
Rania senang mamanya Sintya menjenguknya di asrama. Dia juga senang kakaknya bisa memberitahu mamanya untuk datang ke asrama menjenguknya, meski hanya sebentar saja.
Sedangkan Azriel, sudah pulih beberapa hari setelah di rawat di rumah sakit. Dia sudah kembali ke rumahnya, bisa tinggal dengan tenang sebelum pergi bekeria di luar pulau.
Sore ini niatnya mau pergi ke rumah Qilla, berniat akan mengajak jalan-jalan gadis pujaan hatinya. Sudah siap dengan baju terbaiknya tak lupa juga dengan jaket dia kenakan sebagai pelengkap penampilannya. Kunci motor dia ambil dan segera keluar dari dalam kamarnya.
Tampak sepi rumahnya, karena mamanya belum kembali dari butiknya. Katanya banyak sekali pesanan dari pelanggan yang akan mengadakan resepsi pernikahan, jadi Sintya sibuk dengan pekerjaannya sebagai desainer di butiknya sendiri.
Azriel keluar dari rumah, tampak mobil papanya nemasuki halaman rumah. Laki-laki itu berhenti di depan pintu, menatap papanya yang keluar dari dalam mobil.
Langkah cepat laki-laki berkacamata itu mendekat pada Azriel, menatap anak lelakinya yang sudah siap pergi kencan dengan Qilla.
"Papa pulang sore? Tumben?" tanya Azriel mengerutkan dahinya.
"Papq istirahat dulu, malam ini ada lemburan di rumah sakit. Ada istri pejabat yang mau di operasi tapi minta waktunya malam, jadi papa istirahat di rumah saja. Jam delapan papa harus berangkat lagi." kata Ryuzi langsung masuk ke dalam rumah dengan tentengan tasnya.
Aziel menarik napas panjang, sepertinya papanya sudah mulai pulang lebih awal. Dia pun melangkah menuju garasi mengambil motornya. Menyiapkan dua helm untuknya dan Qilla, senyumnya mengembang ketika membayangkan gadis pujaan hatinya menunggu di depan rumahnya.
Tanpa menunggu lama lagi, Azriel melajukan motornya keluar dari halaman rumahnya. Melaju dengan kencang menuju rumah Qilla yang ada di kampung pinggiran kotanya. Sangat tenang di kampung Qilla, meski pinggiran kota.
Jalanan mulai padat oleh kendaraan yang lalu lalang, para karyawan kantor sudah mulai membubarkan diri dari tempat kerjanya. Jadi, setiap sore akan terasa padat dan kadang juga macet di beberapa ruas jalan. Apa lagi di lampu merah, pengaturan lalu lintas di jam padat memang di perlukan, agar tidak terjadi kecelakaan.
Motor Azriel membelokkan ke arah jalan menuju kampung Qilla. Di sana sudah mulai terurai kendaraan, tapi mata Azriel menyorot sebuah mobil yang dia kenal. Rasa penasarannya terusik, dia parkirkan motornya agak jauh dari mobil milik mamanya.
"Kenapa mobil mama ada di tempat itu?" gumam Azriel.
Dia turun dari motornya, di lihatnya plang depan gedung di mana sebuah gedung tempat hiburan berada. Azriel mendekat, dia melihat ada penjaga seperti bodyguard.
"Anda mau apa bos?" tanya bodyguard menghalang Azriel masuk.
"Gue mau ketemu orang di dalam." jawab Azriel bohong.
"Siapa bos?"
__ADS_1
"Ck, ngga perlu tahu. Privasi!" ucap Azriel lagi.
Dua bodyguard itu saling pandang, kemudian menggeser badan kekarnya agar Azriel masuk ke dalam. Dia pun masuk, dia berjalan menyusuri lorong gelap sampai tembus ke ruangan bising dan juga banyak sekali para laki-laki dan perempuan sedang menikmati musik enerjik.
Azriel mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, sampai pada di sebuah ruangan yang ada meja besar dan beberapa kursi di isi oleh orang-orang yang sedang bermain kartu remi.
"Apa mama main kesini? Tidak ada di sini, tapi mobilnya ada di depan." ucap Azriel.
Dia terus berjalan melewati orang-orang penikmati musik. Kadang dia juga di hampiri perempuan penghibur, tapi dia memberi isyarat dengan tanannga kalau dia menolak di temani perempuan penghibur itu.
