Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
33. Melihat Tomi Di Hadang


__ADS_3

Azriel dan Qilla sedang asyik duduk santai sambil makan bakso di depan rumah Qilla. Mereka mengobrol santai dan asyik, Azriel sendiri sudah senang mendengar berita dari pembantunya di rumah kalau sampai malam hari mamanya tidak keluar. Hanya papanya saja yang keluar di jam delapan malam, itu dia tahu juga kalau malam ini papanya ada jadwal operasi.


Qilla senang Azriel ceria lagi, dia sering menggoda Azriel dengan tebakan-tebakannya. Membuat laki-laki itu merasa bahagia tak terkira.


"Aku ngga sangka, kamu bisa juga goda aku." kata Azriel.


"Cuma buat kamu senang aja, ngga kayak tadi kamu murung terus." kata Qilla.


"Aku hanya cemas dengan keluargaku. Katamu aku ngga boleh melawan orang tua, aku sayang sama mereka." kata Azriel menyuap bulatan bakso yang terakhir kalinya.


"Semua anak harus sayang sama orang tuanya, karena kita lahir dari mereka. Sudah sepantasnya kita harus hormat dan sayang sama mereka." kata Qilla.


"Kamu dewasa banget sih, kok aku tambah cinta sama kamu." kata Azriel.


"Ish, aku besar dari keluarga pas-pasan. Jadi tahu keadaan ayahku bagaimana harus berjuang untukku yang harus tetap sekolah meski di desak kebutuhan hidup. Ayah dan ibuku berjuang membesarkan aku yang dulu itu sedikit bandel, tapi setelah sekolah SMA aku menyadari kalau perjuangan ayahku sangat berat agar aku bisa sekolah." kata Qilla.


"Jadi?"


"Jadi, kamu harus menghormati kedua orang tuamu dan menyayanginya." kata Qilla lagi.


Azriel tersenyum, dia membenarkan ucapan kekasihnya itu. Meski dia hidup dalam keadaan berkecukupan, ternyata kasih sayang yang kini mulai pudar dari orang tuanya karena kesenangan sendiri.


Lama mereka hanya duduk-duduk saja di teras rumah. Menikmati malam ini, karena besok lusa dia harus berangkat ke luar pulau.


_


Perjalanan menuju pulang setelah mengapel di rumah Qilla. Rencana jalan-jalan keluar malah tidak jadi karena gadisnya itu tidak mau keluar, malam kencan sederhana makan bakso keliling.


Azriel sangat senang hari ini, di lajukan motornya dengan santai. Sebelum berangkat ke luar pulau itu, dia harus mengajak jalan Qilla lagi. Memberinya sesuatu yang ingin mengikat dia nantinya, pikir Azriel.


"Aah, aku benar-benar cinta sama dia. Dia gadis yang manis dan baik." gumam Azriel.


Perjalanan pulangnya tanpa terasa kini hampir sampai di jalan kompleks rumahnya. Hari memang sudah malam larut, pukul sebelas malam dia baru pulang setelah di suruh pergi oleh gadisnya.


Dia terus melajukan motornya menyusuri jalanan sepi, dari jauh tampak ada sekelompok motor sedang menghadang satu motor. Motor Azriel hentikan, memperhatikan para pemotor yang menghadang satu motor dan entah siapa lagi mereka.


"Siapa mereka? Kenapa berani sekali di tempat seperti ini?" ucap Azriel.


Masih memperhatikan semua yang di depan, salah satu orang turun dari motor. Membawa kayu seperti pemukul bola tenis, hati Azriel ketar ketir. Dia juga turun dari motornya, tapi belum berani mendekat.

__ADS_1


"Katakan pada kelompok di Dodit itu! Jangan sok jagoan sama geng kita!" ucap laki-laki.


"Tapi, gue ngga ketemu dia lagi bang. Doditasih di penjara." ucap laki-laki kerah bajunya di tarik.


"Gue dengar besok dia bebas, dan menggerakkan gengnya. Dan gue dengar lo itu anak buahnya! Jadi, sebelum dia keluar dan mengajak gengnya itu menyerang kelompok gue. Gue harus ingatkan lo ya, kasih tahu si Dodit sialan itu!" ucapnya lagi.


