
Azriel melajukan motornya menuju rumah Qilla, perjalanannya terganggu dengan melihat mobil mamanya ada di tempat hiburan. Dan benar saja, dia mendapati mamanya ada di tempat hiburan tersebut, dan lebih parah lagi sedang bermesraan dengan laki-laki seusianya.
"Mama benar-benar keterlaluan." gumam Azriel.
Sepanjang jalan pikirannya pada mamanya, entah kenapa mamanya sekarang begitu susah untuk lepas dari godaan para laki-laki berondong yang hanya memanfaatkan uangnya saja.
Hingga akhirnya Azriel sampai di depan rumah Qilla, dia memandangi rumah sederhana tersebut. Belum turun dari motornya, dari jalanan depan tampak sebuah gerobak masuk ke dalam halaman rumah itu di dorong oleh seorang gadis.
Azriel menoleh, menatap gadis yang sedang meletakkan gerobaknya di sebuah kandang bambu di samping rumahnya. Dia turun dari motornya dan duduk di teras, Qilla memperhatikan wajah Azriel seperti kurang semangat sore ini.
Laki-laki itu mengajaknya jalan, tapi wajahnya tampak murung. Qilla mendekati dan duduk di depannya, memandangi wajah kuyu itu.
"Ada apa lagi?" tanya Qilla mencoba ingin tahu apa yang di alami kekasihnya.
Azriel hanya tersenyum saja, tangannya membelai pipi gadis itu lalu mengusap kepalanya.
"Ngga apa-apa. Kamu mandi sana, aku tunggu di sini." kata Azriel.
"Kamu lusuh begitu mukanya, kamu bertengkar lagi sama mamamu?" tanya Qilla.
"Ngga, aku udah baikan." jawab Azriel bohong.
Qilla diam, masih menatap wajah Azriel. Meski jawaban laki-laki itu bohong, tapi Qilla tahu kekasihnya itu ada masalah.
"Emang kita mau kemana jalannya?" tanya Qilla.
"Kamu maunya kemana?" Azriel balik bertanya.
"Dari lihat wajah kamu, kayaknya enak di rumah aja. Makan bakso keliling, habis magrib biasanya ada tukanh bakso keliling lewat." kata Qilla dengan senyum mengembang.
Azriel ikut tersenyum, kemudian dia mengangguk. Mengusap lagi kepala gadis itu dengan lembut.
"Ya udah, sana masuk. Mandi dulu, kan tadi dari jualan keliling." kata Azriel.
"Iya. Ibu juga belum pulang nih dari kumpulan arisan ibu-ibu erte." kata Qilla.
"Ya udah, aku tunggu di sini aja." ucap Azriel.
"Hemm. Jangan sedih lagi." kata Qilla.
Azriel tersenyum, dia mengangguk cepat. Qilla pun masuk ke dalak rumah, di ikuti pandangan Azriel sampai pintu. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya di kursi teras rumah Qilla. Pikirannya masih memikirkan mamanya, dia tadi memarahi bahkan membentak mamanya.
Rasa bersalah menggelayuti hatinya, di ambilnya ponselnya. Ingin menghubungi mamanya apakah sudah ada di rumahnya atau dia pergi lagi. Seharusnya sudah ada di rumah, tapi dia khawatir mamanya takut pulang karena ada papanya di rumah.
__ADS_1
Tuuut.
Sambungan ponsel ke Sintya masuk, tapi belum di jawab. Azriel masih menunggu, menghubungi terus ponsel mamanya.
"Apa mama sengaja ngga mau jawab teleponku?" ucap Azriel.
Dia matikan sambungan teleponnya, mencoba menghubungi papanya. Tersambung, tapi tidak di angkat. Dia masih terus menghubungi papanya, ada rasa gelisah di hatinya. Apakah terjadi pertengkaran lagi?
"Ada apa dengan mereka? Kenapa tidak ada yang jawab teleponku?" ucap Azriel.
Dia melihat ke arah rumah Qilla, sepi. Hatinya gelisah, bangkit dari duduknya berjalan mondar mandir. Tapi kemudian dia mencoba menghubungi nomor telepon, karena biasanya yang mengangkat telepon rumah pembantunya.
Tuuut.
Tersambung.
Azriel menunggu pembantunya mengangkat teleponnya. Dia masih bolak-balik di depan teras rumah Qilla, menunggu sambungan teleponnya di angkat.
"Halo? Cari siapa?"
"Bi, apa mama udah pulang?" tanya Azriel langsung saja bertanya.
"Oh, ini den Azriel ya?"
"Sudah den, ada mobilnya sih. Tapi ngga kelihatan di rumah, mungkin di kamarnya den Azriel."
"Papa ada kan, bi?" tanya Azriel lagi.
