
Setiap hari Azriel membantu ibu Nima dan Qilla di dapur ataupun mengantar keduanya pergi ke pasar. Meski omelan dan juga gerutuan Qilla membuat kebal telinga Azriel, tapi dia senang bisa membantu gadis itu.
Gerobak ciloknya juga sudah bisa di gunakan lagi setelah di beresi oleh tukang kayu. Awalnya mau mengganti dengan yang baru, tapi Qilla menolaknya. Dia berpikir uang ganti rugi satu juta dari Azriel lebih baik di gunakan tambah modal usaha ciloknya dan membeli peralatan lainnya.
Kini dia sedang berjualan keliling ke jalanan kampung atau ke sekolah untuk mencari pelanggan ciloknya. Kebanyakan yang membeli adalah anak-anak dan remaja, karena mereka suka sekali dengan cilok buatan Qilla.
"Lo jual cilok sejak kapan?" tanya Azriel ketika mereka duduk di bawah pohon rindang di pinggir lapangan di mana dulu mereka bertemu.
"Sejak ayahku sakit, aku menggantikan ayahku yang sering sakit-sakitan. Ibu kadang jualan kue tradusional di pasar. Ibu bilang ngga usah jualan cilok lagi, tapi aku pikir sayang ngga diteruskan karena anak-anak kampung sini sudah suka dengan cilok buatanku dan ibuku. Jadi, aku yang gantikan ayah jualan cilok sampai sekarang ayahku tiada." kata Qilla bercerita.
"Lo ngga kuliah?" tanya Azriel.
"Ngga, mana ada duit. Jualan cilok laris aja aku senang, mereka para langgananku itu senang aku jualan cilok." ucap Qilla.
"Ck, ngga berkembang pikiran lo itu. Coba pikirkan masa depan yang cemerlang, jualan cilok ngumpulin duit buat kuliah gitu misalnya." ucap Azriel.
Qilla menoleh ke arah laki-laki di sampingnya, senyuman sinis mengembang di bibirnya. Seakan ucapan Azriel itu adalah keluar dari mulut sang motivator handal, padahal dirinya sendiri sedang bermasalah dengan keluarganya.
"Kamu nasehati aja diri kamu sendiri, jangan pernah melawan orang tua. Ngga baik, apa lagi harus kabur dan ngga pulang-pulang ke rumah." kata Qilla dengan sindirannya pada laki-laki yang baru dia kenal sepuluh hari lalu.
"Ck, gue cuma mau nyokap bokap gue itu akur. Mereka ngurusin urusan sendiri-sendiri, ngga mikirin anaknya gimana. Untuk adik gue tinggal di asrama, jadi dia ngga pernah lihat nyokap dan bokap gue bertengkar." ucap Azriel.
"Eh, kamu punya adik?" tanya Qilla.
"Ya, dia masih kelas satu SMA. Tapi tinggal di asrama." jawab Azriel.
"Waah, senangnya punya adik ya." ucap Qilla.
Azriel menoleh pada Qilla, dia tersenyum tipis. Rasanya jika di pandangi terus, Qilla semakin cantik. Ups.
Azriel dan Qilla saling diam, mereka menikmati hembusan angin di siang hari. Mereka mengawasi orang-orang yang lalu lalang. Tiba-tiba suara telepon Azriel berdering, dia terlonjak karena suaranya sangat nyaring.
"Halo, Dit? Ada apa?" tanya Azriel ketika dia menjawab sambungan telepon dari Dodit.
"Ziel, kita mau adain pertandingan balap motor lagi nih. Lo mau ikut ngga?" tanya Dodit di seberang sana.
"Eh, di mana? Mau, gue ikut." jawab Azriel senang.
"Tempatnya sih belum gue tentukan, tapi pesertanya bukan dari geng kita aja sih. Ada yang lainnya, lo ikut ya?"
"Ikutlah, gue bosan sendirian terus. Kapan acaranya?"
"Sabtu ini, lo siapkan aja. Soalnya banyak cewek-ceweknya lho, Ziel."
"Itu sih lo aja kali yang seneng."
__ADS_1
"Hahah!"
"Oke, gue ikut. Nanti lo kabari tempatnya di mana ya." ucap Azriel.
"Oke. Gue secepatnya kabari lo kalau udah pasti tempatnya."
"Oke."
Klik!
Sambungan telepon terputus, Azriel senang dia akan ikut lagi pertandingan balap motor. Kali ini dia akan berusaha menang, meski biasanya hanya untuk senang-senang saja. Tapi setidaknya dia akan serius untuk balap motor kali ini.
"Kamu senang banget dapat telepon, memangnya dapat kabar gembira apa?" tanya Qilla.
"Sabtu besok gue mau balap motor lagi. Lo mau ikut ngga?" tanya Azriel tanpa sadar mengajak Qilla.
"Eh, ikut balap motor? Di mana?" tanya Qilla seperti antusias.
"Ish, kenapa gue ajak lo?" tanya Azriel heran sendiri ketika dia sadar kalau yang dia ajak adalah gadis penjual cilok.
"Ck, ya udah yuk pulang. Ciloknya nanti sore lagi aku keliling lagi, aku sudah lapar." kata Qilla.
