
"Sedang apa kalian?!" teriak ibu Nima yang tiba-tiba berdiri di dekat mereka dengan wajah penuh kekesalan.
Azriel melepas pelukan Qilla, begitu juga dengan gadis itu. Mereka duduk berjauhan ketika ibu Nima berdiri menatap mereka dengan tajam.
"Apa yang kalian lakukan?!" ibu Nima mengulang pertanyaannya.
"Kami hanya mengobrol bu." jawab Azriel.
"Mengobrol kok berpelukan, apa kalian melakukan sesuatu?" tanya ibu Nima lagi masih curiga dengan kedua remaja menginjak dewasa itu.
"Ngga bu, cuma pelukan doang." jawab Azriel lagi.
Dia takut nanti Qilla di marahi, lebih parahnya nanti dia tidak boleh bertemu dengan gadis yang baru beberapa menit jadi pacarnya.
"Ibu jangn jauh-jauh deh mikirnya, kami tadi pelukan aja kok." kata Qilla menepis prasangka ibunya.
"Huh, ibu lihat kalian tadi pelukan dan Azriel cium kamu. Apa kalian mulai pacaran?" tanya ibu Nima lagi.
"Iya bu, boleh ya? Aku pacarin anak ibu, heheh." ucap Azriel sambil cengengesan.
Qilla berdecih, tapi kemudian dia tersenyum miring dengan ucapan Azriel yang terang-terangan meminta izin pada ibunya menjadi pacarnya.
"Ish, baru juga kenal. Kok gampang banget mau pacarin anak ibu, kamu udah baikan belum sama mamamu?" tanya ibu Nima.
Azriel diam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya Qilla itu. Tapi dia benar-benar menyukai gadis itu, sejak di tolong sewaktu menabrak gerobak ciloknya dan kini Qilla terjatuh dari motornya sampai di rawat di rumah sakit.
Tiga bulan dia kenal Aqilla Kanaya Tsabita, gadis periang dan juga berani. Bahkan dia mau ikut gabung dalam geng motornya waktu itu.
"Nak Azriel, apa secepat itu kamu suka sama Qilla?" tanya ibu Nima lagi.
"Iya bu, aku beneran suka sama Qilla kok. Suer bu, aku ngga main-main." kata Azriel mengucap sumpah dengan mengacungkan dua tangannya.
"Ck, ya sudah. Kalau cuma sekedar pacaran saja, ibu tidak masalah. Tapi ingat ya, ibu tidak mau kalian macam-macam seperti tadi." kata ibu Nima mengingatkan kedua remaja itu.
Azriel tersenyum lalu mengangguk cepat. Dia menyalami tangan ibu Nima, dia senang ibu Nima mengizinkannya memacari anaknya.
"Terima kasih bu, aku akan jaga Qilla dengan baik." kata Azriel.
Ibu Nima diam saja, dia lalu melangkah pergi meninggalkan Azriel dan Qilla di ruang tamu. Qilla merasa lega ibunya pergi juga, sejak tadi dia gugup dan takut ibunya akan marah. Tapi dia merasa lucu mendengar tanggapan Azriel dengan kemarahan ibunya itu.
__ADS_1
"Eh, kamu enak banget sih nanggepin ucapan ibu tadi. Aku pikir ibu akan marah besar." kata Qilla.
"Ngga mungkin, tenang aja." kata Azriel.
Dia bergeser mendekat pada Qilla. Rasanya selalu saja ingin dekat dengan gadis itu, apa lagi cintanya di terima oleh gadis manis tersebut.
"Qilla?" ucap Azriel menatap lembut gadis itu.
"Apa?" tanya Qilla bingung sekaligus aneh pada Azriel.
Cup!
"Ish, kok kamu cium aku sih?" tanya Qilla kaget, kepalanya mundur karena terkejut dengan Azriel yang tiba-tiba mencium bibirnya.
"Heheh, gue gemes sama lo." ucap Azriel.
"Baru juga di wanti-wanti sama ibu, kamu kok nekat banget." ucap Qilla memerah wajahnya, tapi dia kesal juga.
"Heheh, tenang aja. Gue ngga akan bersikap jauh sama lo, gue cuma gemes aja sama wajah imut dan manis lo itu." kata Azriel.
"Udah ah, malu tahu. Jangan di ulangi lagi." kata Qilla.
"Ngga, tapi kalau kilaf gue ngga tahu deh. Heheh."
