
Azriel dan Qilla keluar paksa dari ruang bioskop oleh petugasnya. Azriel kesal sekali tidak mendamprat mama dan laki-laki tadi itu.
"Ziel, udah deh. Kan malu di lihatin sama orang-orang tadi. Kita pulang aja yuk." kata Qilla mencoba menenangkan kekasihnya itu.
"Aku kesal, sejak setahun mama begitu. Dia kencan sama berondong-berondong arisan tante-tante, menjijikkan sekali." kata Azriel lagi.
Petugas penjaga tiket di depan pintu menoleh ke arah Azriel, heran dengan kedua pasangan yang di paksa keluar oleh petugas di dalam.
"Mbak, jangan lihatin terus." kata Qilla pada petugas tiket itu.
Mereka pergi dari gedung bioskop itu, Qilla ingin pulang. Tapi Azriel mengajaknya makan lebih dulu sebelum pulang, karena keduanya lapar belum makan sejak dari rumah.
"Maaf ya, acara nontonnya jadi gagal." kata Azriel.
"Ngga apa-apa, kita pulang aja." kata Qilla menenangkan Azriel.
"Kita makan dulu, ini masih jam delapan malam. Niatnya mau ajak kamu jalan juga, bukan cuma nonton film di bioskop." kata Azriel.
"Jalan kemana?"
"Ke mall."
"Ini juga mall kan?"
"Ya, maksud aku kita lihat-lihat sesuatu." kata Azriel.
Dia menggandeng tangan Qilla lagi, mereka menuju foodcourt mencari makanan cepat saji. Banyak sekali pengunjung di mall tersebut, karena kabarnya ada band kota yang akan performa di sana.
Azriel dan Qilla duduk di bangku, Azriel meninggalkan Qilla untuk memesan makanan. Qilla menyapu pandangan ke seluruh area mall itu, melihat berbagai pajangan di toko. Ada yang menjual ponsel berjejer, baju-baju di outlet-outlet serta sepatu dan tas. Semuanya lengkap di mall itu.
Senyuman Qilla mengembang ketika ada dua remaja berfoto ria dengan gembira. Dia membayangkan dirinya dan Azriel melakukan itu, tapi dia malu sendiri jika melakukan itu. Azriel menghampiri membawa nampan berisi makanan dan juga minuman.
Dia heran dengan Qilla yang tersenyum sendiri, dia duduk di depan gadis itu yang belum menyadari kehadiran Azriel. Hingga tangan Azriel menghalangi dan di gerakkan atas bawah, membuat gadis itu menoleh dan cemberut lucu.
"Lihat apa sih? Serius banget sampai senyum-senyum sendiri aja." kata Azriel membukakan nasi Qilla yang di bungkus kertas tipis.
"Ngga, itu lucu aja. Foto-foto berdua seakan sekelilingnya ngga ada orang." kata Qilla menunjuk dua remaja yang sedang asyik foto ria.
"Ooh, kamu mau kayak mereka?" tanya Azriel.
"Ngga, malu." jawab Qilla.
"Ya udah, makan cepat. Habis ini kita jalan-jalan beli sesuatu." ujar Azriel menyuap nasi dan ayam krispinya ke dalam mulutnya.
Qilla melihat Azriel makan, kemudian dia juga mengambil nasi serta ayam krispinya lalu menyuapkannya dalam mulutnya.
__ADS_1
_
"Aku pulang ya. Udah malam." kata Azriel setelah dia sudah mengantar Qilla pulang.
"Iya, makasih ya ponselnya. Kok aku jadi cewek matre sih di belikan ponsel segala." kata Qilla merasa tidak enak pada Azriel.
"Ngga apa-apa, biar aku bisa telepon kamu setiap malam." kata Azriel.
"Ish, malam waktunya tidur." ucap Qilla tersenyum malu.
"Ya udah, aku pulang. Langsung istirahat ya, besok aku kesini lagi." kata Azriel.
"Iya."
Azriel mengusap kepala Qilla kemudian dia menaiki motornya. Ada yang harus dia selesaikan dengan mamanya di rumah, hatinya benar-benar sepanjang perjalanan tadi. Sejenak ketika jalan berdua dengan Qilla dia bisa melupakan semuanya, tapi ketika di lampu merah berhenti dia kembali melihat mamanya menaiki mobil dan tentu saja dengan berondongnya itu.
Laki-laki itu melajukan motornya dengan kencang setelah melambaikan tangannya pada Qilla. Dan gadis itu masuk ke dalam rumahnya kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya. Pikirannya juga pada Azriel yang tentunya sedang kacau karena dua kali memergoki mamanya jalan berdua dengan berondong tadi.
"Kasihan Azriel." ucap Qilla.
Sementara itu, Azriel melajukan kencang motornya agar segera sampai di rumahnya. Dia akan menanyakan pada mamanya itu kenapa bisa jalan dengan laki-laki seusianya. Bahkan bersikap manja, kendaraan demi kendaraan dia salip.
Motornya meliuk-liuk di jalanan dengan cepat, hingga beberapa pengemudi lain ada yang mengumpatnya karena berkendara seenaknya saja.
Setengah jam akhirnya sampai, dia langsung masuk ke dalam rumahnya. Belum tampak mobil mamanya pulang ke rumah, dia masukkan motornya dalam garasi. Lalu meninggalkan garasi tersebut dan langsung masuk ke dalam rumah yang belum di kunci.
