
"Gue suka sama lo."
"Apa?!"
"Eh, emm. Gue suka cilok buatan lo Qilla." jawab Azriel gugup.
Dia membuang muka ke samping, Qilla masih menatap heran pada Azriel. Ingatannya dengan ucapan laki-laki itu membuatnya tersenyum tipis, tapi kemudian dia juga mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Seorang dokter dan perawat masuk ke dalam kamar inap Qilla.
Mereka memeriksa keadaan Qilla, pemeriksaan kali ini lumayan lama. Karena ada pergantian perban di kaki dan tangan gadis itu.
"Emm, sepertinya sore ini boleh pulang ya Aqilla. Karena lukanya sudah tidak bengkak lagi, tinggal nanti bisa kontrol aja satu minggu ke depan. Saya beri resep obat ya buat di rumah." kata dokter.
"Jadi boleh pulang dokter?" tanya Qilla.
"Ya, sore nanti boleh pulang setelah melengkapi administrasinya di bagian kasir." kata dokter.
"Baik dokter." jawab Azriel.
Kalau masalah biaya Azriel yang menjawab, dia bertanggung jawab penuh atas kecelakaan yang menimpa Qilla dan dirinya.
Setelah pemeriksaan selesai, Qilla kembali berbaring. Matanya menatap langit-langit kamar, sesekali dia melirik ke arah Azriel yang pura-pura sibuk dengan ponselnya. Qilla langsung tidur setelah memejamkan matanya.
Azriel mendekat, dia masukkannya ponselnya dan dia menatap lama wajah gadis yang sekarang sedang tidur itu.
"Lo cantik dan manis, Qilla. Gue beneran suka sama lo." ucap Azriel dengan senyum di bibirnya.
_
Setelah pulang ke rumah, Qilla kembali istirahat. Dia hanya duduk saja di kursi panjang di ruang tamu. Di temani Azriel duduk di depannya.
"Akhirnya kembali lagi ke rumah, setelah lima hari di rumah sakit." kata Qilla.
"Minggu depan harus kontrol lagi buat memastikan lukanya sudah sembuh atau belum." kata Azriel.
"Iya." ucap Qilla.
"Oh ya, gue pulang ya. Nanti gue sering kesini kok." kata Azriel.
"Eh, pulang? Kenapa?" tanya Qilla heran.
"Kan lo bilang harus pulang ke rumah gue. Gue udah lama tinggal di rumah lo ini, dan terima kasih ya lo mau terima gue di rumah lo ini." kata Azriel.
"Oh, ya. Ngga apa-apa." kata Qilla sedikit kecewa dengan ucapan Azriel yang berniat pulang dan tidak tinggal di rumahnya lagi.
Tapi memang harus pulang juga, karena memang rumahnya bukan rumah Azriel. Lagi pula ada saja tetangga yang menggunjingkan dengan Azriel.
"Qilla, emmm. Gue ...." ucapan Azriel tidak di teruskan.
"Kenapa?" tanya Qilla.
"Ngga jadi deh, gue pamit ya." kata Azriel.
"Ya, kamu naik apa? Kan motornya masih di tahan sama polisi." kata Qilla.
"Nanti naik ojek aja, di depan jalan kan ada ojek." jawab Azriel.
__ADS_1
"Ooh ya." ucap Qilla lagi.
Azriel bangkit dari duduknya, beralih pada Qilla dan memegang tangannya. Menatap wajah gadis itu lalu tersenyum.
"Gue pulang." kata Azriel lagi.
"Iya, udah sana pulang." kata Qilla lagi.
"Lo ngga mau gue di sini ya?" tanya Azriel menggoda Qilla.
"Ish, katanya kamu mau memperbaiki hubunganmu dengan mamamu. Sana pulang." kata Qilla.
"Iya, nanti gue sering datang kesini."
Qilla hanya mengangguk saja, Azriel pun berbalik dan meninggalkan Qilla. Gadis itu menatap punggung Azriel hingga menghilang di balik pintu. Dia menarik napas panjang, tiba-tiba hatinya sepi setelah Azriel pergi dari rumahnya.
"Kok aku jadi sedih ya dia pergi."
_
Lima hari Azriel tidak datang ke rumahnya, membuat Qilla jadi gelisah dan murung. Dia masih di dalam kamarnya meski sudah siang, gadis itu tidak bisa membantu ibunya. Tatapannya beralih pada ponselnya yang dia letakkan di mejanya, dia bangkit dari tidurnya dan mengambil ponsel jadul itu.
