Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
06. Kembali Ke Rumah Qilla


__ADS_3

"Azriel. Jangan pergi kamu!" teriak Ryuzi.


Sintya dan Ryuzi keluar bersamaan, mereka berteriak memanggil anaknya yang pergi menggandeng tangan Qilla.


"Ziel, itu orang tuamu memanggil. Kenapa kamu pergi sih?" tanya Qilla masih heran dengan sikap Azriel itu.


"Udah biarin aja, gue males melihat mereka berdebat terus." kata Azriel.


Qilla menepis tangan Azriel yang menariknya untuk segera pergi dari rumahnya. Dia menatap tajam pada laki-laki itu, tidak seharusnya membangkang perintah orang tua. Itu yang dipikirkan oleh Qilla dengan tatapannya padanya.


"Kenapa lo melotot sama gue?" tanya Azriel heran.


"Itu, ibumu bilang jangan pergi. Kenapa pergi sih, udah tuh samperin ibumu." kata Qilla.


"Haish! Gue lagi ngga mau berdebat dengan mereka." kata Azriel lagi.


"Azriel, jangan pergi nak." ucap Sintya berdiri di depan pintu.


Ryuzi pun datang menghampiri, dia melihat anaknya dan juga Qilla saling menatap keduanya. Laki-laki sipit berkacamata itu heran pada gadis bersama dengan anaknya.


"Waaah, kamu bawa anak gadis siapa Ziel?" tanya Ryuzi.


"Azriel, siapa dia?!" tanya Sintya.


"Dia temanku." jawab Azriel singkat.


"Kenapa malam-malam kamu bawa gadis orang hah?!" tanya Sintya dengan kesal.


Azriel membola, dia kembali menarik tangan Qila. Yang tadi menolak laki-laki itu, tapi kemudian Qilla berbalik dan dia ingin menyalami Sintya dan Ryuzi.


"Maaf tante, saya hanya ada urusan sama anak tante dan om. Saya Qilla tante." kata Qilla ingin menyalami Sintya.


Tapi tatapan Sintya seperti menyelidik, dia memandangi Qilla dari atas sampai bawah. Membuat gadis itu mengerutkan dahinya, heran.


"Kamu yang membuat anakku jadi tidak pulang dalam dua hari? Kamu memikat anakku?!" ucap Sintya menuduh Qilla.


"Mama!"


"Masuk kamu Azriel!" perintah Sintya dengan tatapan tajamnya pada anak laki-lakinya.


"Ck, urus saja suami mama itu. Bicarakan baik-baik apa kesalahan kalian sampai aku tidak betah tinggal di rumah ini. Aku akan kembali setelah kalian semuanya menyadari kesalahan kalian sendiri." kata Azriel dengan tegas.

__ADS_1


Dia pun melangkah pergi, mengajak Qilla yang sempat diam karena di bentak oleh mamanya. Qilla sendiri pun menurut, dia sebenarnya bingung dengan sikap Azriel yang kasar pada kedua orang tuanya. Tapi mungkin laki-laki itu sedang ada masalah dengan kedua orang tuanya, sehingga sampai berani bersikap kasar padanya.


"Sikapmu itu tidak di benarkan melawan orang tua Azriel." ucap Qilla.


"Mereka yang salah, seharusnya intsropeksi diri kenapa anaknya bisa berubah." ucap Azriel kesal.


Dia memakai helm, begitu juga dengan Qilla. Keduanya lupa akan tujuan pulang ke rumah Azriel adalah ingin mengambil uang pengganti rugi gerobak cilok milik Qilla.


Motor melaju kencang, Qilla sampai kaget ketika motor itu melaju meninggalkan rumah mewah. Tangannya memegangi pinggang Azriel, karena dia takut jatuh Azriel mengendarai dengan kencang.


"Pelan-pelan dong, aku takut ini." kata Qilla mencoba melepas pegangan tangannya di punggung Azriel.


Azriel yang sudah menguasai luapan emosinya pada kedua orang tuanya itupun memelankan laju motornya. Dia melirik ke arah kaca spion, Qila merapikan duduknya agar seimbang dengan jalannya motor Azriel.


Sepanjang jalan Qilla dan Azriel diam saja. Jaket yang di kenakan Azriel kini berpindah pada tubuh Qilla. Karena suasana malam sudah mulai dingin, gadis itupun menerima jaket yang di berikan Azriel.


