
Pertandingan balap liar itu benar-benar sangat menegangkan, banyak yang tertinggang dari juara balap liar yaitu Doni. Sang juara dari beberapa kali balapan liar ketika di gelar oleh para geng motor itu.
Azriel sendiri hanya menikmati balapan itu saja, tidak antusias ingin menang dari balapan tersebut. Aneh memang, ketika semua teman-teman geng motornya ingin menjadi yang terbaik. Tapi bagi Azriel tidak, dia hanya ingin ikut-ikutan balap dan menikmati lintasan yang tidak begitu bagus untuk balap sesungguhnya.
Tujuan ikut balapan liar itu atas dasar rasa kecewa dan sakit hati karena kedua orang tuanya yang mementingkan diri sendiri.
Di putaran kedua, sempat terjadi pertarungan sengit antara Doni dan beberapa pembalap lain yang ingin memenangkan dan mengalahkan Doni sang juara balap liar itu.
"Waah, seru juga ya menonton balap mptor seperti ini. kayak di luar negeri rasanya, pemain terkenal Italia. Valentino Rossi." ucap Qilla menyaksikan balap liar itu.
Dia melihat motor Azriel tidak terlalu kencang untuk mengejar, rasanya gregetan juga Qill kenapa Azriel tidak berusaha mengejar lawan-lawannya dan terlihat santai mengendarai motornya tanpa mau bersaing dengan yang lainnya.
"Ish, payah dia. Kenapa laju motornya lambat begitu sih? Apa dia memang dia payah atau sedang ada pikiran dengan kedua orang tuanya ya?" ucap Qilla masih memperhatikan motor Azriel yang melaju lambat sekali.
Para penonton terus bersorak mengelukan nama Doni yang berada paling depan. Mereka berharap idola geng motor itu segera memenangkan pertandingan balap motor.
"Ayo Doni! Kamu juaranya!"
Teriakan demi teriakan pada Doni sang idola para gadis-gadis yang menonton itu terus saja menggema di area lintasan. Qilla hanya mencibir saja, dia sendiri tidak tahu yang mana bernama Doni itu. Tapi dia mengira pasti motor yang melaju kencang di depan para lawan-lawannya.
Wuuusss! Wuuuss! Wuuss! Ngeeeengg! Ngeeengg! Ngeeeengg!
Satu persatu melaju melewati lintasan terakhir, Azriel pun juga melewati lintasan terakhir. Tak sadar Qilla bersorak melihat motor Azriel melintas cepat menuju garis finish, bersaing dengan beberapa pembalap lainnya. Dia berteriak keras sekali memberi semangat pada Azriel.
"Azriel! Cepat yang kencang lajunya, kamu pasti menaaang!" teriak Qilla dengan berdiri dan mengangkat tangannya.
Teriakan Qilla membuat beberapa penonton merasa heran, siapa yang meneriaki pembalap motor itu. Tatapan-tatapan heran pada Qilla, bahkan ada juga tatapan sinis dan berbisik-bisik.
"Siapa sih cewek itu? Kenapa dia teriak-teriak nama pembalap di sana?" tanya salah satu gadin penonton di sebelah kanan Qilla.
"Ngga tahu, dia cewek cupu kelihatannya. Tuh lihat penampilannya aja kayak gitu, eh malah mengidolakan pembalap di sana. Apa ngga salah tuh?"
"Iya, padahal yang ikut balapan itu keren-keren lho. Tapi masa ada yang bawa cewek kayak dia?" tanya teman satunya.
__ADS_1
"Udah biarin aja, dia mungkin penggemar rahasia dari cowok pembalap itu. Heh, mana berani dia deketinnya." ucap teman satunya lagi.
Cibiran demi cibiran keluar dari penonton di sebelah kanan Qilla. Dia tahu banyak yang sangsi dengan penampilannya kalau dia teman dari Azriel, salah satu pembalap itu.
"Cuih! Mentang-mentang penampilan kalian bagus, meremehkan aku." ucap Qilla.
Dia pun duduk kembali, setelah mendengar sindiran dan cibiran dari penonton lain. Dia sendiri merasa aneh kenapa meneriaki Azriel agar melaju kencang di lintasan.
