
Persiapan untuk pergi kerja di pulau sudah matang, Azriel tinggal menunggu keberangkatan saja oleh pihak perusahaan dan akan berangkat bersama pekerja lainnya yang sama juga perekrutan dengan Azriel.
Sejak pulang dari asrama Rania, Qilla banyak diam. Dia juga bahkan jarang menghubungi Azriel, membuat laki-laki itu heran kenapa Qilla jadi diam bahkan tidak meneleponnya jika bukan dia yang menelepon lebih dulu.
Azriel melajukan motornya menuju rumah Qilla malam ini, sebelum besok dia harus berangkat ke luar pulau untuk bekerja. Melaju kencang di tengah jalanan yang sudah tidak terlalu padat, dia meliukkan motornya menuju rumah pujaan hatinya.
Sengaja tidak memberitahu Qilla kalau malam ini dia akan datang untuk kejutan gadis itu. Di tengah jalan yang mulai sepi, ada tiga pengendara motor juga di belakang motor Azriel. Tiga motor yang datang berbeda arah itu kini tepat sekali di belakang motor laki-laki itu.
Awalnya dia tidak menyadari kalau tiga motor itu mengikutinya, tapi setelah dekat dan posisi jalanan lengang. Azriel menyadari kalau tiga motor itu mengikutinya.
"Sial, mereka pasti teman-teman Jody." gumam Azriel.
Dia melajukan motornya lebih cepat dan kencang agar bisa lepas dari kepungan ketiga motor yang mengikutinya. Tapi dua motor bisa cepat mengejarnya, satu di belakang berjarak sepuluh meter lebih lambat.
Azriel terus melaju, hingga di belokan ternyata sudah ada yang menghadangnya. Dia terkejut dan tiba-tiba menghentikan laju motornya, dan hampir terjatuh. Motor berhenti, Azriel menatap tajam pada kelima motor berpenumpang semuanya dua orang.
Hatinya berdebar karena dia sendirian di sana. Kelima penumpang motor itu semuanya turun, berdiri menatap tajam pada Azriel. Masih menggunakan helm, mereka satu persatu mendekat pada Azriel.
Azriel turun dari motornya, melepas helmnya menatap tajam pada kesepuluh orang yang berjalan mendekat padanya.
"Mau apa kalian?!" ucap Azriel masih dengan tatapan dinginnya.
"Kamu kan yang melaporkan Jody pada polisi?!" teriak salah satu orang dari sepuluh itu.
"Dia salah, mengedarkan barang terlarang! Dia pantas mendekam di penjara!" ucap Azriel lantang.
"Maka dari itu, kamu juga pantas mati!" ucap salah satunya.
Mereka semakin mendekat, nyali Azriel menciut ketika kesepuluh orang itu mendekat dan siap menyerangnya. Apa lagi dia tidak membawa apa pun untuk berjaga-jaga dan membela diri.
"Sial, kenapa mereka banyak sekali. Tidak mungkin aku mengalahkan mereka semua." gumam Azriel.
Dia pasang kuda-kuda agar bersiap jika dari salah satu atau dua menyerangnya. Matanya menyelidiki, siapa lebih dulu menyerangnya, apakah di bagian depan, samping kanan atau samping kiri. Dia bersiaga, mundur beberapa langkah.
"Hah, kamu akan mati di sini!" ucap salah satu yang jadi ketua.
__ADS_1
"Kalian akan di incar polisi jika membunuhku di sini!" ucap Azriel menguatkan nyalinya.
"Kami tidak peduli! Kami harus membalas dendam sama kamu!" ucapnya lagi.
"Awas kalian! Aku akan memanggil polisi!"
"Hahah! Sebelum kamu menghubungi polisi, mati lebih dulu kamu. Seraaaang!"
Teriakan satu ketua orang-orang itu pun membuat kesembilan temannya langsung menyerang Azriel. Azriel kalut, dia segera menendang dan memukul orang-orang yang mengerubutinya. Entah siapa yang kena, dan siapa yang lebih dulu tumbang.
