
Azriel kini melajukan motornya menuju rumah profesor Rusi, dosennya dulu sewaktu kuliah. Dia tidak melanjutkan kuliahnya sejak seringnya melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Dia sering malas dan bolos, dan hampir di DO dari kampus.
Prof. Rudi membantunya agar tidak di DO, dan dia di tawari pekerjaan serta beasiswa keluar negeri dalam dua tahun. Karena pikiran Azriel saat itu sedang kacau, dia memilih gabung dengan geng motor.
Tapi sekarang, dia akan menemui prof. Rudi. Menanyakan lagi apakah tawarannya itu masih berlaku, jika beasiswa sudah tidak ada. Setidaknya dia akan bekerja saja, membuat dirinya mapan dan sukses. Setelah itu dia akan menikahi Qilla, itulah harapan dan tujuan Azriel saat ini.
Motor di belokkan ke arah kompleks perumahan cluster tipe 72, di mana rumah dosennya dulu tinggal. Hanya di barisan blok depan rumah dosen itu berada, jadi Azriel tidak perlu mencari lebih jauh lagi. Dan dia berhenti di sebuah rumah dengan halaman tidak besar, tapi banyak sekali tanaman di tanam di sana.
Azriel turun dari motornya, tampak seorang perempuan sedang menyiram tanaman. Dia mendekat dan memberi salam padanya.
"Selamat siang, bu." sapa Azriel.
Perempuan itu menoleh, memicingkan matanya lalu tersenyum.
"Selamat siang, cari siapa mas?" tanya perempuan itu.
"Prof. Rudi. Apa beliau ada di rumah?" tanya Azriel memegangi tangannya.
"Oh, pak Rudi. Ada, mas ini siapa ya?" tanyanya lagi.
"Saya Azriel bu, mau bertemu prof. Rudi." jawab Azriel tersenyum ramah.
"Tunggu sebentar ya, masnya duduk saja dulu di sana."
"Iya bu, terima kasih." kata Azriel.
Perempuan itu melangkah masuk ke dalam rumahnya. Azriel mengikuti tapi duduk di kursi teras. Menatap halaman rumah yang menghijau karena di tumbuhi tanaman dan bunga di pelihara dengan baik.
Tak lama, keluar seoang laki-laki berjalan mendekat pada Azriel. Laki-laki itu tersenyum melihat punggung Azriel dan berdehem keras.
"Ehem!"
Azriel menoleh ke belakang, dia membalas senyuman itu lalu berdiri dan menyalami laki-laki yang berwibawa.
"Prof, apa kabar." kata Azriel.
"Baik. Kamu sendiri? Kok baru kelihatan?" tanya prof. Rudi.
__ADS_1
"Iya prof, maafkan saya baru datang kesini." kata Azriel.
"Emm, tidak apa. Mungkin kamu sibuk dengan dunia barumu." katq prof. Rudi.
Azriel hanya menunduk, merasa malu dengan ucapan dunia baru itu. Karena prof. Rudi tahu dia masuk geng motor. Tapi tidak tahu alasan kenapa masuk ke dunia liar tersebut.
"Iya prof, saya sudah keluar dari dunia baru saya itu." kata Azriel.
"Kenapa kamu masuk dunia itu? Sedangkan di sana banyak sekali kesalahan dan dosa. Saya menyayangkan kamu keluar dari kampus dan hampir di DO karena tidak mengerjakan tugas kuliah serta jarang masuk. Apakah kamu punya masalah serius sebelumnya?" tanya prof. Rudi yang dulu ingin sekali di tanyakan pada Azriel.
"Iya prof, keluargaku. Aku malu jika harus terus kuliah, tapi ada beberapa teman kampus mengetahui skandal papaku." jawab Azriel.
"Kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa cerita sama saya. Dan saya yakin kamu datang kesini untuk meminta bantuan kan?" tanya prof. Rudi.
Azriel tersenyum, terasa nyaman dia berhadapan dengan laki-laki tua bijaksana dan berwibawa. Azriel lalu menceritakan perihal dirinya dan keluarganya. Meski awalnya ragu, tapi dia memceritakan secara garis besarnya saja. Prof. Rudi memahami cerita Azriel itu, dia bertanya lagi apa keinginan Azriel datang menemuinya.
"Apakah tawaran profesor dulu masih berlaku? Saya ingin mengambilnya, kalau masih saya ingin mengambilnya." kata Azriel.
"Untuk beasiswa yang pertama itu tidak bisa, karena rekam jejak kamu yang hampir di DO dari kampus." kata prof. Rudi.
