Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok

Kepentok Cinta Gadis Penjual Cilok
41. Perjanjian


__ADS_3

Azriel kesal sekali dengan mamanya yang mau menjodohkannya dengan gadis teman mamanha itu. Dia gusar sekali sore ini, rencana mau pulang kini bingung apakah dia tetap pulang dan bertemu dengan gadis yang akan di jodohkan oleh mamanya itu lalu bertemu dengan Qilla untuk melepas rasa rindunya.


"Mama ini gimana sih, kenapa malah menjodohkan aku sama anak temannya. Kan aku udah bilang kalau aku punya pacar." ucap Azriel dalam kamarnya.


Dia terus mondar mandir tidak jelas, pikirannya kalut karena perjodohan itu. Bagaimana jika Qilla mengetahuinya, atau dia sedih karena dirinya di jodohkan.


"Aaargh! Sialan, kenapa mama jadi maksa banget sih!" ucap Azriel dengan kepala yang penuh dengan kekesalan.


Pintu di buka, tampak Reki masuk dan melihat Azriel begitu gelisah mondar mandir di dalam kamar. Dia heran dan menghentikan langkah Azriel.


"Kenapa kamu?" tanya Reki.


"Huh, jaman sekarang masih aja jodoh-jodohan." jawab Azriel, Reki mengerut dahinya.


"Siapa yang di jodohin? Kamu?" tanya Reki.


"Iya, tadi mamaku telepon. Katanya aku mau di kenalkan anak temannya, aku pusing. Gimana dengan pacarku, dia pasti kecewa dengan perjodohan itu." ucap Azriel.


"Kamu masih muda, kenapa juga masih ada perjodohan segala? Usiamu berapa?" tanya Reki.


"Mau dua puluh lima bulan depan." jawab Azriel.


"Lha, masih muda. Lalu, kamu menerima perjodohan itu?"


"Ya nggaklah, aku cinta sama cewekku. Meski dia bukan gadis anak orang kaya, tapi dia baik dan sederhana. Aku cinta sama dia, aku jadi bingung." kata Azriel.


"Ck, tinggal di tolak aja kok repot. Bilang aja kamu udah punya pacar, kan beres." kata Reki.


"Iya sih, tapi. Pasti ada pemaksaan." kata Azriel.


"Pikirkan baik-baik, semuanya pasti ada resikonya. Jika kamu menurut sama orang tuamu, ya terima perjodohan itu dan tinggalkan pacarmu. Meski pastinya dia kecewa dan sakit hati." ucap Reki.


"Ngga, aku ngga mau tinggalin cewekku." ucap Azriel.


"Ya udah, kamu bilang sama orang tuamu. Dan sekarang cepat keluar, mobil udah ada di depan yang akan antar kamu ke terminal." kata Reki lagi.

__ADS_1


"Ish, iya. Ya ampun, aku bingung banget. Ya udah, aku pulang ya. Malam Senin mungkin sampai di mes lagi." kata Azriel.


Reki mengangguk, kemuduan Azriel mengambil tas ranselnya. Meski dia masih kesal, bingung dan entah apa lagi yang ada di pikirannya. Yang jelas dia akan menolak perjodohan dengan anak teman mamanya.


Azriel keluar dari gedung mes, melihat mobil sudah terparkir di depan halaman. Ada tiga orang yang pulang saat ini ke rumah mengambil hari liburnya, dan mungkin bulan-bulan berikutnya dia yang akan jarang pulang.


_


Azriel duduk manis di kursinya, meski dia kesal dengan mamanya yang memaksa bertemu dengan gadis yang akan dia kenalkan nanti. Dia juga ingin tahu siapa gadis yang akan di kenalkan padanya.


"Mama kenal ceweknya?" tanya Azriel.


"Belum Zeil, makanya mama kenalan juga sana dia. Kalau dia ngga datang, terpaksa mama terima pacar kamu itu." kata Sintya.


Terpaksa Azriel menurut pada mamanya ketemu dengan gadis yang akan di kenalkan sama dia. Dia dapat tawaran dari mamanya, jika gadis yang akan dia kenalkan ikut dalam perkenalan itu maka akan berlanjut dengan pengenalan dan pendekatan.


Tapi sebaliknya, jika benar-benar gadis itu tidak ikut. Maka Azriel berhak membawa Qilla ke hadapan mamanya, itulah perjanjiannya. Dan sekarang Azriel sedang berdoa kalau gadis yang akan di kenalkan tidak datang dalam pertemuan ini. Agar dia bisa bebas berpacaran dan mengenalkan Qilla pada mamanya.


