Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
30. Dia Pacarmu?


__ADS_3

"Selamat siang ..." ucap Qilla berdiri di depan pintu, dia tidak tahu ada mamanya Azriel.


"Masuk, Qilla." kata Azriel.


Sintya melihat gadis yang memakai baju rok pendek, dengan penampilan sederhana. Membawa rantang di kedua tangannya sambil melirik Azriel dan menunduk takut.


Sintya mengerutkan dahinya, mengingat gadis di depannya itu pernah dia lihat sebelumnya. Azriel tahu mamanya kurang suka dengan gadis seperti Qilla, tapi dia tidak peduli. Yang penting dia memyukai gadis itu.


"Qilla, sini mendekat." kata Azriel.


Qilla mengangguk, dia berjalan pelan menuju bangsal Azriel. Sintya masih menatap heran dengan gadis yang tadi di panggil anaknya itu.


"Dia siapa Ziel?" tanya Sintya.


"Qilla ma." jawab Azriel.


Qilla berhenti dan berbalik ingin menyalami mamanya Azriel. Tapi laki-laki di bangsal itu memanggilnya lagi.


"Qilla, sini. Kenapa berhenti, kamu bawa apa?" tanya Azriel.


"Emm, ini makanan dari ibu." jawab Qilla ragu.


"Makanan apa itu, Ziel?" tanya Sintya.


"Jangan kepo deh ma, mama sering masak buat Azriel ngga?" tanya Azriel membuat perempuan itu diam, mendengus kesal dengan ucapan anaknya yang menyudutkannya itu.


Azriel membuka rantang yang di bawa Qilla, melihat isinya sangat menggugah selera. Dia langsung menyantap makanan yang ada di dalam rantang tersebut.


Sintya memperhatikan apa yang di lakukan anaknya itu. Kesal sekali, tapi jika bicara lagi dia akan di skak mat lagi.


"Kalian kenal di mana?" tanya Sintya.


Azriel mendongak pada mamanya, lalu beralih pada Qilla yang sejak tadi diam saja karena merasa tidak enak.


"Ma, jangan buat pacarku takut dengan tatapan mama yang sinis itu." kata Azriel.


"Pacar? Dia pacarmu?!" tanya Sintya kaget.


Menatap kaget pada anaknya, beralih pada Qilla yang masih diam dan menunduk malu. Azriel berdecak kesal dengan sikap mamanya itu.


"Dia pacarku ma." kata Azriel lagi menegaskan.


"Tapi ..., kenapa kamu bisa pacaran sama dia?" tanya Sintya lagi.

__ADS_1


"Memang kenapa? Yang perhatian saat ini sama aku cuma dia, mama dan papa hanya mrmikirkan diri sendiri. Seakan aku cuma beban bagi kalian." kata Azriel.


"Azriel!"


"Ziel, jangan gitu sama orang tuamu." kata Qilla.


"Sudahlah, jangan ganggu makan siangku. Sebaiknya mama ke asrama Rania aja, kasihan dia selalu menunggu mama menjenguknya. Memang kami sudah besar ma, tapi kami ini anak mama yang masih juga butuh perhatian mama dan papa. Tapi kalian hanya sibuk dengan urusan masing-masing, lupa dengan aku dan Rania." kata Azriel.


Sintya diam, dia melirik ke arah Qilla. Tangan gadis itu menyentuh lengan Azriel dan matanya memberi isyarat agar jangan mendebat mamanya lagi.


"Kamu sendiri, kenapa cari perhatian sama gadis lain?" tanya Sintya.


Azriel berhenti mengunyah makanannya, menatap mamanya yang sedang kesal karena posisinya di gantikan oleh gadis yang baru di kenalnya. Bahkan sudah di anggap pacarnya.


"Maafkan aku ma, mungkin ketika aku butuh perhatian mama. Mama malah senang-senang sendiri." kata Azriel lagi.


"Kenapa itu saja yang kamu bicarakan, Azriel? Mama terus yang di pojokkan? Papamu? Kamu bahkan tidak berani memojokkan papamu." kata Sintya lagi, merasa anaknya selalu saja memojokkan sikapnya selama ini.


Azriel menghentikan makannya, dia melihat Qilla berjalan keluar dari kamarnya. Dia tahu Qilla merasa tidak enak akan perdebatan yang selalu sama masalah keluarganya, apa lagi perselingkuhan mamanya.