Azriel malah tertawa keras, dia senang menggoda Qilla. Saat ini dia senang menggoda gadis itu, menarik tubuh gadis yang sedang memerah wajahnya karena sikap Azriel yang beda dari biasanya. Azriel memeluk Qilla, mencium lagi kepalanya. Rasanya menyenangkan punya pacar, pikir Azriel.
"Emm, Ziel. Aku masih penasaran deh sama teman kamu itu." kata Qilla tiba-iba membuyarkan lamunan Azriel.
"Yaelah, udah sih jangan pikirin dia lagi. Gue masih trauma nih, waktu ngejar tuh motor dan akibatnya kita jatuh dan lo sampai luka parah. Gue merasa bersalah banget deh dengan kejadian itu." kata Azriel.
"Tapi aku masih penasaran Ziel, itu orang harus di tangkap sama polisi. Biar dia ngga mengedarkan barang haram itu lagi." kata Qilla lagi.
"Ya udah biarin urusan polisi, nanti juga ketangkep. Pasti ada yang laporin mereka itu, dan di penjara juga akhirnya." ucap Azriel.
"Mana bisa ketangkap kalau ngga ada laporan dari kita. Yang tahu kan aku sama kamu, kalau Jody temanmu itu adalah pengedar." kata Qilla lagi.
"Ya udah biarin." ucap Azriel.
"Biarin gimana? Ya jangan, harus di berantas Ziel. Nanti anak-anak bangsa bodoh, jadi rusak kan gara-gara dia. Kita ngga sengaja ikut andil dalam merusak anak bangsa itu karena membiarkan tuh si Dody mengedar narkoba dengan bebas." ucap Qilla lagi seperti penceramah.
__ADS_1
Azriel tersenyum, makin hari di mata laki-laki itu Qilla makin menggemaskan. Dia mncubit hidung gadis itu dan mengusap rambutnya.
"Terus, kita mau apa? Melaporkan dia ke polisi?" tanya Azriel.
"Emm, ya kita selidiki lagi. Aku masih penasaran sama mereka itu, kemana aja mereka mengedar barang-barang haram itu. Dan harus dapat buktinya, biar enak nanti kepolisian meringkus mereka." kata Qilla.
"Bukti gimana? Di rekam gitu?"
"Iya, ponselku ngga bisa rekam video dari jauh. Punya kamu aja, kan ponsel kamu udah canggih." kata Qilla lagi.
"Huh, jadi kita harus menyelidiki Jody dan teman-temannya lagi?"
"Iya."
"Kan ngga tahu dia kemana aja, lagian ya dia itu jarang ngumpul di geng motor."
"Ya di tunggu dia gabung lagi, aku yakin pasti deh mereka mau datang lagi. Soalnya ada juga kan temannya di geng motor itu? Dan ada tuh satu cewek yang kemarin joget juga sama si Jody, itu udah pasti dia kena juga. Jadi targetnya dia juga." ucap Qilla.
Ingatan Qilla sewaktu berkumpul dengan geng motor kelompok Dodit itu sangat jelas di kepalanya. Dia akan mendekati gadis yang waktu itu bersama Jody, dan dia memperhatikan gadis itu sepertinya memang sedang ngeplay. Mau saja di gerayangi tubuhnya oleh Jody, itu yang di ingat Qilla. Meski dia jijik juga sewaktu memperhatikan mereka.
"Ya udah, nanti kalau ada kumpulan lagi. Biasanya satu minggu sekali deh ada ketemuan, tapi gue takutnya malam hari. Lo mau malam hari mereka ngadain nongkrong bareng?"
"Ngga apa-apa, aku tetap ikut." ucap Qilla.
"Lo nekad Qilla."
"Biarin, aku lagi pengen jadi detektif nih. Heheh." ucap Qilla dengan tertawa kecilnya.
"Gue takut lo kenapa-kenapa Qilla, gue yang merasa bersalah. Kayak kemarin lo jatuh juga gara-gara gue dan lo terluka lagi." ucap Azriel dengan nada sedih.
"Aku yakin kali ini berhasil deh, di jamin aku ngga akan apa-apa. Kamu percaya ya, jangan sedih dan merasa bersalah itu." ucap Qilla menatap Azriel dengan senyum manisnya.
Azriel menarik napan panjang, kemudian tersenyum dan mengangguk. Dia yang awalnya hanya ikut-ikutan geng motor untuk mengalihkan perhatiannya pada kedua orang tuanya yang selalu saja bertengkar. Justru sekarang pacarnya, gadis penjual cilok itu malah mengikuti alur yang membahayakan dari geng motor tersebut.
"Qilla, bantu ibu sini!"
"Ya bu!"
_
__ADS_1
_
********