
Jody dan teman-temannya sudah di tangkap dan berkas laporannya sudah masuk pengadilan. Tidak ada yang menyangka jika yang melaporkan Jody dan teman-temannya adalah Azriel satu geng motor dengan Dodit.
Kini semua geng motor Dodit juga di periksa apakah mereka juga menggunakan narkoba atau hanya memang melakukan balap liar saja. Yang Azriel tahu, memang Dodit dan Tomi tidak menggunakan barang haram tersebut.
Tapi mereka tahu kegiatan Jody selama ini, makanya jika ada pesta minuman keras dan mabuk-mabukan itu yang membiayai adalah Jody sebagai tutup mulut kalau setiap kegiatan mereka selalu aman dari incaran polisi. Meski kepolisian mencurigai Jody adalah pengedar.
Hari ini Azriel akan pergi kencan dengan Qilla, gadis yang sudah dia pacari dua bulan lalu. Dia berdandan rapi tidak seperti biasanya, memakai jaket seperti biasanya, dia akan menaiki motornya yang sudah kembali setelah penangkapan Jody minggu lalu.
Hampir saja motor itu di jual oleh anak buah Jody, dan masih bisa di selamatkan karena sedang tertangkap tangan oleh polisi. Azriel keluar dari kamarnya dengan senyum ceria, tidak melihat ada yang memperhatikannya.
"Azriel, kamu mau kemana?" tanya Sintya, mamanya yang kebetulan ada di rumah.
"Mau kencan." jawab Azriel.
"Kencan? Kamu udah punya pacar?" tanya Sintya menyelidik.
"Ck, jangan curiga begitu. Aku berhak menikmati hidup bahagia, seperti mama dan papa yang mencari kebahagiaan di luar sana. Aku pun sama." jawab Azriel agak kesal.
Sintya diam, dia menatap anaknya ada raut wajah berbeda. Yang biasanya selalu penuh kekesalan, kini memang tampak ceria.
"Siapa pacarmu? Apa dia gadis kampus atau anak dokter siapa? Atau jangan-jangan gadis itu?!" Sintya memberondong pertanyaan pada anaknya.
"Udah deh ma, jangan mancing Azriel ribut lagi sama mama. Ngga penting dia anak siapa, yang penting aku senang dan bahagia pacaran sama dia." kata Azriel langsung pergi meninggalkan mamanya yang masih diam.
"Ish, Azriel!" ucap Sintya.
Dia masuk lagi ke dalam kamarnya dengan penuh kejengkelan karena di tinggalkan oleh anaknya, sedangkan Azriel sudah menaiki motor kesayangannya dan langsung melajukannya keluar rumah. Dia melajukan kencang agar sampai di rumah Qilla.
Tidak sabar ingin bertemu gadis itu setelah beberapa hari tidak ketemu. Di samping juga dia ingin jalan-jalan setelah penangkapan itu. Sepanjang jalan, laki-laki itu selalu berdendang. Membayangkan kencan yang indah dan romantis, dia akan mengajak Qilla nonton film di bioskop dan juga jalan-jalan sekitar tempat tongkrongan anak muda.
Dia juga akan membeilak Qilla ponsel baru, karena ponsel gadis itu di ambil oleh anak buah Jody dan entah di buang di mana. Lagi pula, ponsel Qilla sudah lama dan merek jadul yang sekarang sudah tidak berproduksi lagi.
__ADS_1
Di belokkannya motor memasuki wilayah jalan kampung di mana rumah tinggal Qilla. Wajah ceria dan senangnya membuat hatinya tidak sabar bertemu dengan gadis pujaan hatinya. Meski sering bertemu, tapi entah kenapa saat ini dia deg-degan akan bertemu Qilla.
Sampai di rumah Qilla, ternyata gadis itu sudah siap dengan baju celana jeans dan juga kaosnya. Rambutnya di kuncir kuda, dengan polesan wajah natural tapi dia sangat cantik. Meski penampilan Qilla biasa, gadis itu tampak manis dan cantik di mata Azriel.
Sampai laki-laki itu diam terpaku menatap gadis pujaannya. Matanya berkedip jantungnya masih berdetak kencang karena Qilla tersenyum manis padanya. Azriel menghampirinya dan membalas senyuman manis pujaan hatinya itu.