Dia mengotak atik ponselnya, mencari nomor kontak Azriel. Tapi sepertinya dia tidak menemukan nomor kontak laki-kaki itu.
"Aah, aku ngga simpan nomor dia ternyata." ucap Qilla.
Dia letakkan lagi ponsel di mejanya, menatap setiap sudut kamar lalu beranjak pergi. Keluar dari kamarnya karena merasa bosan, matanya memandang ke arah dapur. Ibunya sudah pergi jualan cilok menggantikannya sekarang.
"Ibu sudah pergi, kasihan banget harus ibu yang jualan cilok keliling kampung." ucap Qilla.
"Qilla."
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Qilla terbatuk mendengar panggilan namanya dari seorang laki-laki yang sudah lima hari pergi dari rumahnya. Dia letakkan gelas di meja dan kepalanya menoleh ke arah sumber suara. Tatapan mereka beradu, laki-laki di depan pintu dapur itu mendekat. Senyumnya mengembang, berdiri di depan gadis itu yang terpaku menatapnya.
"Gue kangen sama lo." ucap Azriel langsung memeluk gadis itu.
Qilla masih terpaku, dia terkejut sekaligus heran dengan ucapan Azriel tersebut. Kangen?
"Ziel? Kamu, ... Kenapa?" ucap Qilla masih heran.
Azriel tidak menjawab pertanyaan Qilla. Dia masih memeluk Qilla bahkan sampai erat sekali dia memeluk gadis itu.
"Ziel?"
"Gue kangen sama lo." kata Azriel lagi.
"Ya ampun, aku rasa kita ngga ketemu cuma lima hari deh. Kok lebay sih bilang kangen." kata Qilla.
"Tapi gue serius kangen sama lo kok." ucap Azriel.
"Iya." jawab Qilla akhirnya.
"Tahu kenapa gue kangen sama lo?" tanya Azriel.
__ADS_1
"Ngga."
"Kok ketus banget sih jawabnya." kata Azriel.
"Ya kamu aneh deh, sejak pulang ke rumah jadi aneh. Biasanya juga kamu selalu ngeyel dan ketus kalau ngomong." kata Qilla.
Dia berjalan menuju depan, melangkah menuju ruang tamu dan duduk di saja. Di ikuti oleh Azriel dari belakang, duduk di kursi panjang keduanya. Diam dan saling salah tingkah. Tapi kemudian Azriel menarik tangan Qilla dan menggenggamnya.
"Gue kangen karena gue cinta sama lo, Qilla." kata Azriel.
Qilla terkejut, dia menatap Azriel dan mengerjapkan matanya. Tangan Azriel mencubit pipi gadis itu hingga gadis itu merengut sebal.
"Apa sih, perasaan dulu kamu ngga begini deh." kata Qilla.
"Gue serius cinta sama lo. Setelah gue pikir di rumah, ternyata gue kehilangan lo. Dan akhirnya gue kangen sama lo." kata Azriel.
Qilla tertawa kecil, pipinya memerah sebenarnya. Tapi dia juga kangen sama laki-laki itu, dan kini Azriel malah menyatakan cinta padanya. Aneh sih, tapi hatinya juga sama dengan Azriel.
"Lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Azriel.
"Emm, gimana ya?" ucap Qilla dengan mengetuk dagunya dengan telunjuknya.
"Ayo dong, mumpung gue lagi pede nih. Entah nanti gue bisa nyatain cinta ngga sama lo." kata Azriel.
"Hahah! Lucu kamu ya." ucap Qilla tertawa lepas.
"Qilla."
"Iya."
"Iya apa?"
"Emm, iya jadi pacar kamu." jawab Qilla malu-malu.
"Hah?! Beneran?!"
"Iya."
"Lo cintakan sama gue?"
"Iya."
"Aaah, gue kira cuma sandiwara lo. Senengnya gue." kata Azriel.
Dia memeluk Qilla dan mencium kening gadis itu. Sangat bahagia sekali Azriel, cintanya ternyata di terima sama Qilla.
Sejak pulang dari rumah sakit itu, Azriel selalu memikirkan Qilla. Bagaimana jika dia mengungkapkan cinta pada Qilla, tapi takut di tolak sama gadis itu. Hingga berpikir beberapa hari, akhirnya dia memberanikan diri datang dan menyatakan cinta padanya. Sungguh, dia sangat bahagia. Begitu juga dengan Qilla, keduanya masih saling memeluk.
"Sedang apa kalian?!"
_
_
********
__ADS_1