"Ma, meski aku sudah besar. Tapi setidaknya kalian jangan membuat rumah jadi seperti neraka, selalu saja yang aku dengar papa dan mama saling menyalahkan. Tidak menganggap aku ada, Rania. Kami anak mama, kami sayang sama mama dan papa. Kalau yang aku dapatkan setiap kali pulang, selalu saja ribut dan ribut. Hatiku sedih ma, aku berontak karena aku sedih. Kenapa keluarga sederhana mereka rukun-rukun saja tapi papa dan mama selalu ribut terus. Aku capek ma mendengarnya." kata Azriel.


Sintya diam, dia menunduk lalu menarik napas panjang. Air matanya mengalir, lalu memeluk anaknya erat.


"Maafkan mama sayang? Mama janji akan berubah. Mama tidak tahu kalau hatimu terluka sayang." ucap Sintya.


"Minggu depan aku harus berangkat ke pulau ma." kata Azriel lagi.


"Jadi kamu benar-benar ingin kerja?" tanya Sintya.


"Ya ma, aku harus kerja." kata Azriel.


"Tapi kuliahmu?" tanya Sintya lagi.


"Entah nanti kapan aku teruskan lagi." jawab Azriel.


Keduanya diam, mata keduanya beralih pada gadis yang sejak tadi diam saja. Kini Qilla berdiri di depan pintu, masih ragu untuk masuk lagi ke dalam.


"Ziel, aku pulang ya." kata Qilla.


"Lho kok pulang? Aku belum selesai makan." kata Azriel.


"Ya sudah, mama yang keluar duluan. Mama akan ke asrama Rania, dia mungkin kangen sekali sama mama. Kalian ngobrol aja berdua." kata Sintya.

__ADS_1


"Makasih ma." kata Azriel kembali memeluk kembali Sintya.


Setelah selesai, Sintya langsung pergi tanpa bicara lagi pada Qilla. Gadis itu hanya tersenyum saja dengan kepergian mamanya Azriel.


"Sini kamu." kata Azriel melambaikan tangannya pada Qilla.


"Apa sih kamu." ucap Qilla senyum malu-malu.


"Aku kangen sama kamu." kata Azriel lagi.


"Tahu ah, kamu telepon aku tiba-tiba kok bilangnya ada di rumah sakit. Aku cemas, kamu ngga ada kabar mau berangkat ke pulau." kata Qilla matanya berkaca-kaca.


Azriel memeluk kekasihnya yang sedih karena melihat keadaannya. Sejak tadi dia ingin memeluk Qilla, tapi karena ada mamanya terpaksa dia menahannya.


"Malam aku mau ke rumahmu, tapi di tengah jalan malah di hadang sama teman-teman Jody. Gila banyak banget aku di keroyok sama mereka, untung papaku datang menolongku. Kalau ngga, mungkin aku sudah ngga bisa peluk kamu lagi." kata Azriel.


Qilla melepas pelukan Azriel, alisnya saling bertaut. Matanya menatap wajah ganteng pacarnya itu, lalu melihat pinggang yang di balut perban. Pelipis dan juga bibir yang sobek, tiba-tiba dia menangis membuat Azriel heran kenapa Qilla menangis.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Azriel menangkup wajah kekasihnya, menatapnya lembut dan menghapus air matanya.


"Aku hanya takut aja kamu kenapa-kenapa." jawab Qilla.


"Aku ngga apa-apa, ada waktu satu minggu untuk istirahat. Nanti sebelum aku berangkat ke luar pulau kita jalan ya." kata Azriel.


"Lho, jadi kesananya?"


"Iya, kan aku udah bilang. Mau nikahin kamu setelah dapat kerja tetap dan menghasilkan uang." kata Azriel tersenyum manis.


"Ish, ngga semudah itu menikah Ziel. Menikah itu harus ada persetujuan kedua orang tua, ngga asal nikah aja." kata Qilla.


"Aku tahu." kata Azriel.


Dia memeluk lagi gadis pujaan hatinya, dia tahu kalau mamanya tadi belum sepenuhnya menerima Qilla sebagai pacarnya. Maka dari itu, dia akan bekerja sebaik mungkin. Agar nantinya bisa meyakinkan kedua orang tuanya agar bisa menerima Qilla sebagai menantunya kelak.


Pikiran Azriel sudah jauh ke depan, bukan lagi sebagai remaja menginjak dewasa hanya ingin bersenang-senang di masa mudanya. Mungkin terlalu dini berpikir seperti itu, tapi itulah pikiran Azriel. Meski kedua orang tuanya orang yang mampu, dia tidak mau bergantung dengan kekayaan papa dan mamanya.


Baginya, hidupnya adalah miliknya dan juga kelak perempuan yang akan mendampinginya sampai tua nanti.


"Kamu mau menikah denganku?"


"Eh? Menikah?"


_

__ADS_1


_


*********


__ADS_2