Keduanya masih menikmati jalanan kota yang mulai meninggalkan keramaian. Hanya para pemburu nafkah di waktu malam hari saja yang masih berkeliaran di jalanan.


"Gue ke rumah lo aja." kata Azriel tiba-tiba.


"Eh, kenapa ngga ke rumah temanmu saja?" tanya Qilla di belakang.


"Ngga usah, gue males. Nanti sama aja dengan tuduhan mama gue kalau sering menginap di rumah teman." ucap Azriel.


Qilla, gadis itu masih diam saja. Dia ingin menolak keinginan Azriel, tapi dia juga harus pulang saat ini juga. Karena sudah sangat malam sekali baginya, pukul sepuluh malam. Mau tidak mau Azriel harus ikut dengannya ke rumah.


_


Pagi hari, Azriel belum bangun. Pintu kamar di ketuk Qilla dengan keras, dia tidak mau laki-laki itu seenaknya saja tinggal di rumahnya. Tapi bersikap juga seenaknya.


"Azriel, bangun! Sudah pagi!" teriak Qilla masih mengetuk pintu dengan keras.


Pintu terbuka, tampak Azriel masih berantakan wajahnya. Muka bantalnya terlihat jelas, menguap lebar dan ada kotoran di sudut matanya. Qilla tersenyum miring, merasa lucu melihat penampilan Azriel bangun tidur.


"Apaan sih, gue masih ngantuk." kata Azriel mengiap kedua kalinya.


"Sudah bangun, jangan tidur lagi. Cepat sana ke kamar mandi, bantu ibu potong kayu di belakang." kata Qilla.


"Apa? Potong kayu?" tanya Azriel heran.


"Jangan banyak tanya, cepetan!" ucap Qilla lagi.

__ADS_1


"Iya, kenapa sih lo jadi berkuasa banget sama gue. Apa karena gue numpang di rumah lo?" tanya Azriel.


"Iya. Dan kamu belum bayar ganti ruginya." kata Qilla kesal.


"Ya ampun, iya gue ganti siang ini. Nanti gue mau ke ATM ambil duit, bawel!" ucap Azriel.


Dia berjalan menuju kamar mandi, seakan sudah hafal betul posisi kamar mandi di mana. Azriel terus melangkah menuju kamar mandi.


Qilla sendiri menuju dapur, di belakang rumah. Ada dua dapur di rumah Qilla, satunya memakai kayu dan satu di dalam dengan kompor. Biasanya jika gas jika habis akan menggunakan kayu bakar di belakang rumah, dan saat ini Qilla dan ibunya memasak menggunakan kayu bakar karena gasnya habis.


"Azriel sudah bangun?" tanya ibu Nima.


"Lagi ke kamar mandi bu." jawab Qilla menguleni adonan ciloknya.


Hari ini dia akan jualan cilok di rumah dulu, karena sudah lima hari tidak jualan. Pendapatanpun menurun, jadi dia akan jualan di rumah saja sebelum gerobaknya sudah ada.


Tak lama, Azriel muncul di pintu, dia berdiri menyaksikan Qilla sedang menguleni adonan cilok. Ibu Nima menoleh ke arah Azriel, dia tersenyum padanya.


"Sini nak, kamu mau bikin kopi?" tanya ibu Nima.


Qilla menoleh, lalu mencibir sambil tangannya masih menguleni adonan cilok.


"Cih, di tawari ngopi. Kerja dulu tuh, potong kayu." kata Qilla.


Azriel melirik pada gadis itu, dia pun mendekat pada ibu Nima dan duduk di balai-balai bambu. Dia mengambil gelas berisi kopi hitam yang sudah di seduh oleh ibunya Qilla.


"Apa ibunya ngga cariin kamu menginap ke sini lagi?" tanya ibu Nima.


"Ngga bu, mama papaku santai aja orangnya." jawab Azriel.


"Semalam dia bertengkar sama mama dan papanya bu. Jadi, dia lagi minggat bu." kata Qilla menyela obrolan ibu dan Azriel. Tentu saja Qilla dapat tatapan tajam dari Azriel, tapi gadis itu membalas melirik sinis padanya.


Tapi bagi Azriel, dia sangat nyaman tinggal di rumah Qilla. Gadis penjual cilok yang dia tabrak gerobaknya saat perlombaan balap motor liar, dia tersenyum sendiri mengingat kejadian waktu lapangan itu. Dia tersenyum sendiri dengan ingatan tersebut.


"Kamu melamun apa?"


???


_


_

__ADS_1


********


__ADS_2