
Azriel bersiap untuk pergi dengan Qila ke tempat tongkrongan geng motor Dodit. Kali ini bukan du gedung tua yang kosong, tapi di sebuah klub malam yang tidak begitu ramai. Mereka menyewa tempat itu untuk berpesta seperti biasanya, dan tengah malam harinya mereka balap liar di jalanan umum.
Sebenarnya Azriel cemas dengan kedatangannya bersama Qilla, tapi gadis itu ngotot ingin ikut meski malam hari. Katanya itu kesempatan yang tidak boleh di sia-siakan, dan kalau bisa lebih dekat lagi menyelidiki dan mengintainya.
"Gue takut aja, Qilla. Ini malam hari, ketemunya di klub malam. Sudah pasti banyak cewek dan cowok yang mabuk dan di saja juga akan ada pesta yang itu." kata Azriel tidak mau menyebut sesuatu yang menurutnya memalukan.
"Itu apa? Klub malam apa itu?" tanya Qilla bersiap ikut dengan Azriel.
"Ck, yang waktu di gedung kosong itu. Lo tahukan ada cewek dan cowok ciuaman panas itu, nah nanti itu berlanjut ke hal yang memalukan." jawab Azriel.
"Hemm, aku tahan ngga bakal lihat begituan. Dan kenapa harus di klub malam segala sih? Tempat apa sih itu?" tanya Qilla masih belum mengerti apa itu klub malam.
"Nah kan, lo aja ngga ngerti klub malam itu apa. Ya tempat pesta orang-orang suka mabuk, berjudi juga kadang ada atau apalah kayak pesta narkoba juga ada di sana. Apa lagi tempatnya jauh dari perkotaan, emang tempat klub malam itu dekat jalanan yang biasa buat lintasan balapan liar kalau malam." kata Azriel lagi.
Qilla diam, dia ngeri juga membayangkan tempat itu. Hingar bingar suara dentuman musik keras dan lampu disko kelap kelip meski dia belum pernah kesana, tapi jika melihat di film-film di TV sudah di pastikan suasananya akan seperti itu. Musik keras, para pengunjung berjoget sesukanya dan juga sudah pasti pasangan akan berjoget dan mabuk. Tentu larinya ya ke tempat sepi dan melakukan sesuatu, seperti film James Bond 007.
"Ya udah ngga apa-apa. Kan ada kamu yang jagain aku. Heheh." ucap Qilla tertawa kecil.
"Ish, lo ya." ucap Azriel.
Dia menegangi kepala gadis itu, benar-benar tertawa Qilla membuatnya gemas. Dia pun bersiap memakai jaket dan juga helm, begitu juga dengan Qilla.
Ibu Nima melihat keduanya, entah mau kemana. Katanya sih mau kencan ala pacaran, apa itu. Dia hanya berpesan jangan terlalu malam pulangnya.
"Ingat ya nak Azriel, jangan malam-malam pulangnya." kata ibu Nima berpesan lagi.
"Iya bu, tergantung Qilla dia pulang jam berapa." jawab Azriel.
"Ish, harus di paksa cepat pulang kalau sudah malam. Ibu ngga mau ya pulang malam-malam." kata ibu Nima lagi.
"Iya bu, tenang aja." jawab Qilla.
Mereka pun menaiki motor, Azriel menyalakan mesin lalu melambaikan tangannya pada ibu Nima. Dan motorpun melaju pelan meninggalkan ibu Nima yang berdiri di depan pintu. Perempuan itu masuk ke dalam rumahnya lagi kemudian menutup pintunya.
_
Suara hingar bingar orang-orang di dalam klub malam membuat Qilla takjub. Musik keras dan orang-orang yang sedang berjoget, persis dalam bayangannya. Klub malam yang penuh dengan orang-orang yang bersenang-senang tanpa beban.
Cara orang-orang mencari hiburan itu memang banyak sekali macamnya. Tapi memasuki dunia malam seperti itu karena beban pikiran, tetapi tentu bukan itu saja. Ada banyak kepentingan di dalam dunia malam tersebut.
Qilla berjalan pelan, melewati banyaknya pengunjung yang sedang berjoget mengikuti alunan musik keras. Azriel memegangi tangannya, mereka mencari kemana kelompok Dodit berkumpul.
"Mereka kemana ngumpulnya?" tanya Qilla.
__ADS_1
"Gue ngga tahu, katanya sih ngumpul di klub malam ini." jawab Azriel.
Dia mengambil ponselnya, ingin menghubungi Dodit. Di mana laki-laki itu berada dengan teman yang lainnya, dia bicara sebentar di telepon setelah Dodit menjawab teleponnya.
"Katanya bukan di sini, mereka semua di jalanan. Tapi gue lihat tadi ngga ada apa-apa deh." ucap Azriel memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.
"Terus, kita kemana?" tanya Qilla.
"Ayo kita keluar, mereka udah di jalanan. Bersiap balapan liar." jawab Azriel.
Dia menarik tangan Qilla cepat agar mereka cepat keluar dari klub malam itu sebelum para bodyguard bertanya macam-macam pada keduanya.
Azriel segera menaiki motornya, di susul Qilla do belakangnya dan dengan cepat motor melaju menuju tempat di mana ada balap liar. Tidak jauh memang tempatnya, dan benar saja di sana sudah ramai motor-motor serta orang-orang yang siap balapan.
"Ziel, lo ikutan ngga?" tanya Tomi tiba-tiba menghampiri Azriel.
"Kagak, gue bawa cewek. Kasihan kalau gue ikutan dia sendirian." jawab Azriel memegang tangan Qilla.
