
Tubuh Azriel panas bukan main, matanya sudah bergairah. Dia menatap Chika penuh gairah ingin memeluk gadis itu. Chika tersenyum manis dengan mengedipkan matanya, tangannya di gigit-gigit seperti menggoda Azriel.
Tomi sendiri menelan ludah ketika Chika sudah membuka bajunya yang terlihat buah dadanya. Dia juga mulai tegang, mendekat pada Chika dengan tatapan sayu juga.
"Chika." ucap Tomi lirih.
Chika berdecak kesal, sebelum Azriel mendekat padanya. Dia mengusir Tomi agar keluar dari rumah kostnya.
"Lo pergi deh, gue mau berduaan aja sama Azriel." kata Chika pada Tomi.
"Tapi gue juga pengen, Chika." kata Tomi masih menahan diri.
"Ck, gue ngga mau. Sabar kenapa. Gue mau main sama Azriel dulu, tuh lihat dia udah bergairah. Cepat sana keluar!" kata Chika mengusir Tomi.
Tomi masih diam saja, dia kesal sekali di usir oleh gadis itu. Chika melotot pada Tomi agar laki-laki itu segera pergi dari rumah kostnya.
"Pergi ngga?!" ucap Chika menggertak Tomi.
"Iya, tapi lo janji akan puasin gue." kata Tomi lagi.
"Iya bawel! Cepat pergi sana." kata Chika.
Tomi pun bangkit dari duduknya, menatap Chika lalu pada Azriel yang sedang gelisah itu. Pergi meninggalkan keduanya, Chika terus menggoda Azriel dengan mendekati laki-laki itu.
"Ziel, lo kepanasan ya?" tanya Chika.
"Iya nih, kok gue pengen sesuatu sih." kata Azriel menatap Chika.
"Pengen apa?" tanya Chika dengan suara di buat merdu mendayu menggoda Azriel.
"Gue pengen pipis." kata Azriel masih bisa dia tahan hasratnya.
"Kok pipis sih, ngga pengen di belai itunya Ziel?" tanya Chika tangannya mulai meraba dada Azriel.
Tapi Azriel menahan tangan Chika, dia mencengkeramnya agar tidak menyentuh dadanya. Chika tersenyum, dia kembali memaksa membelai dada Azriel membuat laki-laki itu meremang. Di pejamkannya matanya, Chika senang sepertinya Azriel sudah merasakan obat yang telah dia berikan pada minumannya.
Chika langsung menarik wajah Azriel dan mencium bibirnya. Azriel kaget, dia masih sadar kalau itu adalah salah. Dia berpikir mungkin Chika sengaja memberikan minumannya sesuatu.
__ADS_1
"Apa yang lo berikan sama gue?" tanya Azriel.
"Aku cuma kasih lo minum aja, Zriel. Kenapa?" tanya Chika kembali menarik wajah Azriel.
Tapi laki-laki itu mendorong wajah Chika dengan cepat. Matanya tajam tapi bergairah itu benar-benar kesal sekali, dia bangkit dari duduknya menjauh dari Chika.
"Lo kasih apa sama minuman gue?" tanya Azriel lagi menahan semua hasratnya.
"Cuma minuman biasa, jangan gitu dong Ziel. Gue pengen tidur sama lo, gue belum pernah tidur sama lo Ziel." kata Chika mendekat pada Azriel dengan membuka satu persatu bajunya.
Azriel bingung, antara ingin menerjang Chika karena gadis itu sudah hampir telanjang. Tapi otaknya masih waras, ingatannya pada Qilla. Dan tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia ambil ponselnya.
Nama Qilla tertera di sana, sebelum dia menjawab telepon dari Qilla. Tangan Chika menyambar ponsel Azriel dan melemparnya, dia kesal sekali Azriel malah menerima telepon.
"Chika! Itu dari cewek gue!" teriak Azriel.
"Lo masih mikirin cewek lo aja, apa lo ngga mau menuntaskan semua apa yang lo rasakan Ziel sama gue? Lupakan cewek lo itu, ayo kita tuntaskan rasa yang menyiksa sama lo itu. Gue siap Ziel bantu lo menyelesaikan semuanya, gue akan bantu lo lepas dari siksaan gairah panas lo. Gue udah siap, apa lo ngga tertarik dengan tubuh gue?" ucap Chika kembali mendekati Azriel.