"Yuk berangkat." kata Azriel.
"Pamit dulu sama ibu." ucap Qilla berbalik, tapi di tahan sama Azriel tangannya.
"Biar aku aja yang pamit sama ibu." kata Azriel.
Dia langsung melangkah masuk ke dalam rumah Qilla. Masuk lebih dalam
_
Motor Azriel melaju pelan, dia menikmati malam dengan jalan-jalan menaiki motor bersama Qilla. Gadis di belakangnya memeluk dengan erat, keduanya sangat bahagia bisa jalan santai tanpa harus memikirkan geng motor. Karena teman-teman geng motor Azriel sudah di tangkap.
"Nonton film." jawab Azriel.
"Nonton film apa?" tanya Qilla lagi.
"Terserah aja, di sana ada banyak film di putar di bioskop. Kamu mau nonton film apa?" tanya Azriel.
"Emm, aku suka film detektif itu lho. Kayak film James Bond 007, seru sih filmnya." jawab Qilla.
"Tapi sekarang yang main bukan Pierce Bronsan lagi, kurang seru. Yang main Daniel Criag, tapi lebih menantang. Banyak actionnya sih." kata Azriel.
"Kamu banyak tahu ya film James Bond, aku tahunya cuma yang sering di putar di chanel televisi aja. Daniel Craig, Pierce Brosnan, Roger Moore itu yang aku tahu. Semua film James Bond aku suka." kata Qilla.
"Hemm, mau jadi detektif?" tanya Azriel memasuki area parkir kawasan mall terbesar.
__ADS_1
"Ngga, cuma senang aja kalau film tentang detektif. Kemarin aja menyelidiki temanmu itu, takut sih sebenarnya. Tapi penasaran, pengen gitu memecahkan kasus kayak gitu. Apa lagi di tangkap dan di sekap, waah rasanya seperti di film-film. Heheh." ucap Qilla penuh kesenangan dan kebanggaan.
"Hemm, ngayal aja terus. Udah yuk masuk, kita nonton film Indonesia horor aja. Aku suka film horor." kata Azriel menggandeng tangan Qilla.
Mereka memasuki mall dari pintu belakang, menaiki eksalator menuju lantai tiga di mana gedung bioskop berada. Suasana sangat ramai dengan pasangan kekasih yang sama juga mau menonton film yang mau di putar.
Karena malam ini adalah malam Minggu, di mana para pasangan muda berkencan seperti Azriel dan Qilla.
Qilla sendiri ini kali kedua dia mau masuk gedung bioskop, dulu pernah dia nonton film dengan teman-teman SMAnya dulu. Tiga tahun lalu, dan sejak lulus sekolah menengah atas itu dia langsung berjualan cilok keliling menggantikan ayahnya.
"Kita beli tiket dulu." kata Azriel membawa Qilla membeli tiket.
"Aku lapar." kata Qilla.
"Lapar? Kenapa ngga dari tadi bilangnya? Kan bisa makan dulu sebelum nonton film. Ini udah di beli tiketnya." kata Azriel.
"Ya udah, beli roti aja. Buat ganjal perut dulu." kata Qilla.
"Ya udah, tunggu di sini." kata Azriel.
Dia melangkah pergi meninggalkan Qilla. Gadis itu pun duduk di bangku kecil, menunggu Azriel membeli roti dan minuman untuknya. Memperhatikan setiap pasangan yang sedang mengobrol, ada juga yang bercanda manja pada pasangannya.
Matanya berkeliling setiap sudut luar bioskop, ada juga petugas pemeriksaan tiket di depan. Sangat cantik dan seksi penampilannya, mungkin itu tuntutan pekerjaan memakai baju lumayan ketat. Kembali matanya menyapu sekeliling, hingga matanya tertuju pada seorang perempuan berumur tapi masih cantik dan energik.
Dia duduk sendirian sambil memegang ponselnya, mengetik sesuatu. Mata Qilla melebar ketika tahu siapa perempuan cantik berumur itu, dan kepala perempuan tersebut mendongak ketika seorang laki-laki muda seusia anaknya datang menghampiri.
"Itukan ..., mama Azriel?"
_
_
__ADS_1
********