"Yaelah, bulan lalu lo jadi juara lo, tuh si Doni nantangin lo ikutan. Biar cewek lo gue jagain, sekalian rasain. Hahah!" ucap Tomi lagi tertawa keras.
Azriel mengepalkan tangannya, dia lalu mengajak Qilla pergi dari hadapan Tomi. Laki-laki itu selalu saja meledek Azriel, Qilla juga belum mengerti maksud Tomi itu. Tapi dia kesal juga dengan laki-laki yang selalu meledek Azriel itu.
"Kita kemana?" tanya Qilla masih di pegang tangannya oleh Azriel.
"Eh, kamu lihat dia? Di mana?"
"Ya nanti lo tahu, udah jangan bikin curiga mereka. Kita pura-pura lihat mereka balapan, tapi Jody jarang ikut balapan sama kayak gue. Ternyata dia juga karena bisnis barang itu." ucap Azriel.
Mereka melewati beberapa orang, Qilla memperhatikan semua gadis dan laki-laki di saja. Kebanyakan para gadis itu berpakaian mini dan sedikit terbuka bagian dadanya, dia tersenyum sinis melihat gadis-gadis yang menempel seperti perangko pada laki-laki yang mau ikut balapan liar.
Pandangan Qilla beredar kesegala arah, matanya juga melihat Jody sedang berbincang seperti biasa dengan teman-temannya. Insting detektif amatiran Qilla muncul, dia pun melepas pegangan tangan Azriel dan berjalan mengikuti kemana Jody dan tiga temannya pergi.
Dia terua mengintai empat orang laki-laki itu, hingga Azriel pun kebingungan kemana Qilla pergi.
"Eh, cewek gue kemana? Kok cepat banget lepasnya dari gue." ucap Azriel langsung mencari kemana Qilla pergi.
Tak lama dia menemukan Qilla yang sedang mengikuti Jody dan tiga temannya. Dia ikut mengendap ketika Jody dan tiga temannya berjalan ke sebuah bangunan kosong. Azriel menarik tangan Qilla, dan gadis itu kaget. Tapi kemudian keduanya mengikuti Jody.
"Mereka mau kemana ya?"
"Pasti mau transaksilah."
"Siapin ponsel kamu, rekam kegiatan mereka. Nah kan, mereke berhenti depan rumah gelap itu." kata Qilla masih memperhatikan Jody dan teman-temannya dari jauh.
__ADS_1
Azriel merekam kejadian di depannya, menggunakan pembesar agar rekaman lebih jelas meski di sana tidak terlalu terang.
"Ini agak susah rekamnya, tempatnya sedikit gelap." ucap Azriel.
"Rekam bagian tangan mereka aja, tuh yang pegang sesuatu." ucap Qilla.
Azriel menurut, dia merekam apa yang di katakan Qilla. Benar saja, Jody mengeluarkan kotak cukup besar dan membuka isinya. Terdapat ganja di dalamnya, Azriel pun kaget. Ternyata Jody itu pengedar yang cukup lumayan besat. Tapi, dari mana dia mendapatkan barang itu?
Tiba-tiba, hup. Mulut Qilla dan Azriel di bungkam oleh dua orang. Di bawa ke depan dan mendekat pada Jody, Azriel melempar ponselnya tadi di pinggir jalan. Keduanya di paksa jalan dan di hadapkan pada Jody.
"Nih, gue nemu cecunguk yang lagi rekam kalian transaksi." kata laki-laki yang menangkap Azriel dan Qilla.
"Oh, Azriel? Lo jadi mata-mata?" tanya Jody sinis.
Azriel diam saja, tapi matanya menatap tajam pada laki-laki itu.
"Hemm, ceweknya juga. Gue ngga nyangka lo jadi mata-mata, padahal dulu ngga pernah peduli deh apa yang gue lakuin. Tapi kenapa lo jadi mata-matain gue, Azriel?!"
"Cuih! Lo jangan kayak gitu terus Jody. Polisi nanti menangkap lo, masuk penjara lo nanti!" ucap Azriel setelah tangan laki-laki tadi terlepas dari mulut Azriel.
"Ngga akan gue ketangkap, kalau gue ketangkap gue sogok lagi tuh si sipir bodoh itu!" ucap Jody lagi dengan sinis.
"Jangan merusak generasi bangsa Jody!" ucap Azriel lagi.
"Bulshiit! Mereka suka apa yang gue tawarin, sebaiknya lo diam saja. Bawa mereka ke rumah gelap itu, ikat tangannya dan biarkan tikus-tikus itu atau mungkin ular di dalam rumah itu menggigit mereka." kata Jody memerintahkan anak buahnya.
Ternyata Jody punya anak buah juga. Berarti dia adalah pengedar kelas kakap, bukan kelas teri lagi. Dia langsung menghampiri pelanggannya agar tidak melalui kurir sewaannya.
"Bos, tadi dia merekam kegiatan anda."
"Ambil ponselnya, periksa tuh baju cewek dan dia juga. Cari ponselnya dan buang ke sungai." kata Jody lagi.
"Baik bos."
Mereka memeriksa baju Qilla dan juga Azriel, keduanya tidak menemukan apa-apa. Hanya tas Qilla ada ponsel jadul di temukan oleh mereka, setelah itu Azriel dan Qilla di bawa masuk ke dalam rumah gelap itu. Di ikat tangannya dan kakinya.
"Kalian akan membusuk di sini, tidak usah membunuh kalian lagi. Karena di sini sarang ular. Hahah!"
_
_
*******
__ADS_1