Azriel diam saja, bimbang. Tapi kemudian dengan cepat dia sadar, mengambil ponselnya lalu mendorong Chika yang sudah dekat padanya.
"Lo cewek murahan. Dengan cara ini lo menjebak gue agar lo bisa tidur sama gue?! Cuih!"
Di luar dia melihat Tomi masih menunggu, dia menatap teman gengnya dan segera menaiki motornya. Tomi kaget dengan Azriel yang keluar cepat.
"Ziel, lo udah selesai?"
"Urus cewek sialan itu! Gue akan balas perbuatan lo nanti, Tomi!" ucap Azriel.
Kemudian dia melajukan motornya meninggalkan rumah kost Chika, sedangkan Tomi bingung sendiri. Tapi kemudian dia berjalan masuk ke dalam rumah Chika, melihat gadis itu masih di lantai dengan hanya memakai celanna dan beha saja.
Tanpa membuang kesempatan, dia menerkam Chika. Dia tidak peduli gadis itu menolak dan memberontaknya, sudah lama dia ingin bermain dengan gadis yang selalu membuatnya ingin selalu menidurinya.
"Tomi! Jangan kurang ajar lo!"
"Gue ngga peduli! Lo harus puasin gue malam ini!"
_
__ADS_1
Sementara itu, Azriel masih kesal dengan keadaannya yang sudah tidak tahan ingin melakukan pelepasan. Tapi kemana, dia tidak mungkin melakukannya dengan Qilla, beruntung dia bisa lepas dari Chika.
"Untung gue minum sedikit itu air, kalau semua gue minum. Mungkin gue udah ngga bisa nahan apa pun, Chika pasti seneng gue tidur sama dia. Cuih! Murahan! Awas aja si Tomi udah menjebak gue." ucap Azriel.
Sialnya rasa gairah itu terus melanda tubuhnya, dia harus menyelesaikannya. Tapi bagaimana? Motornya terus melintas jalanan yang mulai sepi, dia tidak sadar arah laju motornya menuju rumah Qilla. Sepanjang jalan kamlung itu ada sungai, Azriel pun menghentikan motornya.
Tiba-tiba di pikirannya terlintas ingin meredakan rasa panas di dalam air. Dia segera turun dari motornya dan langsung melepas jaketnya, langsung terjun ke dalam sungai yang berkedalaman satu meter saja.
Air sungai itu lumayan deras, tapi Azriel tidak peduli. Dia ingin sekali merendamkan tubuhnya di sana, dia ingin melepaskan semua gairah di tubuhnya. Meski air sungai itu dingin karena malam hari pukul sebelas tiga puluh.
"Gue harus lepas dari pengaruh obat sialan itu. Gue yakin cewek sialan itu memberikan obat dalam minuman itu." ucap Azriel.
Dia mulai berendam, tangannya bersedekap menahan dinginnya air sungai. Tubuhnya juga sedikit menggigil karena kedinginan, di pejamkannya matanya menahan semua rasa dingin dan gairah secara bersamaan.
Satu jam lebih dia berendam, hingga suara orang memanggilnya membuat laki-laki itu kaget.
"Hei! Kamu sedang apa di sungai?!" teriak seorang laki-laki.
Azriel membuka matanya, dia melihat dua orang yang seperti sedang keliling ronda mendapatinya sedang berendam.
"Sedang apa kamu?" teriak dua orang itu lagi.
"Lagi semedi pak." jawab Azriel asal.
"Semedi? Kenapa di kali? Cari wangsit?"
Azriel pun bangkit dari jongkoknya, dia naik dari sungai dan segera menghampiri dua orang yang sedang siskamling. Beberapa menit dia merasakan semuanya tampak normal.
"Kenapa malam-malam berendam di kali?" tanya laki-laki itu lagi.
"Panas pak, jadi saya turun ke bawah cari yang dingin." jawab Azriel.
"Aneh, padahal ini dingin banget. Kok kamu panas sih."
Azriel tidak menanggapi ucapan dua laki-laki itu, segera menaiki motornya dan pergi begitu saja menuju rumah Qilla. Dia akan menginap kali ini dan segera mengganti bajunya.
_
__ADS_1
_
*********