
Qilla duduk dengan gugup. Di hadapan kedua orang tua Azriel, gadis itu tampak gelisah dan cemas. Sintya dan Ryuzi duduk di hadapan gadis yang sedang tidak nyaman itu.
"Jadi kamu sama Azriel ketemunya di mana Qilla?" tanya Sintya mengintrogasi Qilla.
"Di lapangan tante, waktu Azriel balap liar di lapangan kampung sama teman-temannya. Dia jatuh dan terkilir, lalu saya tolong dia di bawa ke rumah." jawab Qilla dengan jujur dan takut.
"Ooh, waktu dia lagi nakal ya. Dia memang dulu bandel sih, tapi mending ketemu kamu. Bisa jadi lebih baik dan tanggung jawab sekarang." kata Ryuzi menyambungi.
"Ish, papa. Dari dulu aku udah baik kok, cuma lagi kesasar aja. Lagian emang aku semakin baik sekarang, berkat pacarku ini." kata Azriel mendekap Qilla dari samping.
Tentu saja itu membuat Qilla malu karena di puji oleh Azriel. Sintya dan Ryuzi saling pandang, lalu tertawa kecil.
"Ya sudah, kalian mama restui. Tapi ingat ya Ziel perjanjiannya, harus dua tahun lagi baru bisa menikah." kata Sintya.
"Iya ma, aku juga mau menyiapkan semuanya kok buat nikah." kata Azriel.
"Ayo sekarang makan dulu. Lagian dari tadi papa lapar kok, Rania kemana ini. Kenapa dia belum keluar juga dari kamarnya?" tanya Ryuzi menoleh ke arah kamar anaknya.
"Hemm, sekarang dia lagi suka sama anak asramanya juga pa." kata Azriel.
"Anak itu, ma suruh keluar Rania. Udah tahu ada tamu, tapi malah di dalam kamar aja." kata Ryuzi lagi.
Sintya mengangguk, dia bangkit dari duduknya. Azriel mengajak Qilla menuju ruang makan, di sana pembantunya sudah menyiapkan makan malam untuk keluarga yang sekarang sudah harmonis lagi seperti dua tahun lalu.
"Syukurlah, keluarga nyonga Sintya dan pak dokter akur dan harmonis lagi. Apa lagi sekarang mau punya mantu, cantik dan manis calonnya den Azriel." ucap bibi pembantu Azriel itu tersenyum senang.
_
Dua tahun berlalu ...
Persiapan pernikahan Azriel dan Qilla sudah matangm tinggal acara akad dan gedung resepsi untuk pesta penikahan itu. Selama dua tahun menunggu pernikahan itu, Azriel benar-benar bekerja keras dan mengumpulkan uang untuk menikah dan juga membeli rumah di tempat kerjanya di luar pulau.
Di sana dia sudah di jadikan pekerja tetap oleh perusahaan tambang BUMN dan akan menetap di sana dengan Qilla tentunya. Awalnya Sintya keberatan juga ibu mertuanya ibu Nima, tapi karena memang Azriel menyukai pekerjaannya dan Qilla juga mau di ajak tinggal ke luar pulau setelah menikah.
"Jadi, ibu harus di tinggal sendirian Qilla." kata ibu Nima ketika keduanya sedang mengobrol di malam besok menikah.
"Nanti aku akan sering pulang bu, Azriel pasti mengizinkan aku pulang setiap dua bulan atau tiga bulan." kata Qilla.
Ibu Nima diam, dia sesungguhnya tidak menyangka kalau akan di tinggal pergi anak satu-satunya yang selalu menemaninya sejak suaminya meninggal.
"Emm, bu. Aku punya usul buat ibu." kata Qilla tersenyum.
__ADS_1
"Usul apa?" tanya ibu Nima.
"Gimana setelah aku menikah, ibu juga menikah lagi?" tanya Qilla, membuat ibunya kaget.
"Ngaco kamu, masa ibu harus menikah lagi sih." kata ibu Nima.
"Aku ikhlas ibu menikah lagi, biar ibu ada yang temani. Soalnya ada lho pak Karyo, dia selalu bilang sama aku kalau ibu mau nikah lagi pak Karyo siap katanya." kata Qilla lagi.
"Ya ampun Qilla, kamu menjodohkan ibu sama laki-laki itu?" tanya ibu Nima.
"Bukan menjodohkan, tapi pak Karyo itu orangnya baik lho. Beliau selalu bantu aku kalau ada anak-anak yang jajan cilok berebut, pak Karyo bantuin." kata Qilla lagi.
"Tahu deh, Qilla. Ibu ngga pengen nikah lagi." kata ibu Nima lagi.
"Itu sih usul dari aku bu, kalau pun ibu mau nikah lagi. Aku ikhlas, biar ibu ada temannya. Biar ibu ngga sendiri lagi kalau aku udah tinggal di pulau." kata Qilla.
Ibu Nima diam saja, memang jika anaknya sudah pergi merantau ikut dengan suaminya. Dia akan tinggal sendirian, akan sepi tidak ada yang menemani jika malam hari. Karena biasanya Qilla akan tidur larut malam jika ada film action di TV, dia juga ikut menemaninya.