"Mungkin masih bisa, nanti saya tanyakan pada orangnya. Kemungkinan masih bisa. Tapi kenapa kamu meminta pekerjaan? Kenapa tidak melanjutkan kuliah di tempat lain, saya ada koneksi dosen di kampus yang bisa menerimamu." kata prof. Rudi.
"Tidak profesor, saya ingin kerja saja. Ingin menghidupi adikku dan gadis yang aku cintai." kata Azriel lagi.
"Waah, ternyata kamu sudah punya pacar? Hahah! Baiklah, saya akan menanyakan kembali pada orangnya. Besok saya beritahu kamu ya." kata prof. Rudi.
"Baik profesor. Saya tunggu. Maaf kalau saya datang menyusahkan anda saja." kata Azriel merasa tidak enak dengan kedatangannya hanya menanyakan tawaran yang dulu saja.
"Tidak mengapa, saya bangga sama kamu. Kamu sebenarnya bisa lulus dengan nilai terbaik jika bukan karena masalahmu itu. Seharusnya kamu berpikir dewasa, kenapa hanya dengan masalah itu kamu sampai drop dan kehilangan arah. Sangat di sayangkan bagi saya, Azriel. Dengan kemampuan dan kepintaranmu itu dalam bidang teknik." kata prof. Rudi.
"Iya profesor, saya menyadari setelah kenal dan menyukai seorang gadis. Dia yang membuatku sadar, meski dulu banyak pertentangan dalam hatiku. Tapi saya tidak ikut-ikutan menggunakan barang terlarang ketika bergabung dengan mereka."
"Itu bagus, imanmu kuat. Meski kekecewaan mendalam pada kedua orang tuamu, tapi kamu masih bisa mengendalikan dirimu tidak ikut-ikutan mereka. Orang yang cerdas akal dan pikiran, dia bisa mengendalikan kekuatan hatinya." kata prof. Rudi lagi.
Azriel diam, dia bersyukur masih di lindungi dalam menjaga semua yang merusak hidupnya kelak. Beruntung bisa bertemu dengan Qilla lebih cepat, karena mungkin jika dirnya lama berteman dengan mereka. Tidak menutup kemungkinan dia akan terkena juga oleh bujuk rayu para geng motornya.
Minum-minuman, bermain **** bebas atau pun menggunakan barang terlarang. Karena baru terjun beberapa bulan saja dia di geng motor kelompok Dodit. Ada banyak sekali dunia hitam mengincar mereka para geng motor, banyak kesenangan semu yang mereka dapatkan. Tapi sesungguhnya kesengsaraan seumur hidup jika sudah terjebak dalam dunia gelap tersebut.
__ADS_1
"Waah, mengobrolnya sampai lupa. Saya tidak segera memberi cemilan dan minuman di sini." kata seorang perempuan berkerudung yang muncul dari dalam rumah membawa nampan berisi toples dan gelas.
"Tidak apa bu, tidak enak merepotkan." kata Azriel.
"Jangan sungkan, Azriel. Ayo di minum." kata prof. Rudi.
"Iya prof."
Azriel mengambil gelas dan menyeruput airnya. Meski hanya air teh hangat, tapi rasanya enak sekali di lidah Azriel. Dia menyeruput beberapa kali hingga habis, membuat prof. Rudi tersenyum.
"Bu, ambilkan lagi tehnya. Azriel haus kelihatannya." kata prof. Rudi pada istrinya.
"Heheh, maafkan saya prof. Jadi tidak enak harus mengambil lagi di dalam."
"Jangan sungkan, memang teh buatan istri saya itu enak dan pasti ketagihan." ujar prof. Rudi.
Azriel tersenyum, dia setuju dengan ucapan dosennya itu. Memang enak dan ingin minum lagi dan lagi, tak lama keluar istri prof. Rudi membawa teko sekalian dan di letakkan di meja.
"Di habiskan mas, ibu sengaja buat banyak. Barangkali kalian mengobrol lama." kata istri prof. Rudi.
"Iya bu, terima kasih."
Azriel kembali meminum teh hangat buatan istri prof. Rudi. Baru beberapa teguk, ponselnya berbunyi. Nama yang tertera di layar ponsel melebarkan senyumnya, menatap prof. Rudi.
"Ya, angkat saja. Siapa tahu penting." kata prof. Rudi.
"Iya prof."
Azriel memencet tombol hijau dan akan bicara seperlunya saja dulu.
"Halo?"
_
_
*********
__ADS_1