
Tiba-tiba Azriel membuka matanya, dia tadinya hanya diam saja meski sudah sadar. Mendengar papanya mengucapkan maaf tadi, tapi ketika mamanya datang dia ingin tahu seberapa menyesalnya kedua orang tuanya di hadapan anaknya yang sedang sakit itu.
Ternyata sama saja, hanya keegoisan keduanya yang mereka tampilkan di depan anaknya yang sakit. Azriel bangkit dari pembaringannya, dia ingin melepas infus selang dan juga oksigen di hidungnya.
"Kenapa di lepas?" tanya Sintya bingung melihat Azriel melepas selangnya.
"Aku tidak butuh ini." kata Azriel.
"Azriel jangan di lepas!" ucap Ryuzi.
"Urus saja urusan kalian, jangan peduli denganku!" ucap Azriel lagi.
"Azriel, maafkan mama. Jangan begini, maafkan mama sayang." kata Sintya mencegah anaknya bangkit dan mau pergi.
"Azriel, tenanglah. Jangan gegabah begini, kamu masih lemah. Papa akan urus semuanya." kata Ryuzi segera membereskan selang infus dan oksigen.
"Sudahlah pa, aku baik-baik saja. Tanpa ini aku juga baik-baik saja." kata Azriel.
"Jangan membantah, diam saja di kasurmu." kata Ryuzi lagi.
Azriel berdecak kesal, dia kembali tidur. Menatap mamanya yang tampak khawatir dengan keadaannya. Matanya beralih pada papanya, lalu tersenyum miring. Membiarkan papanya melakukan tindakan layaknya suster padanya.
"Jangan bergabung dengan geng motor lagi, Azriel." kata Ryuzi.
"Kalau papa sudah menyelesaikan urusannya dengan asisten papa, aku akan keluar dari geng motor itu." kata Azriel.
Ryuzi menatap anaknya, lalu menarik napas panjang.
"Papa tidak punya hubungan apa pun dengan dia. Kenapa kalian selalu menuduh pa0a begitu?" tanyq Ryuzi.
"Jangan pura-pura pa." kata Sintya menyambungi penuh dengan kebencian.
"Ma. Mama ngga tahu apa yang sebenarnya terjadi." kata Ryuzi.
"Kemarin papa menampar mama." kata Sintya lagi.
"Papa minta maaf atas itu, papa khilaf." kata Ryuzi.
Laki-laki itu menyelesaikan membereskan selang infus dan oksigen Azriel. Sintya diam saja, dia tidak tahu apakah suaminya sungguh-sunguh minta maaf padanya atau hanya bersandiwara di depan Azriel.
"Apa kalian sedang bersandiwara?" tanya Azriel tiba-tiba.
__ADS_1
"Azriel, kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Sintya.
"Karena mama sama papa tidak pernah menyesali perbuatan kalian. Apa papa dan mama tahu, Rania menunggu kalian menjenguknya. Sudah berapa bulan papa dan mama tidak menjenguk Rania? Dia merindukan papa dan mama." kata Azriel.
Ryuzi menatap anaknya, membenarkan letak kacamatanya. Kemudian duduk di kursi, menarik napas panjang. Sintya menoleh ke arah suaminya, lalu menatap Azriel yang sedang menunggu jawaban dirinya dan suaminya.
"Mama akan jenguk dia besok." kata Sintya.
"Papa belum bisa, besok ada jadwal operasi di rumah sakit." kata Ryuzi.
"Aku tahu kenapa aku tidak di bawa ke rumah sakit papa bekerja, karena takut asisten selingkuhan papa khawatir kan?" tanya Azriel.
"Azriel, papa hanya ingin secepatnya kamu dapat pertolongan. Makanya papa bawa ke rumah sakit terdekat, dokter yang menangani kamu juga papa kenal. Jangan menunduh sembarangan begitu, papa muak di tuduh terus berselingkuh." kata Ryuzi lagi.
"Kalau papa tidak mau di tuduh selingkuh terus, sebaiknya papa jauhi asisten papa itu. Semua orang menyangka begitu, dan mama melihat dengan kepala mama sendiri papa begitu mesra dengan asisten papa itu. Apa itu bukan bukti kuat kalau papa selingkuh dengan asisten papa itu?" tanya Sintya.
Ryuzi diam, dia menatap tajam pada istrinya. Kemudian beralih pada anaknya yang terbaring memejamkan mata, merasa pusing sendiri karena sejak tadi tidak juga selesai masalah perselingkuhan keduanya.
"Sebaiknya kalian pulang saja, selesaikan masalahnya di rumah. Ini rumah sakit, jangan membuat orang sakit jadi tambah sakit. Aku sakit begini tidak ada yang peduli, kalian hanya mementingkan ego masing-masing saja. Lebih baik aku pergi sejauh mungkin dari rumah kalian." kata Azriel melemah suaranya.
