
Setelah perginya dua orang anak buah Jody itu, mereka menutup pintu dengan balok besar agar Qilla dan Azriel tidak bisa kabur dari rumah kosong tersebut.
Sedangkan suasana rumah itu sanga gelap dan menyeramkan. Suara jangkrik dan juga kodok membuat Azriel merinding, Qilla, gadis itu hanya diam saja. Tangannya meraba mencari Azriel yang dia rasakan ada di sebelahnya.
"Emmm, Ziiel." panggil Qilla dengan mulut di tutup kain.
"Emmm." tanggapan Azriel karena dia juga sama di ikat mulutnya dengan kain.
Qilla bergeser ke kiri, di mana Azriel berada. Lututnya menempel di lantai dan bergeser, menyentuh kaki Azriel. Dia memberi kode pada laki-laki itu agar menunduk di belakangnya. Agar mulut Azriel di tempel di tangannya di belakang punggungnya.
Awalnya Azriel tidak mengerti, tapi dia berusaha memahami bahasa yang tidak jelas itu. Kemudian dia memutar, mulutnya di punggung Qilla. Tepat di tangan Qilla yang terikat.
Qilla mencoba menarik ikatan kain di mulut Azriel agar terlepas, begitu juga sebaliknya. Tapi dia membuka ikatan Qilla dengan mulutnya, dan agak susah. Tapi dia mencoba terus membuka ikatan Qilla dengan giginya.
"Ini kenapa susah banget sih." ucap Azriel.
"Mbuka mulutku." ucap Qilla.
"Tapi mending buka ikatan tangan kamu, agak susah sih." ucap Azriel mencoba membuka ikatan tangan Qilla dengan giginya.
Meski ngilu gigi-giginya, tapi dia tetap berusaha membuka ikatan tali di tangan Qilla.
"Aah, dikit lagi. Lo sabar ya, gigi gue sampai ngilu nih." ucap Azriel berhenti dulu sebelum melanjutkan membuka ikatan tangan Qilla.
Lama Azriel mencoba membuka ikatan Qilla, dan akhirnya ikatan itu sedikit terbuka.
"Coba lo gerakin tangannya. Itu mau putus talinya." kata Azriel.
Giginya merasa sakit sekali setelah menggigit dan mencoba melepas ikatan di tangan Qilla. Dan Qilla terus menggerakkan tangannya, sampai tali itu terlepas juga akhirnya. Dia lalu membuka ikatan kain di mulutnya segera.
"Aah, akhirnya lepas juga. Lega aku bisa menggerakkan mulutku lagi." kata Qilla.
"Lepasin ikatan gue dong." kata Azriel.
"Sabar dong, coba mana tangannya. Berbalik." kata Qilla.
Azriel berbalik, Qilla meraih tangan Azriel dan segera melepasnya. Meski dengan meraba saja, tapi ternyata ikatan tangan Azriel sangat kua. Membuat Qilla kesusahan, dia terus berusaha membuka ikatan Azriel.
"Kok susah banget sih ikatannya." kata Qilla masih berusaha membuka ikatan Azriel.
"Pelan-pelan aja, ikatan simpul emang harus teliti bukanya." ucap Azriel.
"Ya tapi gelap, mana bisa hati-hati."
"Gue aja bisa pakai gigi lepasin tangan lo. Masa lo pakai tangan ngga bisa sih." kata Azriel tidak sabar.
__ADS_1
"Iya ini lagi coba cari simpul terakhirnya, biar dari sana aku buka ikatannnya."
Qilla terus berusaha membuka ikatan tangan Azriel, karena memang sangat kuat sekali. Mungkin karena dia laki-laki dan pastinya akans susah lepas. Dan terdengar suara desisan-desisa serta ada cahaya kecil dari arah jauh di depan mereka.
Keduanya terdiam, berdebar jantungnya karena mereka tahu itu pasti suara ular mendesis.
"Ziel, gimana ini. Itu kayaknya ular deh." bisik Qilla menatap cahaya kecil pantulan mata ular itu.
"Lo cepat lepasin ikatan gue. Jangan berisik juga, nanti ular itu kesini, mereka juga terusik dengan kehadiran kita di sini." bisik Azriel lagi.
Qilla kembali mencoba melepas ikatan Azriel itu, tangannya juga gemetar dan matanya selalu menatap ke arah cahaya kecil itu. Suara desisan terus terdengar, membuat Azriel dan Qilla ketakutan.
Tangan Azriel ikut bergerak-gerak agar bisa terlepas juga. Mata keduanya terus mengawasi cahaya kecil yang semakin lama semakin mendekat.
"Kita pindah tempat aja, ular itu kayaknya mau kesini deh. Ziel, aku takut." kata Qilla.
"Udah tenang aja, kalau kita ngga gerak ular itu ngga bakal dekatin kita. Cukup lo usaha lepasin ikatan tangan gue aja." kata Azriel menenangkan pacarnya itu.