"Ibu belum kepikiran, nanti kalau sudah kepikiran di pertimbangkan usul kamu." kata ibu Nima akhirnya.
"Waah, benar ya bu. Aku hanya ngga mau ibu sendirian di ruamh, minimal ibu ada yang bantu-bantu jualan cilok atau ada teman ngobrol di rumah." ucap Qilla lagi.
Ibu Nima hanya tersenyum saja, malam ini terasa sepi. Sesepi hati ibu Nima yang akan melepas masa lajang anaknya itu. Dia harus siap untuk tinggal sendiri ketika Qilla pergi, tapi pertimbangan untuk menikah lagi rasanya memang harus di pikirkan oleh perempuan berusia empat puluh delapan itu.
_
Azriel sangat gugup menghadapi penghulu yang sedang sibuk mencatat namanya dan Qilla dengan petugas dari KUA. Dia sesekali melihat ke arah pintu masuk, menunggu calon istrinya duduk di sampingnya mengucapkan ijab kabul.
"Kamu gugup, Zeil?" tanya Sintya.
"Mama ini, masa begitu di tanyain sih. Jelas guguplah. Lagian kenapa ini Qilla ngga muncul-muncul sih?" kata Ryuzi.
"Sebentar lagi pa, kak Qilla lagi di make up." jawab Rania di samping papanya.
Azriel yang diam saja mendengar pembicaraan keluarganya di belakangnya jadi semakin gugup. Penghulu itu memanggil Azriel.
"Apa kita mulai sekarang?" tanya penghulu.
"Tunggu sebentar lagi pak, mempelai perempuannya sebentar lagi datang kok." jawab Azriel.
"Oh, ya. Soalnya saya juga ada urusan lain lagi, menikahkan di tempat lain dan ...."
__ADS_1
"Nah, itu dia datang." ucap Azriel senang.
Dia tersenyum melihat Qilla muncul. Dia melambaikan tangannya, tapi di tampik oleh Sintya. Qilla tersenyum, berjalan mendekat secara pelan dan anggun. Azriel takjub dengan calon istrinya yang cantik dengan dandanan make up artis pengantin.
"Kamu cantik." bisik Azriel ketika Qilla sudah duduk di sampingnya.
Qilla hanya tersenyum saja, kini acara ijab kabul segera di mulai. Rangkaian doa dan khotbah nikah di lantunkan oleh penghulu, hingga Azriel mengucapkan ijab kabul dengan lantang di hadapan semua yang hadir dalam masjid raya.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Aqilla Kanaya Tsabita binti Sholeh dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"
"Bagaimana saksi? Sah?!"
"Sah!"
"Alhamdulillahirobbil alamiin."
Doa pun kembali di panjatkan, Azriel dan Qilla sangat lega. Kini mereka sudah jadi pasangan suami istri, Qilla juga senang akhirnya Azriel memenuhi janjinya setelah dua tahun dia menunggu. Begitu juga dengan Azriel, dia sangat bahagia akhirnya bisa menjadi laki-laki sempuran menurutnya.
Menikah dan memiliki pekerjaan, dunia geng motor yang sempat dia masuki karena kecewa dengan kedua orang tuanya, kini benar-benar dia tinggalkan dan hidup normal tanpa harus di kejar-kejar oleh polisi karena razia.
Dia juga sering mendengar kalau Tomi dan Chika sering kena razia polisi. Apa lagi sekarang Chika sudah kecanduan narkoba, dan oleh mamanya di masukkan ke dalam yayasan rehabilitasi narkoba. Sintya beruntung tidak jadi menjodohkan Azriel dengan Chika, karena dia merasa bersalah jika memaksa Azriel di jodohkan dengan Lina temannya.
Semua kini membubarkan diri dari masjid, mereka sekarang akan menuju hotel di mana tempat resepsi pernikahan Azriel dan Qilla. Semuanya di undang dari para dokter, dan perawat oleh Ryuzi serta teman dan relasi Sintya datang ke hotel tempat resepsi pernikahan.
"Waah, jeng Sintya sudah punya mantu ya. Apa masih mau mencari berondong lagi?" tanya teman arisan Sintya.
"Maaf jeng, aku sekarang sudah tobat. Aku dan suamiku sekarang semakin mesra deh. Heheh." jawab Sintya ketika dia berkumpul dengan anggota arisannya dulu.
"Hemm sayang sekali ya, padahal saya ada lho berondonh manis banget. Niatnya mau saya kenalkan sama jeng." katanya lagi.
"Maaf ya jeng, saya ngga mau. Suamiku lebih baik dari siapa pun." kata Sintya menolak secara halus.
Jika tidak menolak terus menerus, maka teman-temannya itu akan terus membujuknya. mereka mengobrol santai, melihat kedua pengantin sangat bahagia di pelaminan. Sintya tampak senang dengan anaknya kini benar-benar sudah bahagia dengan pilihannya.
"Hai tante Sintya?"
"Kamu?!"
_
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=> T a m a t <\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
_
********