Di ambilnya permen karet yang dia bawa di tasnya, mengunyahnya cepat. Membuat balon-balon di mulutnya, pandanganya mengedar ke semua tempat tribun. Dia melihat satu persatu para penonton, banyak juga penonton gadis-gadis. Tapi yang laki-laki banyak ikut menonton.
Mata Qilla berhenti pada dua orang yang berpakaian hitam-hitam. Mereka berbisik dan seperti sedang bernegosiasi. Pandangan mereka mengedar, ketika menatap Qilla. Gadis itu menoleh ke depan lagi agar tidak di curigai kalau dia sedang memperhatikan dua orang anggota geng motor.
"Emang di sini aman kita buat transaksi?" tanya teman geng motor.
"Aman, ngga ada yang tahu kok. Mereka semua fokus dengan balapan di depan, udah sih mana barangnya?" tanya satunya yang memakai jaket kulit hitam.
"Tapi lo harus jaga baik-baik, gue ngga mau nantu ketahuan sama yang lain. Dodit juga ngga tahu nih, bisnis gue sekarang." kata satunya.
"Ke anak SMA, ada tuh mereka juga suka pakai."
"Anak SMA?"
"Iya, kenapa?"
"Emang mereka punya duit?"
"Yaelah, kan mereka bisa cari duit dengan segala cara. Kasih contoh cari duit yang cepat biar bisa dapatin barang dari kita." kata teman jaket cokelat.
"Oh, gitu. Oke, gue dapat berapa nih?" tanyanya lagi.
"Kalau lo bisa jual seratus gram, bayaran lo bisa dua jutaan dalam sekejap." jawab laki-laki berjaket cokelat.
"Waah, menarik nih. Gue bisa dapat uang banyak kalau gitu."
__ADS_1
"Iya, makanya. Lo harus bisa dapat pelanggan biar uang lo juga bisa dapat banyak."
"Oke, gue mau." ucap laki-laki berjaket hitam itu dengan senangnya.
"Siip, sekarang baru setengahnya aja dulu. Gue kasih lo tanda kepercayaan, kalau berhasil nanti gue tambahin lagi." kata temannya lagi.
Percakapan itu terus berlanjut, membuat Qilla heran dan penasaran apa yang mereka bicarakan. Sesekali dia melirik ke arah dua orang yang sedang mengobrol serius tapi mencurigakan. Seakan jiwa detektif Qilla muncul ketika ada obrolan atau sesuatu yang aneh baginya.
"Apa yang mereka bicarakan? Barang apa yang di jual mereka? Transaksi apa?" gumam Qilla masih menajamkan telinganya untuk mendengar apa saja yang di bicarakan.
Tapi rupanya pembicaraan mereka selesai, bahkan mereka melihat sekeliling tribun. Memastikan tidak ada yang mencurigakan dengan apa yang mereka lakukan saat itu.
Qilla melirik lagi, tepat ketika dua anggota geng motor itu mengeluarkan sebuah plastik berbungkus kertas di dalamnya. Dahi Qilla mengerut, bungkusan yang sangat familiar di ingatan Qilla.
Jiwa penasarannya pun muncul, apa yang mereka pegang itu. Bahkan di potret oleh salah satu temannya, kembali telinganya menajam untuk memastikan kecurigaannya di hati.
"Ini gue simpan dulu, nanti gue kabarin lo kalau ini sudah laku sama target gue." kata laki-laki berbaju cokelat.
"Beres, gue tunggu kabar dari lo. Telepon langsung aja, nanti kita ketemuan di mana." kata laki-laki berbaju jaket kulit hitam.
"Siip. Gue cabut ya."
"Oke."
Keduanya berjabat tangan ala laki-laki, laki-laki berbaju cokelat berdiri dan pergi meninggalkan temannya itu. Qilla menoleh ke arah laki-laki yang berjaket hitam, dan tak sengaja mata mereka menubruk. Qilla buru-buru mengalihkan pandangannya, dia tidak sadar kalau pertandingan balapan itu telah usai.
"Yeaaa! nomor sembilan menang!"
_
_
**********
__ADS_1