Hingga di sebuah ruangan lain lagi, dia melihat di depan meja bar. Beberapa orang laki-laki berjejer saling berpasangan, di sana Azriel melihat sosok mamanya sedang merangkul seorang laki-laki muda sambil minum-minum.
Laki-laki di samping mamanya itu merangkul dan tangannya di usap-usap di punggung Sintya. Darah Azriel berdesir melihat mamanya begitu menikmati tangan laki-laki itu, bahkan dia menempelkan kepalanya di pundak laki-laki tersebut.
Azriel mengepalkan tangannya kuat, menghampiri mamanya yang sepertinya agak mabuk. Sang laki-laki di samping Sintya mengambil tas Sintya sambil bicara entah apa. Mengambil sebuah kartu kredit. Tapi tiba-tiba ....
Bug! Bug!
Dua kali Azriel memukul laki-laki di samping mamanya. Semua orang terkejut melihat pemukulan yang secara tiba-tiba dari Azriel pada laki-laki di samping mamanya.
Matanya membelalak ketika Azriel kembali mencoba memukul kembali laki-laki tadi yang mengambil kartu kredit mamanya.
"Kembalikan kartu kredit mamaku!" teriak Azrirl pada laki-laki yang tadi tersungkur di lantai setelah di pukul Azriel.
"Heh! Siapa kamu hah?! Perempuan itu milikku!" teriak laki-laki tadi yang di pukul Azriel.
"Dia mamaku!" teriak Azriel dengan mata melotot.
Diam, laki-laki itu terdiam dan menatap Sintya. Sedangkan Sintya sendiri hanya diam saja, mulutnya di bungkam dengan kedua tangannya karena terkejut dengan kehadiran Azriel. Apa lagi memergokinya sedang ada di tempat hiburan, lebih syok lagi sedang berdua dengan laki-laki muda yang biasa sering dia ajak kencan.
"Awas kamu!" ancam Azriel.
Dia menatap tajam pada laki-laki tadi, mengambil kartu kredit di tangannya lalu beralih menatap mamanya dan menarik kasar tangan mamanya. Pikrannya benar-benar kacau sekali, kenapa dengan mamanya.
__ADS_1
Sejak tadi melewati banyak orang yang menatap Azriel dan Sintya itu tidak dia pedulikan. Dia terus menarik tangan mamanya agar keluar dari tempat itu.
"Azriel, lepaskan tangan mama." kata Sintya.
Azriel tidak menggubrisnya, dia terus menarik tangan mamanya. Bahkan menarik tubuhnya agar cepat keluar dari tempat itu.
"Azriel! Tangan mama sakit!" kata Sintya lagi.
"Hatiku lebih sakit ma! Apa mama ngga punya otak sampai mencari kesenangan lain sama para penjilat itu?! Mana ucapan mama mau berubah sewaktu di rumah sakit itu? Bulshiit!" ucap Azriel setelah mereka sudah berada di luar.
Sintya diam, dia menatap wajah anaknya yang memerah karena marah. Dia menunduk, lalu menangis terisak.
"Maafkan mama, Ziel. Hik hik hik." ucap Sintya.
"Sekarang mama pulang, papa menunggu mama di rumah." kata Azriel.
"Ziel." ucap Sintya lagi masih terisak.
"Mama pulang, atau aku akan mrmbawa mama pulang dengan motorku?!" tanya Azriel.
"Kamu membentak mama!"
"Karena aku kecewa berat sama mama. Baru beberapa hari mama janji padaku mau berubah, tapi apa nyatanya? Itu hanya omong kosong aja!" ucap Azriel lagi.
Sintya diam, dia masih terisak. Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan anaknya yang masih marah padanya. Orang-orang di sekitar itu hanya menatap keributan antara anak dan ibunya. Dia masuk ke dalam mobilnya, melirik pada anaknya yang masih diam di tempatnya menatapnya tajam.
Setelah memarkirkan mobilnya, Sintya pun melajukan mobilnya keluar dari halaman tempat hiburan tersebut. Sedangkan Azriel menarik napas panjang lalu tangan kanannya mengusap wajahnya dengan kasar. Masih syok juga dengan pemandangan tadi di dalam tempat hiburan itu.
"Kenapa mama jadi sejauh itu?"
_
_
__ADS_1
**********