Dia mendorong gerobak ciloknya, di susul Azriel yang masih bingung dengan ajakannya tadi pada Qilla. Mereka berjalan sejajar, melewati jalanan yang sedang panas-panasnya karena terik matahari di siang hari.
_
Ya, Azriel mengajak Qilla ikut dalam balapan liar kali ini. Dia sendiri merasa nyaman saja ketika Qilla ikut menyaksikan pertandingan balap liarnya. Dan Qilla juga merasa aneh kenapa mau ikut dengan Azriel di ajak melihat balap liar di lintasan tak terpakai itu.
"Ternyata banyak juga yang ikut, ada berapa itu ya." gumam Qilla sambil memperhatikan pembalap liar termasuk Azriel.
Bukan hanya dia saja yang menonton pertandingan balap motor itu, ternyata banyak juga yang menonton. Termasuk para gadis dan juga laki-laki yang menyukai balapan itu, Qilla heran apakah mereka ada komunitas.
"Hemm, mungkin mereka punya grup sendiri jadi bisa mengundang para penikmat balap liar ini. Sebenarnya apa menariknya sih mereka ikut kesini. Aku juga ngga ngerti kenapa ikut Azriel lihat balap motor, tahu begini aku jualan cilok aja di sini. Pasti laris." ucap Qilla memandangi tribun di sisi kanan kirinya menang sangat penuh.
Balap liar segera di mulai, tiga putaran kali ini untuk menentukan siapa yang menang dia akan mendapatkan beberapa keistimewaan. Seperti di traktir oleh teman-teman satu geng dan dari geng lain untuk meminta apa saja.
Deru motor sangat bising membahana di arena pertandingan itu, masih beberapa waktu untuk memanasi motor masing-masing. Tomi, Dodit, dan juga teman satu geng Azriel mengikutinya juga. Ada beberapa yang tidak ikut, dengan alasan ada tugas sendiri.
Azriel sendiri tidak berpikir untuk menang, dia hanya ingin mengikuti balap liar saja. Menikmati sensasi balap, karena dia merasa belum mahir benar dalam balapan tersebut.
"Ziel, lo kenapa jadi loyo kalau main balapan motor?" tanya teman satu gengnya.
"Gue cuma mau ikut-ikutan aja, ngga penting menang." jawab Azriel.
"Payah lo, ngga ada semangat buat menang sih. Padahal kalau menang, banyak cewek-cewek yang suka sama lo. Tuh lihat si Doni, dia kali ini menang. Banyak cewek yang suka, cantik-cantik lagi." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Bodo ah, gue yang penting senang ikut balapan begini." ucap Azriel cuek saja.
Matanya menyapu tribun, mencari sosok Qilla yang sejak tadi sepertinya dia kehilangan sosok gadis periang itu. Senyumnya mengembang kenapa dirinya jadi merasa nyaman sendiri dengan gadis itu.
"Dia duduk di mana sih? Kok ngga kelihatan?" gumam Azriel masih mengedar pandangannya di tribun penonton.
"Ziel, lo cari siapa?" tanya Tomi.
"Gue tadi ke sini bawa cewek. Dia duduk di tribun, tapi kemana ya dia?" kata Azriel masih memandangi tribun.
"Cewek? Cewek mana?"
"Cewek yang dulu gue tabrak gerobaknya." jawab Azriel.
"Ooh, cewek kampung itu." ujar Tomi.
Azriel menoleh ke arah Tomi, dia tidak suka nada bicara teman satu gengnya. Seperti merendahkan Qilla yang di maksud Tomi itu.
"Meski cewek kampung, dia baik." kata Azriel.
"Tetap aja cewek kampung, lo aneh. Suka cewek kampung kayak gitu." ucap Tomi lagi.
"Cewek kampung, yang penting baik. Ngga ada modus-modusan sama sekali, lihat aja cewek-cewek yang mengerubuti si Doni. Di antara mereka juga ada kok yang suka juga sama si Alex, dan lo? Ngga ada yang ngerubuti cewek-cewek itu." kata Azriel menyindir Tomi yang sejak tadi menghina Qilla.
Tomi menatap kesal pada Azriel, dia mendengus kasar. Sebenarnya dia suka sama seseorang yang memang selalu mengikuti pertandingan balap liar itu, tapi gadis itu tidak pernah meliriknya sama sekali.
"Siap semua?!"
Nggeeeeengg!!
"Oke, ready. Kita mulai, kali ini tiga kali putaran seperti biasanya. Yang menang akan dapat keistimewaan yang tak terduga, siap menaaang!!"
Nggeeeeengg! Nggeeeeengg!
Tepuk tangan dan teriakan membahana di area lintasan dan tribun penonton. Suara deru mesin motor dan juga asap yang keluar dari motor-motor para pembalap itu membuat suasana semakin bising.
Pemimpin pertandingan pun bersiap untuk melepas para pembalap motor liar, memberi aba-aba agar mereka siap tancap gas.
"Satu, dua, tiga, reaaady!!"
Nggeeeeeeng!!!
_
_
__ADS_1
***********