Setengah jam sudah, Azriel dan Sintya menunggu belum juga datang. Sudah lewat waktu perjanjian ketemu, Sintya gelisah. Melirik pada anaknya yang lebih tenang karena sudah di pastikan anaknya akan menang.


"Udah ma, ngga akan datang. Anaknya aja suka kabur-kaburan, mana mau di jodohkan." kata Azriel menyindir mamanya.


"Jangan gitu, makanya kamu kenalan sama dia. Kalau dia ngga datang ya terserah kamu." kata Sintya kesal juga dengan anaknya seolah menang dengan tawaran sejak di rumah itu.


"Azriel yang akan menang ma, tetap Azriel yang akan menang." kata Azriel.


Meski dia kesal, dengan mamanya tapi dia menurut saja. Kalau pun nanti gadis itu datang, dia akan mengatakan kalau dirinya sudah punya pacar. Dan tidak mau di jodohkan, itu yang ada di pikiran Azriel.


Hampir satu jam belum juga datang, Sintya semakin gelisah karena temannya itu belum juga datang. Di hubungi melalui ponsel juga belum menjawab sampai di mana perempuan itu.


"Huh, kemana sih jeng Lina ini. Kenapa membuat janji tidak juga datang, ini sih Azriel yang keenakan." ucap Sintya, Azriel hanya tersenyum saja.


Tak lama, muncul seorang perempuan dengan jalan cepat mendekat pada Sintya. Dia tampak tersenyum di paksa, Azriel menatap perempuan seusia mamanya mendekat.


"Hai jeng Sintya, maaf ya aku telat banget nih." kata perempuan itu.

__ADS_1


"Waah, gimana sih jeng Lina. Aku juga punya banyak pekerjaan lho, hampir satu jam aku dan anakku menunggu. Kenapa lama banget sih." kata Sintya kesal.


"Iya. Aku bujuk anakku dulu untuk datang kesini, dia awalnya tidak mau. Tapi setelah di ancam, dia mau datang juga." kata Lina.


"Lalu, kemana dia? Kok belum datang juga?" tanya Sintya.


"Lagi di jalan, aku sengaja datang lebih dulu agar jeng Sintya tidak menunggu terlalu lama." kata Lina lagi.


"Memang menunggu lama jeng, satu jam. Kalau anakmu datang sih tidak masalah." kata Sintya melirik ke arah anaknya.


"Iya, dia janji mau datang kok. Lagi di jalan." kata Lina.


Dia mengatur napasnya yang tadi datang tergesa-gesa. Azriel hanya diam saja, dia juga khawatir dengan kedatangan gadis yang akan di jodohkan dengannya itu benar-benar datang.


Sintya dan Lina mengobrol masalah sifat dan kelebihan anak masing-masing. Azriel jengah sekali dengan pembicaraan itu, dia ingin sekali pergi menemui Qilla. Karena sejak kedatangannya dia belum berkunjung ke rumahnya, apa lagi mengatakan dia di jodohkan oleh anak teman mamanya.


"Ma, aku ke belakang dulu ya. Kebelet nih." kata Azriel.


"Iya, tapi jangan kabur kamu. Ketemu sama calon istrimu sebentar." kata Sintya.


"Ck, iya. Kayak apa coba gadis pilihan mama itu, orangnya aja ngga tahu apa lagi sifatnya." ucap Azriel menggerutu kesal.


Dia melangkah pergi meninggalkan mamanya, berjalan menuju toilet laki-laki. Lumayan agak jauh toilet itu, hingga dia melewati pintu samping, tak sengaja dia melihat sosok yang dulu dia hindari. Bibirnya menyungging dia melangkah terus menuju kamar mandi khusus laki-laki.


Sepuluh menit dia buang air kecil, hingga dia keluar lagi setelah selesai membersihkan. Melangkah lagi menuju meja di mana mama dan temannya berada. Matanya memicing ketika ada gadis yang duduk di sebelah teman mamanya itu, mengingat tadi dia melihat gadis itu. Langkahnya di percepat, penasaran apa benar perkiraannya itu tentang gadis yang akan di jodohkan.


"Ziel, sini. Ini lho dia udah datang." kata Sintya tersenyum senang karena gadis yang akan di jodohkan datang juga akhirnya.


Azriel mendekat, duduk di sebelah mamanya. Azriel dan gadis itu pun saling pandang dan saling mendelikkan matanya.


"Kamu?!"


_


_

__ADS_1


**********


__ADS_2