Tapi yang jelas, Azriel terus melawan. Meski perlawanannya itu di tepis dari satu orang dan orang lainnya. Pukulan dan tendangan yang di arahkan Azriel itu terus menyerbunya. Pipi Azriel pun kena hantam juga, kali di tendang beberapa kali dan tubuh bagian punggung serta perut Azriel kena tendangan dan pukulan dari kesembilan orang yang mengeroyoknya.
Darah segar mengalir di bagian bibir dan juga pelipisnya. Salah satu orang mengeluarkan senjata tajam dan akan di arahkan di bagian perut Azriel yang sudah lemah.
Tiba-tiba ada mobil putih langsung menerjang beberapa orang yang mengerubut Azriel. Laki-laki itu sudah lemah dan jatuh bersimbah darah. Penumpang dalam mobil itu pun turun dan segera mengusir semua laki-laki yang menyerang Azriel.
Mereka menghajar dengan apa saja yang di pegangnya. Dan semua orang-orang yang menyerang dan mengeroyok Azriel itu bubar satu persatu menaiki motor dan pergi.
Laki-laki yang tadi di mobil salah satunya menghampiri Azriel. Dia sudah lemah dan banyak mengeluarkan darah, mata Azriel menatap lemah laki-laki yang menolongnya itu.
"Pa pa ....!"
"Azriel!"
_
Azriel sudah berada di ruangan kamar rumah sakit. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, selang infus dan juga oksigen menempel di tubuhnya. Bagian pelipisnya di perban, bibirnya yang robek di jahit. Perutnya juga di lilit perban karena ada bagian pinggangnya robek.
Seorang laki-laki duduk di sampingnya dengan lemah menunduk, menarik napas berat menatap anaknya yang masih terbujur di bangsal. Pakaiannya masih memakai baju putih ala dokter.
"Maafkan papa, Ziel." ucap laki-laki di depan anaknya itu.
Tangannya menyentuh tangan Azriel, kemudian berdiri.
Seorang perempuan masuk dengan wajah basah karena air mata. Dia langsung menubruk Azriel yang masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Azriel! Kenapa kamu seperti ini nak?!" teriak perempuan itu yang tak lain Sintya, mamanya.
"Dia di keroyok oleh orang-orang tak di kenal." kata Ryuzi di sampingnya.
"Ini pasti teman-teman geng motornya. Dia pasti marah sama Azriel." kata Sintya.
"Kenapa dia masih saja ikut-ikutan geng motor?" tanyq Ryuzi.
"Karena dia kecewa sama kamu!" ucap Sintya beralih menatap suaminya tajam.
"Heh, apa kamu juga tidak sadar kalau semua ini gara-gara kamu?!" ucap Ryuzi tak mau di salahkan oleh istrinya.
Sintya menatap tajam pada suaminya, menoleh kembali ke arah Azriel yang masih belum sadar.
"Aku seperti itu karena kamu juga! Kenapa aku saja yang selalu di salahkan? Aku kecewa karenamu, kamu selingkuh dan aku juga harus mencari balasan untukmu!" ucap Sintya.
"Heh, seharusnya kamu menjaga anak-anak. Jangan sampai Azriel seperti itu, ikut-ikutan geng motor, sering balapan liar. Itu karena kamu tidak memperhatikannya!" ucap Ryuzi.
Sintya diam, dia kembali menatap suaminya rasa kesalnya kembali memuncak.
"Lalu, ketika aku menjaga anak-anakku. Kamu enak-enakan selingkuh, begitu?" tanya Sintya lagi.
"Sudahlah, jangan membahas itu di depan Azriel. Dia sedang sakit, apa kamu tidak lihat anakmu sedang terbaring?" kata Ryuzi.
"Tidak bisa! Azriel begini juga gara-gara kamu, Ryuzi! Dia ikut-ikutan geng motor dan akhirnya dia di keroyokkan?" ucap Sintya meninggikan suaranya tanpa sadar karena emosi.
"Sintya!"
"Kalian berisik sekali! Apa ego kalian tidak bisa di tahan di depan anak kalian yang sedang sakit?!"
_
_
*********
__ADS_1