onthel lewat di jalan kampung tersebut. Penerangan juga tidak semuanya menyala di setiap beberapa meter jalan kampung.


Sampai pada sebuah rumah sederhana dengan lampu bohlam kunging menggantung di atap rumah. Azriel menghentikan motornya, dia memasuki sebuah pagar yang tersimpan gerobak cilok milik Qilla.


Qilla mengetuk pintu rumah, lalu terbuka dan muncul ibunya masih memakai mukenah. Menatap anak gadisnya dan melongok ke arah teras menyimpan gerobak Qilla.


"Kamu pulang lagi dengan nak Azriel?" tanya ibu Nima.


"Iya bu, dia ngga mau pulang ke rumahnya. Aneh deh tuh laki-laki." jawab Qilla masuk ke dalam rumah.


"Ya sudah, kamu makan sana. Ibu sudah siapkan makan juga Azriel, suruh dia makaj juga." kata ibu Nima.


"Kami udah makan bu, dia yang traktir. Aku mau mandi aja." ucap Qilla meninggalkan ibunya.


Tampak Azriel masuk dan tersenyum kaku pada ibu Nima. Ibu Nima membalas senyuman Azriel, dia lalu masuk lagi ke dalam kamarnya. Sedangkan laki-laki itu duduk balai-balai yang biasa dia tidur di sana.


Balai-balai bambu, tanpa alas apapun dia tidur di sana. Meski awalnya dia tidak bisa tidur karena tidak terbiasa, tapi akhirnya dia nyaman juga tidur di balai-balai bambu hanya satu bantal sebagai ganjalan kepalanya.


_

__ADS_1


Qilla melamun tentang semalam, dia memikirkan teman geng motor Azriel bernama Jody yang sedang mendekati tiga orang itu, dengan gaya candaan dan juga mengeluarkan sesuatu dalam saku jaketnya.


"Aah, apakah mereka itu mangsanya?" gumam Qilla.


Dia masih memikirkan apa yang mereka lakukan setelah di beri barang itu. Apakah akan pesta narkoba atau bagaimana, bayangan Qilla pada kejadian semalam seperti yang terjadi di film-film yang dia tonton di chanel televisi.


Senyumnya mengembang ketika membayangkan dialah yang jadi peran utama dalam penangkapan dan juga saksi kegiatan itu lalu menjebloskannya dalam penjara.


Dia tidak tahu, sejak tadi ibu Nima memperhatikan anaknya yang sedang melamun dan membayangkan menjadi super hiro dalam penangkapan para pengedar itu.


"Qilla! Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya ibu Nima heran.


Azriel menoleh pada ibu Nima, kemudian beralih pada Qilla yang masih tersenyum sendiri. Dia juga tersenyum sinis, merasa lucu dengan wajah Qilla seperti itu.


"Qilla!"


"Eh iya bu. Ada apa?" tanya Qilla kaget.


Tatapan ibunya membuat dia heran, lalu menunduk dan tersenyum malu pada ibunya yang kesal karena sejak tadi melamun saja.


Kini tatapan Qilla beralih pada Azriel, lama dia menatap sehingga laki-laki itu jadi heran. Alisnya terangkat, tapi kemudian Qilla tersenyum miring. Dia pun mendekat pada Azriel dan berbisik.


"Ziel, kamu kan sering ngumpul sama teman-teman geng motormu itu." ucap Qilla.


"Ya, kadang-kadang. Kenapa emangnya?" tanya Azriel heran.


"Aku boleh ngga ikut nongkrong juga?" tanya Qilla.


"Eh, mau apa? Ngga boleh cewek itu, nanti lo di goda-godain sama mereka. Sadis mereka kalau udah goda-goda cewek." kata Azriel menolak Qilla.


"Aku punya misi, Ziel. Boleh ikut ya." kata Qilla beralasan.


"Misi apa? Jangan ngaco deh." ucap Azriel lagi.

__ADS_1


Dia hanya tidak mau, bukannya dapat sambutan yang baik. Tapi justru di hina oleh mereka, apa lagi Tomi, dia selalu mengejek Qilla gadis kampung. Meski memang benar, tapi Azriel tidak suka sikap Tomi yang merendahkan seorang gadis.


"Aku pengen tahu kegiatan teman-temanmu, rasanya aku masih penasaran deh dengan dua temanmu itu. Aku ingin menyelidikinya, siapa tahu benar temanmu itu adalah pengedar narkoba yang lagi di cari polisi dan bersembunyi di geng motor kamu." kata Qilla.


Azriel diam, meski benar tetap saja dia tidak mau Qilla yang jadi bahan olokan. Ucapan Qilla sepertinya membuat laki-laki itu berpikir, makanya dia jarang nongkrong dengan teman-teman lainnya.


"Ziel, boleh ya?" pinta Qilla lagi.


"Gue cuma takut lo di cemooh sama mereka, merendahkan lo dan juga pastinya lo akan jadi bulan-bulanan mereka. Apa lagi si Tomi itu." kata Azriel.


"Aku ngga peduli, setelah misi selesai. Aku juga ngga mau gabung lagi kok. Biar tugas polisi jadi berkurang karena mengejar para pengedar itu." kata Qilla lagi.


"Ya ampun, gue aja yang tahu ngga peduli dengan mereka. Tapi kenapa lo jadi malah ingin menyelidiki pakai misi segala." kata Azriel lagi.


"Nah, kan. Kamu tahu mereka begitu, kenapa diam aja?" tanya Qilla.


"Ya karena solidaritas juga, mereka ngga maksa gue selalu ikut kegiatan mereka kok. Mereka tahu gue kalau mau ikut ya cuma balapan aja, kalau nongkrong juga jarang gue. Mending jalan sendiri." kata Azriel.


"Ish, please Ziel. Aku pengen seperti detektif-detektif di film-film itu. Boleh ikut ya?" tanya Qilla lagi.


Azriel hanya menarik napas panjang saja, di tatapnya Qilla yang sejak tadi merayu dengan berbagai alasan. Di pikirannya juga sebenarnya gerah dengan sikap Jody dan teman-temannya, kenapa dia mengedarkan ke anak-anak sekolah.


"Okelah, gue akan ajak lo ngumpul sama teman-teman geng motor gue. Tapi penampilan lo di ubah dong, sedikit tomboy ngga apa-apa." kata Azriel akhirnya menyetujui Qilla ikut berkumpul dengan teman-teman geng motornya.


Gadis itu tersenyum senang, dia pun duduk kembali di kursi melihat televisi. Mencari chanel film yang menarik seperti film detektif itu. Azriel sendiri juga ikut tersenyum, memandangi gadis manis yang tadi merayunya agar di perbolehkan ikut gabung geng motor.


Malam semakin larut, ibu Nima sejak tadi sudah masuk ke dalam kamarnya. Adonan cilok sudah di siapkan untuk besok, Qilla masih setia menonton film kesukaannya. Sedangkan Azriel kembali merebahkan tubuhnya di balai-balai bambu.


Matanya menatap ke atas genteng tak beratap itu, pikirannya melayang ke rumah mamanya. Ingatan kemarin malam bertemu dengan mamanya membuatnya kecewa, ketika dia melihat dalam mobil ada seorang laki-laki selain papanya.


"Mama semakin ngga peduli dengan gue, dia lebih mementingkan cowok itu. Apa yang mama pikirkan tentang anaknya ini?"


_

__ADS_1


_


************


__ADS_2