
"Mau kemana lo? Tunggu dulu!"
Suara teriakan satu orang di jembatan itu menarik perhatian dari empat orang temannya. Salah satunya sedang mendekati semak yang dekat dengan jembatan, dia curiga kenapa setiap kali melihat ke arah tempat itu selalu bergerak dan seperti ada sesuatu.
"Woi! Mau kemana lo?!" teriak temannya.
"Bentar, gue lihat di semak-semak itu ada yang gerak-gerak." katanya mendekat terus ke arah semak-semak di mana Qilla dan Azriel berada.
Azriel dan Qilla mundur dan mencari tempat sembunyi agar orang yang mendekat itu tidak melihat keberadaan mereka.
"Cepat sembunyi, tuh cowok ada yang curiga tempat ini." kata Azriel.
Dia menarik tangan Qilla cepat, bersembunyi di balik pohon agak jauh. Ketika tadi ada temannya Jody itu mendekat dan menyibak semak-semak itu, ternyata tidak ada orang di sana karena Qilla dan Azriel langsung menjauh.
"Tadi gue lihat ada yang gerak-gerak kayak orang, kok ngga ada ya? Apa cuma kucing lewat aja dan lagi kebelet di sini." ucapnya melihat sekeliling yang tampak gelap.
Meoong!
Suara kucing itu menguatkan dugaan laki-laki yang curiga tadi. Dia lalu tersenyum miring, dan berjalan meninggalkan tempat itu. Qilla dan Azriel lega, mereka keluar lagi dari persembunyian tadi.
"Untung saja lo tadi niru suara kucing." ucap Azriel.
"Ya, dia kan nyangka di sini ada kucing." jawab Qilla.
Mereka pun masih memperhatikan lima orang yang sedang bertransaksi di jembatan itu. Lama mereka mengobrol dan tawar menawar, hingga sang targetpun mau tidak mau menyetujui Jody membeli barang yang di sodorkan teman Jody itu.
"Oke gue beli. Karena gue butuh, berapapun gue bayar." kata laki-laki itu.
"Nah gitu dong, kan sama-sama enak. Gue dapat duit, lo dapat kesenangan. Hahah!" ucap teman Jody itu.
Mereka pun ikut tertawa, mereka masih belum sadar kalau masih di awasi oleh Qilla dan Azriel di tempat tak jauh dari jembatan itu.
"Sayang banget gelap sih ya tempatnya, kalau ngga gelap aku pasti merekam mereka." ucap Qilla.
Azeiel diam saja, sejak tadi dia memang tidak merekam video. Tapi merekam suara agar nanti untuk barang bukti jika memang teman-temannya ketahuan menjual barang terlarang itu.
"Udah yuk kita pulang, udah malam ini." kata Azriel.
"Ya udah, yuk. Aku juga lapar nih." kata Qilla.
Mereka pun pergi dari tempat semula, dengan berjalan cepat menuju motor Azriel. Setelah sampai keduanya bergegas naik motor dan Azriel melajukannya cepat. Suasana sudah sepi, meski masih jam sembilan malam. Tapi di kompleks sudah sepi sekali jalanan.
Azriel melajukan kencang motornya, agar cepat sampai di warung makan untuk makan malam yang sudah terlewat.
"Lo mau makan apa?" tanya Azriel.
__ADS_1
"Nasi bebek." jawab Qilla.
"Lo tahu tempatnya?" tanya Azriel masih mengendari kencang motornya.
"Ngga, aku ngga pernah keluyuran malam ke kota." jawab Qilla.
"Ya udah, gue cari tempat makan pinggir jalan aja. Gue juga laper banget nih." ucap Azriel.
Keduanya diam, motor masih melaju kencang. Pandangan Qilla mengarah pada sebuah motor yang tadi di ikutinya, dia menunjuk pada Azriel.
"Ziel, itu kan motor yang tadi kita ikuti?" tanya Qilla.
"Iya, udah biarin aja." kata Azriel.
"Ikuti lagi aja, siapa tahu mereka mau transaksi lagi." kata Qilla lagi.
Azriel pun menurut, dia mengikuti motor yang tadi bertransaksi di jembatan itu. Motor tersebut melaju kencang, begitu juga dengan Azriel. Meski agak jauh untuk menjaga jarak, tapi tetap saja laju motor Azriel kencang sekali.
Motor terus melaju kencang, Azriel membayangkan di jalanan sepi itu dia seperti seorang pembalap profesional yang siap mengalahkan lawan di depannya. Melaju kencang dengan gaya seperti pembalap Italia Valentino Rossi, hingga dia tidak sadar kalau motornya juga terserempet kendaraan lain.
Tiba-tiba keadaan tidak seimbang, Qilla memegang pinggang Azriel sangat erat. Laki-laki itu oleng keseimbangannya dan motornya lari entah kemana.
"Aaaaargh, Azriel gimana ini!" ucap Qilla memejamkan matanya.
"Ngga tahu ini, aaargh!"
"Qilla!" teriak Azriel.