Qilla mencoba tenang, dia dengan cepat melepas ikatan tangan Azriel. Dan beberapa lama dia mencoba melepas ikatan Azriel, akhirnya lepas juga. Keduanya senang, kini mereka berdiri. Azriel mendekap Qilla erat dan segera mencari sesuatu untuk mengecohkan ular tersebut.
Dia menunduk lagi mencari sesuatu, dan tangannya memegang sebuah kayu. Di ambilnya kayu tersebut dengan meraba lalu di lemparkan ke arah yang jauh.
Prang!
Kayu itu tepat mengenai cermin kecil di dinding. Suara desisan ular itu beralih menuju suara kayu yang di lempar. Azriel dan Qilla masih diam di tempatnya, baru beberapa menit mereka menarik napas panjang karena lega ularnya sudah pergi.
"Lewat pintu sayang, kalau ngga ya lewat jendela. Pecahin jendelanya, kamu cari sesuatu di bawah buat pecahin kaca atau apa yang bisa membuka jendela dan pintu." kata Azriel.
Qilla terpaku, tangannya memegang lengan Azriel. Menatap wajah laki-laki itu meski tidak terlihat jelas. Tangannya pun meraba terus sampai di kepala dan pipi Azriel, dia mendekat lalu mencium pipi Azriel dengan cepat.
Cup.
Azriel diam terpaku. Dia menatap balik Qilla yang samar-samar terlihat matanya saja. Kedua tangannya juga meraba wajah Qilla, lalu wajahnya di majukan kemudian dia mencium bibir gadis itu lama. Membuat Qilla tertegun, tapi dia tersenyum.
"Aku sayang kamu, Qilla." ucap Azriel melepas ciumannya.
Dia pun tersenyum, dia tahu Qilla pasti malu meski tidak tampak wajah itu karena gelap. Dia mendekap Qilla erat, kemudian dia menarik tangan gadis itu dan keduanya sudah memegang satu benda di tangannya.
Azriel menarik tangan Qilla, mereka mencari jalan keluar. Di rabanya setiap dinding agar bisa menemukan jendela atau pintu. Tepat beberapa langkah, tangan Azriel menemukan sebuah jendela kayu.
Dia mencari-cari selot kunci agar bisa di buka. Terus meraba dan akhirnya menemukan selot kinci. Di tariknya kunci tersebut, dan lagi-lagi dia mendengar suara desisan ular beberapa kali, bahkan dia mengira ular itu bukan hanya ada satu.
"Ziel, suara ular lagi." kata Qilla.
"Iya, aku tahu. Ini aku lagi berusaha buka selot kuncinya. Susah banget ini, mungkin karena udah karatan." kata Azriel terus menarik selot kuncinya.
__ADS_1
Di congkel dengan kayu yang dia pengang, suara desisan itu semakin dekat saja. Kaki Qilla terus bergeser dan merapat pada Azriel, dan laki-laki itu terus memukul selot kunci agar bisa terlepas.
Plentang!
Selot kunci terlepas, Azriel segera mendorong daun jendela dan terbukalah jendela tersebut. Tampak pantulan cahaya lampu dari rumah seberang.
"Ayo kita keluar, kamu naik cepat." kata Azriel.
Qilla menurut, dia naik jendela. Kakinya bergetar karena ular itu semakin dekat.
"Ziel, cepat kamu naik juga." kata Qilla.
"Iya, aku naik. Kamu turun duluan cepat." kata Azriel.
"Terlalu tinggi, aku takut. Kamu naik aja dulu." kata Qilla melihat ke bawah ternyata jauh jaraknya untuk lompat.
Azriel melongok ke bawah, memang tinggi juga. Dia pun naik dan mengambil ancang-ancang untuk turun.
"Aku dulu yang turun, nanti aku tangkap kamu ya." kata Azriel.
Dia pun segera melompat ke bawah dan mendarat dengan posisi sempurna. Kemudian tangannya di angkat agar Qilla segera turun.
"Ayo cepat turun, aku tangkap!" ucap Azriel.
"Iya."
Qilla pun melompat, tepat mengenai tubuh laki-laki itu. Dan keduanya hampir terjatuh, Azriel mendekap Qilla dengan erat. Dia lega karena bisa lepas dari rumah gelap dan menakutkan itu.
"Ayo kita pulang." kata Azriel.
"Terus, gimana dengan mereka?" tanya Qilla.
"Aku ada buktinya. Tapi mau cari ponselku dulu yang tadi kulempar di jalan." kata Azriel.
"Jadi ponselmu ngga di ambil sama mereka?"
"Ngga, setelah aku di bungkam mulutnya kulempar aja ponselku. Kalau beruntung, ponsel itu masih milikku dan ada beberapa bukti di sana." kata Azriel.
"Waah, idemu cemerlang juga ya. Kenapa aku ngga kepikiran buang ponselku, jadi mereka ambil ponselku." kata Qilla.
Azriel menarik tangan Qilla, dia mencari-cari ponselnya di pinggir jalan. Semoga saja masih jadi keberuntungannya ponsel itu masih ada, mereka mencari berpencar dan kini akhirnya ketemu juga.
"Ziel, ponselmu ketemu!"
_
__ADS_1
_
*********