Dia sudah lelah mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Menarik selimutnya menutupi seluruh tubuh hingga wajahnya, membelakangi kedua orang tuanya.
Sintya dan Ryuzi saling pandang, laki-laki berkacamata itu pun keluar. Di susul oleh Sintya dengan langkah gontai, keduanya berdiri di depan pintu kamar inap anaknya.
"Apa anak anda sudah sadar dokter Ryuzi?" tanya dokter jaga itu.
"Sudah, dan sekarang dia mau tidur." jawab Ryuzi.
"Apa akan ada yang menjaga malam ini?" tanya dokter jaga lagi.
"Aku tidak bisa menjaga dia, besok ada operasi di rumah sakitku." jawab Ryuzi.
"Biar aku saja, kamu pulang saja sana. Besok suruh bibi membawakan baju-baju Azriel dan juga aku." kata Sintya.
"Baiklah, nanti aku pesankan makanan dan di antar kesini." kata Ryuzi.
"Hmm."
_
Pagi hari, Azriel menelepon bagian yang akan mengantarkannya pergi ke luar pulau. Jika hari ini dia tidak bisa ikut bersama dengan rombongan karena kecelakaan di jalan.
__ADS_1
"Apa bisa di undur keberangakatnnya pak? Saya kecelakaan kemarin di jalan." kata Azriel di telepon menghubungi petugasnya.
"Waah, kenapa bisa kecelakaan. Apakah nanti bisa bekerja di kilang? Soalnya di kilang pekerjaannya sangat berat dan membutuhkan banyak tenaga, bukan hanya pikiran."
"Kalau di beri waktu satu minggu untuk istirahat, saya bisa kerja kok. Nanti jika saya sudah pulih saya akan datang sendiri ke sana." kata Azriel mencoba bernegosiasi dengan petugas keberangkatan ke pulau.
"Baiklah, saya beri kamu waktu satu minggu untuk istirahat. Tapi tidak bisa mundur waktu istirahatnya, karena di perusahaan kilang ini masih banyak yang membutuhkan pekerjaan. Karena kamu memang bisa di percaya dan juga atas rekomendasi profesor, jadi saya beri waktu satu minggu untuk betistirahat. Minggu depan harus sudah ada di pulau." kata petugas itu di seberang telepon.
"Oh, baik pak. Terima kasih banyak, saya akan sehat dalam waktu satu minggu." kata Azriel dengan sumringah.
Klik!
Dia memutus sambungan teleponnya, wajahnya senang sekali belum bisa berangkat ke luar pulau untuk kesembuhannya. Kali ini dia menunggu Qilla datang ke rumah sakit, pagi-pagi benar dia memberitahi gadis itu kalau dirinya ada di rumah sakit sedang di rawat.
Tentu saja gadis itu kaget dan cemas kenapa bisa Azriel ada di rumah sakit.
"Azriel, kamu tadi menelepon siapa?" tanya mamanya.
"Orang BUMN." jawab Azriel.
"Orang BUMN? Mau apa?" tanya Sintya lagi.
"Kerja ma." jawab Azriel lagi.
"Kerja? Kerja di mana?" tanya Sintya mulai penasaran, kenapa anaknya mau kerja.
"Aku ingin kerja ma, ingin mandiri." jawab Azriel menatap mamanya datar.
"Tapi, kamu belum lulus kuliah. Untuk apa kerja? Dan lagi, tadi mama dengar kamu mau ke pulau. Pulau apa kerja di sana?" Sintya mencecar anaknya.
"Ck, mama jangan khawatir seperti itu. Aku kerja, harus mandiri. Ingin menghidupi diri sendiri dan orang yang aku cintai ma, mama bilang aku harus mengurus diriku sendiri. Ngga usah mengurusi urusan mama, jadi aku cari kerja dan aku dapat kerjaan. Harusnya hari ini aku berangkat, tapi karena kecelakaan. Keberangkatanku harus di undur minggu depan." kata Azriel menjelaskan pada mamanya.
"Kamu mau kerja dan ngga bilang sama mama? Kenapa kamu ngga izin sama mama?"
Azriel diam, menatap mamanya yang marah padanya karena tidak ada pembicaraan sebelumnya mengenai dirinya mau bekerja. Dan Azriel sengaja melakukan itu, dia sengaja ingin pergi tanpa mama dan papanya tahu. Apakah akan merasa kehilangan dengan tidak adanya dirinya di rumah selama berbulan-bulan.
"Aaah, akhirnya ketemu juga kamarnya. Selamat siii...ang?"
_
_
__ADS_1
**********