Tergopoh-gopoh perempuan tua menghadap Azriel yang terlihat marah itu.
"Ada apa den?" tanya pembantu Azriel itu.
"Huh, papa sama mama belum pulang?" tanya Azriel.
"Belum den, tapi katanya tuan Ryuzi menginap di rumah sakit." jawab pembantu itu.
"Apa mama ngga pesan akan pulang malam?" tanya Azriel.
"Bibi ngga tahu den, waktu pergi bibi ada di kamar mandi." jawabnya lagi.
"Ya sudah." ucap Azriel.
Biasanya dia jarang bertanya pada pembantunya tentang mama dan papanya. Tapi karena tadi dia melihat mamanya jalan dengan seorang berondong lagi, rasanya kemarahannya sudah di atas puncaknya. Dia benar-benar akan menanyakan semuanya kenapa mamanya melakukan itu.
Sia-sia saja dia memberontak dengan masuk ke dalam geng motor, ikutan balap liar dan juga selalu pergi-pergi saja dengan teman-temannya atau menginap di mana pun dia suka.
Tak lama, suara mobil memasuki halaman depan rumah. Azriel menunggu mamanya masuk ke dalam rumah, dia masih sabar dan ingin bicara baik-baik pada perempuan yang sudah melahirkannya dua puluh tiga tahun lalu itu.
__ADS_1
Sintya masuk ke dalam rumah, tampak sepi. Dia melihat kamar Azriel masih gelap, lalu Sintya menghela napas lega karena anaknya belum pulang atau memang menginap lagi ke rumah temannya.
Tapi rasa leganya hanya sesaat, setelah Azriel berjalan mendekat padanya. Matanya memandang kekhawatiran, tapi di buatnya biasa saja. Dia tahu Azriel sedang marah padanya.
"Apa mama senang malam ini? Berapa kali laki-laki pemalas itu memuaskan mama?!" ucap Azriel.
"Azriel, jangan kurang ajar kamu sama mama. Mama hanya ingin bersenang-senang!" ucap Sintya marah dengaj ucapan anaknya yang sudah kelewatan.
"Heh, setiap minggu mama selalu berganti laki-laki yang di jadikan arisan sama teman-teman mama kan? Apa enaknya dengan semua itu? Mama itu sudah tua! Jangan melakukan hal yang memalukan!" ucap Azriel lagi.
Tangan Sintya mengepal, dia tidak terima di anggap tua oleh anaknya. Tapi mulutnya tidak bisa berucap apa pun, dia tahu kemarahan Azriel sudah menumpuk sejak dulu. Sejak beberapa kali memergokinya jalan berdua dengan laki-laki seusia anaknya itu.
"Maafkan mama." kata Sintya akhirnya mengalah.
"Heh, dulu mama juga minta maaf. Tapi selalu melakukannya lagi dan lagi. Apa aku harus mati dulu agar mama sadar apa yang mama lakukan itu salah dan tidak benar?!" ucap Azriel lagi.
"Jangan mengancamku Azriel! Kamu anak yang mama lahirkan tidak usah mengancam mama untuk mati bunuh diri!"
"Aku akan lakukan jika sampai membuat mama sadar! Apa yang mama cari? Kesenangan? Hah. Bulshiit! Itu hanya bentuk rasa kecewa mama pada papa!" ucap Azriel lagi.
"Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tanyakan pada mama?! Sebaiknya kamu marahi papamu itu, kenapa dia selalu mabuk dan bersenang-senang dengan asistennya. Bahkan mama tahu dia juga suka tidur dengan asistennya yang sok cantik itu. Apa mama tidak boleh bersenang-senang sendiri untuk melupakan kekecewaan mama pada papamu?!"
"Tapi bukan begitu caranya mama. Mama ada aku dan Rania, kenapa mala malah melampiaskannya pada laki-laki hasil arisan oleg tante-tante teman mama itu?!" ucap Azriel.
Pertengkaran itu terasa sangat tegang di rumah itu, antara Azriel dan Sintya. Pembantu dan satpam di rumah itu tidak bisa membantu keduanya. Mereka tahu sejak dulu jika kedua majikannya itu ada masalah dalam hubungan suami istri. Dan awalnya dari Ryuzi, yang selingkuh dengan asistennya di rumah sakit.
Sintya mengabaikan ucapan Azriel, dia lelah dan ingin istirahat. Dia pun meninggalkan Azriel yang masih diam menatapnya tajam, tidak mau menanggapi ucapan anaknya.
"Sudahlah, mama lelah. Mama mau istirahat." kata Sintya.
"Hentikan ma! Hentikan perbuatan mama itu!" ucap Azriel.
"Mama tidak mau! Sebelum papamu itu menghentikan perselingkuhannya dengan asistennya!" teriak Sintya menatap tajam pada anaknya.
"Kalau begitu, jangan harap aku akan kembali ke rumah ini lagi!" teriak Azriel.
"Terserah apa yang mau kamu lakukan, kamu cari saja kesenangan sendiri. Jangan urusi urusan mama." kata Sintya melemah.
Dia melangkah pergi meninggalkan Azriel, dan laki-laki itu pun mengepalkan tangannya kuat. Menatap punggung mamanya, dan kembali berteriak.
"Aku akan pergi selamanya!"
_
_
__ADS_1
*********