Laki-laki yang tadi di cengkeram kerah bajunya itu hanya diam ketakutan. Mata laki-laki yang memegangi kerah baju itu masih melotot, mendorong dada yang dia tarik hingga pinggangnya mengenai motor.


Mata Azriel mengerut ketika bayang wajah yang dia kenal.


"Itu kan si Tomi, dia di ancam sama geng motor siapa? Tapi, kenapa dia sudah keluar dari penjara?" ucap Azriel lagi.


Dia ingin mendekat, tapi di tahan karena gerombolan geng motor itu hanya mengertak Tomi saja. Setelah Tomi dan satu temannya itu jatuh karena sempat di tendang juga, mereka pun pergi meninggalkan dua orang yang mereka ancam.


Setelah jauh, Azriel mendekati Tomi dan temannya. Dia hentikan motornya tepat di samping motor Tomi, laki-laki itu menoleh dan terkejut akan kehadiran Azriel. Tapi kemudian dia berdecak kesal.


"Gue tahu lo tadi lihatin gue di ancam mereka." kata Tomi menaiki motornya.


"Gue bahkan ngga tahu lo yang tadi di ancam. Kenapa mereka?" tanya Azriel.


"Ngancam Dodit, padahal dia belum keluar dari penjara." jawab Tomi.


"Gue dapat jaminan sama nyokap gue." jawab Tomi lagi.


"Lalu, masih bergaul sama geng motor Dodit?" tanya Azriel.


"Ya kan gue setia kawan, Ziel. Ngga kayak lo, lo kabur setelah semuanya di tangkap termasuk di Jody. Dan gue dengar lo ya yang laporin si Jody itu?" tanya Tomi.


Azriel diam, dia melihat jalalanan sudah sepi. Lalu menatap Tomi lagi, laki-laki itu yang selalu meremehkan dirinya justru nyalinya ciut setelah dapat ancaman ketika sedang sendiri.


"Gue juga pernah di ancam tuh sama teman-teman si Jody. Hampir gue mati di tusuk satu orang temannya, mereka ngga terima sama gue." kata Azriel.


"Lo sih, bikin semuanya runyam. Semua di tangkap polisi patroli malam itu, lha lo kemana waktu itu?" tanya Tomi.


"Gue kebelet, jadi pergi gue cari WC buat buang air." jawab Azriel berbohong.


Padahal waktu itu dia menghindar agar tidak tertangkap. Dan benar saja, waktunya sangat tepat. Azriel pergi selang beberapa menit semuanya di tangkap.


"Terus, lo mau kemana? Ini udah malam?" tanya Azriel.

__ADS_1


"Gue mau ketemu Chika, dia pengen ketemu gue." kata Tomi.


"Lo masih ngejar si Chika terus?" tanya Azriel.


"Dia lagi butuh gue."


"Butuh apa? Butuh di belai?"


"Haish, iyalah. Hahah!"


"Cih, sadar lo. Dia cewek banyak yang suka, duh tapi gue ngga suka dia sih. Kan lo yang suka." kata Azriel mencibir Tomi.


"Ck, gue sih siapa aja. Yang penting dia mau, termasuk cewek kampung lo itu." kata Tomi kembali meledek Azriel.


Bug!


Azriel memukul lengan Tomi keras, membuat laki-laki itu meringis dan kesal.


"Lo seleranya rendah banget sih, cewek kampung di pacari." ucap Tomi.


"Berisik lo! Lo hidup yang bener, jangan kayak gini terus. Sengsara lo nanti hidupnya." kata kata Azriel.


"Huh, lo jadi cowok baik sekarang?"


"Ngga rugi jadi cowok baik, lo mendingan tobat Tomi." kata Azriel lagi.


"Ck, bosan jadi cowok baik. Di tindas terus." kata Tomi lagi.


"Tom, kapan kita perginya? Dari tadi ngomong aja." ucap teman Tomim


"Iya, yuk cabut. Males gue ketemu cowok baik. Cuih!"


Tomi menaiki lagi motornya, di belakangnya satu temannya naik di belakang. Kemudian melajukan motornya dengan kencang meninggalkan Azriel sambil tanganya di acungkan jempolnya ke bawah pada Azriel.


"Kampret lo!"


_


_

__ADS_1


******


__ADS_2