"Ada, bapak ada. Kenapa den?"
"Tapi ngga ada keributan kan di rumah? Di kamar mama?"
"Ngga ada setahu bibi, tapi tadi bibi lihat bapak keluar dari kamar pergi ke dapur ambil minum. Lalu masuk lagi ke dalam kamarnya, setelah itu ngga ada suara lagi." jawab pembantu Azriel.
Azriel menarik napas panjang, dia lega tidak ada leributan lagi di rumahnya. Sejak tadi dia gelisah karena takut di rumahnya ribut antara papa dan mamanya. Berharap keduanya akur kembali dan menyadari kesalahan masing-masing.
Azriel menutup sambungan teleponnya, dia kembali menarik napas panjang. Meski sudah lega, tapi pikirannya masih waswas dengan mama dan papanya.
_
Sementara itu, di kamar Sintya dan Ryuzi, keduanya saling diam. Saling memeluk, entah telah terjadi apa. Sintya meski dalam keadaan sedikit mabuk sewaktu pulang itu, dia masih sadar dan bisa mengendarai mobilnya sampai di rumah.
Kesadarannya masih sempurna, hanya mungkin tadi di bar dia menenggak tiga gelas lagi akan mabuk. Kini Ryuzi masih memeluk istrinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu pulang-pulang mabuk?" tanya Ryuzi.
"Aku tadi di tempat hiburan sama berondongku." jawab Sintya.
"Lalu? Kenapa kamu pulang?" tanya Ryuzi lagi.
Sintya melepas pelukan suaminya, menatap wajah berkacamata dan mata sipit khas ciri orang Jepang. Senyum sinis mengembang di bibir Sintya.
"Aku di tarik paksa oleh anakku di tempat hiburan itu, dia memukul berondongku dan menyuruhku keluar. Hah, lucu sekali aku ini. Di permalukan anak sendiri di tempat umum." kata Sintya tiba-tiba kini mengeluarkan air mata.
"Kamu di paksa pulang oleh Azriel?" tanyq Ryuzi.
"Ya, dia memaksaku untuk pulang. Dia bilang dia sakit hati denganku. Bahkan kecewa berat padaku, mungkin juga padamu." kata Sintya mengelap air matanya.
Ryuzi diam, dia masih mendengarkan istrinya bercerita tentang kejadian di tempat hiburan. Memang sangat memalukan jika harus di paksa pulang dan ketahuan anaknya ketika sedang bersenang-senang.
"Ryuzi, apa kamu tahu? Aku sudah lelah harus berpura-pura baik, berpura-pura senang melakukan semuanya." kata Sintya.
Ryuzi diam saja, membenarkan letak kacamatanya. Dia menatap istrinya, sesungguhnya dia tidak sebaik apa yang di pikirkan istrinya. Dia bahkan memang dulu menyukai asistennya, mencoba mendekatinya bahkan memang pernah hampir tidur bersama.
Tapi kenyataan lain, kalau asistennya itu adalah orang dekat saingannya di rumah sakit. Nyatanya kecewa yang dia dapatkan, ternyata asistennya itu adalah kekasih saingannya.
"Maafkan aku, Sintya. Mungkin ini juga karena aku. Aku terlalu di butakan oleh perasaan yang palsu oleh dia." kata Ryuzi.
Sintya diam mendengarkan suaminya bercerita tentang perselingkuhannya dengan sang asistennya. Dia tahu memang asistennya itu cantik dan masih muda, tapi kenapa Ryuzi sepertinya menyesalinya.
"Apa asistenmu itu menyukai laki-laki lain? Kamu di campakkan?" tanya Sintya.
Ryuzi diam, hampir membenarkan ucapan Sintya itu. Dia melangkah dari tempatnya, meletakkan kacamatanya di meja kecil lalu duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Ryuzi, apa benar ucapanku? Kamu di campakkan oleh asistenmu itu setelah dia mendapatkan laki-laki yang lebih muda darimu?" tanya Sintya dengan sinis.
"Sudahlah Sintya, jangan sinis padaku. Aku pulang cepat karena ingin istirahat, nanti malam ada operasi istrinya pejabat. Dia minta waktu operasinya malam, jadi sore ini aku harus istirahat." kata Ryuzi.
Sintya mendengus kasar kesal dengan jawaban yang tidak dia inginkan dari suaminya, dia masih menatap sinis pada suaminya. Tapi entah kenapa terlintas di benaknya dia ingin melepas semua pakaiannya dan segera menaiki ranjang. Dengan cepat dan asal saja, Sintya menanggalkan semua pakaiannya dan berjalan cepat lalu menindih suaminya.
"Aku menginginkanmu Ryuzi."
_
_
**********
__ADS_1