Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
15. Benih Cinta Muncul


__ADS_3

"Azriel, kamu kenapa bisa kecelakaan sih? Pasti karena naik motor ugal-ugalan lagi." kata nyonya Sintya menghampiri Azriel duduk di kursi.


Dia menarik kaos Azriel dan meneliti beberapa bagian tubuh anaknya. Dia melihat tangan Azriel di gips dan perban banyak sekali.


"Ya ampun, Azriel. Kamu bandel banget sih mama bilang, dan kemana aja kamu selama ini? Tahu-tahu mama dapat laporan dari kantor polisi kamu kecelakaan." kata nyonya Sintya lagi.


Membuat laki-laki itu jengah dengan ucapan mamanya. Apa lagi ada Qilla dan ibu Nima, mereka melihat ibunya Azriel sangat kesal karena kecelakaan yang menimpa anaknya. Bukannya cemas tapi malah menyalahkan anaknya.


"Maaf bu, Azriel sedang sakit. Kenapa ibu memarahinya?" tanya ibu Nima.


Nyonya Sintya menoleh ke arah ibu Nima. Menatapnya heran, beralih ke bangsal Qilla. Dia melihat Qilla yang lebih banyak perban dan juga infus di tangannya.


"Kamu kan gadis yang pergi dengan anakku? Kamu juga kecelakaan?" tanya nyonya Sintya.


"Iya tante, saat kecelakaan saya dan Azriel naik motor dan motornya terserempet." jawab Qilla.


"Hemm, jadi kamu yang membuat anakku ugal-ugalan naik motor?!" tanya nyonya Sintya.


"Mama! Apa-apaan sih nyalahin Qilla. Aku yang salah, kenapa mama marah-marah sama teman aku?!" ucap Azriel kesal pada mamanya menyalahkan Qilla.


"Tapi dia kan jadi masalah kamu pergi dari rumah dan sekarang kamu melawan sama mama. Apa karena gadis itu kamu melawan mama?." tanya nyonya Sintya.


"Mama!"


"Maaf nyonya, anak saya tidak membuat anak anda pergi dari rumah anda, apa lagi sampai melawan anda. Sebaiknya anda koreksi diri dulu sikapnya sebelum menyalahkan orang lain." kata ibu Nima kesal anaknya di salahkan oleh nyonya Sintya.


Azriel mendengus kesal, dia membawa mamanya keluar dari kamar Qilla. Dia menarik tangan mamanya dan menyuruhnya pulang ke rumah.


"Sebaiknya mama pulang aja, ngga usah datang ke rumah sakit dan pura-pura peduli sama aku." kata Azriel.


"Azriel! Kamu mengusir mama?!" tanya nyonya Sintya marah.


"Iya, buat apa mama kesini tapi ujung-ujungnya mama hanya mau menyalahkan aku apa lagi menyalahkan temanku." kata Azriel lagi.


"Mama khawatir sama kamu sayang."


"Heh, khawatir? Bulshiit! Urus saja berondong mama itu!"


"Azriel! Dia anak teman mama, jangan berkata seperti itu!"


"Ya, bela aja terus. Makanya mama lebih baik pergi aja dari rumah sakit ini, aku udah besar ma." kata Azriel lagi.


Nyonya Sintya diam, dia menatap tajam pada anaknya. Seharusnya di rawat anaknya itu, tapi kenapa ada di kamar inap gadis itu.

__ADS_1


"Kamu pulang aja sekarang, dari pada tidak di rawat di rumah sakit ini." kata nyonya Sintya.


"Mama aja yang pulang, aku mau di sini." kata Azriel menolak ajakan mamanya.


"Azriel!"


"Mama pulang, atau selamanya aku ngga mau pulang ke rumah?!" ancam Azriel pada mamanya.


Nyonya Sintya menatap tajam pada anaknya, dia benar-benar marah pada anak laki-lakinya. Tapi ancaman Azriel itu tidak bisa di anggap main-main, karena jika tidak di indahkan. Dia akan kehilangan anaknya itu, Azriel keras kepala.


"Oke, mama pulang. Tapi mama mohon kamu pulang Azriel, mama akan turuti permintaan kamu." kata Nyonya Sintya.


"Permintaan yang mana? Meninggalkan berondong itu?" tanya Azriel sinis.


Nyonya Sintya diam saja, dia menarik napas panjang. Tidak menjawab pertanyaan Azriel, hanya menatapnya saja.


"Mama memang tidak bisa meninggalkan berondong itu. Lakukan saja apa yang mama inginkan, aku tidak peduli mama dan papa melakukan apa. Aku bahkan kalian berpisah juga aku tidak peduli." kata Azriel menyindir mamanya.