Dia bangkit dari jatuhnya dan segera mendekat pada Qilla yang terjepit kakinya di motor. Dengan cepat dia mendirikan motornya, di bantu beberapa orang jualan di pinggir jalan. Azriel melihat Qilla sudah tak sadarkan diri.
Dia panik karena Qilla jatuh dan tertindih motor kakinya. Dia meminta pada orang-orang di sana untuk menelepon ambulans.
"Pak, tolong teman saya. Dia pingsan juga, panggilkan ambulans." kata Azriel dengan mulut gemetar.
Dia memeluk Qilla, memegangi dadanya apakah detak jantung gadis itu masih berdetak atau tidak. Tapi dia merasa lega karena gadis itu masih berdetak jantungnya.
Tak lama suara ambulans datang menghampiri, di barengi dengan mobil polisi untuk mengamankan motor Azriel. Azriel dan Qilla segera di bawa ke rumah sakit untuk di tangani. Azriel merasa bersalah karena melajukan motornya sangat kencang, dia pasti akan di tanyakan oleh polisi tentang berkendara di jalanan dengan kencang sekali.
Mobil ambulans sampai di rumah sakit terdekat, mereka langsung membawa Qilla dan Azriel ke UGD untuk segera di tangani cepat. Kecelakaan itu terjadi karena kelalaian Azriel juga, dia mengejar motor Jody dengan cepat. Hingga tidak tahu ada motor menyalip dengan kencang dan dia terserempet.
Dua jam Qilla di tangani oleh dokter di IGD, kemudian selesai dan langsung di bawa ke ruangan rawat inap. Azriel bertanggung jawab penuh dengan kecelakaan yang menimpa Qilla itu. Dia sendiri juga sudah di obati dan di tangani oleh dokter, tapi lukanya tidak terlalu parah.
"Di mana anakku?" tanya ibu Nima yang baru tiba di rumah sakit itu.
"Sudah di bawa ke kamar inap bu." jawab Azriel.
__ADS_1
Dia memberitahu ibunya Qilla langsung setelah di bawa ke rumah sakit. Dia merasa bersalah, ibu Nima menuju kamar inap di mana Qilla di rawat. Azriel mengikuti ibu Nima menuju kamar Qilla.
Sesampainya di kamar itu, tampak Qilla sudah sadar dari pingsannya. Ibunya menghampiri dengan wajah cemas.
"Kenapa bisa begini Qilla?" tanya ibu Nima meraba setiap perban yang menempel di lengan dan kakinya.
"Ngga apa-apa bu, cuma lecet aja kok." jawab Qila melirik ke arah Azriel yang sedang menunduk karena merasa bersalah.
"Bagaimana tidak apa-apa, lukamu banyak. Kenapa kalian tidak cepat pulang? Seharusnya cepat pulang ke rumah, dan kamu lagi kenapa bawa anak ibu pergi lama sekali?!" tanya ibu Nima beralih pada Azriel.
Azriel hanya menunduk saja, laki-laki itu sangat bersalah dengan kejadian yang menimpa Qilla.
"Maafkan saya bu, saya salah tidak langsung pulang ke rumah." kata Azriel.
"Bu, udahlah. Ini juga Qilla yang minta kok." kata Qilla menenangkan ibunya.
"Setelah pulang dari rumah sakit, kamu harus di urut sama mbok Sum." kata ibu Nima.
"Iya." kata Qilla.
Ibu Nima masih kesal sekaligus khawatir, dia melihat Azriel masih diam di tempatnya. Melangkah mendekat pada laki-laki itu dan mengajaknya duduk.
"Duduklah, kamu pasti sakit juga." kata ibu Nima melihat perban di kepala Azriel.
"Aku ngga apa-apa bu, ini sudah biasa kok." kata Azriel.
"Ck, sudah duduk saja. Maaf kalau ibu marah sama kamu, seharusnya kalian cepat pulang kalau sudah malam. Jangan keluyuran terus, apa orang tuamu tahu?" tanya ibu Nima.
"Belum, tapi sebentar lagi tahu kok bu." jawab Azriel.
"Ibu langsung kesini tanpa bawa apa-apa, ibu cemas dapat telepon dari Qilla. Tapi kamu yang ngomong Qilla kecelakaan." kata ibu Nima.
"Iya bu, maaf sekali lagi. Saya akan tanggung jawab dengan biaya rumah sakit Qilla, ibu jangan khawatir." kata Azriel.
"Ya harus, lha kamu kok yang bawa anak ibu. Harus tanggung jawab." kata ibu Nima lagi.
Azriel tersenyum tipis, dia melihat Qilla memandanginya terus. Tapi kemudian dia membuang ke arah lain.
Malam semakin larut, ketiganya pun masih berada di kamar inap Qilla. Perawat memberi saran agar Azriel juga di rawat di rumah sakit, tapi laki-laki itu tidak mau. Dia yang akan menjaga Qilla selama di rawat di rumah sakit bergantian dengan ibu Nima.
"Ziel, kamu di sini? Mama cari kemana-mana."
_
_
__ADS_1
********