"Azriel, kasar sekali ucapanmu itu."


"Udahlah ma, sebaiknya mama cepat pulang. Sebelum aku bicara lebih kasar lagi sama mama." kata Azriel.


Dia masuk ke dalam kamar inap Qilla, di sana tampak ibu Nima menatapnya juga Qilla. Keduanya mendengar perdebatan anak dan orang tua itu. Tidak bisa menyalahkan Azriel sepenuhnya, dan mereka tidak akan memarahi atau menasehati laki-laki itu.


_


Qilla sejak tadi mendengarkan cerita Azriel yang jadi anak broken home, pelarian mengikuti geng motor kelompok Dodit. Bahkan kuliahnya terbengkalai karena muak sekali dengan sikap papa dan mamanya selama ini.


"Tapi kamu ngga dendam dengan mereka kan? Maksudku, kamu ngga selamanya marah sama papa dan mamamu?" tanya Qilla.


"Tergantung, jika mereka masih bersikap kayak gitu terus gue akan marah terus." jawab Azriel.


"Ish, ngga baik begitu. Setidaknya kamu kasih pengertian sama mama dan papamu, kalau kamu juga masih butuh perhatian keduanya. Apa lagi adikmu, dia belum tahu kan masalahmu itu?" tanya Qilla.


"Ngga, sengaja aku ngga cerita sama Rania. Biar dia fokus belajar aja, suatu saat pasti dia akan paham juga kok. Karena mama dan papa jarang menjenguknya, pasti dia akan menyadarinya." kata Azriel.


"Oh ya, adikmu kelas berapa?" tanya Qilla.


"Tahun ini sih menginjak kelas dua SMA." jawab Azriel.


"Kapan-kapan boleh aku ikut jenguk adikmu?" tanya Qilla.


Azriel menatap Qilla, dia tidak percaya dengan ucapan gadis itu. Tapi Qilla justru tersenyum menanggapi kekagetan Azriel itu, dan laki-laki itu pun mengangguk cepat.

__ADS_1


"Oke." jawab Azriel.


Qilla senang, dia pun merebahkan punggungnya di kasur bangsal. Memandangi langit-langit kamar inap, Azriel menatap gadis yang sudah hampir satu bulan dia kenal. Mengingat pertama kali mengenal gadis di depannya itu memang sangat aneh dan cepat.


Laki-laki itu masih menatapi Qila, ada getar halus dalam hatinya. Dia menunduk malu sendiri karena memandangi Qilla begitu lama.


"Aneh ya." ucap Azriel.


"Aneh kenapa?" tanya Qilla.


"Aneh aja takdir kita ketemu. Kenal lo dan bisa tinggal di rumah lo lama-lama, gue merasa aneh aja. Dan merasa tenang jadinya hidup gue." kata Azriel.


"Gitu ya? Tapi aku merasa tidak tenang kamu ada di rumahku." kata Qilla tersenyum miring.


"Lo ngga suka gue ada di rumah lo itu?" tanya Azriel.


"Aku ngga mau aja tetanggaku pada ngomong negatif tentangku dan kamu." jawab Qilla.


"Omongan negatif? Apa itu?"


"Ck, mereka pikir kamu pacarku. Betah banget tinggal di rumahku, mana setiap aku jualan kamu ikut." kata Qilla lagi.


"Tapi ibu lo ngga keberatan kok."


"Ibu cuma ngga enak aja ngusir kamu, makanya sekarang kamu pulang aja ke rumahmu. Kalau mau ke rumah sesekali juga tidak masalah, asal kamu pulang. Perbaiki hubunganmu dengan mama dan papamu, aku yakin pasti mereka akan mendengarkan keluh kesahmu jika cara ngomongnya halus dan tidak emosian." kata Qilla.


Azriel diam saja, dia menarik napas panjang. Sebenarnya benar apa yang di katakan Qilla, tapi dia malas harus bicara dengan kedua orang tuanya yang masih mementingkan diri sendiri.


"Ziel?"


"Ya?"


"Apa, kamu tidak punya pacar? Kamu sering banget ke rumahku, dan aku lihat kamu ngga pernah pergi ke rumah cewek kamu atau pergi menemui cewekmu." kata Qilla ragu.


Azriel tersenyum, dia menatap Qilla lama. Menelusuri setiap anggota tubuh di wajah gadis manis itu. Dia merasa Qilla adalah gadis yang baik dan menarik. Apakah dia menyukai gadis itu?


"Gue suka sama lo." ucap Azriel tanpa sadar.


"Apa?!


_


_

__ADS_1


**********


__ADS_2